Jakarta – Polri mengungkap tindak pencurian uang dari rekening nasabah oleh penjahat cyber. Kasus ini sejatinya juga terjadi di negara lain, namun di Indonesia ancaman ini bisa jadi lebih mengerikan.

Menurut Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus (Tipid Eksus) Bareskrim Polri, dugaan ini menimpa beberapa nasabah di tiga bank besar Indonesia. Pelakunya diduga warga negara asing yang masih dalam pengejaran petugas.

Direktur Tipid Eksus Brigjen Victor Simanjuntak mengatakan, modus yang dilakukan pelaku adalah dengan menyebar malware ke perangkat-perangkat yang terkoneksi. Mereka yang mengunduh malware yang menyaru program legal tersebut nantinya akan bertransaksi seolah-olah dengan pihak bank langsung.

Misalnya saja, seseorang akan mentransfer melalui layanan e-banking, namun laman yang dihadapi korban bukanlah laman perbankan yang sesunggguhnya. “Situs itu betul-betul menyerupai halaman bank yang sesungguhnya. Padahal korban tidak menyadari mereka menjadi korban kejahatan,” beber Victor.

Nah, karena pelaku adalah diduga warga negara asing mereka memanfaatkan warga Indonesia untuk menjadi kurir atau pihak yang menampung uang hasil kejahatan. Penyelidikan sementara terdapat 50-an kurir yang direkrut pelaku dan tersebar di beberapa wilayah di Indonesia.

Melihat kejadian ini, praktisi keamanan internet dari Vaksincom Alfons Tanujaya mengimbau kalangan perbankan dan e-commerce di Indonesia harus berhati-hati atas ancaman lain ke depan.

Kejadian serupa juga terjadi di negara lain. Modusnya sama, malah kabar buruknya di Indonesia akan memberikan dampak lebih besar karena administrasi kependudukan yang lemah sehingga memungkinkan banyak KTP aspal yang memudahkan membuka rekening aspal untuk penampungan hasil kejahatan dimana di negara lain sangat sulit dilakukan karena administrasi kependudukannya sudah lebih baik dari Indonesia

Sumber: detik.com