Tujuan NU Tegakkan Syariat Islam, Bukan Islamisasi Negara

Jakarta – Nahdlatul Ulama (NU) tetap berkomitmen memperjuangkan syariat Islam dengan mengedepankan perjuangan kultural di masyarakat. Namun, NU tidak bertujuan melakukan Islamisasi negara.

“Sejak awal tujuan perjuangan NU adalah melaksanakan syariat Islam di masyarakat, bukan islamisasi negara,” kata Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqiel Siradj dalam sambutannya di acara Peringatan Harlah ke-85 NU di kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Sabtu (18/6/2011).

Dikatakan dia, sejak awal kelahiran NU tidak pernah lepas dari perkembangan kesadaran nasional dan kebangsaan.
NU mempunyai keyakinan bila di dalam membangun masyarakat Islam, tidak diharuskan menempuh jalan politik kekuasaan melainkan lebih mengedepankan perjuangan kultural.

Said mengatakan, NU melakukan perjuangan dengan pendekatan kultural dalam merumuskan hubungan Islam dan negara di dalam memperkokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sumber: detikcom

Incoming search terms:

  • ahmad busyairi

    HUKUM MENDIRIKAN DAULAH KHILAFAH
    Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala , Zat yang menjanjikan kepada kaum Muslimin sebagai penguasa di bumi ( QS. An-Nuur : 55 ) . Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasul Allah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah memberikan contoh dan suri tauladan kepada manusia tentang tata pemerintahan menurut petunjuk Al – Qur’an Al – Karim dan As – Sunnah An Nabawiyah .
    A . DALIL AL-QUR’AN AL-KARIM
    Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan peringatan ( tadzkiraoh ) dan petunjuk kepada manusia agar menerapkan hukum – Nya secara totalitas dan meyakini bahwa tidak ada hukum lain didunia ini yang labih baik selain dari yang datang dari – Nya , karena ia terlahir dari sumber yang Maha Benar .
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
    “ Dan barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala , maka mereka itu adalah orang – orang yang kafir “ (QS.Al-Maidah : 44 ).
    “ Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah dating kepadamu . “ (QS Al-Maidah : 48 )
    “ Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka . Dan hati – hatilah kamu terhadap mereka supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadamu. “ ( QS.Al-Maidah : 49 )

    Untuk meyakinkan manusia atas kebodohan dan keterbatasannya , sekaligus untuk menampakkan kaagungan diri-Nya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
    “ Apakah hukum jahiliyyah yang mereka kehendaki , dan ( hukum ) siapakah yang lebih baik daripada ( hukum ) Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi orang – orang yang yakin .” ( QS Al – Maidah : 50 ).
    Imam Muslim radhyallahu ‘anhu telah meriwayatkan sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Nafi’ . ia berkata : “ Telah berkata Umar radhyallahu ‘anhu bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Barangsiapa menanggalkan tangannya untuk taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala , maka ia nanti akan menemui-Nya di hari kiamat tanpa ada alasan apa – apa . Dan barangsiapa mati padahal di lehernya tidak ada bai’at , maka ia telah mati dalam keadaan jahiliyah.” ( HR.. Muslim )
    Perjalanan sejarah umat Islam memaparkan bagaimana para sahabat radhyallahu ‘anhum menunda pemakaman jasad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum terpilihnya seorang khalifah yaitu Abu Bakar radhyallahu ‘anhu sebagai pengganti kepemimpinan ke khilafahan yang telah di tegakkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , padahal mereka para sahabat mengetahui dengan jalas bahwa mengebumikan dengan segera mayit setelah jelas kematiannya adalah wajib sehingga kesibukan lain diluar pemakaman yang sempurna akan dianggap haram . Hal ini para sahabat lakukan karena pentingnya seorang khalifah pengganti sesudah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam .
    Demikianlah dalam sejarah bagaimana para sahabat memilih para khalifah mulai dari Abu Bakar radhyallahu ‘anhu , Umar Ibn Khattab , Utsman Ibn Affan dan Ali Ibn Abi Thalib demi tegaknya sistem ke khilafahan yang telah mereka terima dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam . Akan tetapi setelah berhasilnya orang-orang kafir barat menghancurkan Daulah Khilafah Islam di Turki pada tahun 1924 , kaum muslimin mulai terjerumus dalam kehidupan yang bergelimang dengan keterpurukkan , kesusahan , kesengsaraan dan keterbelakangan dalam hampir di semua sektor kehidupan dan peradaban manusia . ekses dari ketiadaannya khalifah yang melindungan dan mengimplemintasikan syari’at ditengah –tengah kehidupan manusia sebagai wujud kongkrit dari Islam yang Rahmatan lil “alamin. Mereka tidak bisa lagi menjaga dan mempertahankan diri dari tipu daya musuh – musuhnya .
    Pada akhir perjalan panjangnya , umat Islam terjerumus kedalam lembah perpecahan , masing masing wilayah mendirikan negaranya masing – masing dengan bendera nasionalisme . ( catatan : masalah Khilafah bukan masalah Khilafiyah , Khilafah adalah sistem pemerintahan dalam Islam dan kepala pemerintahannya adalah seorang Khalifah )

    B . DALIL AS-SUNNAH AN- NABAWIYAH :
    Hadits-haditts yang dijadikan sandaran oleh para ulama mengenai wajibnya mendirikan Khilafah sangatlah banyak bertebaran diberbagai kitab hadits . Imam Bukhari radhyallahu ‘anhu membuat pasal khusus dalam kitab shahih nya berkaitan dengan system Khilafah dan praktek hukum Islam . pasal tersebut diberi nama Kitab Al-Ahkam ( Kitab Hukum-Hukum ) , adapun Imam Muslim radhyallahu ‘anhu mengumpulkan hadits-hadits seperti itu dalam kitab Al-Imarah (Kitab Pemerintahan) . Demikian pula tertulis dalam kitab hadits yang lain , sehingga dari situ seorang muslim bias melakukan mujaraah ( kajian ) betapa iqmatul khilafah ( mendirikan system khilafah ) adalah kewajiban mutlak setiap orang Islam . Ia bukan barang bualan yang harus dicampakkan di tong sampah atau bahan-bahan ejekan . ini adalah anjuran yang sangat essensial dan fundamental untuk mengangkat derajat umat Islam di masa mendatang dalam menghadapi tantangan ideology dan isme selain Islam .

    C . DALIL IJMA’ SAHABAT .
    Salah satu yang patut diketengahkan mengenai ijma’ berkaitan dengan pembahasan ini adalah adanya kesepakatan fundamental untuk mendirikan system khilafah setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam . Tidak ada satu sahabatpun yang menentang bahwa memilih khalifah atau imam merupakan kebutuhan umat Islam yang sangat essensial .

    D . DALIL QAIDAH ASY-SYAR IYAH .
    Kewajiban agama tidaklah mungkin dapat diterapkan secara komprehensif dan simultan oleh masyarakat Islam tanpa adanya pranata-pranata kongkrit . karenanya ketika pranata itu merupakan alat untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban syari’at ilahiyah yang tanpa itu sulit melaksanakannya atau bahkan tidak mungkin terlaksana maka mendirikan pranata ( khilafah islamiyah ) tentu menjadi kewajiban pula . Dalam kaidah fiqh disebutkan :
    “ Jika suatu kewajiban tidak bisa sempurna kecuali dengannya , maka ia (hukumnya ) adalah wajib “

    D . PENDAPAT PARA ULAMA :

    1. Imam Al-Mawardi : didalam al-ahkam as-sulthaniyah halaman 5 berkata : “ mengangkat imam ( khalifah ) untuk mengurusi umat ( hukumnya) adalah wajib menurut ijma’ “.

    2 . Ibnu Khaldun : di dalam kitab Mukaddimah nya halaman 167 berkata : “ Sesungguhnya mendirikan imarah dan mengangkat imam adalah wajib , hal mana kewajibannya telah diketahui lewat ijma’ sahabat dan para tabi’in sesudahnya , para sahabat sendiri langsung mengangkat dan membai’at Abu Bakar As-Siddiq sebagai khalifah untuk mengurus dan mengambil keputusan essensial umat Islam .

    3 . Al – Haitsami : didalam kitab As-Shawaaiq Al-Muhriqah halaman 17 menerangkan tentang imarah dan khilafah sebagai berikut : “ Ketahuilah ! bahwa para sahabat radhyallahu ‘anhum sepakat atas kewajiban mengangkat imam setelah berakhirnya zaman nubuwwah ( era kenabian ) Sehingga mereka menjadikannya sebagai kewajiban paling penting . itu yang terjadi ketika secara aklamasi dan dalam waktu yang singkat mereka menunjuk seorang khalifah di saat kesibukan mereka mengurusi pemakaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    4 . Imam Nawawi : didalam kitab syarah shahih Muslim juz XII halaman 205 memberikan pendapat bahwa : “ Para ulama sepakat bahwa mengangkat seorang khalifah atas kaum muslimin itu hukumnya wajib .”

    5 . Imam Haramain : didalam kitab Giyaats Al-Umam berpendapat “ Telah menjadi kesepakatan ulama dari berbagai penjuru dunia , bahwa membangun sistem khilafah yang akan menaungi umat Islam dengan hukum – hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul Nya adalah wajib “.

    6 . Imam Al-Iji dan Al – Jurjani : didalam kitab Al-Mawaaqib halaman 603 menerangkan : “ Sesungguhnya adalah mutawatir mengenai kesepakatan kaum muslimin pada decade awal setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tidak mengosongkan waktu barang sebentarpun dari hadirnya seorang imam , sampai berkata Abu Bakar Ash Shiddiq radhyallahu ‘anhu mengenai pengangkatan seorang imam itu dalam pidato pelantikannya yang sangat masyhur pada saat wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : “ Ketahuilah ! Sesungguhnya Muhammad telah wafat , sudah sepatutnya ada orang yang diangkat untuk mengurus agama ini .” Lalu mereka menerima usulan Abu Bakar dan rela meninggalkan urusan yang sangat besar dan teramat penting yaitu penguburan jasad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri . Tradisi seperti ini terus berlangsung sampai beberapa dekade sesudahnya , hal mana kemasylahatan umat diserahkan kepada seorang imam yang adil , yang mampu mengakomodir berbagai kepentingan strata sosial masyarakat dan mampu mancari solusi dari problematika melalui penerapan hukum-hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tertuang dalam nash-nash Al-Qur’an dan Al-Hadits .

    7 . Syeikh Abdur Rahman Abdul Khaliq : berkata dam kitab Asy – Syuro : “ Yang dimaksud dengan imamah ‘ammah atau khilafah ialah wadah tempat menggantungkan diri yang dari padanya berdiri tegak syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hukum – hukum – Nya melalui teks Qur’an dan Hadits . Semua orang muslim sepakat mengenai kewajiban dan kelaziman mendirikannya , serta berdosa bagi mereka yang hanya berpangku tangan , duduk mendengkur tidak mau beranjak dari tempat duduknya untuk bersegera mendirikannya “.

    8 . Imam Ibnu Hazm Al – Andalusi : dalam kitab Al – Muhalli Juz I halaman 46 berkata : “ Imam diangkat agar bisa membimbing manusia untuk mendirikan sholat , mengambil dari mereka shadaqah atau zakat dan hukuman pelanggaran yang mereka kerjakan , melaksanakan hukum – hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala serta berjidad terhadap musuh – musuh mereka “ .

    9 . Imam An – Nasari : didalam kitab Al – Aqaaid halaman 142 berkata : “ Di – antara umat Islam hendaknya ada seorang imam yang melaksanakan hukum-hukum dan sangsi-sangsi terhadap umat sesuai syari’at agama , menumpas tipu daya musuh – musuh mereka , menyiapkan tentara – tentara untuk menegakkan kalimat Allah Subhanahu wa Ta’ala atas penentangnya , mengambil shadaqah dan zakat dari umat Islam serta pajak dari non muslim yang tidak membahayakan kehidupan umat Islam “

    10 . Allamah Sayyid Al – Iji : berkata dalam kitab Al – Mawaaqif : “ Kami mengetahui walau sebatas yang pokok , bahwa maksud syar’i ( Allah Subhanahu wa Ta’ala ) yang diterangkan – Nya dalam masalah – masalah mu’amalat , munakahat , jihad , tahkim , penjelasan teori da’wah secara individual maupun sosial adalah untuk kemaslahatan makhluk –Nya di Dunia dan di Akhirat . Secara riil yang demikian itu , tidaklah akan pernah terealisir dalam kehidupan ummat , kecuali dengan adanya imam yang melaksanakannya dan mengembalikan semua persoalan kepada pedoman Al-Qur’an dan Al – Hadits yang merupakan ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul – Nya .

    Di dalam kitab Al – Islaam Wa Al – Khilaafah halaman 294 Dhiyaauddin berkata : “ . . . . Sesungguhnya para ulama kaum muslimin telah menjelaskan secara gambling dan eksplisit bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempunyai dua tugas penting yaitu : Pertama , bertabligh ( menyampaikan ) risalah Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana telah di wahyukan kepada beliau . Ke dua , menjadi imam dan pemimpin kaum muslimin dengan menjaga kemaslahatan (kebaikan ) mereka , serta melaksanakan hukum – hukum yang telah di syariatkan”

    Di dalam kitab Al-Islaam Wa Audhaaunaa As Siyaasiyyah halaman 19 Abdul Qadir Audah mengatakan : Islam bukanlah sekedar agama ritual . Islam adalah diin dan daulah . sebab setiap perintah ( Amr ) di dalam Al-Qur’an pada dasarnya menghajadkan realisasi kongkrit pelaksanaannya , dalam skala yang luas segala bentuk peraturan akan terlaksana dengan mulus jika dibawah naungan hukum Islam yang suci dan pemerintahan Islam yang sengaja ditegakkan untuk melaksanakan semua perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala .
    Islam bukanlah hanya sekedar Agama yang statis dan hanya terpaku pada kegiatan – kegiatan rutinitas ritual , akan tetapi ia sebagai konsep totalitas yang mengatur seluruh gerah manusia baik dalam dimensi Vertikal ( hubungan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala ) , dimensi horizontal ( hubungan sesame manusia ) dan dimensi diagonal ( hubungan dengan alam lingkungannya ) . Islam adalah agama dan Daulah .
    Al-Qur’an juga bukan sekedar mengatur para terpidana dan orang – orang yang berbuat kejahatan ( seperti mencuri atau membunuh ) , tetapi ia datang untuk menegakkan kebenaran dan keadilan mahkamah serta meluruskan perilaku menyimpang dari aplikasi hukum tersebut . Jika Al-Qur’an telah mewajibkan kepada semua orang Islam untuk menegakkan nash dan pelaksanaannya secara konsisten , itu berarti bahwa Al-Qur’an menghendaki penegakkan hukum secara konstitusional dalam sebuah daulah ( Pemerintahan Islam ) sebagai institusi pelaksana hukum – hukum yang ingin ditegakkan itu , jika hukum yang ingin ditegakkan itu adalah hukum Islam maka institusinya lahir dari system yang Islami yaitu system kekhilafahan . inilah yang menjadi target dari urgensi berdirinya khilaafah islamiyyah ( system pemeritahan Islam ) .
    Agama dalam konsep Islam merupakan dimensi yang sangat urgen bagi daulah , sebagaimana juga daulah merupakan elemen yang sangat strategis dalam berkembangnya ajaran Agama . Ajaran Agama tidak akan mengkin tegak sempurna tanpa daulah sebagai pengayom dan pelaksana , sebagimana daulah tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya agama sebagai benteng dan perekat antara masyarakat / umat dan penguasanya .
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah merupakan proto type satu – satunya diantara sekian rasul yang mampu mengkombinasikan dan mengintegrasikan serta mengkompromikan di dalam hidupnya antara tugas da’wah dengan kewajiban hukum dan kepemimpinan . Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hadir sebagai pemberi petunjuk , pemberi berita gembira , pemberi peringatan dan beliau pun hadir sebagai sosok hakim , komandan bala tentara kaum muslimin . Ringkasnya , bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pemimpin umat ( qaaid al – ummah ) , hakim jemaah ( haakim al- jamaa’ah ) dan pemimpin pemerintahan ( imam ad – daulah ) disamping beliau juga sebagai pemberi peringatan bagi semesta alam , pemberi berita gambira dan muballig untuk manusia semuanya .
    Kaum muslimin dari setiap generasi sepakat bahwa upaya untuk penegakkan elemen – elemen dasar yaitu : membangun umat ( iqaamah alummah ) , membangun negara ( iqaamah ad-daulah ) dan penerapan syariat ( tathbiiq asy- syari’ah ) tidak bisa dilepaskan dari kewajiban mengangkat seorang imam atau khalifah .
    Muhammad Al-Gazali di dalam Ma’rokah Al- Mushhaf halaman 68 berkata : “Sesungguhnya kami sedang mensucikan diri pada kerja siyaasah al-tabligh (strategi tabligh ) yang menyelamatkan dan membuang jauh-jauh praktek yang tidak menunjukkan sifat-sifat positif konstruktif ( sebagaimana yang telah di ajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ) . kami kira sudak banyak paparan yang mengemukakan analisis yang mendalam dari berbagai ulama terkemuka , baik generasi awal maupun generasi terakhir saat ini , bahkan kami telah menulis sederet nasehat untuk mereka yang masih memiliki hati nurani, bahwa sesungguhnya urusan agama ini adalah sangat urgen ( penting ) dalam kehidupan umat manusia , khususnya umat Islam . Dan yang perlu diketahui setiap manusia , pemisahan agama ( Islam ) dari Daulah ( sistem khilafah ) adalah hal yang tidak pernah dikenal dalam tradisi ulama salaf yang sholeh . Karena kedua hal tersebut , Diin ( agama Islam ) dan Daulah ( pemerintahan khilafah ) seperti dua sisi mata uang yang saling melengkapi dan saling mengisi . Maka dari itu saya berkata :
    Islam tanpa Daulah
    Bagaikan
    Pohon tanpa buah
    Atau
    Jasad tanpa roh

    CITA – CITA LUHUR UMAT ISLAM :
    Sebuah hadits shahih dari Nu’man bin Basyir ia berkata : “ Kami sedang duduk – duduk di masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , sedang basyir adalah orang yang sangat mencukupi haditsnya . Lalu datang Abu Tsa’labah sembari berkata : “ Ya Basyir ibn Said , apakah kamu hafal hadits Rasulullah tentang umara ? , “ berkata Huzaifah : “ saya hafal huthbah beliau .” lalu duduklah Abu Tsa’labah , selanjutnya Huzaifah dengan penuh rasa takut berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
    1 . Hendaklah kamu sekalian menjadikan nubuwwah ( kenabian ) itu sebagai
    sumber inspirasi . Karenanya tegakkanlah ia dan dirikanlah .
    2 . Al – Khilafah ( pemerintahan ) itu hendaklah berdasarkan manhaj nubuwwah
    ( methode kenabian ) . Tegakkanlah ia dan realisasikanlah dalam amal nyata .
    3 . Seorang pemerintah hendaklah mampu menjadi sosok pribadiku . Tegakkan dan
    Buktikan dengan pancangan yang kokoh kuat .
    4 . Jadilah pemerintah yang mempunyai wibawa dan kekuatan untuk memaksa
    ( menjadi sumbu yang mampu mempersatukan seluruh kekuatan tanpa
    memandang perbedaan dalam segala bentuknya ) . Buktikanlah ini semua dan
    tegakkan serta tinggikan setinggi – tingginya .
    5 . Hendaklah Al – Khilafah hadir dengan metode kenabian
    Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad , Abu Daud dan Turmudzi yang dipetik dari kitab Fthul Barri jilid XIII halaman 214 .

    • admin

      Ide Khilafah Modern == KONYOL. Konsep khilafah hanya berjalan 4 periode saja, semasa Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. Selebihnya cuma kerajaan berdasarkan keturunan saja. Bukan sistem yang sebenarnya. Hukum menegakkan Khilafah/Mendirikan negara Islam menurut NU dan Muhammadiyah sudah tidak urgent lagi, karena Indonesia adalah Darul Muslim, negara mayoritas muslim. Sudahlah, buang saja ide konyol anda itu. Seriuslah bekerja, kaya, cerdas dan religius. Niscaya umat akan bangkit sendiri, daripada membubarkan negara ini.

      Buang KTP, Kartu Keluarga, Raskin, atau sekalian pergi dari negara ini. Karena anda harus konsisten tidak memakai produk negara demokrasi, kalau tidak berarti anda MUNAFIK!

  • ahmad busyairi

    Kiyai di Telagasari Karawang Setuju Syariah & Khilafah
    Sekitar 15 orang Kiyai dan Asatidz, hadir pada Dauroh Syar’iyah I pada Ahad 30 Januari 2011 di Masjid Ghoyatul Jihad, Kec. Telagasari Kab Karawang.
    Hadir sebagai sambutan pertama dari Ketua DKM , H. Oman yang pada prinsipnya membuka HTI untuk menyampaikan ide – ide Islam dan membuka wawasan ke-Islaman pada para Ulama di Kecamatan Telagasari kabupaten Karawang.
    Sedangkan pada sambutan kedua dari Ketua Lajnah Khos Ulama, Ustadz Irda, mengajak ulama sebagai simpul umat untuk mensosialisasikan ide syariah dan khilafah di tengah – tengah masyarakat.
    Selanjutnya sebagai Pemateri, Ustadz Wahyu Hidayat memaparkan tentang kewajiban Khilafah secara syar’i sebagai sistem pemerintahan Islam yang diwajibkan oleh Tuhan semesta alam. Di dalam sistem khilafah ini, Khalifah diangkat melalui baiat berdasarkan kitabullah dan sunah rasul-Nya untuk memerintah (memutuskan perkara) sesuai dengan apa yang diturunkan oleh Allah SWT.[LKU-HTI DPD II Karawang]

    • admin

      Mereka bukan Kyai, mereka adalah Ustadz HTI. Kyai NU dan Kyai Muhammadiyah SUDAH FINAL mendukung NKRI. Hanya ustaz dan ustazah serta anda sajalah penghianat bangsa yang ingin menghancurkan NEGARA dengan dalih Khilafah Islamiyah!

  • ahmad busyairi

    DEMOKRASI ALAT PENJAJAH
    Kata Demokrasi mungkin kini merupakan istilah yang paling populer pada zaman ini, sebagai Ide, Demokrasi telah terlanjur dinilai “sakral”, sebagai Wacana, Demokrasi telah lama dianggap “berkah”, dan sebagai Sistem, Demokrasipun diyakini sebagai hal yang “wajib” diwujudkan. Dalam kaitannya dengan Islam dan Umat Muslim sendiri, telah lama muncul berbagai lontaran dari banyak kalangan yang intinya menunjukkan adanya hubungan antara Islam dan Demokrasi, bahkan ada kalangan yang dengan penuh percaya diri menyatakan, “Demokrasi adalah Islam” atau “Islam adalah Demokrasi itu sendiri”. Benarkah demikian?
    Siapapun yang mengkaji Demokrasi tentu tidak akan melupakan dua hal: ”Demokrasi Prosedural” dan Sistem Demokrasi.

    1. ”Demokrasi Prosedural”, diantaranya mewujud dalam partisipasi rakyat dalam pemilu, transparansi dan akuntabilitas serta keputusan yang diambil berdasarkan suara terbanyak, yang mana tidak ada perbedaan antara suara dari seorang penjahat yang dzalim dengan suara dari seorang ulama dalam menentukan pilihan dan siapapun berhak menjadi pemimpin tanpa melihat latar belakangnya asalkan dia mempunyai cukup biaya dan memperoleh suara terbanyak. Jika melihat pada sisi Ideologinya yakni Kapitalisme, karena Demokrasi merupakan produk dari Ideologi Kapitalisme yang ber-Aqidahkan Sekularisme (memisahkan Agama dari Kehidupan), maka jelaslah di dalam Buku The Prince (Sang Pangeran) yang ditulis oleh Niccolo Machiavelli (Bapak Kapitalisme) yang menegaskan bahwa seorang Penguasa yang ingin tetap mempertahankan dan memperkuat kekuasaannya haruslah menggunakan tipu muslihat, licik dan dusta, digabung dengan penggunaan kekejaman dan kekuatan. Buku The Prince sering dijuluki orang: “buku petunjuk pemimpin diktator”, konon para diktator seperti Napoleon, Hitler dan Stalin serta Pemimpin siapa saja yang bisa kita lihat dari sisi Paradigma, Kepemimpinan dan Kebijakan mereka yang mirip dengan gambaran di atas senantiasa tidur dibantal yang di bawahnya terselip Buku The Prince.
    2. Sistem Demokrasi, di Negara manapun paling tidak mencerminkan dua hal: (a) Kekuasaan dan Kedaulatan di tangan rakyat; (b) Jaminan atas Kebebasan Umum.
    a) Kekuasaan dan Kedaulatan di tangan rakyat.
    Demokrasi ala Kapitalisme-Sekular, telah mampu menghipnotis ”umat manusia” menjadi pembangkan Tuhan, kehidupan keseharianpun dipaksa dan terpenjara dalam sindromtik: Tatanan masyarakat yang Pluralistik, Tata kehidupan yang Sekularistik, Gaya hidup yang Konsumeristik, Kesehatan dan Pendidikan yang Materialistik, Sosial yang Individualistik, Budaya yang Hedonistik, Politik yang Opurtunistik, Ekonomi yang Liberalistik, Kebangsaan yang Nasionalistik, Agama yang Sinkretistik, dan sebagainya sehingga Paradigma Kapitalismepun akhirnya tercipta, heran dan ironisnya masyarakatpun kini memakan dan menjilat mentah-mentah Demokrasi dan segala yang berbau Kapitalisme..!
    Penerapan Demokrasi adalah bagian dari penjajahan yang dilakukan oleh Negara-negara Barat Imperialis Penjajah, seperti pernyataan yang dilontarkan oleh Bush pada pidatonya: ”Jika kita hendak mempertahankan dan melindungi Negara kita (AS) dalam jangka panjang, maka hal terbaik yang kita lakukan adalah menyebarluaskan Demokrasi dan Kebebasan (Liberalism)”. (Kompas, 6/11/2004), serta Dokumen yang dikeluarkan Gedung Putih (The National Security Strategy USA), yang berisikan 5 Program utama untuk melawan dan menghambat Ideologi yang dikhawatirkan akan muncul sebagai tandingan dan mengancam eksistensi kepemimpinan Ideologi mereka (Kapitalisme). Ideolodi yang dimaksud tidak lain dan tidak bukan adalah Ideologi Islam, dan 5 Agenda itu: Demokrasi. HAM, Pasar Bebas, Senjata Pemusnah Massal dan Terorisme yang semuanya dikemas dalam bentuk Globalisasi.
    Berangkat dari semuanya itu maka Jargon Demokrasi yang katanya Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat hanyalah sebuah Slogan manis yang berisikan racun untuk menina-bobokkan rakyat, yang juga hanya sebatas dongeng yang disusupkan kedalam kurikulum pendidikan, namun setelah kita tersadar dari istirahat panjang maka, wajah asli Demokrasipun kini telah nampak bahwa Demokrasi hanyalah Sistem Dari Rakyat, Oleh Penguasa, Untuk Pengusaha dan Tuan-tuan Imperialis Adidaya.
    b) Jaminan untuk Kebebasan Umum.
    Pertama; Kebebasan Beragama. Intinya, seseorang berhak meyakini suatu Agama dan berhak masuk-keluar Agama manapun sekehendaknya.
    Kedua; Kebebasan Berpendapat. Intinya, seseorang berhak mengemukakan pendapatnya, sekalipun itu adalah penghinaan kapada Nabi SAW, Al-Quran dan lainnya tanpa tolak ukur halal-haram.
    Ketiga; Kebebasan Kepemilikan. Intinya, siapapun bebas dalam memiliki sesuatu apapun tanpa batasan termasuk Privatisasi, Penjualan aset negara dan sebagainya.
    Keempat; Kebebasan Berperilaku. Intinya, setiap orang bebas berekspresi, termasuk mengekspresikan kemaksiatan di depan umum, seperti: membuka aurat, berzina, menyebarluaskan pornografi, melakukan pornoaksi, praktik homo seksual dan lesbian, dan sejenisnya.
    Jelaslah , hakikat buruk dan bahaya Demokrasi yang berlandaskan Kapitalisme-Sekularisme semakin menjauhkan Hukum Allah SWT serta menciptakan pembangkangan terhadap otoritas Tuhan sebagai satu-satunya yang berhak membuat Hukum (lihat: QS. al-An’aam [6]: 57) dan menanamkan Liberalisasi dalam segala aspek kahidupan, padahal telah ditegaskan di dalam Al-Quran, bahwa: ”barang siapa yang tidak memutuskan suatu perkara berdasarkan yang diturunkan Allah SWT (Syariah), maka mereka adalah orang-orang yang Kafir, Dzalim dan Fasik” (QS. Al-Maaidah [5]: 44, 45, 47). Berbeda dengan ajaran Islam yang menjalankan Ideologi Suci (Islam) dan menerapkan Syariah Islam secara Kaffah dalam naungan Daulah Khilafah Islamiyah yang pernah berjaya dan menguasai 2/3 Dunia dan menuai tinta emas sepanjang sejarah peradaban selama 13 abad lebih lamanya, dimana umat Islam senantiasa menyerukan Dakwah Islam dan mengikuti metode Dakwah Rasulullah SAW serta menjadikan Aqidah Islam sebagai dasar pemikiran dan Hukum Syara sebagai tolak ukur amal perbuatan sekaligus Sumber Hukumnya. Dan Khilafah-lah wujud Islam secara utuh tanpa noda isme lain, tanpa tambalan Kapitalisme-Liberalisme dan sulaman Sosialisme-Komunisme dan tanpa dikebiri. Wujud nyata seperti yang dititahkan dan dicontohkan oleh Sang Suri Tauladan Sejati yang Mahsum utusan Al-Khalik dan para Sahabatnya. Kini Khilafah yang telah ditenggelamkan selama 86 tahun lamanya, sangat ditakuti kebangkitannya kembali oleh Imperialis Barat yang akan memayungi kekuatan utama Islam yakni Aqidah, Syariah, Dakwah dan Jihad sesuai Janji Allah SWT dan Bisyarah Rasulullah SAW. Karena akan menghancurkan segala bentuk Ideologi Thogut Kufr termasuk Demokrasi ala Kapitalisme Sekular.

    • admin

      Khilafah hanya ada 4 periode, selanjutnya cuma kerajaan berbasis keturunan. Bukan konsep Khilafah sebelumnya yang hidup pasca Nabi. Ide anda tidak laku di negara-negara Islam. Ide anda hanya laku dikalangan anda sendiri dan dikalangan awam yang mudah terprovokasi saja.

      HTI dilarang dibeberapa negara karena aktivitasnya sudah tergolong makar, ingin membubarkan negara dan menyatukannya dengan negara lain dibawah Khalifah yang diangkat dari Kalangan HTI sendiri.

  • ahmad busyairi

    Demokrasi Sistem Kufur
    Sejak masa Plato demokrasi sudah digugat. Dengan berbagai alasan berbagai pihak mempertanyakan apakah sistem demokrasi ini layak bagi manusia atau justru akan menghancurkan peradaban. Kritik terhadap demokrasi pun paling gencar dilakukan pemikir dan ulama muslim. Umat Islamlah yang paling terdepan mempertanyakan keabsahan sistem demokrasi ini.

    Gugatan paling mendasar terhadap sistem ini adalah masalah kedaulatan (as siyadah) yang berkaitan dengan sumber hukum . Ada perbedaan yang mendasar antara sistem Islam yang secara mutlak menjadikan kedaulatan di tangan hukum syara’ (as siyadah li asy-syar’i) dengan sistem demokrasi yang menetapkan kedaulatan ada di tangan rakyat (as siyadah li asy-sya’bi) .Dalam pandangan Islam satu-satunya yang menjadi sumber hukum (mashdarul hukmi) adalah Al Qur’an dan As Sunnah. Tidak boleh yang lain. Dalam Al Qur’an dengan tegas disebutkan inil hukmu illa lillah (QS Al An’an; 57) bahwa hak membuat hukum adalah semata-mata milik Allah SWT. Karena itu barang siapa yang bertahkim (berhukum) dengan apa-apa yang selain diturunkan Allah SWT , maka dia adalah kafir (lihat QS Al Maidah: 44)

    Sementara dalam sistem demokrasi yang benar dan salah bukan ditentukan berdasarkan syariah Islam tapi berdasarkan hawa nafsu manusia atas nama suara mayoritas. Prinsip suara mayoritas (kedaulatan di tangan rakyat) ini adalah prinsip pokok dalam demokrasi. Tidak ada demokrasi kalau tidak mengakui prinsip kedaulatan ditangan rakyat ini.

    Menjadikan sumber hukum yang menentukan benar dan salah berdasarkan hawa nafsu atas nama suara mayoritas ini jelas adalah bentuk kekufuran yang nyata. Demokrasi sesunguhnya telah merampas Hak Mutlak Allah sebagai sumber hukum dan menyerahkannya kepada manusia. Jelas ini adalah kekufuran yang nyata.

    Inilah yang diingatkan Allah swt kepada kita di dalam Al Qur’an, tragedi yang menimpa orang-orang Nashrani, mereka menjadikan orang-orang terhormat mereka, orang-orang alim, para pendeta, pemuka agama sebagai Tuhan baru. Bagaimana mungkin para rahib dan pendeta itu dijadikan Tuhan ?

    Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa meriwayatkan ‘Adi bin Hatim pernah datang ke hadapan Rasulullah saw. Beliau kemudian membaca ayat (QS at-Taubah [9]: 31). ‘Adi bin Hatim berkata, “Mereka tidaklah menyembah para pembesar dan para pendeta mereka.” Akan tetapi, Rasulullah saw. berkata, “Benar. Akan tetapi, mereka (para pembesar dan para pendeta itu) mengharamkan atas mereka sesuatu yang halal dan menghalalkan yang haram untuk mereka, lalu mereka mengikuti para pembesar dan para pendeta itu. Itulah bukti penyembahan mereka kepada para pembesar dan para pendeta itu.” Demikian sebagaimana dituturkan oleh Muslim dan at-Turmudzi.

    Dengan demikian, pemberian hak menghalalkan dan mengharamkan (hak menentukan hukum) serta hak ketaatan kepada seseorang pada hakikatnya sama dengan penyembahan kepada orang itu. Jelas ini adalah kekufuran yang nyata. Demokrasi telah menjadi Tuhan Baru, ini adalah musibah..

    Tidak hanya itu demokrasi digugat karena gagal menunaikan janji-janjinya. Kesejahteraan yang dijanjikan demokrasi tidak terbukti. Dunia yang dipimpin oleh negara demokrasi terbesar Amerika Serikat sekarang ini terjerumus kedalam kemiskinan global yang mengerikan. Bahkan sang tuan Amerika Serikat terancam dalam depresi ekonomi yang mengerikan.

    Demokrasi justru telah memberikan legitimasi hukum untuk memiskinkan dunia ketiga. Lewat cara yang demokratis muncullah produk-produk hukum yang memuluskan penjajahan dan perampasan kekayaan alam dunia ketiga. Indonesia merupakan contoh tentang masalah ini. Pasca reformasi dengan cara demokratis lahir pro Liberal seperti UU Migas, UU Penanaman Modal , UU SDA (Sumber Daya Alam) yang semuanya justru mengokohkan ekploitasi negara-negara imprialism yang berimplikasi kepada penderitaan masyarakat.

    Janji stabilitas demokrasi pun tidak terbukti. Di beberapa negara demokrasi justru telah mengantar rezim diktator seperti Hitler di Jerman dan Mussolina di Italia. Demokrasi juga telah menjadi alat ampuh munculnya pemerintah boneka pro Barat seperti yang terjadi di Afghanistan dan Irak saat ini . Pemerintah boneka yang diktator ini justru menjadi alat Barat untuk mengokohkan penjajahan dan pembunuhan terhadap rakyat.

    Di Indonesia sorak-sorai demokrasi telah menimbulkan pertentangan antar elit maupun secara horizontal antar rakyat yang tidak berkesudahan. Pertikaian menjelang pilkada maupun pasca pilkada telah menumpahkan banyak darah dan luka. Tidak hanya itu atas nama demokrasi Timor Timur melepaskan diri dari Indonesia. Kemungkinan kuat menyusul dengan alasan yang sama -kalau tidak dicegah sejak dini- adalah Aceh dan Papua. Demokrasi menjadi pintu disintegrasi.

    Atas nama demokrasi kemaksiatan pun menjadi subur. Prinsip demokrasi yang memutlakan pengakuan terhadap liberalisme dan HAM telah menjadi pintu kerusakan moral atas nama kebebasan. Atas nama HAM pelaku kejahatan perzinahan dan homoseksual dan pelaku pornografi dan pornoaksi minta diakui eksistensinya. Muncul pula UU yang sarat dengan liberalisme yang mengokohkan kemaksiatan ini.

