Apa sih Kontrak Sosial itu? Ini Definisinya menurut KH Afifuddin Muhajir

Apa sih kontrak sosial itu? Kontrak sosial atau التعاقد الاجتماعي menurut KH Afifuddin Muhajir dari Ponpes Salafiyah Syafiiyah Situbondo ternyata semakna dengan baiat pada khazanah Fiqh Siyasah.

Kontrak sosial antara pemimpin dan rakyat yang dipimpin maksudnya bahwasanya jika pemimpin terpilih itu berkomitmen untuk menjalankan kebijakan yg mengacu pada kemaslahatan seluruh rakyatnya, dan begitu pula rakyat berkomitmen untuk selalu menaati semua kebijakan pemimpin sepanjang tidak bertentangan dengan syari’at. Continue reading Apa sih Kontrak Sosial itu? Ini Definisinya menurut KH Afifuddin Muhajir

Sah! Habib Luthfi Kembali Pimpin JATMAN

Habib Luthfi bin Yahya, Rais Aam Idaroh Aliyah Jamiyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah (JATMAN), Selasa (16/1) malam kembali didaulat memimpin JATMAN oleh Majelis Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) untuk periode lima tahun mendatang.

Keputusan sidang Ahwa yang dipimpin oleh Habib Luthfi bin Yahya berlangsung cukup singkat setelah terbentuk 9 anggota Ahwa melalui rapat Majelis Ifta’ di Gedung Kanzus Sholawat Pekalongan, Selasa (16/1).

Sembilan anggota Ahwa yakni KH Martain mewakili Jawa Timur, Bali dan NTB, KH Zaini Mawardi mewakili Jawa Tengah dan DIY. Selanjutnya DR KH Eep Nuruddin mewakili Jawa Barat, kemudian DKI dan Banten diwakili oleh KH Zaenuddin.

Untuk Sumatera diwakili oleh Habib Yahya Al-Jufri, Kalimantan KH Mahron Yasin, Sulawesi dan Indonesia Timur KH Andi Hidayat. Kemudian untuk perwakilan Habaib diisi oleh Abdurrohim Assegaf dan Idaroh Aliyah JATMAN Habib Luthfi bin Yahya.

Terpilihnya Habib Luthfi bin Yahya dianggap oleh muktamirin yang mengikuti sidang majelis Ifta’ tidak terlalu mengejutkan. Pasalnya, dalam tradisi di ketarekatan, selama Rais Aam JATMAN masih hidup, maka kepemimpinan JATMAN akan selalu berada dipundaknya dan muktamar adalah forum pengukuhan kembali sesuai aturan organisasi.

Sebagaimana diketahui, untuk pertama kalinya Habib Luthfi bin Yahya dipercaya menjadi Rais Aam ialah pada Muktamar IX yang berlangsung di Pekalongan tahun 2000, pada Muktamar berikutnya tahun 2005 di tempat yang sama juga terpilih menjadi Rais Aam, demikian pula pada Muktamar XI di Malang Jawa Timur Habib Luthfi dipercaya kembali pimpin JATMAN.

Sementara untuk pengumuman pengisian jabatan Mudir dan Wakil Mudir Aam akan disampaikan pada saat penutupan Kamis (18/1) besok oleh Menteri Agama Republik Indonesia H Lukman Hakim Saifuddin.

Agenda Muktamar XII JATMAN hari ini ialah sidang pleno hasil sidang sidang komisi dan ceramah Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian berlangsung di Pendopo lama Kabupaten Pekalongan di Jalan Nusantara 1 Kota Pekalongan.

Sumber: NU Online

KH Nadirsyah Hosen: Guyonan dan Hinaan

Dulu sekitar tahun 2005 setelah saya menyelesaikan kedua program PhD saya dan saya kemudian lanjut mengambil program Postdoctoral di TC Beirne School of Law, University of Queensland —salah satu law school papan atas di Australia.

Kolega saya Prof Ann Black bercerita bahwa saat bubar semester ada acara hiburan dari LSS (Law Student Society), semacam senat mahasiswa, yang salah satu agenda hiburannya adalah membuat parodi dari berbagai mata kuliah.

Ann mengajar hukum Islam dan sejumlah mahasiswa yang mengambil mata kuliah itu sudah berlatih membuat parodi yg diambil dari sebagian materi dan diskusi di kelas. Namun saat gladi resik, Dekan yang menyaksikan parodi sejumlah mata kuliah mendekati Ann dan memutuskan membatalkan parodi mata kuliah Islamic law.

