Ilustration

LKNU Galakkan Gaya Hidup Sehat di Pesantren

JAKARTA – Pesantren identik dengan kesederhanaan dan kebersamaan, tetapi hal itu tidak mengurangi semangat para santri untuk terus belajar dan beribadah. Bukan berarti hal tersebut terus dibiarkan apa adanya, Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) bersama dengan Sesric (Statistical, Economic and Social Research and Training Center for Islamic Countries), sebuah organisasi yang berpusat Turki mendorong tumbuhnya perilaku gaya hidup sehat.

Selama satu tahun belakangan ini, mereka mengunjungi sejumlah pesantren di Jawa Timur meliputi Blitar, Tulungagung, dan Kediri. Di Jabar mencakup Cilacap, Depok dan Tasikmalaya sementara wilayah Jateng dipusatkan di Pati. Yang menjadi sasaran terutama pesantren yang infrastrukturnya masih kurang memadai untuk mampu memaksimalkan potensi yang ada demi menjalankan kualitas hidup yang lebih baik.

Endang Marhumah, dari LKNU yang terlibat dalam program ini menjelaskan, pihaknya melakukan sosialisasi bagaimana mengelola sanitasi yang baik, mengolah sampah organik atau anorganik, pengelolaan MCK, atau hal yang tampaknya sederhana tetapi penting dalam menjaga kesehatan seperti membiasakan diri mencuci tangan dengan sabun.

Untuk memudahkan sosialisasi ini, pihaknya juga menggelar lomba desain poster untuk mensosialisasikan perilaku gaya hidup sehat di kalangan remaja. Termasuk didalamnya ada muatan tentang dampak dan bahaya merokok di dalam ruangan bagi remaja.

Lomba poster ini diselenggarakan bekerjasama dengan radio Bras MF Kediri, kemudian poster-poster ini dicetak dan disebarluaskan berbagai pesantren yang menjadi sasaran program.

Terdapat dua kelompok sasaran dalam pelatihan tersebut, pertama, para ustadz di lingkungan pesantren. Mereka diharapkan mampu menyebarluaskan pengetahuan yang mereka miliki kepada para santri atau kelompok masyarakat lain. Kelompok lain adalah para santri dan remaja. Disini, mereka juga dilatih bagaimana mengadvokasi teman sebaya. Karena bagi remaja, kelompok sebaya memiliki pengaruh yang sangat besar untuk diikuti perilakunya.

“Para santri, sangat antusias dalam mengikuti pelatihan, dan berharap program ini berkelanjutan,” kata Endang.

Dalam setiap pertemuan, para santri sangat getol menanyakan berbagai persoalan terkait kesehatan yang mereka hadapi. Mereka berusaha memanfaatkan kesempatan atas hadirnya para narasumber yang memiliki kompetensi dalam bidangnya secara maksimal. Tak heran, para narasumber harus pintar-pintar membagi waktu untuk menanggapi pertanyaan, karena dalam setiap pertemuan, diikuti oleh 50 peserta.

Tak sampai disitu, untuk mencapai hasil yang berkesinambungan, hasil dari pelatihan tersebut dibuat modul pembelajaran yang nantinya digunakan para trainer untuk pelatihan dan sosialisasi lebih lanjut. Modul ini disebar ke pesantren yang sudah memiliki poskestren, yang selama ini belum mengikuti pelatihan.

“Kita bekerja pada wilayah preventif, setidaknya ada kesadaran yang muncul untuk merubah perilaku yang sehat. Makanya yang disasar remaja.

Sebelumnya, pada 25 Oktober 2013, sudah dilakukan pertemuan nasional untuk mendorong perilaku hidup sehat. Dalam acara yang dihadiri oleh direktur Sesric Prof. Savas Alpay dihasilkan sejumlah rekomendasi, diantaranya, menyerukan kepada para tokoh agama untuk turut meneruskan pesan kesehatan dan perilaku hidup sehat dalam ceramah keagamaannya, mendorong adanya pendidikan tentang perilaku hidup bersih dan sehat bagi remaja di lingkungan pesantren, sekolah umum, karang taruna, remaja masjid, dan lain sebagainya.

Tokoh agama juga diminta mengajak para orang tua menjadi contoh perilaku hidup sehat di lingkungan keluarganya maupun edukasi bahaya merokok serta pengaturan area merokok untuk menghargai orang lain. (

Sumber: NU Online

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: