Jakarta, NU Online
Masjid dan pesantren merupakan dua kaki penyangga Nahdlatul Ulama yang mengakar dari pusat sampai ke daerah. Jika pesantren termasuk wahana pendalaman ilmu agama maka masjid menjadi lahan aktualisasi beragama dan berjuang di tengah masyarakat. Keroposnya dua entitas ini adalah sinyal sederhana tentang keroposnya NU secara umum.

“Sebagai warga Nahdliyin kita punya tanggung jawab menjaga dua kaki kita ini,” tegas Ketua Pengurus Pusat Lemaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama (LTM NU) KH Abdul Manan Ghani di depan puluhan pengasuh pondok pesantren dari Kota Bandar Lampung, di Jakarta, Senin Sore (12/3).

Menurut Manan, maraknya ideologi garis keras yang mulai menyusup ke sejumlah masjid dan pesantren berbasis Nahdliyin berarti menambah kewaspadaan warga NU untuk lebih proaktif melakukan pembinaan-pembinaan di lingkungan masjid dan pesantren.

“Masjid dan pesantren adalah dua kekuatan yang tidak dapat dipisahkan. Jika salah satunya lemah maka akan terjadi kepincangan,” tambahnya.

Karenan itu, lanjutnya, PP LTM NU telah berupaya menanggulangi kondisi ini di antaranya melalui rapat pimpinan nasional (Rapimnas) dengan pengurus LTM NU di tingkat wilayah. Rapimnas diselenggarakan secara regional di sedikitnya 15 wilayah di Indonesia.

Setelah Rapimnas di Medan awal Maret lalu, tujuan selanjutnya adalah kota Jambi, Jawa Barat, dan DKI Jakarta. Selain membahas isu-isu krusial seputar kemasjidan, pelatihan untuk pelatih (ToT) masuk bagian dari rangkaian agenda Rapimnas. “Kita mau NU tak sekadar menjadi khadimul ummah (pelayan masyarakat), tapi juga qaidul ummah (pemandu umat),” tandasnya.