PCNU Jember Akan Lingkari Kampus dengan Pesantren

Jember, NU Online
Tingginya tingkat kenakalan remaja ditambah berkembangnya Islam radikal rupanya menimbulkan kecemasan tersendiri di tubuh PCNU Jember. Kecemasan itulah yang mendorong PCNU Jember untuk berbenah, utamanya melakukan pembenahan dari dalam dengan menambah akses-akses pendidikan yang dapat memperkuat penanaman Aswaja di kalangan pelajar dan generasi muda.

Demikian yang disampaikan Wakil Ketua PCNU Jember, KH Misrawi dihadapan peserta Dialog Pendidikan (20/6) yang digelar LP Ma’arif Jember di Madrasah Aliyah Ma’arif Jenggawah Jember.

“Kesalahan yang dilakukan NU Jember selama ini adalah hanya membangun pesantren di wilayah pedesaan dengan mengabaikan wilayah perkotaan,” ungkap Kiai Misrawi.

Akibat yang ditimbulkan dari kesalahan tersebut adalah terkikisnya paham Aswaja dari para pelajar yang melanjutkan pendidikannya di wilayah Jember kota, karena tidak ada lagi tempat bagi mereka untuk meningkatkan pemahaman dari paham yang selama ini mereka pelajari. Sementara pada waktu yang sama, pengaruh dari paham-paham yang lain begitu deras mempengaruhi generasi muda Nahdlatul Ulama.

“Itu sebabnya para Kiai NU di Jember sepakat untuk membentengi Jember Kota dengan pondok-pondok pesantren,” ungkap Kiai Misrawi. Langkah tersebut saat ini diawali dengan mengelilingi Kampus Universitas Jember dengan sejumlah pondok pesantren. Setidaknya, saat ini sudah berdiri 5 pondok pesantren yang siap untuk menampung putra-putri kaum nahdliyin yang melanjutkan pendidikannya di wilayah Kampus. Karena di kawasan tersebut, selain Unej, ada juga beberapa perguruan tinggi yang lain, diantaranya adalah Poltek, Universitas Muhammadiyah, IKIP PGRI, dan STIE Mandala.

Dijadikannya wilayah kampus sebagai sasaran pertama bagi pengembangan pesantren di wilayah Jember kota bukan tanpa alasan. Selain kawasan tersebut dipenuhi generasi muda dengan berbagai aktifitasnya, wilayah kampus selama ini juga ditengarai sebagai pusat berkembangnya paham-paham yang berseberangan dengan paham yang diusung Nahdlatul Ulama.

“Selain lembaga non-formal seperti pondok pesantren, lembaga pendidikan Ma’arif juga berusaha memperkuat penanaman Aswaja lewat pendidikan formal. Hal tersebut sebenarnya sudah kita lakukan selama ini. Namun melihat derasnya pengaruh yang ada, memaksa kita untuk bekerja lebih keras lagi. Karena itu pada tahun ajaran baru yang akan datang, kita akan kembali memberikan workshop kepada semua guru Aswaja mulai dari tingkat SD/MI hingga SMA/MA.

Workshop tersebut nantinya akan kita jadikan embrio bagi peningkatan pemahaman tentang Aswaja kepada guru-guru LP Ma’arif, sehingga ke depan bukan hanya guru Mapel Aswaja saja yang memperoleh pelatihan tentang Aswaja, tapi juga semua guru LP Ma’arif,” terang Ketua LP Ma’arif Jember HM Suroto Bawani.

Selain menggelar Dialog Pendidikan yang dihadiri Kabid TK/SD Dispendik Jember dan Komisi D DPRD Jember, pada kesempatan itu LP Maarif Jember juga menyelenggarakan Pemilihan Pelajar Teladan yang diikuti seluruh lembaga SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA yang berada di bawah naungan LP Ma’arif Jember.

Dalam Pemilihan Pelajar Teladan tersebut, selain materi pengetahuan umum, peserta juga diuji dengan materi Aswaja, termasuk tes wawancara untuk mengetahui seberapa dalam pemahaman peserta terhadap bacaan-bacaan tahlil. Pemilihan Pelajar Teladan yang sarat dengan materi ke-NU-an tersebut menjadi bukti nyata dari kesungguhan LP Ma’arif Jember untuk memperkuat penanaman paham Aswaja pada diri peserta didik.

Leave a Reply