    Tidaklah berlebihan kalau kita mengatakan ada dua bahaya mendasar demokrasi . Pertama, demokrasi telah menjadi ‘tuhan baru’ yang menjerumuskan umat Islam pada kekufuran . Yang kedua demokrasi telah menjadi alat penjajahan untuk menghancurkan umat Islam baik secara ekonomi , politik, maupun sosial.

    Tidak heran kalau Bush mengatakan selama menyebarnya liberalisme dan demokrasi adalah perkara penting bagi kepentingan (penjajahan ) negara itu. Pidato Bush : “ Jika kita mau melindungi negara kita dalam jangka panjang, hal terbaik yang dilakukan adalah menyebarkan kebebasan dan demokrasi”. Walhasil demokrasi adalah sistem kufur , haram mengambilnya, menerapkannya dan menyebarluaskannya.

    • admin

      Otak anda Kufur, Kufur Nikmat telah hidup berpuluh tahun secara damai di negara demokrasi. Anda adalah sosok putra ibu pertiwi yang bermental penghianat. Ingin menghancurkan negaranya sendiri dan mengangkat derajat kelompoknya sambil memberangus kelompok lain. Apa anda bisa menjamin kalau HTI berkuasa, NU – Muhammadiyah – MMI dkk tidak anda berangus? Konyol…

  • ahmad busyairi

    MEMBUANG NASIONALISME KE TEMPAT SAMPAH
    Kondisi umat Islam saat ini sangat memilukan. Mereka yang jumlahnya 1 milyar lebih terpecah-belah menjadi 57 negara berdasarkan nasionalisme dalam format negara-bangsa (nation-state). Bahkan mungkin jumlah ini akan bertambah, seiring dengan upaya dan rekayasa licik dari penjajah Barat pimpinan AS untuk semakin mencerai-beraikan berbagai negara di dunia, dengan gerakan separatisme dan prinsip “menentukan nasib sendiri” (right of self determinism) melalui legitimasi PBB yang disetir AS. Kasus lepasnya Timor Timur dari Indonesia adalah contoh yang amat telanjang di hadapan mata kita.
    Kondisi cerai-berai ini dengan sendirinya membuat umat menjadi lemah dan ringkih sehingga mudah untuk dikendalikan dan dijajah oleh negara-negara imperialis. Prinsip “devide et impera” (Arab : farriq tasud) ternyata belum berakhir. Penjajahan yang dulu dilakukan secara langsung dengan pendudukan militer, kini telah bersalin rupa menjadi penjajahan gaya baru yang lebih halus dan canggih. Di bidang ekonomi, Barat menerapkan pemberian utang luar negeri, privatisasi, globalisasi, pengembangan pasar modal, dan sebagainya. Di bidang budaya, Barat mengekspor liberalisme melalui film, lagu, novel, radio, musik, dan lain-lain. Di bidang politik, Barat memaksakan ide masyarakat madani (civil society), demokrasi, hak asasi manusia (HAM), pluralisme, dan lain-lainnya. Bentuk-bentuk penjajahan gaya baru ini dapat berlangsung, karena kondisi umat yang terpecah-belah tadi.
    Nasionalisme, dengan demikian, dapat ditunjuk sebagai salah satu biang keladi atau biang kerok perpecahan dan keterpurukan umat yang dahsyat di bawah tindasan imperialisme Barat gaya baru tersebut.
    Maka dari itu, salah besar kalau umat Islam terus mengagung-agungkan ide kafir itu, atau menganggapnya sebagai ide sakral yang tidak boleh dibantah. Padahal, faktanya, nasionalisme telah menghancur-leburkan persatuan umat Islam. Maka, Umat Islam harus segera mengambil sikap tegas terhadap ide rusak ini dengan menolak dan mengikis habis ide ini dari benak mereka. Jika tidak, neo-imperialisme Barat akan terus berlangsung dan umat pun akan tetap terseok-seok menjalani pinggir-pinggir peradaban secara nista di bawah telapak kaki para penjajah yang kafir.
    Absurditas Nasionalisme
    Nasionalisme merupakan suatu ikatan untuk mempersatukan sekelompok manusia berdasarkan kesamaan identitas sebagai sebuah “bangsa”. Pengertian “bangsa” ini, pada praktiknya sangat luas dan kadang malah bersifat imajiner. Kesamaan “bangsa” kadang bisa berarti kesamaan ras, budaya, bahasa, sejarah, dan sebagainya. Dalam wacana ilmu politik mutakhir, pengertian “bangsa” lebih bersifat imajinatif (Benedict Anderson, 1999). Penduduk pesisir timur Sumatera (yang ber”bangsa” Indonesia) sebenarnya bukan hanya dekat secara fisik dengan penduduk di Semenanjung Malaysia sebelah barat (yang ber”bangsa” Malaysia), yang hanya dipisahkan oleh Selat Malaka. Mereka pun satu suku, sehingga mereka bisa saling memahami ucapan dan adat masing-masing. Tetapi, mereka “mengimajinasi” sebagai bangsa yang berbeda, dan saling menganggap sebagai bangsa asing. Sebaliknya penduduk Sumatera, yang sama sekali tidak memiliki kesamaan bahasa ibu dan kesukuan dengan orang Ambon, ternyata telah “mengimajinasi” sebagai satu “bangsa” dengan orang Ambon. Di sinilah letak absurdnya nasionalisme. Yang “sama” bisa menjadi “bangsa” yang berbeda, sementara yang “tidak sama” bisa menjadi satu “bangsa”.
    Karena itulah, nasionalisme sesungguhnya adalah ide absurd, tidak mengandung suatu hakikat pengertian yang pasti. Nasionalisme adalah ide yang kosong dari makna-makna yang konkret. Nasionalisme lebih mengandalkan sentimen atau emosi yang semu, yang dibangkitkan sewaktu-waktu sesuai dengan hawa nafsu dan kepentingan sempit penguasa. Nasionalisme tidak bertolak dari ide yang lahir melalui proses berpikir yang benar dan sadar.
    Maka dari itu, nasionalisme bukan ide yang layak untuk membangkitkan umat manusia. Sebab dalam suatu kebangkitan, diperlukan suatu pemikiran yang menyeluruh (fikrah kulliyah) tentang kehidupan, alam semesta, dan manusia; serta pemikiran tentang pengaturan kehidupan yang lahir dari pemikiran menyeluruh itu untuk memecahkan problem-problem manusia (Taqiyuddin An-Nabhani, 1953).
    Pemikiran seperti inilah yang dapat membangkitkan manusia. Sebab dia memiliki konsep-konsep yang menerangkan makna keberadaan manusia dalam kehidupan, menjelaskan pandangan hidup serta jenis peradaban, masyarakat, dan nilai-nilai dasar kehidupan. Ini semua diperlukan untuk sebuah kebangkitan, yang faktanya, tidak dimiliki oleh nasionalisme (Abdus Sami’ Hamid, 1998)
    Masuknya Nasionalisme di Dunia Islam
    Umat Islam tak pernah mengenal paham nasionalisme dalam sejarahnya yang panjang selama 10 abad, hingga adanya upaya imperialis untuk memecah-belah negara Khilafah pada abad ke-17 M. Mereka melancarkan serangan pemikiran melalui para misionaris dan merekayasa partai-partai politik rahasia untuk menyebarluaskan paham nasionalisme dan patriotisme. Banyak kelompok misionaris –sebagian besarnya dari Inggris, Perancis, dan Amerika– didirikan sepanjang abad ke-17, 18, dan 19 M untuk menjalankan misi tersebut. Namun hingga saat itu upaya mereka belum berhasil.
    Barulah pada tahun 1857, penjajah mulai memetik kesuksesan tatkala berdiri Masyarakat Ilmiah Syiria (Syrian Scientific Society) yang menyerukan nasionalisme Arab. Sebuah sekolah misionaris terkemuka –dengan nama Al-Madrasah Al-Wataniyah– didirikan di Syiria oleh Butros Al-Bustani, seorang Kristen Arab (Maronit). Nama sekolah ini menyimbolkan esensi misi Al-Bustani, yakni paham patriotisme (cinta tanah air, hubb al-wathan). Langkah serupa terjadi di Mesir, ketika Rifa’ah Badawi Rafi’ At Tahtawi (w. 1873 M) mempropagandakan patriotisme dan sekularisme. Setelah itu, berdirilah beberapa partai politik yang berbasis paham nasionalisme, misalnya partai Turki Muda (Turkiya Al Fata) di Istanbul. Partai ini didirikan untuk mengarahkan gerak para nasionalis Turki. Kaum misionaris kemudian memiliki kekuatan riil di belakang partai-partai politik ini dan menjadikannya sebagai sarana untuk menghancurkan Khilafah (Syaikh Afif Az-Zain, 1993).
    Sepanjang masa kemerosotan Khilafah Utsmaniyah, kaum kafir berhimpun bersama, pertama kali dengan perjanjian Sykes-Picot tahun 1916 ketika Inggris dan Perancis merencanakan untuk membagi-bagi wilayah negara Khilafah. Kemudian pada 1923, dalam Perjanjian Versailles dan Lausanne, rencana itu mulai diimplementasikan.
    Dari sinilah lahir negara-negara Irak, Syria, Palestina, Lebanon, dan Transjordan. Semuanya ada di bawah mandat Inggris, kecuali Syria dan Lebanon yang ada di bawah Perancis. Hal ini kemudian diikuti dengan upaya Inggris untuk merekayasa lahirnya Pakistan. Jadi, semua negara-bangsa ini tiada lain adalah hasil rekayasa Barat yang ada di bawah mandat mereka (Taqiyuddin An-Nabhani, 1994; Ali Muhammad Jarisyah & Muhammad Syarif, 1992)
    Lahirnya Indonesia juga tak lepas dari rekayasa penjajah menyebarkan nasionalisme di Dunia Islam. Hal itu dapat dirunut sejak berdirinya negara-negara bangsa di Eropa pada abad ke-19. Perubahan di Eropa ini, dan juga adanya persaingan yang hebat antara kekuatan-kekuatan kolonialis Eropa di Asia Tenggara pada paruh kedua abad ke-19, menimbulkan dampak politis terhadap negara-negara jajahan Eropa, termasuk Hinda Belanda. Dampak monumentalnya adalah dicanangkannya Politik Etis pada tahun 1901. Kebijakan ini pada gilirannya membuka kesempatan bagi pribumi untuk mendapatkan pendidikan Barat. Melalui pendidikan Barat inilah paham nasionalisme dan patriotisme menginfiltrasi ke tubuh umat Islam di Hindia Belanda, yang selanjutnya mengilhami dan menjiwai lahirnya berbagai pergerakan nasional di Indonesia, Boedi Utomo, Jong Java, Jong Sumatra, Jong Islamieten Bond, Jong Celebes, Sarekat Islam, Muhammadiyah, dan sejenisnya (Hasyim Wahid dkk, 2000).
    Menyikapi Nasionalisme
    Berdasarkan tinjauan filosofis dan historis di atas, dapat kita pahami mengapa Islam menentang dan menolak ide nasionalisme itu. Sebab nasionalisme sebenarnya adalah ide kosong dan tidak layak untuk membangkitkan manusia. Nasionalisme dalam sejarahnya dan konteks kekinian juga terbukti telah membawa kemudharatan, penderitaan, dan kesengsaraan umat manusia. Apakah masuk akal ide destruktif dan berbahaya seperti itu kita terima tanpa reserve ?
    Secara syar’i, umat Islam diharamkan mengadopsi nasionalisme karena nasionalisme bertentangan dengan prinsip kesatuan umat yang diwajibkan oleh Islam. Kesatuan umat Islam wajib didasarkan pada ikatan aqidah, bukan ikatan kebangsaan, seperti nasionalisme. Allah SWT berfirman :
    “Sesungguhnya orang-orang beriman adalah bersaudara.” (QS Al Hujurat : 13)
    Ayat di atas menunjukan bahwa Umat Islam adalah bersaudara (ibarat satu tubuh), yang diikat oleh kesamaan aqidah Islamiyah (iman), bukan oleh kesamaan bangsa. Rasulullah SAW bahkan mengharamkan ikatan ‘ashabiyah (fanatisme golongan), yaitu setiap ikatan pemersatu yang bertentangan dengan Islam, termasuk nasionalisme :
    “Tidak tergolong umatku orang yang menyerukan ashabiyah (fanatisme golongan, seperti nasionalisme). (HR. Abu Dawud)
    Jelaslah, ikatan yang layak di antara umat Islam hanyalah ikatan keimanan. Bukan ikatan kebangsaan. Sebagai perwujudannya dalam realitas, Islam mewajibkan umatnya untuk hidup di bawah satu kepemimpinan (Khilafah Islamiyah). Haram bagi mereka tercerai-berai di bawah pimpinan yang lebih dari satu. Rasulullah SAW bersabda :
    “Jika dibai’at dua orang khalifah, maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya.” (HR. Muslim).
    Rasulullah SAW bersabda pula :
    “Barangsiapa datang kepada kalian, sedangkan urusan kalian terhimpun pada satu orang laki-laki (seorang Khalifah), dia (orang yang datang itu) hendak memecah kesatuan kalian dan menceraiberaikan jamaah kalian, maka bunuhlah dia.” (HR. Muslim)
    Dalam Piagam Madinah (Watsiqah Al-Madinah) disebutkan identitas Umat Islam sebagai umat yang satu :
    “Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ini adalah kitab (perjanjian) dari Muhammad Nabi SAW antara orang-orang mu`min dan muslim dari golongan Quraisy dan Yatsrib…: ‘Sesungguhnya mereka adalah umat yang satu (ummah wahidah), yang berbeda dengan orang-orang lain …” (Lihat Sirah Ibnu Hisyam, Juz II hal. 119).
    Nash-nash seperti di atas dengan jelas menunjukkan adanya kewajiban umat untuk bersatu, di bawah satu negara Khilafah. Tidak dibenarkan umat memiliki lebih dari seorang khalifah (imam). Abdurrahman Al Jaziri menjelaskan pendirian empat imam madzhab yang saleh sebagai berikut:
    “Para imam (Abu Hanifah, Malik, Asy Syafi’i, dan Ahmad) –rahimahumulah— bersepakat pula bahwa Umat Islam tidak boleh pada waktu yang sama di seluruh dunia mempunyai dua Imam (Khalifah), baik keduanya sepakat maupun bertentangan.” (Abdurrahman Al-Jaziri, Al- Fiqh ‘Ala Al-Madzahib Al-Arba’ah, Juz V/308).
    Berdasarkan hal ini, sudah saatnya Umat Islam menyadari kontradiksi nasionalisme dengan norma Islam di atas. Mereka hendaknya menyikapi nasionalisme dengan tegas, yaitu membuang nasionalisme ke tempat sampah. Sebab nasionalisme memang ide najis (kufur) dan terbukti tidak ada gunanya bagi umat Islam. Apa gunanya ide yang absurd dan kosong ? Apa gunanya ide yang membuat umat Islam terpecah-belah ? Apa gunanya ide yang membuat kita terus dijajah dan dieksploitir oleh kaum penjajah yang kafir ?
    Karena itu, sekali lagi marilah kita buang nasionalisme yang destruktif itu ! Mari kita kuburkan nasionalisme yang hanya melanggengkan penjajahan kafir atas kita ! Marilah kita kembali kepada ajaran Islam yang murni, yakni kembali kepada ikatan (rabithah) keimanan, bukan ikatan nasionalisme yang palsu dan rapuh. Marilah kita berusaha untuk mewujudkan ikatan yang suci itu dalam bentuk satu institusi politik pemersatu umat Islam di seluruh penjuru dunia, yakni negara Khilafah Islamiyah. [ ].
    Source:www.khilafah1924.org

    • admin

      Pengusung Khilafah/HTI = Pemimpi Sejati = Munafik Sejati. Munafik? Kenapa karena anda masih memakai KTP dari negara Demokrasi yang anda hidup. Anda masih jadi kacung di perusahaan milik orang kafir, Anda masih bercelana, berbaju, makan dan berinternet seperti orang2 Yahudi. Ah, konyol…

      • anshor

        woi sebut nama dasar cement.. inget indonesia ini dimana? di bumi kan? bumi ini milik siapa ? Allah kan, gak ngikutin aturan Allah / apa kata dunia… Khilafah adalah institusi yg dicontohkan baginda Rasull panutan kita. lah Demokrasi ngikutin Orang kafir. msh dibela. perlu dipertanyakan keislamannya tu???

        • admin

          Terserah kamulah mas, internet yg bikinan orang kafir dan labanya dinikmati orang kafir aja masih kamu pakai. Buang KTP Indonesiamu kalau tidak kerasan disini

  • ahmad busyairi

    Penjara Besar yang Membuat Kita Lemah
    Ada pertanyaan berulang ditengah-tengah masyarakat , kenapa kita tidak bisa menghentikan kebiadaban Israel? Kenapa penguasa-penguasa Arab dan negeri Islam lainnya memilih diam? Kenapa PBB yang mengklaim sebagai organisasi internasional malah terkesan menjadi pengamat terhadap keganasan Israel?

    Paling tidak ada tiga ‘penjara besar’ yang membuat kita meskipun dengan jumlah penduduk lebih dari 1,5 milyar seluruh dunia lumpuh menghadapi Israel dengan jumlah penduduk total sekitar 5,5 juta jiwa. Pertama adalah nasionalisme dengan sistem negara bangsa (nation state). Dengan sistem negara bangsa, umat Islam yang tadinya bersatu di bawah naungan negara Khilafah kemudian dipecah-pecah menjadi negara kecil dan lemah.

    Diperparah dengan ide nasionalisme yang menjadi racun yang membunuh persaudaraan dan persatuan umat Islam. Logika nasionalisme selalu mengatakan persoalan luar negeri seperti Palestina, Irak, Afghanistan bukan persoalan kita, kita lebih baik memikirkan kepentingan nasional kita saja!

    Justru sikap ini yang membuat kita lemah dan membuat negara-negara kafir penjajah berbuat seenaknya terhadap umat Islam. Mereka tidak takut secara bergilirian menyerang negeri-negeri Islam karena mereka tahu negara-negara muslim lainnya akan diam.

    Ini tidak akan terjadi kalau negara-negara kafir itu melihat umat Islam bersatu. Kalau umat Islam bersatu, satu negeri Islam diserang, seluruh negeri Islam akan mengirim jutaan tentara-nya yang didukung umat Islam yang rindu syahid fi sabilillah untuk membebaskan saudaranya.

    Menghadapi Hamas , Hizbullah di Libanon Selatan, dan mujahidin Irak dan Afghan-istan , saja mereka sudah kewalahan. Apalagi kalau negara-negara penjajah itu menghadapi puluhan juta tentara Islam dengan persenjataan mereka yang tentu lebih canggih. Pastilah musuh-musuh Allah SWT akan ketakutan. Apalagi yang mendorong tentara-tentara Islam itu bukanlah kekuatan materi tapi aqidah Islam. Tentara Islam akan menjadi tentara yang ditakuti oleh lawan.

    Penjara besar kedua adalah penguasa-penguasa negeri Islam yang berkhianat pada Allah SWT, Rasulululah SAW dan umat Islam. Penguasa umat Islam sekarang sebagian besar adalah antek-antek Amerika Serikat , kaki tangan penjajah, yang lebih memilih berkhidmat kepada penjajah daripada melindungi dan melayani umat Islam. Padahal Rasulullah SAW telah mengingatkan fungsi utama pemimpin adalah melindungi umatnya. Pemimpin adalah perisai (al junnah).

    Israel , Amerika Serikat, dan negara-negara penjajah lainnya tidak akan seenaknya membunuh umat Islam, kalau mereka tahu ada penguasa Islam yang menjadi pelindung umat yang akan membela rakyatnya. Pemimpin Negara seperti Rasulullah SAW yang menghu-kum mati Yahudi Bani Qainuqa yang membunuh seorang rakyatnya dan mengusir keluar mereka keluar Madinah.

    Rasulullah SAW juga mengirim pasukan Islam untuk mengepung Yahudi Bani Quraizhah selama 25 hari dan menghukum mati para pengkhi-anat karena merekaberkaolisi dengan musuh Daulah Islam dalam perang Ahzab.

    Penjara ketiga, adalah sistem internasional saat ini yang dipimpin oleh Amerika Serikat dengan ideologi Kapitalismenya. AS dan sekutunya membuat hukum internasional dan membentuk lembaga-lembaga internasional yang digunakan sebagai alat kepentingan negara-negara penjajah. PBB digunakan untuk melegalisasi penjajahan terhadap Irak dan Afghanistan.

    Lewat organisasi ini dikirimlah tentara dari berbagai negara untuk menduduki Irak dan Afghanistan. Sebaliknya, tentara-tentara dari negeri Islam berlindung di belakang PBB untuk tidak membantu saudaranya yang dibantai. Alasannya, tidak ada perintah dari PBB. Jadilah PBB mandu.l

    Penghancuran penjara itu hanya bisa dilakukan dengan membentuk kembali Khilafah Islam, sebuah sistem pemerintahan Islam yang berdasarkan manhaj nubuwah. Dengan tegaknya sistem Islam, penguasa -penguasa pengkhianat itu akan tumbang. Digantikan oleh Khalifah yang adil dan melindungi rakyat. Khilafah akan menyatukan negeri-negeri Islam bukan berdasarkan kebangsa-annya tapi atas dasar aqidah Islam. Khilafah juga akan mengimbangi dan mengganti-kan dominasi negara-negara Kapitalis saat ini yang dipimpin AS. Tatanan internasional akan dipimpin oleh Khilafah Islam yang akan memberikan kesejahteraan dan keamanan bagi umat manusia seluruh dunia.

    • admin

      Ah, Omong Doang! Anda cuma bisa menggagas dan bermimpi saja! Khilafah Islamiyah yang anda cita-citakan tidak akan diridhoi karena anda cuma mengakomodir kelompok anda dan membabat kelompok lain! Utopis sejati, munafik bahkan. Membuat jarum saja harus impor dari Cina yg kafir komunis, Berkomunikasi saja memakai Internet buatan/kembangan Yahudi. Anda tidak malu? haha