Jakarta, NU Online – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) berharap perayaan Hari Raya Nyepi yang jatuh pada Jumat (23/3) mendatang berlangsung aman dan damai. Toleransi antar umat beragama juga diharapkan dapat terwujud nyata.

“Kami berharap perayaan hari besar agama apapun, termasuk Nyepi yang akan dirayakan umat Hindu bisa berlangsung aman, damai, dan tidak ada pihak yang menodainya,” kata Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siroj di Jakarta, Selasa (20/3).

Beberapa hari lalu Bali digegerkan dengan penggrebekan 5 orang terduga teroris. Kasus terorisme hingga saat ini masih menjadi momok bagi masyarakat Bali, dan kejadian yang sama diharapkan tidak terulang, tepatnya saat perayaan Nyepi mendatang.

“Semua pihak harus bisa menjaga agar Nyepi bisa berlangsung kondusif. Aparat keamanan kami harapkan juga bisa mewaspadai sejak dini hal-hal yang bisa menjadi ancaman,” tegas Kiai Said.

Namun demikian, mengingat Nyepi yang akan datang jatuh di hari Jumat, sementara umat Islam memiliki kewajiban melaksanakan shalat Jumat, PBNU berharap umat Hindu, khususnya di Bali, memberi kesempatan shalat Jumat tetap terlaksana.

“Saya harap toleransi dikedepankan, bisa saling menghargai antarumat beragama,” harap Kiai Said.

Apalagi, lanjut Kiai Said, pelaksanaan shalat Jumat tidak memakan waktu lama, yaitu tak lebih dari dua jam.

Sebaliknya, masih kata Kiai Said, umat Islam di Bali diharapkan menyesuaikan diri dengan tidak menggunakan pengeras suara saat pelaksanaan shalat Jumat. “Kalaupun dibutuhkan pengeras suara cukup di dalam masjid, tetapi lebih baik tidak menggunakan pengeras suara,” tandas Kiai Said.

Perayaan Nyepi di Bali memang memiliki keunikan tersendiri, salah satunya diwajibkannya seluruh masyarakat yang tinggal untuk tidak melakukan aktivitas di luar rumah. Bahkan fasilitas listrik juga dilakukan pemadaman 1 x 24 jam, terkecuali di tempat-tempat tertentu, seperti rumah sakit.