Jakarta, NU Online
Ahli astronomi Arab Saudi, Sholeh bin Muhamad Al-Sha’ab, dari King Abdulaziz City for Science and Technology (KACST), mengakui sistem penentuan awal bulan qomariyah Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) lebih baik dari yang diberlakukan di Arab Saudi. Hal ini terkait dengan standar akurasi yang diterapkan oleh LFNU.

Hal tersebut disampaikannya saat bersilaturrahim ke kantor PBNU Jakarta, Sabtu (10/3). Sholeh Al-Sha’ab disambut oleh Ketua LFNU KH A. Ghazalie Masroeri dan para pengurus LFNU lainnya.

Sholeh Al-Sha’ab menyampaikan, dasar paling penting dalam penetapan awal bulan qamariyah di Arab Saudi adalah kesaksian dari warga bahwa mereka telah melihat hilal (bulan sabit) pada saat dilakukan rukyatul hilal, meskipun secara astronomi hilal saat itu tidak mungkin dilihat.

Kejadian yang paling dekat adalah penentuan awal bulan Syawal tahun lalu, Arab Saudi berlebaran satu hari lebih dulu dari Indonesia. Para pakar astronomi dari berbagai negara, termasuk Arab Saudi, menyatakan bahwa posisi hilal masih berada di bawah ufuk. Namun karena ada empat orang saksi maka kesaksian itu diterima.

“karena ada empat orang maka ditetapkan tanggal 1 syawal. Di sana (Arab Saudi: Red) tidak ada alasan menolak kesaksian,” kata Sholeh Al-Sha’ab.

Ketua LFNU KH A. Ghazalie Masroeri memberikan tanggapan, “Dalam LFNU, kesaksian dapat ditolak jika semua hasil hisab dan pakar astronomi menyatakan bahwa hilal tidak mungkin dilihat.”

Sholeh Al-Sha’ab mengatakan, dirinya sebenarnya sudah menyampaikan kritik terhadap hasil penentuan awal bulan di negaranya, namun dirinya tidak bisa berbuat apa-apa.

“Kalau alat paling modern saja tidak bisa melihat hilal, dari mana keyakinan itu (keyakinan melihat hilal: Red). Dari pesawat saja hilal tidak bisa dilihat, kesaksian melihat hilal itu dasarnya apa?” demikian Sholeh bin Al-Sha’ab.

Namun dirinya menegaskan, tidak ada kepentingan politik dalam penentuan awal bulan. Semua didasarkan pada ketentuan syar’i. “Mahkamah Agung (yang menetapkan awal bulan) di Saudi adalah lembaga agama, bukan politik,” katanya ketika ditanya mengenai penentuan hari Arafah di Arab Saudi yang sering berbeda dengan negara Muslim lain.