KUDUS – Menyikapi adanya pergantian menteri baru, para guru madrasah berharap tidak ada kebijakan baru yang mengubah kurikulum 2013. Menurut mereka, perubahan kurikulum hanya akan menambah kebingungan tenaga didik yang sekarang ini masih dalam proses sosialisasi dan implementasi.

Demikian kesimpulan beberapa pernyataan dari para guru Madrasah Tsanawiyah Nahdlatul Ulama (MTs NU) yang dihimpun NU Online di sela-sela acara Workshop Latihan Praktik dan Implementasi Kurikulum 2013 di Aula PCNU Kudus, Kamis (6/11).

Menurut guru MTs NU Miftahul Ma’arif Kaliwungu, Kusdiyanto, pemerintah melalui Menteri Pendidikan tidak perlu mengganti kurikulum 2013 karena dinilai sudah bagus dibanding kurikulum sebelumnya.

“Meskipun biasanya, bila menteri baru muncul kebijakan baru, tetapi soal kurikulum jangan serta merta mengganti maupun mengubah. Kaji ulang terlebih dahulu,” katanya.

Ia mengatakan, kurikulum 2013 ini menekankan pada peningkatan akhlak anak didik. Namun, masih perlu adanya peningkatan terkait pembagian persentase antara moralitas dan materi ajar.

“Sekarang ini kan masih 10:90 persen, seharusnya sebanding sama antara moralitas dan materi ajar yakni 50:50,” tandas Kusdi, sapaan akrabnya.

Meskipun mengganti kebijakan merupakan kewenangan pemerintah, kata Kusdi, seyogianya dilakukan setelah lima tahun atau pemerintahan berakhir. “Lha, kurikulum 2013 ini saja baru akan diterapkan, masak harus diganti lagi. Kalau selalu ganti, perjuangan guru semakin tidak enak. Bisa-bisa para guru nanti dibingungkan dengan workshop, latihan dan seminar kurikulum seperti ini,” katanya.

Guru MTs NU Ibtidaul Falah Samirejo Dawe Noor Said mengharapkan yang sama. Menurutnya, perubahan itu belum perlu dilakukan karena semua guru sedang menyesuaikan pemberlakuan kurikulum 2013 ini.

“Sekarang ini kita sedang menyesuaikan diri untuk menerapkan kurikulum 2013. Bila terus diganti sangat menyulitkan anak didik dalam memahami pola pengajaran maupun metode pendidikan termasuk sistem penilaian hasilnya,” ujarnya singkat.

Sumber: NU Online