Aturan Menerbitkan e-Book Menurut UU No 3 Tahun 2017

e-Book atau Buku Elektronik sudah diakui menjadi salah satu jenis dari buku dan naskah buku di UU No 3 tahun 2017 tentang Perbukuan.

Nah, bagaimana dengan aturan-aturan pengembagan dan penerbitannya?

Simak dulu pasal 57 berikut, bahwa pengembangan buku elektronik dapat dilakukan melalui:

a. Penerbitan Naskah Buku dalam bentuk buku elektronik; dan

b. pengonversian buku cetak ke dalam bentuk buku elektronik.

Seluruh e-Book wajib memiliki angka standar buku internasional elektronik, menurut pasal 58 UU no 3 tahun 2017:

Pengembangan buku elektronik yang dilakukan melalui Penerbitan Naskah Buku sebagaimana dimaksud dalam Pasal 57 huruf a harus memiliki angka standar buku internasional elektronik.

Sedangkan batasan-batasan dalam konversi buku cetak ke buku elektronik (e-book) antara lain:

(1)  Buku teks utama dapat dikonversi ke dalam bentuk buku elektronik untuk memudahkan masyarakat memperoleh dan mengakses buku teks utama.
(2)  Buku elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diunduh secara gratis dan digandakan.
(3)  Ketentuan mengenai pengonversian ke dalam bentuk buku elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri.

Apakah maksud diunduh secara gratis berarti membatasi penjualan e-Book? hmmm

Asas-asas Sistem Perbukuan Nasional

Menurut UU No 3 tahun 2017 tentang Perbukuan, sebuah Sistem Perbukuan Nasional Indonesia harus diselenggarakan dengan asas-asas sebagai berikut:

  1. kebinekaan;
  2. kebangsaan;
  3. kebersamaan;
  4. profesionalisme;
  5. keterpaduan;
  6. kenusantaraan;
  7. keadilan;
  8. partisipasi masyarakat;
  9. kegotongroyongan; dan
  10. kebebasbiasan.

Dengan 10 asas tersebut, diharapkan Sistem Perbukuan Nasional Indonesia mewujudkan tujuan utamanya yaitu:

  1. menumbuhkan dan memperkuat rasa cinta tanah air serta membangun jati diri dan karakter bangsa melalui pembinaan Sistem Perbukuan;
  2. mengatur dan mewujudkan Sistem Perbukuan serta meningkatkan mutu dan jumlah sumber daya perbukuan untuk menghasilkan Buku Bermutu, murah, dan merata;
  3. menumbuhkembangkan budaya literasi seluruh warga negara Indonesia; dan
  4. meningkatkan peran pelaku perbukuan untuk mempromosikan kebudayaan nasional Indonesia melalui Buku di tengah peradaban dunia.

 

Perbedaan Penyaduran dan Penerjemahan

Apakah perbedaan penyaduran dan penerjemaahan menurut UU No 3 tahun 2017 tentang Perbukuan? Simak bedanya berikut

Penyaduran adalah penggubahan yang disesuaikan dengan maksud pihak penggubahnya, termasuk mengganti nama pelaku, tempat, waktu, dan suasana dalam sebuah cerita atau mengubah bentuk penyajian.

Sedangkan Penerjemahan adalah pengalihbahasaan Buku dari bahasa sumber ke dalam bahasa tertentu, baik gaya, makna, maupun konteks.

Jadi, menggubah dan mengalihbahasakan pasti berbeda.

Pengertian Literasi

Berikut adalah pengertian dari Literasi.

Literasi adalah kemampuan untuk memaknai informasi secara kritis sehingga setiap orang dapat mengakses ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai upaya dalam meningkatkan kualitas hidupnya.

Sumber: UU No 3 tahun 2017 tentang Perbukuan

Perbedaan Buku dan Naskah Buku

Dalam UU No 3 tahun 2017 tentang Perbukuan, ada definisi menarik tentang buku dan naskah buku. Kedua nya berbeda secara umum.

Buku adalah karya tulis dan/atau karya gambar yang diterbitkan berupa cetakan berjilid atau berupa publikasi elektronik yang diterbitkan secara tidak berkala.

Sedangkan Naskah Buku adalah draf karya tulis dan/atau karya gambar yang memuat bagian awal, bagian isi, dan bagian akhir.

Semoga penjelasan diatas tidak membuat kalian bingung lagi tentang perbedaan buku dan naskah buku.

Pengertian Sistem Perbukuan Nasional

Berikut adalah pengertian dari sistem perbukuan nasional

Sistem Perbukuan adalah tata kelola perbukuan yang dapat dipertanggungjawabkan secara menyeluruh dan terpadu, yang mencakup pemerolehan naskah, penerbitan, pencetakan, pengembangan buku elektronik, pendistribusian, penggunaan, penyediaan, dan pengawasan buku.

Sumber: UU No 3 tahun 2017 tentang Perbukuan

Puisi “Akan Kemana Angin”

Puisi yang ditulis oleh Cak Nun (Emha Ainun Nadjib), budayawan dan ulama yang sekarang aktif membina jejaring Maiyah Indonesia.

Akan ke manakah angin melayang
Tatkala turun senja yang muram
Kepada siapa lagu kuangankan
Kelam dalam kalbu rindu tertahan

Datanglah engkau berbaring di sisiku
Turun dan berbisik dekat di batinku
Kuingin menjerit dalam pelukanmu

Sampai di manakah berarak awan
Bagi siapa mata kupejamkan
Pecah bulan dalam ombak lautan
Dahan-dahan di hati bergetaran

Silakan tonton musikalisasinya di video: