JEMBER – Aswaja Center Jombang yang menjadi pusat kajian pemikiran Ahlusunnah wal Jamaah menggelar diskusi dengan tema “Takwil”, Ahad (21/9), di Aula PCNU Jombang, Jawa Timur. Takwil atau penggalian makna implisit dari teks suci dikaji dengan menyinggung pemikiran wahabisme.

Mengutip Sayyid Muhammad ibn Alawi Al-Maliki dalam kitab Huwa Allah, KH Badril Munir Nuruddin Qosim, pengasuh Pesantren Tsamarotur Roudloh Tegalsari, Banyuwangi, Jawa Timur, mengatakan bahwa kaum Wahabi yang dikenal sebagai penolak takwil memiliki tokoh-tokoh yang sebenarnya menggunakan takwil meski tak mereka sadari.

“Ahlussunah wal Jamaah itu ada yg ber-tafwidl dengan memasrahkan kepada Allah akan makna yang layak bagi Allah dan ada yang menganut takwil. Nah, Wahabi mengingkari takwil tetapi ulama panutan mereka seperti Ibnu Taymiyah melakukan majaz yang merupakan bagian dari takwil,” terang murid Habib Zen Sumaith Madinah ini.

KH Badril Munir menjelaskan itu di hadapan para peserta antara lain dari alumni pengkaderan inti Aswaja, pengurus lembaga, lajnah dan badan otonom NU di Jombang.

Di forum ini, diumumkan bahwa Aswaja NU Center menyepakati wacana pembentukan Formas (Forum Mahasiswa Aswaja) yang digulirkan Pengurus Wilayah Aswaja NU Center. Pembentukan komunitas tersebut dimaksudkan sebagai daya dorong dan penguat ideologi Aswaja di kalangan mahasiswa.

Dalam kesempatan yang sama juga ditegaskan bahwa Aswaja berpegang pada sikap keberagamaan yang moderat dan toleran.

“Aswaja itu mengembangkan sikap husnudh-dhan (prasangka baik) kepada sesama muslim. Aswaja tidak mudah mengkafirkan firqah (kelompok) di luar Aswaja,” tandas KH Badril Munir.

Sumber: NU Online