Oleh Syarif Hidayat Santoso
(Pengurus LTN MWCNU Kota Sumenep)

Bagaimana tasawuf mengajarkan kita untuk bermuhasabah, introspeksi di bulan Ramadhan. Mungkin ada baiknya pengajaran Syekh Ibnu Athaillah dalam Kitab Al Hikam kita renungi.
Dalam sebuah qaulnya, Ibnu Athaillah berkata. Min alamat al tabail hawa al musara’atu ila nawafili al khairat, wattakaasulu anil qiyami bil waajibat “Diantara tanda mengikuti hawa nafsu adalah bersegera melakukan amalan sunnah dan malas menunaikan kewajiban”. Hikmah apa yang bisa dipetik dari kalimat bijak ini.

Lihatlah keberagamaan kaum muslim hari ini. Betapa banyak diantara kita yang menganggap enteng ibadah wajib dan menomorsatukan ibadah sunnah. Masjid-masjid begitu ramai saat shalat tarawih, tapi tak seramai ketika shalat wajib. Kaum muslim hari ini seakan-akan menganggap tarawih berjamaah lebih utama daripada shalat wajib berjamaah. Padahal, anjuran untuk berjamaah terletak pada shalat lima waktu. Bukankah akan lebih baik, kalau masjid kita ramaikan bukan saja pada saat Tarawih tapi juga pada shalat lima waktu.

Umroh di bulan Ramadhan pun seakan menjadi momen yang meninggi intensitasnya. Di tanah suci, umrah ramadhan seakan menggabungkan beragam fadhilah. Fadhilah puasa, iktikaf, pahala prestisius shalat di Masjidil Haram, doa di tempat-tempat istijabah dan lainnya. Sebagian kita menganggap, doa akan terkabul di momen umroh bulan puasa.

Kita melupakan kaidah fikih yang bernuansa tasawuf, Al Mutaaddiy Afdhalu Minal Qashir (Sesuatu yang multi manfaat itu lebih afdhal dari sesuatu yang manfaatnya terbatas). Alangkah indahnya jika biaya umroh yang berjuta-juta itu digunakan untuk pemberdayaan masyarakat miskin. Bukankah Allah lebih bisa ditemui di sisi orang sakit, fakir miskin, anak terlantar dan yatim serta mereka yang membutuhkan keriangan di hari raya Idul Fitri. Bait syair tasawuf Hamzah Fansuri dibawah layak kita renungkan

Hamzah Fansuri Di dalam Mekkah

Mencari Tuhan di Bait Ka’bah

Dari Barus ke Kudus terlalu payah

Akhirnya Jumpa di dalam rumah

Masihkah kita berpikir kalau ijabah doa ada diantara anak yatim tetangga, fakir miskin di sekitar rumah kita, kaum kerabat kita yang membutuhkan uluran tangan?

Ibnu Athaillah juga berkata, Anta ilaa hilmihi idza atha’tahu ahwaju minka ilaa hilmihi idzaa ashoitahu “Engkau lebih membutuhkan belas kasih Allah ketika taat daripada ketika melakukan maksiat”. Kalimat bernilai tinggi ini hanya kita bisa selami kalau kita mendudukkan Allah sebagai tujuan. Bulan Ramadhan merupakan bulan spektakuler dimana ketaatan dipertunjukkan secara massal. Tapi, ramadhan juga bulan spekulatif akan ketaatan itu. Akankah ketaaatan itu akan membekas pasca ramadhan. Adakah ketaatan kita benar-benar berdiri pada maqam ikhlas. Lihatlah sebagian diantara kita, atas dasar dalil ketaatan sepihak kita merendahkan ketaatan orang lain. Mungkin pula terbersit di hati kita bahwa kita lebih taat daripada mereka yang bermaksiat di bulan Ramadhan. Padahal sejatinya, bisa jadi kita yang taat bulan ini tak beda jauh dengan mereka yang bermaksiat. Kita taat sebulan, bermaksiat sebelas bulan dan mereka (pelaku kemaksiatan) bermaksiat 12 bulan. Tak ada bedanya, yang membedakan hanya intensitas waktu semata.

Sebagai penutup, bait ke 160 dalam Al Hikam ini wajib kita renungi. Rubbamaa Dakhala alaika al riya’u min haitsu laa yandhuru al khalqu ilaika, “ Adakalanya riya’ itu masuk kedalam dirimu dari tampat yang tak terlihat makhluk”. Berhati-hatilah atas tipuan nafsu. Ramadhan pada dasarnya mengajarkan kesendirian. Kala puasa hanya kita dan Allah yang tahu. Ketika iktikaf hanya kita dan Allah yang menjalin relasi. Ingatlah, di tempat-tempat penuh kesendirian itu, jangan sampai kita menganggap diri kita hebat hanya karena beribadah di hadapan Allah.

Sumber: NU Online