Sekilas Tentang MOODLE

Moodle (singkatan dari Modular Object-Oriented Dynamic Learning Environment) adalah paket perangkat lunak yang diproduksi untuk kegiatan belajar berbasis internet dan situs yang menggunakan prinsip social constructionist pedagogy. Moodle merupakan salah satu aplikasi dari konsep dan mekanisme belajar mengajar yang memanfaatkan teknologi informasi, yang dikenal dengan konsep e-learning. Moodle dapat digunakan secara bebas sebagai produk sumber terbuka (open source) di bawah lisensi GNUPublic License.

Secara filosofi ada 4 (empat) konsep dari CMS Moodle tersebut terhadap pengembangan pendidikan yaitu, constructivisme, constructionism, Social Constructivism, dan Connected and Separate. CMS Moodle merupakan aplikasi e-learning berbasis web yang menggunakan open source. Definisi open source bukan berarti bisa mengakses sumber kode yang terdapat dalam aplikasi tersebut, akan tetapi suatu aplikasi yang open source apabila memenuhi 10 kriteria yaitu : Continue reading Sekilas Tentang MOODLE

Bung Karno, Nasionalisme Islam dan Negara Pancasila

Oleh: Imam S Arizal

Siapa yang tak kenal Bung Karno? Sederet predikat telah melakat kepadanya. Bapak founding father bangsa Indonesia, Presiden RI, Arsitek, Ideolog, Intelektual, Politisi, Proklamator, Negarawan, Penyambung Lidah Rakyat, Abangan bahkan Komunis adalah sebagian kecil dari predikat yang diberikan kepadanya. Bung Karno adalah pribadi yang kompleks yang sulit dicari kembarannya di era sekarang.

Ia lahir dengan nama Koesno Sosrodihardjo pada tanggal 6 Juni 1901 dari keluarga Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai, keluarga menengah kebawah asal Blitar, Jawa Timur. Karena sering sakit, ayahnya memutuskan untuk mengganti namanya menjadi Sukarno. Konon, nama tersebut diambil dari nama seorang panglima perang dalam kisah Bharata Yudha yaitu Karna. Nama “Karna” menjadi “Karno” karena dalam bahasa Jawa huruf “a” berubah menjadi “o” sedangkan awalan “su” memiliki arti “baik”.

Waktu itu barangkali belum ada yang menduga bahwa bocah mungil yang sakit-sakitan itu akan menjadi manusia “terhebat” dalam sejarah bangsa Indonesia. Sesuai namanya, Bung Karno benar-benar menjadi seorang panglima yang mampu menyatukan bangsa Indonesia yang terdiri dari dari aneka ragam suku, budaya, dan agama. Satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa menjadi ruh dari setiap perjuangannya. Spirit nasionalisme tumbuh subur dalam jiwa Bung Karno muda. Continue reading Bung Karno, Nasionalisme Islam dan Negara Pancasila

Cak Nun: Indonesia Belum Jadi

Semarang, NU Online
Lir-ilir lir-ilir/ tandure wong sumilir/ tak ijo royo-royo/ tak sengguh temanten anyar/ cah angon cah angon/ penekna blimbing kuwi/ lunyu-lunyu penekna/ kanggo mbasuh dodotira/ dodotira dodotira kumitir bedhah ing pinggir/ dondomana jlumatana/ kanggo seba mengko sore/ mumpung padhang rembulane/ mumpung jembar kalangane/ ya suraka surak hore.

Tembang gubahan Sunan Ampel berisi pengenalan agama Islam itu dibawakan secara kolaboratif nan apik oleh grup musik Kyai Kanjeng dan Laskar Shalawat mahasiswa Unnes, di halaman rektorat Unnes belum lama ini. (Selasa, 7/6). Continue reading Cak Nun: Indonesia Belum Jadi

Gus Dur, Wali Kutub dan Pusat Semedi Kaum Abangan

Jakarta, NU Online
Sastro al Ngatawi, mantan asisten pribadi Gus Dur memiliki banyak pengalaman dalam persentuhannya dengan Gus Dur. Banyak pengalamannya yang luar biasa dan memiliki makna spiritual yang mendalam.

