Kudus, NU Online
Sejumlah peserta 6th Regional Interfaith Dialogue (RID) mengunjungi Menara Kudus, Rabu (14/3). Mereka merasa kagum atas bangunan menara yg dibangun Sunan Kudus itu karena secara arsitektural cukup menunjukkan toleransi antar ummat beragama.

Salah seorang peserta dari Timor Leste mengatakan menara Kudus memiliki keagungan yg menjadi bukti masa itu toleransi antarummat beragama sudah cukup kuat.

“Secara pribadi sangat kagum hal ini. Harusnya,ummat beragama sekarang meniru dengan saling menghormati,”ujarnya.

Delegasi asal malaysia Rama Tani menilai arsitektur Menara Kudus beserta masjidnya sangat luar biasa. Sebab,dalam arsitektur tersebut menggabungkan beragam kebudayaan baik Islam, Budha, Hindu bahkan Tionghoa.

Kunjungan peserta 6th RID ke menara Kudus merupakan rangkaian agenda acara 6th RID yang diadakan di Semarang,11-15 maret. Kegiatan ini disponsori sejumlah negara di kawasan Asia pasifik,seperti Australia,New Zealand dan filipina dengan negara negara peserta lain dari Brune Darusalam, Cambodia,Fiji, Laos,Malaisia, Myanmar, Singapura, Thailand,Timor Leste dan Vietnam.

Menurut salah satu panitia Aziz dipilihnya Menara kudus sebagai obyek kunjungan karena bangunan di komplek makam sunan Kudus ini merupakan salah satu artefak kebudayaan yang menunjukkan tingginya toleransi ummat beragama di Indonesia pada masa lampau. Diharapkan,para delegasi bisa memetik pelajaran betapa keberagaman itu sesuatu yang indah.

“selain menara kudus,sebelumya rombongan mengunjungi MAJT,Pagoda Avalokitesvara Buddhagaya di watugon,Klenteng Agung Sam Poo Kong dan gereja Blenduk di kotalama,” terangnya.

Di antara rombongan yg ke menara,terdapat seorang biksu asal Thailand. Usai melihat bangunan di dalam Menara Kudus, mereka jug melakukan foto bersama.