Pesantren, Penjaga Moralitas Bangsa

Sumanta menegaskan, keistimewaan lembaga pendidikan pesantren yang harus terus dipertahankan adalah sistem penekanan ilmu dan amal. Menurut dia, hanya di lingkungan pesantren, para peserta didik dituntut bukan saja memahami materi kajian tapi juga mengamalkan ilmu yang diajarkan.

“Para Kiai selalu memberikan teladan baik bagi peserta didik. Dulu saat saya masih di pesantren, para kiai Babakan Ciwaringin khususnya Syaikhuna  Al Maghfurlah KH. Syaerozie Abdurrohim, selalu tekun dan sabar mendidik dengan pola informasi dan aplikasi. Alhamdulillah hal ini telah menjadi bagian dari pola hidup para santri,” jelas Sumanta.

Sementara itu, Ahmad Baso lebih menekankan pada peran dan sejarah pesantren dalam mengawal moralitas bangsa. “Indonesia tanpa pesantren tidak akan utuh, sebab pesantren adalah institusi pendidikan yang memiliki akar sejarah,” katanya.

Baso memaparkan, para kiai dan santri bukan saja menghabiskan waktunya untuk pendalaman kitab kuning. Mereka juga turut mengejawentahkan spirit kitab kuning  itu dalam kehidupan sehari-hari. “Sehingga memberikan kontribusi dan solusi bagi berbagai problematika di masyarakat,” jelas Ahmad Baso.

Acara Maulid Nabi dan Haul XIV Almaghfurlah KH Syaerozie Abdurrohim yang berlangsung selama tiga hari, mulai 7 hingga 9 Februari, juga diisi dengan berbagai kegiatan lain, di antaranya tahlilan, marhabanan, pengajian umum, pekan musabaqoh, bazar santri, pameran pendidikan (expo education), serta Bahtsul Masa’il Kubro se-Wilayah III Cirebon, peluncuran album “Penyejuk Hati” grup shalawat Basmatussalaf, penampilan muhafadzoh santri, silaturrahmi  nasional Ikatan Alumni Assalafie (IKLAS), dan Bakti Sosial

Sumber: NU Online

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: