Innalillahi, Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Dimyathi Romly Wafat


Jakarta,

Kabar duka datang dari Jombang, Jawa Timur. Mursyid sekaligus Ketua Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso, Peterongan Jombang KH A Dimyathi Romly (72 tahun) telah berpulang ke rahmatullah. Kiai Romly yang juga Rais Syuriyah PBNU ini wafat sekitar pukul 13.00 WIB, Rabu (18/5) setelah sebelumnya  4 hari dirawat di RS Airlangga Jombang. 

Kabar ini dibenarkan oleh salah satu Pengasuh Pesantren Darul Ulum, KH Hamid Bisri dalam pesan singkatnya. 

“Innalillahi wainna ilaihi raji’un, telah berpulang ke rahmatullah dengan tenang Mursyid Thariqah Al-Qadiriyah wan Naqsabandiyah sekaligus Pengasuh PP Darul ulum Rejoso Peterongan Jombang. Semoga semua amal Mursyid sekaligus guru kami diterima dan diampuni segala kesalahan dan dosanya, husnul khotimah, dimasukkan surga bighoiri hisab walaa adzaab…Aamiin.”

KH Dimyathi Romly meninggalkan 7 orang anak. Kini pesantren yang dipimpinnya terbilang maju pesat. Selain berhasil mengembangkan madrasah unggulan berbasis teknologi, sekarang universitas di pesantren tersebut (Unipdu Jombang) juga berhasil mengembangkan berbagai program studi dan jurusan. 

Pemakaman rencana akan dilaksanakan hari ini pada pukul 21.00 WIB  di komplek makam keluarga di sekitar asrama Hidayah Qur’an Pesantren Darul Ulum sesuai wasiatnya sebelum meninggal. (Fathoni)

Sumber: NU Online

Peserta Liga Santri Nusantara 2016 Naik Lima Kali Lipat



Jakarta,
Kemenpora kembali menginisiasi persiapan gelaran Liga Santri Nusantara (LSN) II/2016. Kali ini, peserta kompetisi akan meningkat lima kali lipat dibanding LSN tahun 2015.

Menurut Ketua LSN Abdul Ghaffar Rozin, konsep tahun ini akan berbeda karena jumlah region meningkat menjadi 32 region. “Sebelumnya tak sebanyak tahun ini. Dengan region yang nambah, otomatis peserta juga nambah menjadi 1024 tim dari seluruh Indonesia,” kata ketua Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) atau asosiasi pesantren NU ini, Selasa (16/5) malam.

Selain meningkatkan kuantitas, lanjut dia, secara kualitas pertandingan di LSN dipastikan bakal meningkat. Itu seiring kerja sama yang sudah dilakukan dengan Asosiasi Wasit Profesional Indonesia (Awapi).

Ada 130-an wasit yang akan dilibatkan memimpin di tiap region, dengan regulasi dan tata kelola yang lebih baik. “Kalau sebelumnya masih ada banyak kekurangan, sekarang sudah di evaluasi. Termasuk verifikasi pemain, untuk mencegah pencurian umur,” tegas dia.

Di sisi lain, Asdep Olahraga Pendidikan Kemenpora, Arifin ‎Majid menjelaskan bahwa anggaran pada tahun ini meningkat. Apalagi, ada APBN yang siap mendukung kegiatan ini. “Kalau jumlahnya kebutuhan anggaran mencapai Rp 20-an miliar, tapi APBN menyiapkan tak sebanyak itu. Sisanya dari sponsorship,” papar dia.

Kemenpora menurut dia melihat ada kesuksesan dalam pelaksanaan pada 2015 lalu. Banyak pemain bagus lahir, dan mereka siap untuk disalurkan masuk dalam tim Pelajar Asia U-18. “Nanti pemain terbaik yang terpilih pada 2015, akan memperkuat Timnas Pelajar U-18 untuk 2016,” tandasnya. (Red: Mahbib)

Sumber: NU Online

Ini Pandangan Pelajar NU Surabaya tentang PKI dan HTI


Surabaya,

Dalam sebuah forum diskusi dwi pekan, Pimpinan Cabang IPNU dan IPPNU Surabaya, Jawa Timur membedah fenomena menguatnya kampanye anti PKI dan HTI di hadapan anggota, kader, dan pengurus Ikatan Pelajar NU se-Surabaya. Diskusi berlangsung di Aula Jam’iyyatul Qurra wa al-Hufaz PCNU Surabaya, Selasa (17/5) malam.

Forum yang digelar bersama PW IPNU Jawa Timur ini menghasilkan sebuah analisis sosial sebagai alat primer dalam membedah realita faktual berupa penelaahan atas sebuah gejala sosial, pola sosial, dan sistem sosial serta aktor di balik sistem sosial. Selain ketiga hal tersebut, terdapat pula empat aspek yang saling berkaitan yaitu: politik, ekonomi, sosiokultrural, dan teknologi. 

“Ibarat sebuah puzzle, antara satu fenomena dengan fenomena lain pasti saling berkaitan. Termasuk fenomena naiknya isu ancaman PKI dan HTI,” ujar Haykal A. Zamzami, Ketua PW IPNU Jatim dalam siaran persnya kepada , Rabu (18/5).

Sementara itu, Ketua PC IPNU Surabaya, Agus Setiawan mengimbau kepada nahdliyyin untuk tidak reaktif maupun menempuh langkah militeristik dalam menyikapi isu bangkitnya PKI dan HTI, karena sikap yang tidak terkoordinir dan tidak sistematis hanya akan menaikkan pamor PKI dan HTI, sementara NU hanya akan terkena dampak negatifnya. Ia juga menambahkan, bahwa kader NU harus cermat dalam merespon berbagai isu. 

“Ini mengingat Islam terbukti tidak dapat dihancurkan dengan kekuatan dari luar, apalagi yang bebentuk fisik dan posisi NU sebagai organisasi terbesar di negara dengan umat Islam terbesar di dunia, kita harus bisa memotong kompas,” tandasnya.

M. Najih Arromadloni selaku Wakil Ketua PC IPNU dan koordinator diskusi menjelaskan, bahwa forum ini merupakan upaya rutin PC IPNU-IPPNU Surabaya dalam mengkaji berbagai isu aktual sebagai kerja akademis pelajar NU. Menurutnya, kader pelajar NU harus menjiwai tiga elemen dasar, yaitu baca, tulis, dan diskusi. 

“Agar kita selalu bersikap dan berbicara by data,” jelas Najih. (Red: Fathoni)

Sumber: NU Online

Mengungkap Peran Al-Qur’an Terhadap Persoalan Kemanusiaan, Kemasyarakatan, dan Kebangsaan


Jakarta,

Kementerian Agama melalui Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran (LPMA) akan menggelar Seminar Internasional tentang Al-Quran. Seminar Internasional ini dijadwalkan akan dilaksanakan pada 30 Agustus-1 September 2016 di Jakarta. 

