Novel Penakluk Badai KH Hasyim Asyarie Jadi Buku Terlaris di Gramedia

Jakarta, NU Online
Novel berjudul “Penakluk Badai” yang merupakan novel sejarah dan biografi KH Hasyim Asy’ari menjadi salah satu buku terlaris yang dijual di Gramedia, sebagaimana release yang dikirimkan oleh Gramedia Bintaro, Jum’at (13/4).

Novel yang dikarang oleh Aguk Irawan, aktifis Lesbumi Yogyakarta ini cukup tebal dengan jumlah halaman 530 dan diterbitkan oleh Global Media Utama. Gramedia menjualnya dengan harga 75 ribu per buah.

Sebagai novel sejarah, buku ini banyak berisi data-data sejarah. Aguk mengungkapkan fakta sejarah mulai dari kelahiran KH Hasyim Asy’ari di pesantren Nggedang, Jombang, Jawa Timur, 10 April 1875 dari keluarga yang secara turun-temurun memimpin pesantren. Ayahnya bernama Kiai Asyari, pemimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Ibunya bernama Halimah.

Dari garis ibu, Kiai Hasyim Asy’ari merupakan keturunan Raja Brawijaya VI, yang juga dikenal dengan Lembu Peteng, ayah Jaka Tingkir yang menjadi Raja Pajang (keturunan kedelapan dari Jaka Tingkir).Kakeknya, Kiai Ustman terkenal sebagai pemimpin Pesantren Gedang, yang santrinya berasal dari seluruh Jawa, pada akhir abad 19. Dan ayah kakeknya, Kiai Sihah, adalah pendiri Pesantren Tambakberas di Jombang.

Semenjak kecil hingga berusia empat belas tahun, putra ketiga dari 11 bersaudara ini mendapat pendidikan langsung dari ayah dan kakeknya, Kiai Utsman. Hasratnya yang besar untuk menuntut ilmu mendorongnya belajar lebih giat dan rajin. Hasilnya, ia diberi kesempatan oleh ayahnya untuk membantu mengajar di pesantren karena kepandaian yang dimilikinya.

Tak puas dengan ilmu yang diterimanya, semenjak usia 15 tahun, ia berkelana dari satu pesantren ke pesantren lain. Mulai menjadi santri di Pesantren Wonokoyo (Probolinggo), Pesantren Langitan (Tuban), Pesantren Trenggilis (Semarang), dan Pesantren Siwalan, Panji (Sidoarjo). Di pesantren Siwalan ia belajar pada Kiai Jakub yang kemudian mengambilnya sebagai menantu.Pada tahun 1892, Kiai Hasyim Asy’ari menunaikan ibadah haji dan menimba ilmu di Mekah. Di sana ia berguru pada Syeh Ahmad Khatib dan Syekh Mahfudh at-Tarmisi, gurunya di bidang hadis.Dalam perjalanan pulang ke tanah air, ia singgah di Johor, Malaysia dan mengajar di sana. Pulang ke Indonesia tahun 1899,

One Comment

Leave a Reply