Densus 26 Goes to Campus di Gelar di Kampus UIN Sunan Kalijaga

Yogyakarta – Pendidikan Khusus Dai Ahlusunnah Wal Jamaah (Densus 26) kali ini menjelajah kampus-kampus ternama di Kota Gudeg, Yogyakarta. Tujuannya agar ajaran ahlussunah wal jamaah ditebar di kalangan mahasiswa sebagai filter radikalisme.

“Acara Densus 26 Goes to Campus ini adalah pertama kali. Kali ini kami membidik kampus sebagai tempat untuk Densus 26 menyebarkan dan melestarikan ajaran-ajaran ahlus sunnah wal jamaah,”terang Ketua Panitia Densus 26 Goes to Campus Achmad Riyanto kepada redaksi www.dpp.pkb.or.id, Minggu (10/2/2013).

Koalisi Densus 26 bersama Nahdliyyin Nusantara (NAHNU) nyatanya mampu menggebrak Kota Pelajar. Ruang Interaktif Center Fakultas Sosial Humaniora UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menjadi saksi kehadiran ratusan peserta. Mereka berasal UIN Sunan Kalijaga, UGM, UII, UPY, UPN, UNY, UMY, UAD, UST, Stiq an-Nur, STPP, Akademi Tehnik Kulit, dan Alma Ata.

Dari kalangan nahdliyin terwakili PW IPNU, PW IPPNU, Pondok Nurul Ummah, dan Pondok as-Safi’iyyah.
Hadir pada acara tersebut Imam Besar Densus 26 KH Marzuqi Mustamar. Ketua Tandfidz PCNU Kota Malang ini sekaligus menjadi pembicara tunggal dalam pengajian kitab al- Muqtathafat lil Ahlil Bidayaat.
Ada pula Ketua Pembina NAHNU Eman Hermawan, Ketua Nasional NAHNU Miftahul Aziz, dan Koordinator Nasional Densus 26 Umaruddin Masdar.

Kegiatan sebelumnya, imbuh Ryan, dilaksanakan di pondok-pondok pesantren dan kantor PCNU di daerah-daerah Jateng dan Jatim. Mencermati kondisi terkini, ternyata ajaran-ajaran wahabi, salafi, NII dan gerakan Islam Fundamentalis selama ini membidik para mahasiswa atau kaum intelektual dari kampus. Sudah banyak kejadian-kejadian yang selama ini kita lihat di media massa.

“Dengan terselenggaran acara ini, kami mengharap ada kesadaran kembali di tingkatan mahasiswa bahwa ajaran ahlus sunnah wal jamaah adalah benteng terakhir dari bangsa ini. Jika para generasi muda teracuni oleh virus-virus radikalisme maka ancamannya adalah balkanisasi atau runtuhnya NKRI,”imbuh Ryan.

Umaruddin Masdar juga meminta generasi muda dan kaum intelektual mempunyai kesadaran betapa pentingnya NKRI. Gerakan transinternasional di Indonesia, imbuhnya, tidak boleh berkembang pesat karena itu akan merusak sendi-sendi budaya.

“Ingatlah kembali, para ulama mendirikan NU dengan tujuan untuk mempertahankan, melindungi, dan mengembangkan tradisi kehidupan keberagamaan yang sudah mengakar dan menjadi kunci stabilitas masyarakat bangsa,”ujar Umaruddin Masdar.

Sumber: DPP PKB