Dilema bagi orang udik dan perantau seperti kami ini, mungkin suatu saat dihadapkan pada pertanyaan, dimana kami harus ber-zakatfitrah? di kampung halaman kami atau di kampung tempat kami sekarang tinggal. Yang namanya zakat fitrah tentu wajib hukumnya, persoalan waktu dia dikeluarkan juga sudah jelas dibatasi sampai orang-orang hendak berangkat sholat Ied. Nah, cuma persoalan dia dikeluarkan sampai di area mana, ternyata sudah jadi perdebatan.

Dalam salah satu hasil Bahsul Matsail yang pernah saya baca, persoalan ini sudah pernah ditanyakan dan dibahas. Rujukannya ternyata ada di kitab langganan pegiat Bahsul Matsail, yaitu kitab Bughyatul Mustarsyidin (Terbitan Darul Fikr, juz 1 hal 217)

وُجِدَتِ الْأَصْنَافُ أَوْ بَعْضُهُمْ بِمَحَلٍّ وَجَبَ الدَّفْعُ إِلَيْهِمْ ، كَبُرَتِ الْبَلْدَةُ أَوْ صَغُرَتْ وَحَرُمَ النَّقْلُ ، وَلَمْ يُجِزْهُ عَنِ الزَّكَاةِ إِلَّا عَلَى مَذْهَبِ أَبِي حَنِيفَةَ القَائِلِ بِجَوَازِهِ ، وَاخْتَارَهُ كَثِيرُونَ مِنَ الْأَصْحَابِ، خُصُوصاً إِنْ كَانَ لِقَرِيبٍ أَوْ صَدِيقٍ أَوْ ذِيْ فَضْلٍ وَقَالُوا : يَسْقُطُ بِهِ الْفَرْضُ ، فَإِذَا نُقِلَ مَعَ التَّقْلِيدِ جَازَ وَعَلَيْهِ عَمَلُنَا وَغَيْرُنَا وَلِذَلِكَ أَدِلَّةٌ اهـ

Dengan terjemah alakadarnya seperti ini:

وُجِدَتِ الْأَصْنَافُ أَوْ بَعْضُهُمْ بِمَحَلٍّ وَجَبَ الدَّفْعُ إِلَيْهِمْ ketika didapati cukup banyak atau sekelompok orang yang termasuk mustahiq (penerima zakat), wajaba daf’u ilaihim, wajib hukumnya memberikan zakat pada mereka
كَبُرَتِ الْبَلْدَةُ أَوْ صَغُرَتْ baik itu dalam skala wilayah yang luas (kaburot) maupun yang lebih kecil (shoghurot),
وَحَرُمَ النَّقْلُ وَلَمْ يُجِزْهُ عَنِ الزَّكَاةِ maka diharamkanlah mengeluarkan zakat di tempat lain (naqlu zakat)
إِلَّا عَلَى مَذْهَبِ أَبِي حَنِيفَةَ kecuali madzhabnya Imam Hanafi
القَائِلِ بِجَوَازِهِ وَاخْتَارَهُ كَثِيرُونَ مِنَ الْأَصْحَابِ، خُصُوصاً إِنْ كَانَ لِقَرِيبٍ أَوْ صَدِيقٍ أَوْ ذِيْ فَضْلٍ yang memperbolehkannya,
dan menjadi dasar bagi sebagian besar ulama-ulama, dengan alasan khusus, penyalurannya diberikan kepada keluarga dekat, teman atau orang yang memiliki keutamaan
وَقَالُوا : يَسْقُطُ بِهِ الْفَرْضُ Dan mereka berkata, dengan model seperti itu gugurlah kewajiban zakatnya
، فَإِذَا نُقِلَ مَعَ التَّقْلِيدِ جَازَ وَعَلَيْهِ عَمَلُنَا وَغَيْرُنَا وَلِذَلِكَ أَدِلَّةٌ اهـ Dengan demikian ketika zakat itu didistribusikan ke keluar daerah dengan mengikuti pendapat madzhab Hanafi, maka itu diperbolehkan. Inilah yg jadi dasar kami dan selain kami mengamalkannya. Karena terdapat beberapa alasan

Jadi yang tinggal dan mbutgawenya di Jakarta/Semarang atau kota lain, hendaknya berzakatfitrah di area tempat tinggalnya di kota sebelum mudik ya.

Tapi patut di ingat jika mengikuti madzhabnya Imam Hanafi, 1 (satu) sho’ zakat fitrahnya itu sama dengan 3800 gram (3.8 kg) yaps!