Dilansir laman kemenag.go.id, seminar internasional ini mengangkat tema Peran Mushaf dalam Membangun Peradaban Islam dan Kemanusiaan. Seminar Internasional ini diharapkan menjadi forum pertemuan dan diskusi para pakar, para pemimpin perguruan tinggi, ilmuwan, cendekia, ulama, tokoh agama, dan lembaga-lembaga yang memiliki perhatian terhadap kajian Mushaf Al-Qur’an dalam upaya mengungkap peran Mushaf Al-Qur’an terhadap persoalan kemanusiaan, kemasyarakatan, dan kebangsaan.

Terkait itu, seminar juga akan membahas sejumlah sub tema, antara lain: 1) Kontribusi dan Upaya dalam Pelayanan Mushaf dari Masa ke Masa; 2) Pengaruh Mushaf Al-Qur’an terhadap Umat Muslim dalam bidang Peradaban dan Bahasa; 3) Tradisi Penyalinan Mushaf Al-Qur’an antara Timur dan Barat Dunia Islam di Tengah Perkembangan Teknologi Modern.

Sub tema lainnya: Keraguan Seputar Mushaf Al-Qur’an dan Sejarahnya; Kodifikasi Mushaf Al-Qur’an dan Aliran Kaligrafi Arab; Mushaf Al-Qur’an dalam Seni Islam; Mushaf Al-Qur’an; Rasm, Dhabt, Waqf, dan Ibtida’; Mushaf Al-Qur’an dan Isu-isu Kontemporer; Mushaf-mushaf Kuno dalam Perspektif Filologi; serta Terjemah Al-Qur’an; Sejarah, Perkembangan dan Problematikanya.

Seminar akan diikuti para pegiat kajian Al-Qur’an dari kalangan akademisi, seperti dosen, peneliti, dan para pengkaji Al-Qur’an yang dibagi dalam dua kategori: pertama, peserta Pemakalah, yaitu: mereka yang diundang sebagai pembicara utama, atau mendaftar dan mengajukan makalahnya, serta telah mendapat persetujuan dari Tim Penilai Makalah (reviewer) yang telah ditunjuk oleh LPMA. 

Kedua, peserta umum, yaitu mereka yang mendaftarkan diri tanpa mengajukan makalah untuk mengikuti seluruh rangkaian seminar. Untuk kategori ini, penginapan dan konsumsi ditanggung oleh peserta yang bersangkutan. 

Untuk peserta pemakalah, LPMA membuka pendaftaran hingga batas akhir pengiriman abstrak makalah pada Selasa (31/5) mendatang. Abstraksi yang masuk akan dinilai oleh tim penilai dan hasilnya akan diumumkan pada Rabu, 8 Juni 2016. Peserta yang abtraksinya terpilih harus mengirimkan makalah lengkapnya sampai dengan Minggu, 31 Juli 2016. Adapun untuk peserta umum, dapat mendaftar hingga batas akhir 8 Juni 2016 atau hingga batas maksimal peserta umum telah terpenuhi.

Info selengkapnya terkait kegiatan seminar internasional ini, silakan klik: Seminar Internasional tentang Al-Quran. (Red: Fathoni)

Sumber: NU Online

PMII Unila Ulas Tiga Penyebab Maraknya Pelecehan Seksual


Bandar Lampung, Maraknya pelecehan seksual terhadap anak dan perempuan dewasa ini semakin meresahkan warga. Kasus-kasus pelecehan seksual seolah-olah silih berganti dari hari ke hari. Mulai dari kasus Yuyun di Bengkulu, kekerasan seksual di Lampung Timur, serta terbaru ini yang sempat mencengangkan yaitu kasus di Tangerang, dimana seorang wanita muda diperkosa dan dibunuh dengan cara yang amat keji.

Kondisi ini pula yang membuat para aktivis Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Universitas Lampung (Unila) tergugah. Selasa (17/5), mereka menggelar diskusi dengan membahas pelecehan seksual yang semakin marak tersebut, di Bandar Lampung, Lampung.

Dengan menghadirkan pemantik diskusi, yaitu akademisi Fakultas Hukum Unila, M. Iwan Satriawan, diskusi ini membahas berbagai penyebab terjadinya tindak kasus pelecehan seksual.

Menurut Iwan, akar terjadinya kasus pelecehan seksual ini ada tiga yang paling utama. Pertama, dari aspek keluarga dan lingkungan. Keluarga dan lingkungan merupakan tempat sosialisasi pertama yang diterima oleh anak sejak lahir. Keluarga dan lingkungan saat ini lebih cenderung apatis terhadap kehidupan anaknya.

Saat ini, tegasnya, bahwa pola pikir mayoritas keluarga bahwa jika sudah memenuhi kebutuhan jasmani maka sudah terpenuhi kewajiban orang tua, padahal kebutuhan ruhani tidak kalah penting sebagai pencipta akhlak yang budiman.

Aspek pendidikan menjadi penyebab kedua, menurut Iwan Satriawan. Pendidikan saat ini, katanya, lebih berorientasi pada aspek kognitif saja, hasil dari pendidikan hanya dilihat dari nilai yang berbentu angka. Padahal, aspek sikap dan kepribadian sangat diperlukan untuk membentuk karakter yang mulia.

Ketiga, yaitu dari Pemerintah. Ketidaktegasan Pemerintah dalam menangani berbagai kasus membuat pelaku-pelaku tindak pelecehan seksual tidak mengalami efek jera. Ketidaktegasan ini dapat dilihat dari belum disahkannya RUU Penghapusan Kekerasan Seksual oleh Pemerintah, yang RUU itu diusulkan oleh Komnas Perempuan kepada DPR RI.

Menindaklanjuti diskusi tersebut, Kharisma Afif Muaddin selaku ketua pelaksana merencanakan untuk menggelar Istighotsah di Tugu Adipura pada Kamis (19/5) malam. “InsyaAllah kita akan melakukan istighotsah dan doa bersama di Tugu Adipura sebagai bentuk keprihatinan atas kasus-kasus pelecehan seksual,” ujar Kharisma. (Red: Mahbib)

Sumber: NU Online

Mbah Moen, Kang Said dan Bupati Rembang Resmikan Masjid Al-Amin Pamotan


Rembang, Mustasyar PBNU KH Maimoen Zubair, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, dan Bupati Rembang H Abdul Hafidz meresmikan Masjid Al-Amin Desa Pamotan Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Selasa (17/5) sore. Mereka membubuhkan tanda tangan di atas prasasti raksasa yang dibuat oleh panitia.

Para hadirin tampak membludak mulai dari orang tua hingga anak-anak. Mereka antusias mendengarkan secara langsung taushiyah dari KH Maimoen Zubair dan KH Said Aqil Siroj. Mereka berbondong-bondong sebisa mungkin untuk mendekati podium.

Dalam kesempatan tersebut, kedua pentolan PBNU secara kompak membicarakan gagasan Islam Nusantara dan nasionalisme. Kang Said, sapaan akrab KH Said Aqil Siroj, di hadapan jamaah mengungkapkan rasa syukur atas masih adanya jati diri pada warga Indonesia dan warga NU.

“Warga Indonesia ini masih mempunyai kepribadian yang bermartabat, dan bergengsi. Walaupun di Desa Pamotan, masih bergengsi. Dibanding umat Islam di negara-negara Arab,” katanya.

Ia menambahkan, di negara Timur Tengah akidahnya masih jauh. Ibadahnya masih jauh. Tapi tidak mempunyai ketahanan yang kokoh menerima arus globalisasi menimbulkan gejolak yang sangat luar biasa. “Ternyata budaya, karakter, kepribadian, jati diri, umat Islam di Timur Tengah ambruk. Mereka saling bunuh-bunuhan sesama Islam, sesama muslim,” jelasnya.

Berbeda halnya dengan Indonesia yang masyarakatnya bersatu. Ia menilai rakyat Indonesia mempunyai kepribadian yang kuat, yang kokoh, sehingga tidak mudah tergoyahkan dan terprovokasi. Seperti halnya warga Nahdliyyin.

Selanjutnya, Mbah Moen (KH Maimoen Zubair) dalam kesempatan itu menjelaskan tentang jiwa nasionalisme yang harus ditanamkan dalam rakyat Indonesia dan warga NU. Mbah Moen menyebutkan kepanjangan dari PBNU yang merupakan dasar dari Negara Indonesia. “PBNU itu kepanjangan dari Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan Undang-Undang 1945. Inilah yang harus kita jadikan pedoman,” terang kiai sepuh yang kini berusia 91 tahun tersebut.

Sebelumnya, dalam sambutan Bupati Rembang H Abdul Hafidz membeberkan terkait proses pembangunan masjid tersebut. Abdul Hafidz selain sebagai Bupati Rembang saat ini juga selaku ketua pembangunan Masjid Al-Amin Desa Pamotan Kecamatan Pamotan.

Di akhir acara, Mbah Moen berkesempatan untuk memimpin doa. Tampak pula beberapa tokoh yang hadir di antaranya Wakil Bupati Rembang Bayu Andriyanto, Kapolres Rembang, Dandim Rembang, Kapolsek Pamotan, Koramil Pamotan, Camat Pamotan, dan beberapa badan otonom NU yang berada di Kabupaten Rembang. Serta Barisan Ansor Serbaguna (Banser) dari beberapa Satkoryon se-Kabupaten Rembang. (Aan Ainun Najib/Mahbib)

Sumber: NU Online

2 Faktor Menonjol Penyebab Berkembangnya Radikalisme menurut As’ad Said Ali


Bandung,

Di era sekarang, radikalisme muncul di sejumlah negara Islam termasuk di Indonesia. Penyebabnya tidak jauh berbeda yakni masalah politik baik internal maupun eksternal. Perbedaannya terletak pada ruang lingkupnya yang sejak akhir abad XX menjadi konflik yang berskala global dengan dibarengi aksi kekerasan dan terorisme.

Hal tersebut disampaikan Ketua Majelis Wali Amanah (MWA) UPI Bandung KH As’ad Said Ali pada Seminar Nasional Pendidikan Perdamaian dan Upaya Pencegahan Radikalisme Agama yang diselenggarakan atas kerja sama Pergunu Jawa Barat dengan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, (16/5).

Menurut Mustasyar PBNU ini, berkembangnya radikalisme ini disebabkan oleh sejumlah faktor. Di antara berbagai faktor penyebab, ada dua faktor yang sangat menonjol. Pertama, banyak negara muslim yang belum berhasil merumuskan sistem politik dan pemerintahan di era modern. 

Lebih lanjut, Kiai As’ad mengatakan bahwa Al-Quran dan Hadits sendiri tidak secara eksplisit menentukan model sistem kenegaraan tertentu. Oleh karena itu, Para ulama menjadikan pengorganisasian masyarakat muslim Madinah sebagai contoh yang menjadi inspirasi pada sistem politik dan pemerintahan. 

Kaum radikalis, lanjutnya, menghendaki suatu negara teokratis dengan khilafah sebagai pemimpin tertinggi. Sebaliknya kaum moderat merumuskan sistem politik dengan pertimbangan realitas kekinian yang disesuaikan dengan syariat Islam serta perkembangan budaya setempat. 

“Perbedaan konsep kenegaraan inilah yang menjadi sumber konflik yang berujung pada kekerasan dan terorisme,” ujar mantan Wakil Kepala BIN ini.

Kedua, tambahnya, pasca perang dingin ada kecurigaan bahwa pihak Barat berusaha secara sistematik memaksakan sistem liberal/sekuler setelah merasa menang terhadap komunisme. Sistem liberal atau neo-liberalisme mereka anggap sebagai satu-satunya sistem yang mampu mewujudkan kesejahteraan dan keadilan. 

Kaum neo-liberalisme ini, imbuhnya, menjadikan isu globalisasi sebagai pintu masuk penyebaran paham baik melalui campur tangan dalam penyusunan undang-undang negara muslim maupun penyebaran sekulerisme melalui media cetak, elektronik dan dunia maya untuk merubah kebudayaan kaum muslimin. 

Kaum muslim moderat tentu saja tidak menolak proses tersebut yang memang tidak bisa dihindari, tetapi dengan catatan adanya dialog yang sejajar atas dasar kepentingan bersama. Sebaliknya, kaum radikalis menolak dan melawan melalui kekerasan yang bersifat global, yakni terorisme. “Bahkan kaum radikal menjadikan kaum muslimin yang tidak sependapat dengan mereka sebagai target kekerasan,” ungkap As’ad. (Awis Saepuloh/Fathoni)

Sumber: NU Online

Bercita-Cita Jadi Kiai, Saudara Kembar Yuyun Nyantri di Malang


Rejanglebong,

Saudara kembar Yuyun, akan disekolahkan oleh Menteri Sosial di Malang. Yuyun (14) adalah siswi SMP di Kabupaten Rejanglebong, Bengkulu yang menjadi korban pemerkosaan dan pembunuhan oleh belasan remaja setempat. 

Yakin (32) orangtua dari anak kembar tersebut saat ditemui Antara di kantin Polres Rejanglebong, Selasa, mengatakan, ia bersama dengan isterinya Yana (30) dan Mardiani, aktivis perlindungan perempuan dan anak dari Women Crisis Center (WCC) Bengkulu, akan berangkat Malang, Provinsi Jawa Timur melalui Kota Bengkulu.

Ia mengaku akan mengantarkan anaknya untuk sekolah di sebuah pondok pesantren di Malang seperti yang dijanjikan oleh Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa saat berkunjung ke rumah mereka beberapa waktu lalu.

“Kami akan dijemput oleh orang dari Kemensos,” katanya. 

Anaknya itu, kata Yakin, saat ini tidak mau lagi bersekolah di desa mereka setelah saudara kembarnya meninggal. Melihat kondisi ini dia bersama isterinya mendukung anaknya agar sekolah di Malang dengan harapan nantinya bisa melupakan kejadian yang menimpa saudara kembarnya tersebut.

“Dio memang bercito-cito nak jadi kiai, kami mendukung dio sekolah di sano, apo lagi ibu Menteri Khofifah sudah bejanji nak nyekolahkannyo di pondok pesantren,” kata Yakin dengan logat daerah.

Selain anaknya yang akan bersekolah di Jawa, tambahnya, dirinya pun bersama isterinya Yana akan pindah ke Kota Bengkulu. Hal ini dia lakukan guna menghindari kejadian yang tidak diingini mengingat mereka tinggal di Dusun V Desa Kasie Kasubun sebagai perantau dari Kecamatan Ulu Rawas, Kabupaten Musi Rawas Utara, Sumatera Selatan.

Sebelum pindah ke Bengkulu ia akan menjual kebun seluas satu hektare yang mereka tanami kopi sebanyak 3.000 batang dan saat ini sudah berumur 1,5 tahun kepada keluarganya atau orang lainnya yang berminat.

Sementara itu Mardiani dari WCC Bengkulu menambahkan, langkah yang diambil oleh kedua orangtua Yuyun itu merupakan tindakan tepat guna menghilangkan trauma yang dialami saudara kembarnya dan keluarganya. Untuk itu dia berjanji akan terus mengawal jalannya proses hukum yang dialami Yuyun ini sampai selesai.

Yuyun (14) adalah siswi SMPN 5 Kecamatan Padang Ulak Tanding adalah korban pemerkosaan dan pembunuhan pada Sabtu (2/4), yang dilakukan oleh 14 tersangka pelaku, 13 orang di antaranya sudah ditangkap Polres Rejanglebong. 

Dari jumlah itu terdapat delapan pelakunya yang masih di bawah umur, dengan tujuh orang di antaranya sudah jatuhi vonis oleh hakim PN Curup pada 10 Mei lalu dengan hukuman 10 tahun penjara ditambah enam bulan mengikuti pelatihan kerja. (Antara/Mukafi Niam)

Sumber: NU Online

Buka Pertemuan IDB, JK Dorong Pembentukan Bank Infrastruktur Islam


Jakarta,

Wakil Presiden RI Jusuf Kalla mengharapkan pembentukan Bank Infrastruktur Islam (Islamic Infrastructure Bank) dapat benar-benar terealisasi sehingga dapat membantu program-program strategis di negara-negara anggota IDB (Bank Pembangunan Islam).

Menurut Jusuf Kalla, Indonesia sebagai negara yang penduduk beragama Islamnya sangat besar tentu akan mempunyai harapan yang besar terwujudnya lembaga tersebut.

“Dengan pengalaman yang ada dan kerja sama dengan negara Islam lainnya, tentu sangat berharap dapat terlaksana bank tersebut,” ujar Jusuf Kalla di Jakarta, Selasa.

Pembahasan pembentukan Bank Infrastruktur Islam yang diinisiasi Bank Pembangunan Islam (IDB), Indonesia dan Turki masih terus dibahas. Saat ini, tim khusus sudah dibentuk dan akan segera memulai pembicaraan.

Proses pembentukan bank tersebut memang butuh beberapa pembicaraan terkait bagaimana struktur bank, dewan gebernurnya, utilisasi fasilitas semua negara, operasional, termasuk soal kantor pusatnya yang ditengarai masih tarik menarik akan didirikan di Indonesia atau di Turki.

Indonesia merupakan salah satu negara pendiri IDB pada 1975 dan kini masih menjadi salah satu dari 56 negara anggota IDB. 

Wakil Presiden RI Jusuf Kalla sendiri secara resmi baru saja membuka Sidang Tahunan Dewan Gubernur Islamic Development Bank (IDB) Ke-41 di Jakarta, Selasa.

Sejatinya, Sidang Tahunan IDB ke-41 tersebut sudah berlangsung sejak Ahad (15/5) lalu dan dibuka oleh Wapres Jusuf Kalla pada Senin (16/5) namun ditunda menjadi Selasa malam ini. (Antara/Mukafi Niam)

Sumber: NU Online

Santri BPUN Ansor Way Kanan Belajar Kejujuran dari Polisi Hoegeng


Way Kanan,

Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Way Kanan Provinsi Lampung mengajak peserta Pesantren Kilat Bimbingan Belajar Pasca ujian Nasional (Sanlat BPUN) 2016 menyaksikan tayangan Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso yang menurut KH Abdurahhman Wahid (Gus Dur) merupakan polisi jujur.

“Dari Jenderal Hoegeng saya belajar mengenai konsistensi, kejujuran, dan bagaimana menjadi pejabat yang tidak terbuai rayuan dunia,” ujar Santri BPUN Anisa Yuliani dari SMAN 2 Buay Bahuga, di Gunung Labuhan, Rabu (18/5).

Menurut Anisa seusai menyaksikan kisah Jenderal Hoegeng pada sesi motivasi di aula Pesantren Assiddiqiyah 11 Labuhan Jaya, Gunung Labuhan, Way Kanan yang diasuh Kiai Imam Murtadlo Sayuthi, Hoegeng Imam Santoso yang menjabat sebagai Kapolri pada tahun 1968-1971 adalah  sosok patut diteladani.

“Beliau adalah polisi sejati, patut dicontoh polisi lain dan seluruh masyarakat di negeri ini. Indonesia hari ini butuh ribuan Hoegeng yang konsisten dengan kejujurannya,” kata Anisa lagi.

Hoegeng yang dilahirkan di Pekalongan tahun 1921 pernah menolak hadiah rumah dan berbagai isinya saat menjalankan tugas sebagai Kepala Direktorat Reskrim polda Sumatra Utara tahun 1956.

Anisa menambahkan, satu figur Hoegeng berdampak besar dengan kejujuran dimilikinya. “Apalagi jika ada seribu figur sebagaimana Hoegeng dengan beragam profesi. Tentu akan sangat bisa memajukan bangsa karena banyak figur memiliki keberanian untuk tidak menyeleweng,” ujarnya.

Ketua PC GP Ansor Way Kanan selaku Manajer BPUN Gatot Arifianto berharap para peserta BPUN 2016 dapat mengambil kesimpulan dan pelajaran dari tayangan Jenderal Hoegeng sehinggga dapat menjadi generasi bangsa yang akan mampu bersikap dan bertindak seperti Hoegeng dimasa mendatang. (Septiana Nurul Fajriah/Fathoni)

Sumber: NU Online

Pemerintah Tetapkan Besaran Rata-rata BPIH 2016 Rp 34,6 Juta



Jakarta,
Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) mengumumkan ketetapan pemerintah perihal pelunasan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) Reguler. Pemerintah menentukan besaran rata-rata BPIH tahun 1437 H/2016 M sekira Rp. 34.641.304,00 atau setara USD2.585. Jumlah besaran ini ditentukan dengan asumsi nilai tukar rupiah sebesar Rp13.400 per USD1.

Pengumuman ini disampaikan Menteri Agama RI H Lukman Hakim Saifuddin yang didampingi Dirjen PHU Prof Dr H Abdul Jamil di Kantor Kemenag RI Jalan Lapangan Banteng Barat 3-4, Jakarta, Selasa (17/5) siang.

Besaran angka rata-rata BPIH ini didasarkan pada Keputusan Presiden No 21 tahun 2016 tentang BPIH tahun 1437 H/2016 M tanggal 13 Mei 2016. Kepres ini keluar setelah mendapat persetujuan dari Komisi VIII DPR RI.

Secara umum besaran rata-rata BPIH tahun 1437 H/2016 M mengalami penurunan dari rata-rata BPIH tahun 1436 H/2015 M. Menurut satuan dollar Amerika, jumlah BPIH tahun 2016 turun sebesar USD132 dari rata-rata BPIH tahun 1436H/2015M sebesar USD2.717.

Kendati demikian, masyarakat wajib melunasi pembayaran BPIH Reguler tahun 1437 H/2016 M dengan mata uang rupiah. Hal ini didasarkan pada amanat Undang-undang Nomor 7 tahun 2011 tentang Mata Uang dan Peraturan Bank Indonesia Nomor 17/3/PBI/2015 tentang Kewajiban Penggunaan Rupiah di Wilayah NKRI.

Berikut ini besaran BPIH Tahun 1437 H/2016 M untuk dua belas embarkasi di Indonesia. Pertama, Embarkasi Aceh untuk jamaah haji dari Provinsi Aceh sebesar Rp 31.117.461. Kedua, Embarkasi Medan untuk jamaah haji dari Provinsi Sumatera Utara sebesar  Rp 31.672.827. Ketiga, Embarkasi Batam untuk jamaah haji dari Provinsi Riau, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, dan Jambi sebesar Rp 32.113.606. Keempat, Embarkasi Padang untuk jamaah haji dari Provinsi Sumatera Barat dan Bengkulu sebesar Rp 32.519.099.

Kelima, Embarkasi Palembang untuk jamaah haji dari Provinsi Sumatera Selatan dan Provinsi Bangka Belitung sebesar Rp 32.537.702. Keenam, Embarkasi Jakarta untuk jamaah haji dari Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, dan Lampung sebesar  Rp 34.127.046. Ketujuh, Embarkasi Solo untuk jamaah haji dari Provinsi Jawa Tengah dan Provinsi DI Yogyakarta sebesar  Rp 34.841.414. Kedelapan, Embarkasi Surabaya untuk jamaah haji dari Provinsi Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Timur sebesar Rp 34.941.414.

Kesembilan, Embarkasi Balikpapan untuk jamaah haji dari Provinsi Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara sebesar Rp 37.583.508. Kesepuluh, Embarkasi Banjarmasin untuk jamaah haji dari Provinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah sebesar Rp 37.583.508. Kesebelas, Embarkasi Makassar untuk jamaah haji dari Provinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Gorontalo, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat sebesar Rp 38.905.808. Keduabelas, Embarkasi Lombok untuk jamaah haji dari Provinsi Nusa Tenggara Barat sebesar  Rp 37.728.961. (Alhafiz K)

Sumber: NU Online

Satu Abad Qudsiyah Berakhir di Kecamatan Mejobo



Kudus,
Kegiatan Tur Dakwah Keliling Meneladani KHR Asnawi yang digelar keluarga besar Qudsiyyah Kudus dimeriahkan dengan tari sufi diiringi dan rebana Al-Mubarok Qudsiyyah. Dakwah dari desa ke desa ini ditutup dengan pengajian umum yang berlangsung di halaman masjid Suryawiyyah Desa Kirig Kecamatan Mejobo Kabupaten Kudus, Ahad (15/5) malam. Sedikitnya 5.000 pengunjung meramaikan pengajian ini.

Pengajian di Mejobo ini merupakan putaran terakhir kegiatan Tur Dakwah Keliling dalam rangka peringatan satu abad Qudsiyyah. Sebelumnya kegiatan serupa telah berlangsung di Kecamatan Dawe, Bae, Undaan, Kaliwungu, Jekulo, Gebog, dan Jati. Berikutnya kegiatan serupa akan dilaksanakan di luar Kudus, yakni di Demak, Jepara, Semarang, Yogyakarta, dan Jakarta.

KH Nor Halim Ma’ruf saat menyampaikan taushiyah mengajak generasi sekarang mengikuti dan menggali model-model dakwah yang dilakukan para pendahulu. “Jasa-jasa para ulama terdahulu, jasa Mbah Kiai Raden Asnawi dalam berdakwah mengembangkan Islam begitu besar,” kata Kiai Nor Halim.

Ia menambahkan, para ulama terdahulu begitu ikhlas berjuang mengembangkan Islam dengan ajaran yang santun dan penuh makna. Ia berharap generasi sekarang mampu meneladani dan mengambil hikmah serta meneruskan perjuangan para sesepuh.

Sepuluh jamiyyah rebana dari Kudus dan Pati meramaikan festival hadrah pada Ahad (15/5) siang. Kegitan yang berlangsung sangat meriah ini dimulai jam 10 pagi hingga sore. Tiga grup terbaik mendapatkan trofi dan uang pembinaan dari panitia.

Madrasah Qudsiyyah Menara Kudus merupakan madrasah salaf yang didirikan oleh KHR Asnawi Kudus, salah satu tokoh pendiri Nahdlatul Ulama dari Kudus. Madrasah Qudsiyyah resmi berdiri pada tahun 1337 H. (Kharis/Alhafiz K)

Sumber: NU Online

Ini 3 Pesan Ketua PP Pergunu untuk Guru-guru NU


Bandung,

Ketua Pimpinan Pusat Pergunu (Persatuan Guru Nahdlatul Ulama) KH Asep Saifuddin Chalim menyampaikan tiga pesan penting kepada Pimpinan Wilayah Pergunu Jawa Barat dan Pimpinan Cabang Pergunu se-Jawa Barat. 

Pesan tersebut disampaikan disela-sela kegiatan Seminar Nasional Pendidikan Perdamaian dan Upaya Pencegahan Radikalisme Agama di Auditorium FMIPA Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Senin (16/5).

Kiai Asep mengatakan bahwa Pengurus Pergunu di semua tingkatan, baik dari pusat sampai daerah harus melaksankan tiga program penting. Pertama, jadikan Pergunu sebagai sarana kita untuk mengkader diri, sehingga kita menjadi kader NU yang memahami betul tentang NU, baik secara struktur maupun secara kultur.

Kedua, Pergunu harus dapat melahirkan pemimpin-peminpin NU di masa yang akan datang, yang dapat membesarkan NU serta menjaga keutuhan NKRI, dan ketiga, Pergunu harus melakukan berbagai macam kegiatan dan gerakan Ahlussunnah wal Jamaah dengan menjunjung tinggi nasionalisme.

Selain itu, Kiai Asep berharap agar guru-guru yang tergabung dalam Pergunu harus senantiasa berbuat baik, tidak menyakiti orang, memuliakan orang serta senantiasa menyambungkan dan menjalin silaturahmi. 

“Guru sebagai suri tauladan bagi peserta didik, maka guru-guru yang tergabung dalam Pergunu harus senantiasa memberikan contoh Akhlakul karimah kepada peserta didiknya, diantaranya berbuat baik, tidak menyakiti orang, memuliakan orang serta senantiasa menyambungkan dan menjalin silaturahmi,” tutur Kiai Asep

Sementara itu, Sekretaris PW Pergunu Jawa Barat H Saepuloh mengatakan bahwa pihaknya beserta PC Pergunu se-Jawa Barat akan berupaya semaksimal mungkin melaksanakan pesan-pesan Ketua Pergunu Pusat tersebut.

