Fenomena “crop circle” yang muncul di Sleman Bantul menjadi inspirasi Madrasah Ibtidaiyah NU Matholibul Ulum Desa Kedungsari Gebog Kudus mempraktekkan pada anak didiknya. Jum’at (28/1) kemarin, Sekitar 30 pelajar kelas VI MINU tersebut memraktikkan pembuatan “crop circle” atau lingkaran tanaman dengan pola unik di lahan kosong desa setempat. Dalam prakteknya, mereka menggunakan media yang sederhana, yakni tali raffia, pasak bamboo dan kelompen dari papan.

Seorang guru Matematika dan IPA kelas VI MI Matholibul Ulum Kudus, Anshori, mengatakan, membuat “crop circle” ini merupakan bagian dari penerapan teori ilmu bangun yang selama ini diajarkan di sekolahnya.

“Praktik lapangan ini dimaksudkan mampu memberikan pemahaman para siswa terhadap ilmu bangun dengan berbagai bentuk geometris serta bisa mengajak siswa untuk berpikir rasional terhadap fenomena crop Circle..”kata Anshori yang juga Ketua Pengurus Ranting NU Desa Kedungsari.

Di depan puluhan wartawan media cetak dan elektronik itu, Anshori menjelaskan, teknis pembuatannya, para siswa diminta membuat lingkaran geometris yang terdiri atas lingkaran berdiameter empat meter, di dalamnya terdapat dua segitiga yang membentuk bintang dengan cara merobohkan ilalang hingga terlihat bentuk yang diinginkan.

“Praktik ini memang tak membuahkan hasil yang memuaskan karena lahan yang digunakan hanya ditumbuhi ilalang dan bukan tanaman padi. Meski begitu, setidaknya mampu memberi pemahaman siswa terhdap fenomena yang secara ilmiah bisa dibuat manusia tersebut,”tandasnya.
Salah seorang siswa kelas VI, Latifatul Mufarokah (12) mengaku senang dilibatkan dalam praktik membuat “crop circle” yang gencar diberitakan sejumlah media di Tanah Air. “Pengalaman ini merupakan yang pertama dalam memraktikkan ilmu bangun,” ujarny seraya berharap praktek serupa bisa dilakukan lagi sehingga mengurangi kejenuhan siswa saat menerima pelajaran di kelas.

Ilustration