Alasan Dekan saat itu, Prof Rickett, “saya khawatir mahasiswa Muslim akan marah-marah terhadap parodi itu.” Ann mencoba membantah, “Jangan dibatalkan, kasihan mahasiswa yang sudah latihan. Saya akan tanya Nadir terlebih dahulu.”

Ann meminta saya ke ruangannya dan bercerita masalah ini. Respon saya adalah: “Jalan terus saja, Ann. Saya dibesarkan oleh tradisi Islam di Indonesia yang penuh guyon dan santai memahami serta menjalankan keislaman saya. Paling yang protes kawan-kawan dari Wahabi saja.”

Tapi rupanya keputusan Dekan tidak bisa diganggu-gugat. Alasan Dekan, “saya gak mau suasana hiburan akhir semester menjadi tegang dan berbuntut panjang di kemudian hari. Kamu beruntung Ann, kamu bertanya pada Nadir. Tapi seperti kata Nadir, kelompok Wahabi akan keberatan. Dan saya gak mau pusing meladeni mereka. Batalkan!”

Maka mata kuliah Islamic Law menjadi satu-satunya mata kuliah yang tidak boleh diparodikan. Kesan malam itu, Muslim tidak bisa bercanda. Muslim mudah tersinggung. Muslim gampang merasa agamanya dihina.

Saya tentu keberatan dengan anggapan semacam itu. Tapi ya sudahlah. Untuk menghibur Ann, lantas saya ceritakan satu joke yang saya kutip dari Gus Dur:

Ada Ustaz yang menangis terus setiap malam ketika mendengar kabar anak bungsunya telah masuk Kristen. Akhirnya selepas tahajud, Ustaz tersebut mendengar “bisikan”. Continue reading KH Nadirsyah Hosen: Guyonan dan Hinaan

5 Fase Umur Manusia Menurut Sayyid Abdullah Al-Haddad

Oleh Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta
Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad dalam kitabnya bedujul Sabîlul Iddikâr wal I’tibâr bimâ Yamurru bil Insân wa Yanqadli Lahu minal A’mâr (Dar Al-Hawi, Cet. II, 1998, hal. 13-14), menjelaskan bahwa kehidupan manusia terbagi ke dalam 5 (lima ) fase umur sebagai berikut:

Fase Umur Pertama
Fase umur pertama manusia dimulai sejak Nabi Adam AS diciptakan oleh Allah SWT. Saat itu juga dalam punggung Nabi Adam AS terdapat anak-cucunya. Hal ini sebagaimana penjelasan Sayyid Abdullah Al-Haddad (hal. 13) sebagai berikut:
Continue reading 5 Fase Umur Manusia Menurut Sayyid Abdullah Al-Haddad

Mau Zakat Fitrah di Kampung Halaman atau Sekitar Tempat Tinggal?

Dilema bagi orang udik dan perantau seperti kami ini, mungkin suatu saat dihadapkan pada pertanyaan, dimana kami harus ber-zakatfitrah? di kampung halaman kami atau di kampung tempat kami sekarang tinggal. Yang namanya zakat fitrah tentu wajib hukumnya, persoalan waktu dia dikeluarkan juga sudah jelas dibatasi sampai orang-orang hendak berangkat sholat Ied. Nah, cuma persoalan dia dikeluarkan sampai di area mana, ternyata sudah jadi perdebatan.

Dalam salah satu hasil Bahsul Matsail yang pernah saya baca, persoalan ini sudah pernah ditanyakan dan dibahas. Rujukannya ternyata ada di kitab langganan pegiat Bahsul Matsail, yaitu kitab Bughyatul Mustarsyidin (Terbitan Darul Fikr, juz 1 hal 217)

وُجِدَتِ الْأَصْنَافُ أَوْ بَعْضُهُمْ بِمَحَلٍّ وَجَبَ الدَّفْعُ إِلَيْهِمْ ، كَبُرَتِ الْبَلْدَةُ أَوْ صَغُرَتْ وَحَرُمَ النَّقْلُ ، وَلَمْ يُجِزْهُ عَنِ الزَّكَاةِ إِلَّا عَلَى مَذْهَبِ أَبِي حَنِيفَةَ القَائِلِ بِجَوَازِهِ ، وَاخْتَارَهُ كَثِيرُونَ مِنَ الْأَصْحَابِ، خُصُوصاً إِنْ كَانَ لِقَرِيبٍ أَوْ صَدِيقٍ أَوْ ذِيْ فَضْلٍ وَقَالُوا : يَسْقُطُ بِهِ الْفَرْضُ ، فَإِذَا نُقِلَ مَعَ التَّقْلِيدِ جَازَ وَعَلَيْهِ عَمَلُنَا وَغَيْرُنَا وَلِذَلِكَ أَدِلَّةٌ اهـ