“Kami kan berupaya untuk melaksanakan pesan-pesan tersebut semaksimal mungkin,” jelasnya.

Selain Kiai Asep, Seminar Nasional tersebut juga diisi oleh Mustasyar PBNU KH As’ad Said Ali yang juga Ketua Majelis Wali Amanah (MWA) UPI dan unsur akademisi dan guru besar UPI Bandung, Agus Mulyana serta Sunaryo Kartadinata. (Red: Fathoni) 

Sumber: NU Online

Menemui Nabi Hud di Lembah Hadhramaut



Saat itu malam masih pekat, hawa begitu dingin menyapa, mata terbuka saat jam dinding baru mendaratkan jarumnya tepat di angka 2, saat-saat di mana mata ini masih ingin dimanja oleh keempukan pembaringan. Dalam hening tanpa angin, dalam sunyi yang dingin, mobil dan bus mulai menyalakan mesin. Yah, sebuah perjanjian untuk berziarah dini hari ini sudah terjadwal.Berusaha bangkit mengusap keletihan mata, mencoba mengusapkan air wudhu’ di hamparan muka. Kamar mandi yang diam sejak tadinya, kini mulai bernyanyi menyenandungkan percikan air mereka yang sedari lama menanti. Selangkah demi selangkah, seorang demi seorang hingga rampung sudah, kamar mandi menyepi kembali untuk kesekian kalinya. Mereka yang berpakaian serba putih bertekuk lutut di hadapan Tuhannya, tampak begitu tenang, khusyu’ dalam peribadahan dengan beberapa doa yang dipanjatkan dalam penuh kabul yang diharapkan.

Kami pun keluar untuk persiapan, kulihat wajah langit masih kelam namun ada sedikit taburan cahaya yang menemaninya. Perlahan tapi pasti, Rembulan dan Bintang Gemintang memudar silih berganti, tenggelam beriringan, tanpa membekaskan secercah cahaya namun masih menyisakan banyak kerinduan. Udara yang dingin kian lama menghangat tercampur desah napas saat kami memasuki bus sedangkan AC belum ternyalakan. Jam digital bus menunjukkan angka 02.30 a.m., ini artinya bus harus segera menggerakkan roda-rodanya yang hampir beku semalaman karena terselimut angin lembah di luar rumah.

Diam-diam aku pejamkan mata agar perjalanan ini tak melelahkan, agar jarak yang cukup jauh bisa terlipatkan. Tiba-tiba saja bus yang kami naiki berhenti, aku kira kenapa. Pantas saja, tuturku dalam hati. Jam digital bus menunjukkan angka 03.30 a.m., itu artinya kami telah tiba di tujuan utama, Kota ‘Inat. Yah, untuk meziarahi Syekh Abu Bakar bin Salim, seorang wali besar dari keturunan Sang Nabi, beliau hidup di Abad ke 9 Hijriyah. Dan beliau juga membuat tradisi baru pelaksanaan ziarah Nabi Hud a.s. di bulan Sya’ban. Meski sebenarnya ziarah Nabi Hud a.s. sudah ada sejak 4000 tahun silam.

Penuh Khusyu’, Yasin secara serentak terlantunkan dari lisan kami dengan sedikit kantuk. Doa dan Tawassul terus terpanjatkan hingga pimpinan rombongan melantangkan ucapannya dengan kata “Al-Fatihah”. Sayup-sayup hening suasana pemakaman, pasir putih yang dingin, kubah-kubah tanah yang berjejer, tertiup merdu oleh lantunan qashidah seorang mahasisawa asal Jeddah, Saudi Arabia.

Selepas memberikan takzim terakhir kepada Syekh Abu Bakar bin Salim, kami melangkahkan kaki menuju masjid di sebelah pemakaman. Jam di ponselku menunjukkan pukul 04.00 a.m, itu artinya adzan Shubuh sudah waktunya dikumandangkan. Liuk-meliuk penuh semangat, menara-menara masjid se-Kota ‘Inat melantunkan adzannya. Sebagian kami bergegas menuju kamar mandi, ada yang sekadar memperbarui wudhu’nya, ada pula yang menuntaskan hajatnya. Semua anggota rombongan yang nyaris genap 50 orang itu secara serentak meneriakkan takbir sambil mengangkat kedua tangan di belakang Imam. Shalat Shubuh di tengah hening pagi yang masih gelap. Selepas shalat, kami pun lanjutkan perjalanan menuju ke Lembah Hud, sedangkan jam yang berkelap-kelip di bagian depan bus memberi isyarat angka 04.30 a.m.. Ya, perjalanan menuju ziarah dilanjutkan kembali.

Saat itu punuk-punuk perbukitan Lembah Hadhramaut masih tertidur pulas, terpoles embun-embun pagi yang nyaris beku lantaran tak berjumpa mentari. Udara yang sengang, sunyi tak bersuara. Kiri kanan jalan terpagar rapi oleh bukit-bukit terjak yang ringgi menjulang. Sepanjang jalan dari ‘Inat ke Lembah Hud, kami hanya ditemani oleh sapaan bukit-bukit batu berpasir yang bisu itu.

Beberapa wirid yang sempat kami tunda setelah shalat Shubuh, kami lanjutkan lantunannya di dalam bus. Suasana yang mulai tak asing bagi kami, serentak menyuarakan wirid dari atas kursi-kursi yang tak cukup empuk, maklum ini adalah bus bukan mobil eksekutif.

Diam-diam mataku terlelap menemani perjalanan ini, ah biarkan saja ungkapku perjalanan masih dua jam lagi dengan kecepatan 100 kilometer/jam. Menjelang pukul 06.30 a.m., mataku mulai membuka kelopaknya setelah begitu redup aku tenggelam dalam mimpi. Cahaya mentari sudah tampak menguning keemasan menyapa pundak perbukitan Lembah Hud. Tambah dekat, tampak rumah-rumah pemukiman dan pasar dadakan di sekiling jalan. Yah, ini adalah area Makam Nabi Hud a.s., sebuah area yang hanya dihuni di bulan Ziarah, yaitu pertengahan akhir Rajab dan pertengahan awal Sya’ban.

Turun dari bus, memasuki rumah tanah yang berloteng. Menaiki loteng dan menghirup udara segar lembah yang asri. Ramai-ramai orang memadati area pemakaman tanpa ada isyarat, namun sedikit tertib menempati jalurnya masing-masing. Teh susu yang sudah disiapkan sejak sebelum kami tidur semalam, kini mulai dipanaskan kembali di atas kompor gas berlobang satu arah di atas tabung kecil. Hangatnya teh susu telah mencairkan nafas kami yang nyaris membeku karena udara lembah di pagi ini. Setiap orang mengambil sepotong roti panjang, dengan sebutir telor rebus dan sambel abc sashet, kamipun melahap dengan sekasama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Dari atas loteng, perbukitan yang curam, perkebunan yang rindang, serta area pemakaman yang kian tersesakkan, tak kami lupakan untuk diabadikan dalam album kenangan. Suara jeprat-jepret dari satu hp ke hp lainnya, sahut-menyahut beriringan, tampak paduan suara saja. Namun sayang, foto sebagus apapun tak bisa langsung kami unggah ke media sosial, di sini tak ada jaringan telepon, tidak GSM tidak pula CDMA, karena area ini tak berpenduduk kecuali di musim ziarah, kami pun maklumi itu.

