Berita tentang usulan Saudi untuk memindahkan makam Nabi Muhammad dari masjid Nabawi di Medinah menjadi trending di media sosial.

Laporan di harian koran The Independent berjudul ‘Saudi menghadapi risiko perpecahan baru dengan usulan memindahkan makam Nabi Muhammad’ itu mengutip usulan dalam dokumen oleh seorang akademisi yang beredar di antara para pengawas Masjid Nabawi, seperti dilaporkan oleh BBC Indonesia.

Namun rencana itu diangkat akademisi lain yang mengkritik dirusaknya tempat-tempat suci dan artefak di Mekah.

Makam Nabi Muhammad terletak di kubah hijau di dalam masjid dan dikunjungi jutaan jemaah haji dan merupakan tempat suci kedua bagi umat Islam.

Ulama Saudi garis keras atau Wahabi telah lama memfatwakan melarang penyembahan benda atau “orang suci”, sebuah praktek yang dianggap “syirik” atau berhala.

Dr Alawi, direktur Islamic Heritage Research Foundation, seperti NU Online kutip dari The Independent mengatakan : “Orang-orang mengunjungi ruangan keluarga Nabi hidup, dan kemudian menuju tempat pemakaman untuk berdoa.

“Sekarang mereka ingin mencegah peziarah mengunjungi dan menghormati makam karena mereka percaya bahwa ini adalah syirik, atau penyembahan berhala. Tapi satu-satunya untuk menghentikan Muslim mengunjungi Nabi adalah membawa makam tersebut keluar (dari masjid) dan memasukkannya ke pemakaman (umum). ”

Dr Alawi juga mengatakan rencana tersebut meliputi penghancuran kubah hijau yang menutupi makam Nabi.

Nabi dihormati oleh kedua cabang Islam, Sunni dan Syiah. Sekte Wahabi merupakan cabang dari Sunni, namun membongkar makam Nabi dapat mengobarkan ketegangan antara kedua kelompok tersebut.

Muslim Sunni mainstream akan sama terkejutnya atas upaya pembongkaran makam nabi sebagaimana kelompok Syiah, kata Dr Alawi.

The Independent sebelumnya mengungkapkan bagaimana ekspansi bernilai miliaran pound sterling Masjidil Haram telah, menurut Gulf Institute yang berbasis di Washington, menyebabkan kerusakan hingga 95 persen bangunan tua berusia lebih dari seribu tahun dan digantikan dengan hotel mewah, apartemen dan pusat perbelanjaan.

Raja Abdullah telah menunjuk ulama Wahabi terkemuka dan imam dari Masjidil Haram, Abdul Rahman al-Sudais, untuk mengawasi proyek perluasan yang diperlukan untuk menambah jumlah kapasitas perziarah yang terus meningkat setiap tahunnya.

Dr Alawi mengatakan dokumen konsultasi untuk Masjid al-Nabawi di Madinah dibuat oleh akademisi terkemuka Saudi Dr Ali bin Abdulaziz al-Shabal dari Imam Muhammad bin Saud Islamic University di Riyadh, telah diedarkan kepada Komite Kepresidenan.

Beberapa halaman dari dokumen konsultasi baru saja dipublikasikan dalam jurnal kepresidenan. Mereka menyerukan penghancuran kamar sekitar makam – yang digunakan oleh istri dan anak perempuan Nabi, dan dihormati oleh Syiah karena hubungan mereka dengan putri bungsunya, Fatimah.

Dokumen itu juga menyerukan penghancuran kubah hijau, yang meliputi makam dan tempat tinggal dan pengangkatan kerangka tubuh Nabi ke pemakaman di dekatnya, al Baqi.

Al-Baqi merupakan area pemakaman yang sudah banyak berisi kerangka tubuh keluarga Nabi, termasuk ayahnya yang dipindahkan ke sana pada 1970-an, kata Dr Alawi. Pada tahun 1924 semua nisan telah dihapus, sehingga jamaah tidak akan tahu siapa yang dimakamkan di sana, dan jadi tidak bisa berdoa kepada mereka.

“Nabi akan anonim,” tambah Dr Alawi. “Segala sesuatu di sekitar masjid Nabi telah hancur oleh buldoser. Begitu mereka telah menghapus segala sesuatunya, mereka bisa bergerak menuju masjid. Imam masjid mungkin mengatakan ada kebutuhan untuk memperluas masjid dan melakukannya dengan cara itu, sementara mata dunia berada di Irak dan Suriah. Kuburan Nabi Muhamad dihormati oleh Sunni aliran utama, yang tidak pernah akan melakukannya. Hal ini sama pentingnya bagi Syiah juga, yang memuliakan putri Nabi, Fatimah.

“Saya yakin akan ada kejutan di seluruh dunia. Ini akan menyebabkan kemarahan. ”

The Independent tidak dapat menghubungi kedutaan Arab Saudi, tapi dalam sebuah pernyataan tahun lalu mengatakan: “Perkembangan Masjid Suci Makkah al Mukarramah-[Mekah] merupakan subjek yang sangat penting dan dalam kapasitasnya sebagai penjaga dua masjid suci tersebut, akan melakukan langkah yang sangat serius. Peran ini merupakan inti dari prinsip-prinsip Arab Saudi didirikan.”

Sumber: NU Online