Dengan terjemah alakadarnya seperti ini:

وُجِدَتِ الْأَصْنَافُ أَوْ بَعْضُهُمْ بِمَحَلٍّ وَجَبَ الدَّفْعُ إِلَيْهِمْ ketika didapati cukup banyak atau sekelompok orang yang termasuk mustahiq (penerima zakat), wajaba daf’u ilaihim, wajib hukumnya memberikan zakat pada mereka
كَبُرَتِ الْبَلْدَةُ أَوْ صَغُرَتْ baik itu dalam skala wilayah yang luas (kaburot) maupun yang lebih kecil (shoghurot),
وَحَرُمَ النَّقْلُ وَلَمْ يُجِزْهُ عَنِ الزَّكَاةِ maka diharamkanlah mengeluarkan zakat di tempat lain (naqlu zakat)
إِلَّا عَلَى مَذْهَبِ أَبِي حَنِيفَةَ kecuali madzhabnya Imam Hanafi
القَائِلِ بِجَوَازِهِ وَاخْتَارَهُ كَثِيرُونَ مِنَ الْأَصْحَابِ، خُصُوصاً إِنْ كَانَ لِقَرِيبٍ أَوْ صَدِيقٍ أَوْ ذِيْ فَضْلٍ yang memperbolehkannya,
dan menjadi dasar bagi sebagian besar ulama-ulama, dengan alasan khusus, penyalurannya diberikan kepada keluarga dekat, teman atau orang yang memiliki keutamaan
وَقَالُوا : يَسْقُطُ بِهِ الْفَرْضُ Dan mereka berkata, dengan model seperti itu gugurlah kewajiban zakatnya
، فَإِذَا نُقِلَ مَعَ التَّقْلِيدِ جَازَ وَعَلَيْهِ عَمَلُنَا وَغَيْرُنَا وَلِذَلِكَ أَدِلَّةٌ اهـ Dengan demikian ketika zakat itu didistribusikan ke keluar daerah dengan mengikuti pendapat madzhab Hanafi, maka itu diperbolehkan. Inilah yg jadi dasar kami dan selain kami mengamalkannya. Karena terdapat beberapa alasan

Jadi yang tinggal dan mbutgawenya di Jakarta/Semarang atau kota lain, hendaknya berzakatfitrah di area tempat tinggalnya di kota sebelum mudik ya.

Tapi patut di ingat jika mengikuti madzhabnya Imam Hanafi, 1 (satu) sho’ zakat fitrahnya itu sama dengan 3800 gram (3.8 kg) yaps!

Islam Nusantara dan Tuduhan Anti Arab

Oleh Prof. Nadirsyah Hosen (Rais Syuriah PCINU Australia-New Zealand)

Salah satu kegagalan banyak pihak memahami diskursus Islam NUsantara adalah dengan nyinyir seolah-olah warga NU itu anti segala hal berbau Arab. Maka mereka nyinyir kalau melihat tulisan saya mengutip sejumlah kitab Tafsir berbahasa Arab. “Anti-Arab kok mengutip kitab berbahasa Arab!” kata mereka.

Di pesantren dan madrasah, warga NU biasa belajar bahasa Arab sejak kecil. Tidak mungkin kemudian kami anti dengan bahasa Arab. Banyak santri yang sangat ngelotok memahami grammatika bahasa Arab, bagaimana mungkin kemudian kami dituduh anti-Arab? Continue reading Islam Nusantara dan Tuduhan Anti Arab

Terjemah Kitab Al Akhlaq lil Banin (Part 1)

بماذا يتخلّق الولد

bimadza yatakhollaqul walad ~ Dengan Apa Anak Berakhlak?