Sebanyak 47 orang yang berangkat ziarah itu terkotak-kotak menjadi 5-6 orang per grup. Hal ini dirasa akan mempermudah pengawasan di tengah desak-sesak keramaian ribuan peziarah. Setiap grup memiliki satu pimpinan, di mana dia bertanggung jawab penuh mengawal grupnya dan harus pulang bersama tepat jam 10.30 a.m. kembali ke rumah tanah ini.

Setiap grup mulai bergerak satu persatu, sesuai aba-aba dari awal setiap grup diperkenan mengikuti Maulid dan Rombongan besar prosesi ziarah tersebut. Ada rombongan di bawah panji Syekh Abu Bakar bin Salim yang dipimpin oleh Habib Umar Bin Hafiz. Ada pula Maulid-maulid yang dipimpin oleh ulama lainnya di area yang sama dan di lokasi yang berbeda. Ada yang memulai tuk berendam dulu di Sungai Al-Hafif, sungai yang sering dijadikan mandi oleh para Ulama’ dan Wali bilamana mereka berziarah. Saya pun menjadi salah satu dari yang merendamkan dirinya di tengah sejuknya air Sungai Al-Hafif.

Selepas berendam dan berwudhu, kami naik ke pelataran sungai yang sudah disiapkan mushala di sampingnya. Orang-orang melaksanakan shalat Dhuha sambil lalu menunggu rombongan Habib Umar bin Hafiz. Dalam hening gerakan shalat, tiba terdengar suara rebana tertabuh dengan semangat, lantunan Qosidah mengudara di Lembah Hud, rombongan Habib Umar datang membawa sekitar 5 panji. Hanyut dalam dzikir dan doa bersama, rombongan dilanjutkan menuju Makam Nabi Hud a.s.

Sesak penuh keringat, jalan-jalan mulai tertutup rapat oleh peziarah. Maju kena mundur kena, bak suasana di terowongan mina kala haji. Untungnya tak ada satupun orang yang jatuh terinjak-injak. Dalam cucuran keringat, rombongan terhenti di deoan Sumur Taslum. Salam-salam dipanjatkan untuk Baginda Rasulullah SAW, para rasul dan para wanita pimpinan wanita surga.

Rombongan kembali menggemakan nasyid, mengudara memenuhi lembah Hud. Sedikit menukik, menanjak dan sedikit terjal. Rombongan terus naik ke lereng bukit. Sampai di Kubah Makam Nabi Hud a.s., penuh khidmat semua peziarah memberi hormat. Dilanjut doa, dzikir dan tawassul. Semua khusyu’ dalam doa di bawah terik mentari yang kian menyengat. Shalawat dan qashidah terus berkumandang. Hingga Habib Umar turun ke Masjid di samping Makam. Beliau memberikan tausiyah, dilanjutkan oleh Habib Abu Bakar Al-Masyhur, beliau berdua adalah Singa Podium yang kian sering berkunjungke Indonesia belakangan ini, berusaha kembali menyambung hubungan Islam Indonesia yang berakar dari Islam Hadhramaut.

Menjelang dzuhur kurang satu jam, jama’ah ziarah pun bubar entah ke mana. Ada yang masih menginap, ada pula yang langsung pulang. Kami pun kembali ke rumah tanah tadi. Istirahat sejenak, kemudian melaksanakan shalat Dzuhur dan Ashar yang dijamak, setelah beberapa saat suara adzan melantun di udara yang sesak. Selesai Shalat, ada ayam goreng menanti di atas talam yang penuh nasi, cukup untuk 5 orang dengan sambal merah yang serasi. Selepas makan, berdiam tenang memegang ponsel sambil melepas keletihan. Jam 02.45 p.m., bus berputar balik menuju kita Tarim dan mata ini kembali meredup di tengah goncangan ban-ban bus yang tak ramah, namun tetap saja mata ini tak mampu mengangkat kelopaknya hingga jam di bus menunjukkan angka 04.12 p.m., sedangkan bus telah berhenti di depan asrama. Letih dengan sejuta harap dan kenang, semoga ziarah ini Allah terima sebagai Ibadah yang Ikhlas, Aamiin.

Tarim, Selasa 10 Sya’ban/17 Mei 2016

Imam Abdullah El-Rashied, Mahasiswa Fakultas Syariah di Imam Shafie College, Hadhramaut

Sumber: NU Online

Ansor Sedan Sukses Meriahkan Harlah Ke-82 dengan Lomba Hadrah


Rembang, Dalam peringatan hari lahir (harlah) ke-82 Gerakan Pemuda Ansor dan harlah ke-93 Nahdlatul Ulama Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, sukses mengadakan lomba hadrah. Acara tersebut berpusat di Pondok Pesantren Al-Mahadi Desa Kenongo Kecamatan Sedan Kabupaten Rembang.

Ketua PAC GP Ansor Sedan Muhammad Nur Muchroz mengatakan, lomba hadrasah yang digelar akhir pekan lalu (15/5) ini sebagai upaya pihaknya berbaur dengan masyarakat, kalangan pesantren, dan pemuda.

Selain lomba hadrah, pihaknya juga melakukan upaya sosialisasi antinarkoba. Hal ini dilakukan karena maraknya kejahatan-kejahatan yang dilatarbelakangi oleh penggunaan narkoba. “NU dan banom-banomnya (badan otonom) harus turut andil dalam upaya sosialisasi antinarkoba tersebut. Kampanye-kampanye semacam ini memang perlu digalakkan setiap saat,” katanya.

Ia menambahkan, selain lomba hadrah pihaknya juga akan mengadakan lomba bulutangkis yang akan dilaksanakan pada 21 hingga 23 Mei 2016 yang bertempat di aula MA YSPIS Desa Gandrirojo Kecamatan Sedan.

“Di tahun yang akan datang, dari intruksi ketua cabang kegiatan ini harus menjadi agenda rutin. Dan para juara ini nanti akan kita bawa dalam ajang lomba hadrah di tingkat cabang Ansor Rembang,” harapnya.

Acara yang dibuka langsung oleh Ketua Pimpinan Cabang Ansor Kabupaten Rembang H Muhammad Hanis Cholil Barroq ini diikuti oleh 9 grup hadrah dari 15 peserta yang mendaftar kepada panitia.

Dari hasil penilaian dewan juri, hadrah ar-Rabbani dari Desa Sidorejo Kecamatan Sedan menjadi juara pertama dengan nilai 6.925, diikuti hadrah Ahlabanina dari Desa Menoro dan hadrah Nusantara dari MA YSPIS Gandrirojo yang mendapatkan juara kedua dan ketiga dengan nilai masing-masing 6.435 dan 6.365. Para juara I, II, dan III masing-masing mendapatkan piala dan uang pembinaan dari panitia. (Aan Ainun Najib/Mahbib)

 

Sumber: NU Online

Gelar Pertemuan, Korps Pelajar Putri NU se-Jateng Perkuat Gerakan


Semarang, Sekitar 20 orang perwakilan Dewan Koordinator Cabang (DKC) dari masing-masing cabang IPPNU se-Jawa Tengah menggelar acara temu kangen dan sarasehan di Gedung PWNU Jateng Jalan Citpo No 180 Semarang, Ahad, (15/5). Mereka ingin bertemu setelah pertemuan sebelumnya pada Kongres IPPNU di Boyolali beberapa bulan lalu.

