Jakarta, NU Online
Lembaga pendidikan Islam berlatar belakang Nahdliyin bertaburan di Indonesia. Namun hanya sedikit yang menggunaan label “Nahdlatul Ulama” sebagai nama resmi institusi. Kondisi ini dinilai rawan penggusuran ideologi, termasuk juga akan memperlemah militansi.

Pendapat ini disampaikan Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta HM Mujib Qulyubi di kantornya, Rabu (7/3). Menurutnya, persoalan nama menjadi sangat penting karena ia berfungsi sebagai counter identitas terhadap kelompok-kelompok yang ingin menyerang NU melalui pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi.

“Kalau saudara-saudara kita yang menyerang NU bisa militan, kenapa kita tidak bisa. Misalnya ada nama Madrasah Ihya Ulumidin, kalau memang latar belakangnya NU, silahkan pakai aja Madrasah Nahdlatul Ulama Ihya Ulumiddin. Tidak perlu takut,” katanya.

Menurut Mujib, kelompok-kelompok berideologi transnasional, Wahabi dan ideologi keras lainnya kini jumlahnya terus meningkat. Jika tidak segera diantisipasi akan dapat merongrong budaya toleransi yang sudah mengakar di masyarakat.

Apalagi, perjuangan mengumandangkan Islam rahmatan lil ‘alamin idealnya dilaksanakan di lembaga pendidikan. Kalau pendidikan secara karakter sudah rapuh, seterusnya akan mudah dikuasai orang lain. Dalam hal ini, fungsi nama NU hanya sebatas tambahan saja, tidak mengganti sepenuhnya nama madrasah atau perguruan tinggi sebelumnya.

“Sebab kita tidak cukup memperkuat ahlussunnah wal jamaah dengan pidato-pidato atau dengan teori-teori yang sudah tidak sesuai dengan keadaan zaman. Mengumandangkan Islam rahmatan lil’alamin, ya melalui perguruan tinggi,” tandas Katib Syuriah ini.