يجب على الولٍَِِِد ان يتخلّق باالاخلاق الحسنة من ِصٍِغَره ليَعيش محبوبًا فى كيره يرضى عنه ربّه ويحبّه اهله وجميع النّاس.
yajibu ‘alal waladi an-yatakhollaqa bil akhlaqil hasanat min shighorihi liya’iysya mahbuubaan fi kiyarihi yardlo ‘anhu robbuhu wa yuhibbuhu ahluhu wa jami’un naas.
iku wajib ingatase anak2 apa ya iku anglakoni akhlak kang bagus, awit sangking cilik-e anak, supaya uripe anak mahbuban (dadi disenengi) ingdalem tuwane anak, diridloni maring gusti, lan disenengi keluargane lan sakabehane manungso sakaliyan
Dan diwajibkan bagi anak-anak untuk mempunyai akhlak yang bagus, dari mulai kecil supaya hidupnya dicintai (mahbuban) sampai dewasa nanti, Tuhan akan meridloinya, dan keluarganya senantiasa mencintainya begitu juga semua manusia mencintainya
ويجب عليه ايضًا ان يستعد عن الاخلاق القبيحة كيلا يكون مكروهًا: لايرضى عنه ربّه ولايحبّه اهله ولا احدٌ من النّاس.
wa yajibu ‘alaihi aydhon an-yabta’ida ‘anil akhlaqil qobihat kayla yakuunu makruuhaan. la yardlo anhu robbuhu, wa la yuhibbuhu ahluhu, wala ahadun minan naas.
lan wajib ingatase anak2 maneh, apa yinto iku ngeduhi sopo anak sangking akhlak kan ala (elek), supaya ora dadi makruhan (dadi disengiti) sopo anak, dadi ora diridloni maring gusti, lan ora disenengi keluargane, lan ugo ora bakal disenengi sawijine manungso
Dan diwajibkan juga bagi anak yang beradab untuk menjauhi akhlak yang buruk, supaya nanti TIDAK menjadi orang yang dibenci (makruhan), Tuhan tidak meridloinya dan dan keluarganya senantiasa tidak suka begitu juga semua manusia tidak suka padanya

Kitab Akhlal Lil Banin Juz 1. Maqalah 1.

bersambung…

Inilah Tanggapan KH Said Aqil Soal Fitnah-fitnah Terhadap Dirinya

Belakangan ini santer beredar sejumlah fitnah dan tudingan miring yang dialamatkan kepada Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Kiai asal Cirebon ini mengaku tak terganggu dengan ‘serangan’ itu dan beraktivitas sebagaimana biasanya.

“Biarkan saja,” kata guru besar ilmu tasawuf UIN Sunan Ampel Surabaya ini di kantor PBNU, Jakarta, Senin (2/1).

Belakangan, beredar fitnah melalui media massa kepada bahwa pria yang akrab disapa Kang Said ini menjadi makelar jual-beli tanah dan menjanjikan di atas tanah itu akan dibangun Islamic Center. Menurut si pemfitnah, ternyata tanah itu kini dibangun seminari. Continue reading Inilah Tanggapan KH Said Aqil Soal Fitnah-fitnah Terhadap Dirinya

Resensi Buku: Cak Nun, Menjadi Pintar di Zaman Edan

Identitas Buku:
Judul: Hidup itu Harus Pintar Ngegas dan Ngerem
Penulis: Emha Ainun Nadjib
Penerbit: Noura Books
Cetakan: Oktober 2016
Halaman: xii + 230 hal.
ISBN: 978-602-385-150-8
Peresensi: Munawir Aziz, Peneliti, bergiat di GusDurian dan Gerakan Islam Cinta.

Bagaimana menjadi manusia yang ‘sehat’ di tengah zaman gila ini? Zaman gila, atau disebut Zaman Edan oleh Ronggowarsito (1802-1873), merupakan zaman dimana kebaikan dan keburukan bercampur sulit untuk dibedakan, zaman dimana kebeneran digulung oleh fitnah keji tanpa tepi. Ronggowarsito menyindir masyarakat di Zaman Edan, “yen ora edan, ora keduman”. Maka, maraknya korupsi, kekerasan, dan juga berlimpahnya berita-berita palsu (hoax), yang diproduksi untuk mengaburkan fakta-fakta, menjadi bagian dari tanda-tanda zaman Edan.

Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), seakan terus menerus menyalakan suluh di tengah gelap. Ia, dengan jama’ah Maiyah Nusantara, mengadakan diskusi-diskusi kebudayaan yang membahas tema-tema relevan dengan keseharian kita: dari politik, hukum, hingga pendidikan. Bahkan, tema-tema yang sebelumnya dipandang remeh-temeh, oleh Cak Nun diurai menjadi tema diskusi yang mendalam, yang sublim dengan refleksi kehidupan kita.

