Jepara, NU Online
Nahdlatul Ulama (NU) sebagai salah satu ormas terbesar di Indonesia mempunyai jutaan warga dan kader yang tersebar di pelosok Nusantara. Dari banyaknya warga dan kader itu ada beberapa kelemahan yang dimiliki sehingga membuat aliran lain mudah menyusup dan mengobrak-abrik sejumlah tradisi kultural yang telah diwariskan para ulama terdahulu.

Demikian pokok Dialog Kebangsaan yang dipaparkan Habib Nauval Bin Muhammad Al-Aidrus dari Solo bersamaan dengan Harlah IPNU ke-58, Harlah IPPNU ke-57 dan Rapat Kerja Cabang (Rakercab) IPNU-IPPNU Kabupaten Jepara, Ahad (4/3) kemarin, di Aula Gedung NU Jepara, Jalan Pemuda No.51.

Menurutnya, beberapa kelemahan itu semisal banyak warga dan kader yang kurang cakap dalam berbicara. Selain itu, minimnya tradisi tulis-menulis. “Sehingga meski kuantitas kita banyak akan mudah dibabat habis oleh segelintir orang yang memiliki dua kelebihan itu,” katanya.

Ia menyebut Pesantren Sidogiri sebagai pemasok kader yang telah digodok dalam tulis-menulis. Tetapi diluar itu, salah satu pesantren di Solo sebelum santri boyong diwajibkan menulis buku.

Karenanya, Habib Nauval mengajak kader IPNU-IPPNU untuk bangkit. Bangkit untuk menumpas segala aliran yang akan menghilangkan tradisi kultural NU dari muka bumi dengan bersatu padu serta mengorganisir organisasi dengan baik. Sebab, di sejumlah daerah sudah berlaku area steril dari Maulid dan masih banyak lagi.

Sementara itu, Hj Asfiyah selaku Pembina IPPNU berharap IPNU-IPPNU menjadi organisasi yang solid utamanya dalam manajemen organisasi. Juga, program kerja yang digelontorkan adalah program nyata dan menyentuh kepentingan masyarakat meliputi yang pendidikan dan sosial.

Chamidatur Rohmah, Ketua PC IPPNU Jepara memohon kepada seluruh jajaran pengurus Pimpinan Cabang (PC) dan Pimpinan Anak Cabang (PAC) untuk saling bekerjasama agar kepengurusan IPNU-IPPNU masa khidmah 2011-2013 berjalan sesuai yang diharapkan.