Menengok Sejenak Kalender Resmi PBNU 2013

Jakarta – Seperti tahun-tahun sebelumnya, PBNU melalui Lajnah Falakiyah NU menerbitkan almanak yang disebarluaskan. Almanak itu akan menempel di dinding rumah, lembaga pendidikan atau kantor-kantor selama 365 hari.

Almanak tahun 2013 ini bertema kembali ke khittah Indonesia 1945, tema yang diusung pada Musyawarah Nasional (Munas) alim ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU di Pondok Pesantren Kempek, Cirebon, September 2012 lalu.

Pada halaman muka, terdapat KH Hasyim Asy’ari dengan ikat serban, berjanggut putih, dengan tatap mata ke bawah. Di belakangnya, logo Nahdlatul Ulama dalam tulisan Arab. Sementara bola dunia terhalang. Seolah Hadrotusy Syekhlah yang menjadi bola dunia itu.

Di dada Mbah Hasyim terdapat burung garuda berwarna coklat dengan paruh terbuka, seolah siap mematuk. Di bawah burung kembali ada logo Nahdlatul Ulama berwarna kuning keemasan.

Di halaman berikutnya, terdapat KH Sahal Mahfud berdampingan dengan KH Said Aqil Siroj. Di belakang Rais Aam PBNU dan Ketua Umum PBNU, tampak gambar masing-masing yang sedang menyampaikan pidato pada Munas-Konbes Kempek. Di belakangnya lagi, berdiri siaga pasukan inti (Pasti) Pagar Nusa.

Di halaman itu, terdapat kutipan Kiai Said yang disampaikan pada Munas-Konbes 2012. “NU sangat sering menggelar even besarnya di kampung terpencil, bukan di kota-kota besar. Itu komitmen NU untuk tetap merakyat.”

Halaman berikutnya, tampil KH Wahab Hasbullah. Ia berkata, “NU organisasi besar. Tetapi banyak pemimipin NU yang tidak yakin akan kekuatan NU. Mereka lebih yakin akan kekuatan golongan lain. Padahal kekuatan NU itu ibarat senjata adalah meriam. Jangan sampai digoncangkan oleh propaganda dari luar, agar NU tetap bersatu dan kuat.”

Lalu, KH Bisri Sansuri hadir. Ia bilang, “Prinsip kepemimpinan ulama ditandai tiga hal. Pertama menguasai dan melaksanakan ilmu dengan secara konsekuen. Kedua berpandangan luas dalam bidang kemasyarakatan. Ketiga memiliki jiwa panglima.”

KH Machrus Aly menyusul, seraya berkata, “Pahamilah politik, karena barangsiapa tidak tahu politik, maka akan dimakan politik.”

Tokoh kebudayaan nasional yang juga aktivis Lesbumi NU, Asrul Sani, tak ketinggalan. Ia hadir dan menyampaikan pendapatnya. “NU harus menjadi sumber inspirasi mercusuar kebudayaan nasional.”

HM Subhan ZE berkata dan meyakinkan, “Selagi masih ada ulama, masih ada pesantren, ada peringatan Isro Mi’raj, nuzulul Qur’an, dan shalawat masih berkumandang, maka NU akan kuat dan berkembang pesat.”

KH Abdurrahman Wahid duduk di kursi dengan tenang. Ia berbatik pendek, bercelana panjang. Jemari kedua tangan dijalin, bertumpu pada perutnya. Ia menutup parade pernyataan tokoh-tokoh penting NU di zamannya.

“Berapa pun besar biaya dan risikonya, NU akan membela keutuhan NKRI.”

via NU Online

Leave a Reply