Mereka adalah delegasi yang datang dari Tegal, Pekalongan,Pemalang, Kendal, Temanggung, Wonosobo, Demak, Kudus, dan Salatiga.

Menurut  Wakil Komandan III Korps Pelajar Putri Jawa Tengah Mutma’inah, pertemuan ini dilatari oleh kesepakatan bersama bahwa pascakongres IPPNU di Boyolali beberapa bulan lalu, para kader KPP ingin berkumpul kembali. Sementara bagi mereka, acara kongres di Boyolali itu menjadi pengalaman yang mengesankan.

Kebersamaan dan kekompakan saat kongres dan khususnya bagi kader KPP Jawa Tengah yang menjadi tuan rumah kongres kala itu harus ekstra keras untuk mempersiapkan segala hal terkait pengamanan dari awal sampai akhir kongres.

“Setelah beberapa bulan kami hanya kontak lewat sosial media akhirnya iseng-iseng saja kami mengusulkan untuk bisa berkumpul kembali. Akhirnya disepakati bahwa pada 15 Mei akhirnya kami dapat berkumpul di gedung PWNU Jawa Tengah. Koordinasi kami selama ini hanya lewat media sosia. Beberapa hari sebelumnya kami selalu kontak bahkan setiap hari,” kata Ketua II di IPPNU Temanggung, bidang pengkaderan kepada , Selasa (17/5).

Kegiatan ini dihadiri pula bidang pengkaderan IPPNU Jawa Tengah Sri Nur Aingingsih. Dalam kesempatan ini, Ain memberikan semangat kepada para kader KPP Jateng untuk tetap erat menjalin komunikasi walaupun terhalang jarak dan kesibukan kegiatan masing-masing. (M Haromain/Alhafiz K)

Sumber: NU Online

Konferensi NU Kota Semarang Terapkan Musyawarah Ahwa



Semarang,
Pesantren Ash-Shodiqiyyah menjadi tempat terselenggaranya Konferensi Cabang Nahdlatul Ulama Kota Semarang. Pada konferensi kali ini peserta menggunakan sistem Ahlul Halli wal Aqdi (ahwa) yang terdiri atas KH Ali Mufidz, KH Dzikron, KH Haris Shodaqoh, KH Adhim Asyiq, dan KH Hanief Ismail. Musyawarah ini kemudian menetapkan KH Hanief Ismail sebagai Rais Syuriyah NU Kota Semarang.

Peserta konferensi yang terdiri atas perwakilan dari enam belas majelis wakil cabang dan satu perwakilan dari cabang kemudian melakukan pemilihan untuk menentukan ketua. Pilihan mereka jatuh pada nama H Anashom.

H Anashom merupakan Ketua NU Kota Semarang pada periode sebelumnya. Ia berjanji akan meneruskan program-program kepengurusan NU yang belum sempat terlaksana di periode sebelumnya.

“Kepengurusan ranting harus diperkuat,” kata H Anashom.

Sebanyak 117 ranting di Kota Semarang menurutnya harus lebih kuat perannya.

Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo ini berhasil memperkuat bidang perekonomian melalui Baitul Mal wat Tamwil (BMT) Nus.

“Khidmah untuk melayani umat,” ujar H Anashom.

Bagi H Anashom yang juga Ketua Pusat Pengkajian Islam dan Budaya Jawa UIN Walisongo, NU merupakan lembaga dakwah. Dakwah merupakan bagian dari pengabdian untuk umat dan kepada Allah. Selain itu, wujud dari visi dan misi akan diejawantahkan dalam program seperti ambulance untuk pelayanan umat, siaga bencana, siaga dhu’afa melalui NU foodbank, penguatan kesejahteraan masjid, dan kaderisasi.

Alumni Pesantren Al-Huda Temanggung ini besok Sabtu (21/5) akan mengumumkan jajaran kepengurusan. Tim formatur untuk masa khidmah 2016-2021 ini terdiri atas tujuh orang, ketua dan rais terpilih, satu orang pengurus demisioner, dan perwakilan zona Semarang Barat, Semarang Timur, Semarang Tengah, dan Semarang Utara.

Dalam konferensi ini tampak sesepuh Nahdlatul Ulama Kota Semarang KH Ahmad Daroji dan KH Ahmad. (M Zulfa/Alhafiz K)

Sumber: NU Online

Kelompok Ekstrem Masih Ada, NU Jangan Habiskan Energi Hanya untuk HTI



Jember,
Nahdlatul Ulama (NU) diimbau untuk tetap mewaspadai gerakan kelompok yang terus menyudutkan NU dan amaliahnya. Bukan tidak mungkin masyarakat termakan oleh propaganda kelompok yang tidak bertanggung jawab tersebut seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Energi NU semestinya disisakan untuk mengatasi masalah lainnya.

Demikian disampaikan tokoh NU Jember KH Hamid Hasbullah saat memberikan ceramah dalam pengajian di Masjid At-Taubah, Perumahan Kramat 2, Kranjingan, Jember, Senin (16/5) malam.

Menurutnya, kelompok-kelompok seperti Salafi dan sebagainya dengan kekuatan finansial sekaligus militansinya terus berusaha menancapkan doktrinnya di tengah-tengah masyarakat Jember yang mayoritas nahdliyyin.

“Jangan sampai lengah dengan isu-isu yang lain. Kita wajib waspada selalu.”

Penegasan tersebut mengingatkan agar energi NU tidak terfokus pada penyikapan terhadap isu-isu pemecah belah NKRI yang diusung HTI. Sebab, apa yang dilakukan kelompok-kelompok radikal lain tidak jauh berbeda dengan HTI.

Menurut Pengasuh Pesantren Al-Azhar ini, NU sejatinya sangat toleran dan ingin hidup damai dengan siapapun. Namun ketika NU terus dihujat dan disudutkan, tidak ada cara lain kecuali menghadapi mereka dengan sungguh-sungguh.

“NU tidak mencari musuh, tapi kalau ketemu musuh jangan lari. Apalagi ini menyangkut keyakinan, aqidah yang kita pegang,” jelasnya.

Sementara itu, Sekretaris Ikatan Takmir Masjid dan Musholla Kabupaten Jember Edi Prasetyo menegaskan, pihaknya dalam sebulan ini sudah mengagendakan pengajian di beberapa titik yang rawan terhadap arus pergerakan Salafi.

“Kita berusaha memberikan pencerahan kepada masyarakat, bagaimana dakwah NU dan bagaimana pula kelompok-kelompok yang selalu menjelek-jelekkan NU,” ucapnya. (Aryudi A Razaq/Alhafiz K)

Sumber: NU Online