Suatu ketika, ia diajak oleh Gus Dur untuk melakukan ziarah ke makam Eyang Gusti Aji di kaki gunung Lawu. Makam tokoh ini dikenal sebagai tempat untuk bersemedi kelompok abangan. Hampir semua tokoh abangan ziarahnya ke tempat ini.

Jam dua malam, mereka mulai naik menuju ke pemakaman. Continue reading Gus Dur, Wali Kutub dan Pusat Semedi Kaum Abangan

LKKNU Bogor adakan Workshop Tehnisi Komputer bagi Santri

Bogor, NU Online
Kebutuhan akan penguasaan Tehnologi dan Informasi (TI) saat ini dirasa sangat perlu oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Bogor, terutama dikalangan para santri yang selama dianggap hanya bergelut dengan kitab kuning. Mereka sudah saatnya mengenal dan menguasai teknologi Informasi secara tepat dan cepat.

Untuk pengenalan teknologi informasi, Lembaga Kemaslahatan Keluarga NU (LKKNU) kabupaten Bogor menggelar workshop teknisi komputer bagi para santri. Acara ini berlangsung selama 4 hari dan dilaksanakan di Lembaga Bina Santri Mandiri di Kemang – Bogor pada tanggal 26-30 Mei 2011.

“Acara ini merupakan Pelatihan Level 1, Gelombang ke 1. Pelatihan serupa yaitu gelombang 2 dan gelombang 3 akan di wilayah Bogor Timur dan Bogor Selatan pada bulan Juli mendatang,” kata Akhsan Ustadhi, ketua panitia dan juga sekretaris PCNU Kab. Bogor.

“Pada Level 2 nanti peserta akan diajarkan desain grafis dan web desain, sedangkan pada level 3 akan diajarkan tehnik-tehnik hacking dan IT forensik,“ imbuhnya.

Sementara itu Sekretaris LKKNU, Budi Badarutaman, saat ditemui NU Online mengatakan “Acara ini diikuti oleh 57 pesantren di wilayah Bogor dengan jumlah total peserta 78 orang. Menariknya acara ini pada malam harinya peserta dikenalkan dan dimantapkan tentang ke-Aswaja-an dan motivasi sukses yang disampaikan oleh beberapa pengusaha sukses di Kabupaten Bogor.

Pada Malam pertama, ke-Aswaja-an disampaikan oleh KH Mujib Qolyubi , wakil Katib PBNU. Dalam tausiyahnya Kiai Mujib menyampaikan pentingnya doktrin Aswaja dalam membendung radikalisme dan disintegrasi bangsa, “Pancasila harga mati,“ katanya.

Pada hari ke-2, giliran KH Artani Hasbi, rais syuriyah PBNU menyampaikan pentingnya mempertahankan dan memelihara tradisi-tradisi NU, seperti barzanji, manaqib dan hafalan asma’ul husna.

Acara workshop ini terselenggara atas kerjasama LKKNU Kab.Bogor dengan Puskom Universitas Islam Nusantara (Uninus) Bandung dan STAINU Kemang Bogor. ”Baru kali ini Puskom Bandung mengadakan kerjasama resmi secara institusi dengan NU dan PCNU Kabupaten Bogor adalah yang pertama, sebelumnya hanya dengan yayasan dan pesantren yang dikelola oleh orang-orang NU,” kata Ir Soecipto, kepala Puskom Bandung. Continue reading LKKNU Bogor adakan Workshop Tehnisi Komputer bagi Santri

Belajar Linux: Mengakses partisi ext3 dan ext4 dari Windows

Bagi pengguna linux yang masih melakukan metode dual-boot Windows-Linux, tentunya metode sharing file antara linux-windows menjadi sangat berguna.

