Majalah AULA, majalah Nahdlatul Ulama pada edisi November 2016 mengulas pesan penting Mustasyar PBNU, KH Maimoen Zubaer dari Sarang Rembang. Mbah Maemoen secara khusus berpesan soal kesatuan dan persatuan bangsa. Mbah Maemoen sudah merasa prihatin dengan kondisi selama ini dimana perbedaan justru dijadikan pemicur perseturuan diantara umat dan antar umat.

Mbah Maemoen menuturkan, perselisihan atau perseteruan itu sudah bawaan manusia. Namun, melekatkan agama dan etnis secara berlebihan, akan menimbulkan konflik, apalagi jika sudah dibumbui kepentingan politik praktis.

“Selisih itu bawaan manusia. Oleh karena itu kalau ingin maju, buat bersatu tapi tetap boleh beda. Beda tapi satu. Hal itu sesuai dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika,” ujar Mbah Maimoen.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah ini menuturkan, jika hanya Islam, tidak akan mampu mempersatukan perbedaan di Indonesia. Menurutnya, nasional harus disinergikan dengan keislaman sehingga beda tapi sama, sama tapi beda.
Kiai kharismatik yang kini telah berusia 88 tahun ini juga memberikan penegasan bahwa agama mengajarkan, dalam perbedaan ada titik-titik kebersamaan. Semua agama mengajarkan kebaikan, sebab agama ada empat titik persamaan.
Pertama menjaga jiwa. Jiwa itu ruh yang menjadi kehidupan. Semua agama melarang mendzolimi orang lain, apalagi membunuh,” ujar Mbah Maimoen.
Kedua, lanjutnya, adalah akal. Semua agama menjunjung akal. Sebab manusia dimuliakan oleh Allah SWT karena mempunyai akal. Tidak ada agama tanpa pendidikan.
Ketiga, keturunan. Pernikahan itu bukan Islam saja. “Semua penganut agama menikah dengan ajaran agamanya masing-masing sehingga anaknya menjadi keturunan yang sah,” jelasnya.
Keempat, tandasnya, manusia harus menjaga bahwa dirinya merupakan makhluk ciptaan Allah yang paling mulia. Berangkat dari poin ini, Mbah Maimoen memberikan pesan bahwa manusia jangan menghinakan diri dan agamanya dengan perilaku buruk dan tidak menghargai perbedaan. Karena hal itu hanya akan meruntuhkan persatuan.
Sumber: NU Online