Jakarta, NU Online – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Said Aqil Siroj, mengingatkan pentingnya perubahan metode dakwah di kalangan Nahdliyin, tanpa meninggalkan prinsip Islam yang tasamuh, tawassuth dan tawazun. Ini disampaikan untuk menjaga eksistensi NU di masa mendatang.

“Bukan berarti kita tidak menghargai Mbah-mbah kita. Mereka sudah berhasil dengan cara-cara lamanya, tapi dakwah harus dikembangkan cara-caranya,” pesan Kiai Said di Jakarta, Selasa (13/3). Pesan yang sama juga disampaikannya saat menjadi pemateri dalam Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Kaderisasi NU se Pulau Jawa di Karawang, Jawa Barat, Senin (12/3).

Kiai Said mengatakan, NU akan tetap diperhitungkan keberadaannya jika tetap menjalankan prinsip Islam tasamuh, tawasuth dan tawazun. Dalam sikap warga NU diminta tidak tertutup, sementara dalam tindakan ditekankan untuk meninggalkan cara-cara ekstrem.

“Moderat dan toleran itu penting. Jangan sekali-kali tertutup dan ekstrem, karena fitrah manusia secara alami akan menolak itu. NU akan ditinggalkan jika berubah menjadi ekstrem,” tegas Kiai Said.

Pentingnya perubahan tersebut, masih kata Kiai Said, sesuai dengan prinsip Ahlussunnah wal Jamaah yang dicetuskan pendiri NU, yaitu menjalankan metode berfikir yang berkembang, bisa menyesuaikan diri dengan tuntutan seiring perkembangan jaman.

Dalam praktek nyata dakwah, salah satunya di dunia pesantren, pengelola atau pengasuh diminta tidak hanya bisa mencetak qari’ul kutub atau pembaca kitab. Ke depan pesantren harus bisa mencetak seorang penulis kitab, penafsir ayat-ayat Al Qur’an dan hadis, serta perumus hukum-hukum Islam baru.

“Pesantren yang ada sekarang kebanyakan hanya mencetak qari’ul kutub, ke depan harus kuttab, seorang penulis dan bukan sekedar pembaca. Fiqih juga demikian, pesantren harus bisa mencetak perumus,” urai Kiai Said.

Sementara untuk kader NU yang sudah menguasai ilmu agama sesuai dengan perkembangan jaman, Kiai Said meminta untuk tidak meninggalkan tugas membangun sesuai dengan tujuan keberadaan NU sebagai civil society, yaitu membantu Pemerintah dalam pemberdayaan masyarakat. “Sesuai ayat Al Quran liyattafaqqahu fid diin, kalau sudah menguasai agama jangan lupa diamalkan, jangan lupa digunakan untuk membangun masyarakat,” pungkasnya.