Jakarta, NU Online
Selamat Idul Fitri, bumi maafkan kami selama ini semena-mena kami memerkosamu
Selamat Idul Fitri, langit maafkan kami selama ini tidak henti-hentinya kami mengelabukanmu
Selamat Idul Fitri, mentari maafkan kami selama ini tidak bosan-bosan kami mengaburkanmu

Demikian puisi Wakil Rais Aam PBNU KH A. Musthofa Bisri berkepala Selamat Idul Fitri, yang disampaikan melalui akun twitter @gusmusgusmu, sehari menjelang lebaran (30/8). Follower Gus Mus, sebutan bagi akun yang tersambung, memiliki 32 ribu orang lebih.

KH A. Musthofa Bisri alias Gus Mus yang tinggal di Rembang menyampaikan pesan lewat baik-bait puisi yang tidak basa-basi. Ia merefleksikan kehidupan manusia selama hidupnya dengan lugas.

Selamat Idul Fitri, laut maafkan kami selama ini tidak segan-segan kami mengeruhkanmu..

Selamat Idul Fitri, burung-burung maafkan kami selama ini tidak putus-putus kami membrangusmu..

Selamat Idul Fitri, tetumbuhan maafkan kami selama ini tidak puas-puas kami menebasmu..

Selamat Idul Fitri, para pemimpin maafkan kami selama ini tidak habis-habis kami membiarkanmu..

Selamat Idul Fitri, rakyat maafkan kami selama ini tidak sudah-sudah kami mempergunakanmu..

“Gus Mus menyediakan cermin untuk kita. Semua dari kita harus berterima kasih pada beliau, dari presiden hingga pengusaha, dari penduduk biasa hingga politisi,” komentar M. Jadul Maula, ketua Lesbumi Yogyakarta.

Gus Mus memang pengasuh pesantren dan ulama yang masyhur sebagai penyair. Puisi-puisinya dinilai sebagai jalan kesufian dan peduli dengan nasib kemanusian. Dengan pilihan diksinya yang lugas, ia telah banyak menelurkan puisi-puisi bernas. Antologi puisinya yang telah terbit antara lain Negeri Daging dan Puisi Balsem.

“Gus Mus telah mencatat perbuatan kita dengan indah, mari kita renungkan dengan baik,” ujar jadul yang baru-baru ini menyelenggarakan peringatan 500 tahun kelahiran Sunan Kalijaga.

Selamat Idul Fitri, sejak semalam Bahkan beberapa malam yang lalu Hari sudah tahu kemenangannya Akan datang Seperti tak sabar
Semalaman langit bergaung-gaung Melantunkan takbir yang hingar binger Allahu Akbar! WaliLlahil hamdu! Ramadan seperti malas pergi/ Seperti ada yang masih mengganjal Belum tuntas diselesaikan Tapi hari tak sabar lagi Semua sudah dipersiapkan..
Bagi melepasnya seadanya Hari ini dan mungkin beberapa hari Sesudah hari ini Hari yang bersuka-ria Adakah kau sedang mensyukuri/ Kemenanganmu atas setan dan nafsu Di bulan puasa, maka o, alangkah gembira Ataukah karena kini Kau terbebas lagi seperti semula

Tak ada lagi yang kau sungkani? Apakah ini kemenanganmu Atau lagi-lagi kemenangan Setan dan nafsu atas dirimu

Betapa pun, Allahu Akbar! Bagaimana pun, WaliLlahil hamdu!

Selamat Idul Fitri, mata Maafkanlah aku, selama ini Kau hanya kugunakan melihat kilau comberan

Selamat Idul Fitri, telinga Maafkanlah aku, selama ini Kau hanya kusumpali rongsokan-rongsokan kata

Selamat Idul Fitri, mulut Maafkanlah aku, selama ini Kau hanya kujejali dan kubuat memuntahkan Onggokan-onggokan kotoran

Selamat Idul Fitri, tangan Maafkanlah aku, selama ini Kau hanya kugunakan mencakar-cakar kawan Dan berebut remah-remah murahan

Selamat Idul Fitri, kaki Maafkanlah aku, selama ini Kau hanya kuajak menendang kanan-kiri Dan berjalan di lorong-lorong kegelapan

Selamat Idul Fitri akal budi Maafkanlah aku, selama ini Kubiarkan kau terpenjara sendiri

Selamat Idul Fitri, diri Marilah menjadi manusia kembali! Allahu Akbar! WaliLlahil hamdu!

Seusai subuh, jelan sembahyang idul Fitri (31/8), Gus Mus menyampaikan kalimat selamat:

S e l a m a t I d u l F i t r i . K u l l u ‘a a m i n w a A n t u m b i k h a i r. Semoga amal-ibadah kita diterima olehNya. Amin.