Bagi saya misalnya, partisi khusus data telah saya pisah dari partisi sistem baik untuk sistem windows dan sistem linux, sehingga keduanya bisa menggunakan data sumber yang sama. Berbagai distro modern dewasa ini sudah mendukung akses file FAT32 dan NTFS milik Windows, namun beda halnya bagi Windows, secara native akses ke file sistem milik Linux masih belum (tidak akan) didukung. Continue reading Belajar Linux: Mengakses partisi ext3 dan ext4 dari Windows

Belajar PHP: Membuat Web Video Player dengan FlowPlayer

Sekilas tentang FlowPlayer

FlowPlayer adalah sebuah video player berbasis web. Teknologi yang digunakan adalah player berbasis Shockwave Flash (milik Adobe) dan sebuah JavaScript. FlowPlayer digunakan untuk melakukan streaming video pada suatu halaman web. FlowPlayer dilepas dengan lisensi GPL 3+ dan tersedia dalam dua versi, versi OpenSource yang gratis dan versi Commercial yang dapat dikustomasi dan dibranding ulang.

Download FlowPlayer

Silakan download FlowPlayer terbaru di situs resminya: http://www.flowplayer.org/ atau via link berikut: Klik Disini

Membuat Web Video Player dengan FlowPlayer

Tujuan praktik kita kali ini adalah membuat sebuah halaman web mampu melakukan streaming video dengan bantuan FlowPlayer. Video yang akan digunakan berupa video flash (FLV). Untuk itu, download dulu FlowPlayer dari tautan diatas, ekstrak dengan WinZIP/WinRAR dsb. Continue reading Belajar PHP: Membuat Web Video Player dengan FlowPlayer

KyaiPedia: KH Muhammad Yusuf Hasyim Tebu Ireng

KH. Muhammad Yusuf Hasyim atau biasa dipanggil Pak Ud, tergolong pengasuh terlama di Tebuireng setelah Kiai Hasyim Asy’ari. Pak Ud mengasuh Tebuireng selama 41 tahun (1965-2006), sementara Kiai Hasyim mengasuh Tebuireng selama 48 tahun (1899-1947). Selain itu, Pak Ud juga tergolong pengasuh Tebuireng yang berumur panjang bila dibandingkan dengan kakak-kakaknya. Kiai Wahid Hasyim wafat di usia 39 tahun, KH. Abdul Kholik wafat dalam usia 48 tahun, dan KH. Abdul Karim Hasyim wafat pada usia 54 tahun. Sementara Pak Ud wafat pada usia 77.

Pak Ud menjadi pengasuh Tebuireng menggantikan kakaknya, Kiai Kholik Hasyim, yang meninggal dunia tiga bulan sebelum meletusnya peristiwa G302/PKI. Selama memimpin Tebuireng, Pak Ud selalu memperjuangkan kemandirian pesantren dan mengupayakan pendidikan murah bagi semua kalangan.

Kelahiran dan Masa Kecil
Pak Ud lahir pada 3 Agustus 1929, di tengah suasana santri yang tengah khusyuk melantunkan ayat-ayat suci al-Quran dan lengkingan suara azan yang memenuhi angkasa Tebuireng. Dia adalah anak terakhir (bungsu) dari tujuh bersaudara (selain empat saudaranya yang meninggal di waktu kecil).

Masa kecilnya dihabiskan di Tebuireng. Dia belajar membaca al-Quran langsung dari ayahandanya. Ketika melakukan perjalanan, Kiai Hasyim sering meminta Muhammad Yusuf kecil untuk mengulangi hapalan ayat-ayat Al-Quran, baik saat naik mobil, kereta api, atau naik delman (dokar).

Sejak berumur 12 tahun, dia mondok di Pesantren Al-Quran Sedayu Lawas, Gresik, yang dipimpin oleh Kiai Munawar. Kemudian pindah ke pesantren Krapyak, Jogjakarta, di bawah asuhan Kiai Ali Ma’sum. Setelah dari Krapyak, Pak Ud sempat menimba ilmu di pondok modern Gontor, Ponorogo.

Meskipun tidak sempat mengenyam pendidikan formal, tapi Pak Ud rajin membaca dan banyak bergaul dengan kalangan terpelajar. Hal itu diimbangi dengan ketajaman intuisi dan keluwesan bergaul. Ini sangat mendukung ketika Pak Ud harus terjun sebagai politisi Nasional di kemudian hari.

Pejuang Bangsa
Secara ideologis, sejak dulu umat Islam di Indonesia sangat anti Barat, sehingga dimanfaatkan oleh pemerintah Jepang untuk melawan Sekutu. Awalnya pemerintah Jepang mengizinkan pendirian Kantor Urusan Agama (KUA) untuk menangani urusan pernikahan, talak, rujuk, dan ibadah haji, dengan tujuan untuk mengambil hati umat Islam. Selain itu, penjajah Jepang juga menyetujui berdirinya Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) bulan Oktober 1943. Dan ketika ancaman Sekutu kian meningkat, Jepang menyetujui usulan para tokoh Islam untuk membentuk Laskar Hizbullah bulan Desember 1944. Setahun sebelumnya, tebentuk pula PETA (Pembela Tanah Air).

Sebagai tokoh Islam yang sangat berpengaruh, Kiai Hasyim Asy’ari mendukung penuh berdirinya PETA dan Hizbullah, bahkan merestui dua orang puteranya bergabung di dalamnya. Abdul Kholik Hasyim bergabung ke PETA dan ikut latihan menjadi daidanco (Komandan Batalyon), sedangkan Pak Ud yang saat itu masih berumur 16 tahun, masuk Hizbullah sekitar awal tahun 1945.

Setelah Amerika Serikat menjatuhkan Bom Atom di Hiroshima dan Nagasaki (tanggal 14 dan 15 Agustus 1945), lalu disusul dengan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, di berbagai wilayah banyak organisasi-organisasi massa yang membentuk laskar-laskar bersenjata. Salah satunya adalah Laskar Hizbullah. Yang menggunakan nama Laskar Hizbullah cukup banyak. Masyumi, yang saat itu merupakan salah satu partai besar, mempunyai laskar yang juga bernama Hizbullah.
Hadratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari juga membentuk Laskar Hizbullah, yang kemudian dikenal sebagai Laskar Hizbullah Cibarusa, karena perkembangannya berada di wilayah Cibarusa, Cimahi, Jawa Barat.

Sementara Pak Ud, walaupun dalam usia yang masih sangat muda, bergabung dengan Laskar Hizbullah Jombang. Ketika resolusi jihad lahir, disusul dengan meletusnya Peristiwa 10 Nopember 1945 di Surabaya, Pak Ud terpilih menjadi komandan Kompi Laskar Hizbullah Jombang.

Setelah berhasil menaklukkan kota Surabaya, pasukan Belanda bergerak ke arah Jombang dan berhasil memporak-porandakan kota santri itu. Pasukan yang dipimpin Kolonel Van Der Plass tersebut lalu bergerak ke arah selatan menuju Tebuireng. Pesantren Tebuireng yang saat itu dipimpin Kiai Wahid Hasyim, dituding sebagai tempat persembunyian Tentara Republik sehingga diserang sampai luluh lantak.

Pasukan Van Der Plass lalu bergerak ke selatan untuk mengejar pasukan Republik pimpinan Pak Ud. Dalam kontak senjata di Desa Laban, selatan Tebuireng, Pak Ud tertembak di bagian dada sebelah kiri. Namun peluru hanya merobek baju uniform kebanggaannya, tidak sampai menembus dada. Pak Ud sempat pingsan selama beberapa jam akibat tembakan tersebut.
Pak Ud kemudian diamankan di rumah Maksum, teman dekatnya. Rumah Maksum memang digunakan sebagai tempat menyembunyikan mortir, bedil, mesiu, dan tentara yang sedang dicari-cari Belanda. Setelah 3 hari bersembunyi, Pak Ud meninggalkan tempat persembunyiannya bersama beberapa warga desa. Dari Desa Laban mereka melewati hutan jati ke desa Sugihwaras, Wonosalam, Gumeng, sampai ke kawasan Tretes di Malang. Jarak itu ditempuh selama berminggu-minggu dengan berjalan kaki.

Berkeluarga
Setelah lama bergerilya, Pak Ud dan pasukannya turun gunung dan memilih desa Pojok, tepatnya di rumah Kiai Abdul Karim, sebagai markas tentara. Markas dengan komandan Kapten Hambali ini, dalam perkembangannya, semakin ramai dikunjungi anggota pasukan maupun rakyat yang simpati pada perjuangannya.
Di markas ini pula semangat perjuangan Pak Ud makin terpompa, terutama ketika mendapat kunjungan seorang gadis Madiun, yang ketika itu datang menjenguk kakaknya, Kapten Hambali, yang sedang sakit. Gadis cantik itu bernama Siti Bariyah. Awalnya pemuda Yusuf Hasyim menganggap pertemuan dengan adik komandannya ini biasa saja. Akan tetapi tidak bisa dipungkiri, hatinya kemudian terusik.
Pada kesempatan berikutnya, Pak Ud mendapat kesempatan mengunjungi rumah Siti Bariyah di Madiun. Jabatannya sebagai Komandan di Kompi Hambali, membuatnya cepat akrab dengan keluarga Siti Bariyah. Ternyata cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
Lalu pada tanggal 24 November 1951, pernikahan keduanya diresmikan tanpa kehadiran mempelai wanita, karena Siti Bariyah masih harus meneruskan sekolahnya di Solo.

Pemberontakan PKI
Ketika Perdana Menteri Moh Hatta melakukan rasionalisasi dan strukturisasi TNI, Pak Ud masuk dalam dinas TNI dan mendapat pangkat Letnan Satu di bawah pimpinan Letkol Munasir. Menurut satu sumber, Letkol Munasir adalah teman dekat Kiai Wahid Hasyim.
Dalam peristiwa Madiun 1948, Pak Ud menjadi salah satu komandan tempur yang berada di garis depan. Pak Ud bersama pasukannya berhasil menyelamatkan beberapa tokoh penting yang diculik PKI, seperti Kapten Hambali, KH. Ahmad Sahal, dan KH. Imam Zarkasyi, pengasuh Pondok Modern Gontor Ponorogo. Saat itu Pak Ud terjun bersama kakaknya, Kiai Kholik Hasyim.
Tujuh tahun berikutnya, yaitu tahun 1955, PKI kembali melakukan pemberontakan melalui peristiwa G30S dengan dibunuhnya beberapa Jenderal TNI. Di tengah peristiwa G30S/PKI, Pak Ud dan keluarga sudah pindah ke Jakarta, tinggal di kawasan Tebet. Pak Ud, oleh orang-orang PKI di Jakarta, juga dijadikan target pencarian, namun tidak berhasil ditangkap karena saat itu berada di Tebuireng.

Karier Politik
Mundur dari aktivitas sebagai tentara, dengan pangkat terakhir Letnan Satu, Pak Ud memulai kariernya di kancah politik praktis. Perjalanan karier sebagai politikus dimulai ketika Pak Ud menjadi wakil Sekretaris Jenderal di Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI).
Antara tahun 1963-1964, Pak Ud dihadapkan dengan kenyataan banyaknya aksi sepihak berupa perebutan tanah rakyat (land reform) yang dilakukan anggota PKI. Menghadapi aksi ini, NU membentuk Barisan Serba Guna (Banser) tahun 1964. Banser diharapkan mampu mengimbangi aksi sepihak PKI. Pak Ud didapuk menjadi komandan.
Dua tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1967, Pak Ud mengawali karier politik dengan menjadi wakil rakyat ketika ada refreshing (penyegaran) keanggotaan DPRGR (Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong). Kebijakan merombak keanggotaan DPRGR ini menyusul terbitnya instruksi Jenderal Soeharto, yang mengaku mengemban Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) untuk membersihkan parlemen dari anggota yang berasal dari PKI dan simpatisan Orde Lama.
Memasuki gerbang DPR, Pak Ud segera terlibat dalam berbagai proses politik yang sangat dinamis di hari-hari menjelang berakhirnya kekuasaan Orde Lama. Karier di DPR terus bertahan hingga tahun 1980-an.
Menjelang pemilu 1982, hubungan antara NU dengan PPP pimpinan Naro putus, sehingga Pak Ud pun tergusur dari DPR. Namun Pak Ud tidak begitu saja meninggalkan gelanggang politik. Sebagai salah seorang ketua PBNU, beliau turut berperan ketika NU memutuskan serangkaian kebijakan bersejarah tahun 1984, seperti kembalinya khittah NU 1926 dan penerimaan Pancasila sebagai asas tunggal.
Di masa reformasi, dimana banyak bermunculan partai-partai politik, Pak Ud ikut meramaikannya dengan membentuk Partai Kebangkitan Umat. Lalu menjelang akhir hayatnya, Pak Ud dipercaya sebagai anggota Majelis Pertimbangan Partai PPP.

Mengasuh Tebuireng
Tiga bulan sebelum peristiwa G30S/PKI tahun 1965, pengasuh Tebuireng (saat itu) KH. Abdul Kholik Hasyim, meninggal dunia. Kepergian Kiai Kholik mengharuskan Pak Ud untuk meneruskan perjuangan sang kakak di Tebuireng. Saat memegang tonggak kepemimpinan Tebuireng, Pak Ud masih menjabat sebagai anggota DPR RI Fraksi Persatuan Pembangunan (FPP).
Dalam masa kepemimpinan Pak Ud, Pesantren Tebuireng mengalami beberapa kemajuan. Dalam segi kuantitas, di Madrasah Aliyah yang pada awalnya memiliki siswa 150-an orang, pada tahun 1990 jumlah siswanya mencapai 600-700-an orang.
Pada tanggal 22 Juni 1967, didirikan Universitas Hasyim Asy’ari (UNHASY). Rektor pertama dijabat oleh K.H. Muhammad Ilyas. Sayangnya, sejak akhir dekade 1980-an, UNHASY terpisah dari naungan Yayasan Hasyim Asy’ari Tebuireng dan dirubah namanya menjadi Institut Keislaman Hasyim Asy’ari (IKAHA).
Pada tahun 1971, didirikan pula Madrasatul Hufadz (sekarang Madrasatul Qur’an/MQ) yang khusus membina santri yang berminat menghafal Al-Qur’an. Lalu pada tahun 1972, dibentuk Madrasah Persiapan Tsanawiyah, sebagai jawaban atas kebutuhan santri lulusan sekolah dasar dan lanjutan umum, untuk dapat memasuki Madrasah Tsanawiyah Tebuireng yang sarat dengan pelajaran agama.
Pada tahun 1975, didirikan SMP dan SMA Wahid Hasyim. Disamping sebagai lembaga pendidikan umum, di dalamnya juga ditampung siswa laki-laki dan perempuan dalam satu kelas, suatu budaya yang saat itu belum pernah ada di dunia pesantren. Pendirian SMP dan SMA ini mendapat reaksi keras dari sebagian masyarakat. Pada di awal berdirinya, SMA Wahid Hasyim hanya memiliki 66 siswa, namun pada tanun 2000-an telah dipenuhi oleh 1000-an siwa dari berbagai penjuru Tanah Air.
Pada tahun 1989, sebagai antisipasi atas semakin padatnya kegiatan belajar santri, didirikan Koperasi Jasa Boga (Jabo), koperasi yang khusus menangani dan melayani kebutuhan makan santri sehari-hari. Dengan adanya koperasi ini, santri Tebuireng tidak perlu khawatir dengan kebutuhan pokoknya. Santri dapat berkonsentrasi dengan baik pada tugas belajarnya.
Kemudian tahun 2006, beberapa saat setelah pengunduran dirinya dari jabatan pengasuh Pesantren Tebuireng, Pak Ud mendirikan perguruan tinggi Ma’had Aly yang secara intens mendalami ilmu-ilmu keislaman klasik dan kontemporer. Para mahasiswa Ma’had Aly yang setiap angkatannya dibatasi 30 orang, tidak dikenakan biaya kuliah dan disediakan asrama khusus serta sarana belajar yang memadai.
Selama masa kepemimpinannya, Pak Ud dikenal sebagai penggagas pendidikan murah-bermutu. Dalam pandangannya, pendidikan pada jenjang, jenis, dan status apa saja punya potensi terjangkau oleh semua kalangan. Kendala utamanya, menurut Pak Ud, justru terletak pada manajemen pengelolaan yang kurang menekankan skala prioritas.
Dalam hal pengelolaan keuangan, Pak Ud menitik beratkan pada sektor hasil tanah wakaf pesantren. Pak Ud tidak ingin memberatkan beban keuangan kepada santri. Karena itu, sejak tahun 2003, santri hanya dipungut biaya 150an ribu sebulan. Anggaran ini sudah termasuk biaya makan, dana kesehatan, asuransi, biaya gedung, dan perpustakaan. Besaran dana pembayaran santri diklasifikasi sesuai kemampuan finansialnya. Ada yang bayar penuh, bayar dengan keringanan, bahkan ada yang gratis. ”Barang baik tapi mahal, di manapun dapat ditemukan. Tapi barang baik dengan harga murah, ini yang jarang ditemukan,” tegas Pak Ud saat diwawancarai Majalah Sabili.

Mundur dari Kursi Pengasuh Tebuireng
Setelah 41 tahun mengasuh Tebuireng, pada April 2006, Pak Ud mengundurkan diri dari pengasuh Tebuireng dan menyerahkan estafet kepemimpinan kepada keponakannya, Ir. H. Salahudin Wahid. Disamping karena alasan usia (saat itu usia Pak Ud sudah 77 tahun), pengunduran dirinya itu juga untuk menciptakan tradisi suksesi kepemimpinan yang sehat, mulus, dan terarah.
Delapan bulan setelah suksesi kepemimpinan itu, tepatnya pada 30 Desember 2006, Pak Ud terjatuh di kamar rumahnya di Desa Cukir, selatan Tebuireng. Setelah itu beliau mengeluh sakit pinggang. Karena kondisinya semakin memburuk, keesokan harinya beliau dibawa ke RSUD Jombang dan dirawat selama tiga hari. Lalu pada tanggal 2 Januari, Pak Ud dirujuk ke RSUD Dr Soetomo Surabaya.
Setelah dirawat selama 12 hari di sana, pada hari Minggu 14 Januari 2007, Pak Ud dipanggil menghadap Yang Maha Kuasa. Inna liLlahi wa Inna ilayhi Raji’un. Jenazah Pak Ud kemudian dibawa ke Tebuireng dan dikebumikan di komplek pemakaman keluarga Pesantren Tebuireng.
Untuk mengenang jasa-jasa perjuangannya, markas besar Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Jakarta, menetapkan Pak Ud sebagai pahlawan Nasional. Penganugerahan itu dilakukan pada pertengahan Maret 2007, diwujudkan dengan pemancangan miniatur bambu runcing dengan bendera kecil merah-putih di ujungnya. Miniatur bambu runcing merupakan simbol bahwa Pak Ud adalah pahlawan nasional yang dimakamkan di luar Taman Makam Pahlawan Nasional. ()

DPP PKB: Lily Wahid & Gus Choi Salah Langkah

INILAH.COM, Jakarta – Dewan Pimpinan Pusat Partai Kebangkitan Bangsa (DPP PKB) puas atas putusan majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang menolak gugatan Lily Wahid dan Effendi Choirie atau Gus Choi.

Kuasa Hukum DPP, Anwar Rahman menilai, sedari awal keduanya memang telah salah langkah memasukkan keputusan pemecatan keduanya ke jalur hukum. “Ya begini kalau salah langkah, maka hasilnya pun salah,” ujar Anwar usai sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa (31/5/2011).

Dia menjelaskan, sedari awal kasus ini seharusnya memang diselesaikan di internal partai dahulu yaitu melalui Majelis Takhim atau mahkamah partai. Hal itu sesuai dengan aturan dalam AD/ART PKB dan juga undang-undang partai politik karena merupakan permasalahan menyangkut internal partai. Continue reading DPP PKB: Lily Wahid & Gus Choi Salah Langkah

KyaiPedia: KH Agus Maksum Jauhari Lirboyo, Sang Pendekar Pagar Nusa

Pondok Pesantren dulunya tidak hanya mengajarkan ilmu agama dalam pengertian formal-akademis seperti sekarang ini, semisal ilmu tafsir, fikih, tasawuf, nahwu-shorof, sejarah Islam dan seterusnya. Pondok pesantren juga berfungsi sebagai padepokan, tempat para santri belajar ilmu kanuragan dan kebatinan agar kelak menjadi pendakwah yang tangguh, tegar dan tahan uji. Para kiainya tidak hanya alim tetapi juga sakti. Para kiai dulu adalah pendekar pilih tanding.