Melalui buku ini, “Hidup Harus Pintar Ngegas dan Ngerem”(Noura Mizan, 2016), Cak Nun tidak sekedar menyajikan refleksi mendalam. Ia juga menghentak kesadaran manusia, untuk tidak larut dengan dunia, tertimbun oleh jutaan kepentingan yang senantiasa menyergap manusia. Buku-buku yang ditulis Cak Nun, selalu menyentil kehidupan: Seribu Masjid, Satu Jumlahnya (Mizan, 2016), Sedang Tuhan pun Cemburu (Bentang, 2015), Surat Kepada Kanjeng Nabi (Mizan, 2015), Slilit Sang Kiai (Mizan, 2016), dan beberapa tulisan lain mengajak untuk merenungi diri.

Cak Nun, mengajak semua orang—tanpa sekat agama dan etnis—untuk terus mengartikan makna dan tujuan hidup, untuk selanjutnya berkarya demi kemanusiaan. Menurut Cak Nun, ada empat kriteria manusia. Pertama, orang yang tahu sedikit tentang sedikit hal. Kedua, orang yang tahu sedikit tentang banyak hal. Ketiga, orang yang tahu banyak tentang sedikit hal.

Dan keempat, orang yang tahu banyak tentang banyak hal. Dari keempat tipikal ini, setiap manusia perlu merefleksikan posisi dan maknya hidupnya sendiri. Menurut Cak Nun, manusia tipe keempat memang menjadi tujuan utama, tapi sulit dilakukan.Yang mungkin dilakukan, yakni menjadi manusia tipe ketiga, yakni memiliki pengetahuan mendalam tentang sedikit hal.

“Jangan ada pengetahuan yang tidak kami teteskan ilmu dan pemahamannya. Setiap peristiwa yang kamu alami harus memberi ilmu dan hikmah kepadamu,” tulis Cak Nun (hal. 90). Cak Nun berpesan untuk memberi refleksi terhadap semua peristiwa yang dialami, hingga berdampak pada tumbuhnya ilmu dan hikmah.

Pada sisi lain, Cak Nun merefleksikan kondisi manusia dengan bangsanya. Ia selalu berusaha untuk memahami kondisi bangsa, kondisi Indonesia, dengan situasi kosmik kehidupan manusia. “Di zaman reformasi ini, ada istilah ‘masyarakat madani’. Dalam Islam, namanya ‘baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur’. Gemah ripah loh jinawi tata tentrem karta raharja.

Masyarakat adil makmur, dalam Islam disebut baldatun thayyibatun. Allah menambahkan wa rabbun ghafur. Maksudnya, kaya atau miskin bukan masalah, asal hatinya tidak bimbang,” jelas Cak Nun (hal. 3). Refleksi ini, tentu menampar sebagian pihak, yang justru tertambat oleh harta dan nafsu, berusaha mengejar dunia namun hatinya tidak tenang.

Makna Ilmu dan Hikmah

Dalam buku ini, Cak Nun mengajak pembaca untuk menjadi manusia cerdas. Di tengah kehidupan yang saling berhimpit dengan nafsu dan kepentingan, selalu ada cara untuk mencari kejernihan ilmu. “Tidak semua pembelajaran itu bersifat kognitif. Tidak semua pemahaman itu melalui kata. Sebenarnya, pemahaman yang paling mendalam itu adalah melalui pengalaman dan rasa,” jelas Cak Nun.

“Apa bedanya ilmu dan pengetahuan? Ilmu itu bahasa Inggrisnya, science. Kalau pengetahuan, knowledge. Jadi, ibarat truk, itu knowledge,” (hal. 22). Pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman dan rasa, akan menumbuhkan pribadi yang mengerti kondisi hati dan konteks kehidupannya. Mereka yang tidak memahami arti kehidupan, akan terseret oleh kepentingan-kepentingan sesaat yang mematikan refleksi.

Cak Nun mengajak pembaca untuk selalu memaknai setiap peristiwa dengan konteks kehidupannya. Pengabdian dan kontribusi pada masyarakat dan bangsa, akan menjadikan manusia sebagai orang yang bermanfaat.

