Garda Bangsa Gelar Pesantren Kilat “Anti-teror”

Garda Bangsa Partai Kebangkitan Bangsa menggelar pesantren kilat antiteror dan pengajian kitab “Al Muqtathofaat Lil Ahlil Bidayaat” untuk siswa SMA se-DKI Jakarta sebagai upaya memberikan pemahaman tentang Islam yang penuh kedamaian.

Kepada pers di sela-sela kegiatan tersebut di Jakarta, Rabu (17/8/2011), Ketua Umum Garda Bangsa PKB Hanif Dhakiri menjelaskan kegiatan yang diikuti oleh 300 aktivis Kerohanian Islam (Rohis) SMU se-DKI Jakarta itu dimaksudkan untuk memberikan pemahaman agama Islam yang menjunjung tinggi toleransi dan kedamaian berikut dalil-dalilnya.

“Kami juga ingin memberikan klarifikasi bahwa tidak bisa semua pesantren disama ratakan telah mengajarkan radikalisme atau kekerasan. Jangan hanya karena ada satu atau dua ponpes yang tidak jelas tapi mengedepankan radikalisme, lalu semua pesantren yang ada di Indonesia disama ratakan,” ujar Hanif.

Anggota FPKB DPR RI itu menjelaskan bahwa ponpes merupakan jangkar utama masyarakat serta negara ini dan keberadaannya pun sudah jauh lebih dulu dibandingkan dengan kelahiran Republik Indonesia.

Hanif menuturkan sudah berabad-abad sejak Islam pertama kali masuk ke wilayah Nusantara, kehidupan agama masyarakat berjalan dinamis, toleran, moderat dan membumi.

Sembilan wali (walisongo) dan ulama terdahulu telah meletakkan dasar-dasar kehidupan agama yang kuat dan menyatu dengan budaya masyarakat setempat, katanya.

Dengan cara seperti itulah, Islam bisa berkembang secara massif dan menjadi agama yang dipeluk oleh mayoritas warga masyarakat Indonesia, katanya.

Islam juga menjadi agama yang memayungi berbagai praktik budaya dan sekaligus menyatukan berbagai potensi bangsa.

Namun, ia menambahkan, kedamaian dan dinamika kehidupan keIslaman dan kebangsaan itu kemudian terganggu dan terusik oleh masuknya ajaran Wahabi.

Amaliah keberagamaan masyarakat yang sudah mengakar dan dijalankan ratusan tahun tiba-tiba dinyatakan sesat, bid’ah, atau dianggap tahayyul.

“Melihat kondisi itu, NU cenderung diam dari serangan-serangan yang gencar tersebut. Sikap ini dipilih karena secara faktual sejauh ini para penyerang NU itu tidak memiliki kompleksitas pengetahuan agama yang memadai. Sehingga menjadi sia-sia saja melawan mereka,” ujarnya.

Tapi ternyata dalam beberapa segi NU cukup “terdesak” di mana sejumlah masjid atau mushola NU telah berubah dan sebagian warga NU juga mulai terprovokasi oleh kelompok antitahlilan, anti-Yasinan, antitarawih 20 rakaat, anti-qunut, dan sebagainya.

Karenanya, menurut Hanif, pesantren kilat antiteror kali ini dimaksud sebagai penggunaan “hak jawab” atas berbagai bentuk serangan dan tuduhan kelompok salafi wahabi, dan pembekalan menyeluruh terhadap generasi muda dalam menghadapi eskalasi serangan terhadap amaliah Nahdliyyah.

Selain itu, pesantren kilat tersebut juga diisi dengan mengaji kitab “al-Muqtathafat li Ahlil Bidayat” karya KH Marzuqi Mustamar (Ketua PCNU Kota Malang, Jatim), yang berisi berbagai hujjah amaliah Nahdliyyah. Pengajian itu membahas berbagai dalil (hujjah) yang selama ini dipakai ulama-ulama NU mengenai berbagai praktik keberagamaan dan keyakinan.

Sumber: Berita8.com