Kudus, NU Online
Pimpinan Cabang Rabithah Ma’had Islamiyah (RMI) kabupaten Kudus menggelar sarasehan santri dan saudagar Kudus di Pondok Pesantren Entrepreneur Al-Mawaddah Honggosoco, Jekulo , Selasa (20/3).

Sarasehan yang dihadiri para ulama, pengusaha dan pimpinan pesantren itu menghadirkan pembicara Ketua MUI Kudus KH Syafiq Nashan dan Nur Said penulis Buku ‘Jejak Perjuangan Sunan Kudus dalam Membangun Karakter Bangsa.’

Sarasehan yang dibuka Bupati H Musthofa Wardoyo itu membicarakan aktualisasi filosofi “Jigang” (ngaji dan dagang) bagi warga Nahdliyin di kawasan Kudus dan sekitarnya, sebagaimana ditanamkan oleh Sunan Kudus.

Menurut Ketua Syafiq Nashan, “Jigang” tetap menjadi spirit nilai yang harus dipertahankan dan dibumikan oleh Nahdliyin dari waktu ke waktu.

“Jika pengambil kebijakan Kudus mengabaikan dan tidak memahami akar budaya ini, maka bisa disebut sebagai impolite, tidak sopan atau yang dalam bahasa Jawa dikenal dengan istilah “ora ilok,”” tandasnya.

Lebih lanjut Syafiq menjelaskan, menjadi saudagar dalam arti memperkuat fondasi ekonomi umat adalah hal yang harus dilakukan oleh para pemuka agama. Sebab peningkatan kemampuan ekonomi sangat dianjurkan oleh Islam dengan dasar,”kemiskinan itu mendekatkan seseorang pada kekufuran.”

“Jadi, seorang mukmin harus selalu ikhtiar, bekerja untuk memperkuat ekonomi tanpa melupakan tafaqquh fi al-din (pemahaman keagamaan). Apalagi dalam Islam disebutkan bahwa seorang mukmin yang kuat lebih disukai daripada mukmin yang lemah,” tandasnya.

Sementara menurut Nur Said, “Jigang” menjadi spirit yang diambil dari pesan agama, bahwa manusia hidup di dunia harus beramal shaleh sebanyak mungkin bagi kehidupan di akhirat tanpa melupakan bagian (rizki) di dunia.

“Kendati ini tidak bisa menggenaralisasi bahwa semua warga (wong) Kudus memahami dan memiliki spirit ini. Namun “JIgang” menjadi budaya yang demikian populer dan membanggakan secara sosiologis,'” ujar Nur Said yang juga Dosen STAIN Kudus.