“Sebenarnya, Indonesia berdosa sama orang-orangnya, termasuk yang berada di luar negeri. Indonesia bikin tanahnya digali, tambangnya digali, hutannya ditebangi, tanahnya ditanamu: ada kelapa sawit, ada tembakau, ada segala macam. Semua itu, kan seharusnya milik semua orang Indonesia,” tulis Cak Nun.

Menurut Cak Nun, negara dan pemerintah berkewajiban menjamin hidup warga negaranya. Namun, pada keyataannya, para penguasa negeri ini tidak menjamin, sehingga kekayaan alam menjadi milik pengusaha asing, dan sumber daya terbaik Indonesia juga berkarya di negeri orang lain.

“Kalau kamu ingin kreatif, jangan menomorsatukan eksistensimu. Kalau kamu ingin menonjolkan diri, yang akan sampai adalah dirimu dan dirimu nanti akan jadi sesuatu yang memuakkan hati orang. Kalau engkau ingin kreatif, ingin diberi hidayah oleh Allah, pekerjaanmu hanya satu; beribadah. Ibadah itu mengabdi. Mengabdi itu melayani” (hal. 34). Meminggirkan ego dan menonjolkan pelayanan itu, menjadi bagian utama dari pengabdian kita sebagai manusia.

Jika sudah menemukan ruang pengabdian, menjadi manusia yang melayani Allah, untuk beribadah dan berbuat sebaik-baiknya untuk kehidupan, maka tujuan hidup kita akan selaras dengan kebahagiaan. Cak Nun mengajak manusia untuk selalu memaknai kehidupan, mencari pendar-pendar kebahagiaan dalam hati terdalam.***

Sumber: NU Online

Hasil Bahsul Masa’il LBM NU Jember Soal ‘Shalat Jumat’ Di Jalan Raya (Aksi 212)

Deskripsi masalah

Dalam kongres PP. Muslimat NU ke-17 di Jakarta, Prof. Dr. KH. Said Agil Siradj memberi pernyataan bahwa melaksanakan salat Jumat di jalan raya tidak sah menurut mazhab Imam Syafi’i dan Maliki. Di sisi lain, LBM PBNU, seperti diberitakan NU Online pada tanggal 24 November 2016, memutuskan bahwa salat jum’at di jalan sah menurut mayoritas ulama kecuali Imam Malik, tetapi haram disebabkan mengganggu ketertiban umum dan membuat kemacetan.
Sebelum itu semua, Dr. Abd. Moqsith Ghazali wakil ketua LBM PBNU juga mengatakan bahwa salat jumat di jalan raya tidak sah dengan berlandaskan pada keterangan Imam Nawawi dalam kitab Majmu’ yang menyatakan bahwa salat Jum’at tidak sah kecuali dalam abniyah yang beliau pahami dengan makna bangunan yang terdiri dari kayu, batu, dan bahan-bahan material lainnya. Hal ini membuat masyarakat menjadi bingung. Continue reading Hasil Bahsul Masa’il LBM NU Jember Soal ‘Shalat Jumat’ Di Jalan Raya (Aksi 212)

Inilah Sejarah Berdirinya ‘Muslimat NU’

Ide kuat untuk mendirikan wadah khusus bagi perkumpulan perempuan Nahdlatul Ulama sebetulnya muncul sejak tahun 1938. Meskipun, peringatan hari lahir Muslimat Nahdlatul Ulama, yang menjadi produk final dari gagasan tersebut, dihitung sejak tahun 1946. Para perempuan NU melihat adanya kebutuhan untuk mendirikan organisasi tersendiri. Mereka yang sudah berperan di banyak sektor merasa belum terkonsolidasi dengan maksimal karena belum ada wadah formal yang menggerakkannya.

Lebih luas lagi, para perempuan NU merasakan organisasi khusus penting didirikan bukan semata karena tuntutan sejarah perjuangan kemerdekaan tetapi juga didorong oleh keprihatinan yang mendalam atas keadaan, sikap, pandangan, dan perlakuan yang kurang adil terhadap perempuan. Continue reading Inilah Sejarah Berdirinya ‘Muslimat NU’

4 Pesan Khusus Mbah Maimoen: Ingin Maju? Bersatulah

Majalah AULA, majalah Nahdlatul Ulama pada edisi November 2016 mengulas pesan penting Mustasyar PBNU, KH Maimoen Zubaer dari Sarang Rembang. Mbah Maemoen secara khusus berpesan soal kesatuan dan persatuan bangsa. Mbah Maemoen sudah merasa prihatin dengan kondisi selama ini dimana perbedaan justru dijadikan pemicur perseturuan diantara umat dan antar umat.

Mbah Maemoen menuturkan, perselisihan atau perseteruan itu sudah bawaan manusia. Namun, melekatkan agama dan etnis secara berlebihan, akan menimbulkan konflik, apalagi jika sudah dibumbui kepentingan politik praktis.

“Selisih itu bawaan manusia. Oleh karena itu kalau ingin maju, buat bersatu tapi tetap boleh beda. Beda tapi satu. Hal itu sesuai dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika,” ujar Mbah Maimoen.

Continue reading 4 Pesan Khusus Mbah Maimoen: Ingin Maju? Bersatulah

Kyai NU di Jawa Tengah bertemu Presiden, Ini Hasilnya

Presiden Jokowi menyempatkan waktu untuk sowan ke para ulama, kiai, juga habaib se-Jawa Tengah dalam Forum Silaturahmi yang di gelar di Hotel Gumaya Semarang, Senin 14 November 2016. Acara ini diawali dengan shalat Maghrib berjamaah dan ramah-tamah ini dilanjutkan dengan forum diskusi yang hangat antara umaro dan ulama.
Hadir dalam kesempatan itu, kyai-kyai NU seperti KH Abdul Karim (Gus Karim) Solo, KH Yusuf Chudlori API Tegalrejo Magelang (Gus Yusuf),  Ketua Tanfidziyah PWNU KH Abu Hafsin, Rais Syuriyah PWNU KH Ubaidillah Shodaqoh, jajaran Syuriah PWNU M Adnan MA, Mustasyar PW NU dan juga Mantan Guubernur Jateng Ali Mufis, KH Solikhun Magelang, KH Said Asrori Magelang, KH Muhlasin Banyumas, Habib Anis Sholeh Ba’asyin Pati, KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin) Pati, Ketua MUI Jawa Tengah KH Ahmad Daroji.

Continue reading Kyai NU di Jawa Tengah bertemu Presiden, Ini Hasilnya

Al-Audah ila Iktisyaf Tsauratina, Kitab Pusaka Presiden Soekarno

Oleh A. Ginanjar Sya’ban
Kitab berjudul “al-‘Audah ilâ Iktisyâf Tsauratinâ” ini bernilai keramat. Kitab ini diterbitkan di Kairo pada tahun 1959 oleh al-Dâr al-‘Arabiyyah li al-‘Ulûm, dengan tebal 68 halaman. Saya mendapatkan salinan kitab ini dari perpustakaan Biblioteka Alexandria, Mesir.
Apa istimewanya kitab “al-‘Audah ilâ Iktisyâf Tsauratinâ” ini?

Continue reading Al-Audah ila Iktisyaf Tsauratina, Kitab Pusaka Presiden Soekarno

PKB: Polisi Harus Bijak Hadapi Demo 4 November

Anggota Komisi III DPR RI Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, Abdul Kadir Karding, mengatakan, rencana unjuk rasa masyarakat pada 4 November mendatang merupakan bagian dari demokrasi. Dia berharap unjuk rasa itu diberi ruang yang proporsional baik oleh pemerintah maupun aparat keamanan.
“Demo tanggal 4 November perlu diberi ruang. Sekaligus perlu didengar sebagai bagian merespon aspirasi masyarakat,”  kata Karding saat dihubungi di Jakarta,  Selasa (1/11/2016).

Continue reading PKB: Polisi Harus Bijak Hadapi Demo 4 November

Hashtag #1AbadQudsiyyah Jadi Trending Topic Twitter

Hashtag peringatan #1AbadQudsiyyah sempat menjadi trending topic di Twitter Indonesia, senin malam pukul 19.00 WIB. Hashtag yang mewakili obrolan seputar peringatan ulang tahun Qudsiyyah Kudus ke 100 ini menempati urutan ketiga.

Ucapan selamat serta kegiatan grand even Qudsiyyah digeber di dunia maya terutama di twitter. Berbagai even yang digelar serta begitu semaraknya acara satu, yang telah berlangsung lebih dari setahun ini membuat banyak kalangan begitu mudah membagikan ke segala penjuru dunia maya. Tagar ini mulai ramai pada saat hari pertama grand even satu abad Qudsiyyah yang dimulai sejak Senin pagi. Continue reading Hashtag #1AbadQudsiyyah Jadi Trending Topic Twitter