Akan tetapi belakangan ada tanda-tanda surutnya ilmu bela diri di pesantren. Berkembangnya sistem klasikal dengan materi yang padat, ditambah eforia pembentukan standar pendidikan nasional membuat definisi pesantren kian menyempit, melulu sebagai lembaga pendidikan formal.</p>

Para ulama-pendekar merasa gelisah. H Suharbillah, seorang pendekar dari Surabaya yang gemar berorganisasi menemui KH Mustofa Bisri dari Rembang dan menceritakan kekhawatiran para pendekar. Mereka lalu bertemu dengan KH Agus Maksum Jauhari Lirboyo alias Gus Maksum yang memang sudah masyhur di bidang beladiri. Nama Gus Maksum memang selalu identik dengan “dunia persilatan”. Continue reading KyaiPedia: KH Agus Maksum Jauhari Lirboyo, Sang Pendekar Pagar Nusa

Mendekatkan Diri kepada Allah dengan Bertarekat

Tegal, NU Online
Banyak cara untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, salah satunya dengan menggabungkan diri ke dalam jamaah tarekat dan mengikuti berbagai kegiatannya. Seperti yang dilakukan oleh jamaah Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsabandiyah (TQN) Pondok Pesantren Suryalaya yang dibimbing oleh oleh Mursyid KH A Shohibul wafa Tajul Arifin atau yang lebih dikenal dengan nama Abah Anom dari Suryalaya Tasikmalaya Jawa Barat.

Amalan yang dilakukan secara berjamaah itu, terdiri dari beberapa jenis amalan rutin. Mulai dari amalan harian, mingguan, serta bulanan . Seperti yang digelar Masjid Pondok Pesantren Miftahul Janah Desa Grobog Kulon Kecamatan Pangkah Kabupaten Tegal, Ahad (29/5) kemarin. Amalan berupa manaqib itu dilaksanakan setiap bulan, yang kebetulan berbarengan dengan manaqib rutin tingkat korwil Jawa Tengah. Continue reading Mendekatkan Diri kepada Allah dengan Bertarekat

Shalawat Habib Syech untuk Negeri Damai

Magelang, NU Online
Ketika syair “Sholatun bi salamil mubin” didendangkan Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf, sekitar 20 ribur orang lebih serentak mengikuti alunan syairnya. Halaman Masjid Agung, Alun-alun Kota Magelang menjadi lautan manusia yang berbaju putih, Sabtu (28/5).

Habib Syeh mengangkat tangannya, tanpa dikomando para Syechkres (pecinta shalawat Habib Syech) dan para jamaah majelis ta’alim Magelang Bershalawat menirukan syairnya, “Sholatun bi salamil mubini linuqhotit ta’yii ni ya ghoroomii. Nabiyyuna kaana ashlattak wiini min ahdi kun fayakuunu yaa ghoroomii.”

Yang maknanya kurang lebihnya begini, “Shalawat serta salam kupersembahkan kepadamu wahai kekasihku. Sebagai bukti keteguhanku, wahai Nabi Muhammad SAW (kekasihku).”

Seraya melantunkan syair itu, bendera warna-warna dikibarkan. Bendera yang dikibarkan para jamaah antara lain bendera merah putih, NU, Syechkres, OI (orang Indonesia), Muhammadiyah, kelompok pengajian, bendera bertuliskan Allah dan Muhammad. Merah, biru, putih, kuning, ungu bendera yang mereka kibarkan tak menjadi sebuah perbedaan. Semua larut dalam kebersamaan, satu hati mendendangkan syair-syair kecintaan dan kerinduan umat manusia kepada Rasulullah.

Sepanjang acara, bendera-bendera itu tak pernah berhenti, terus bergerak dikibarkan seperti menjadi sebuah semangat untuk mencintai Rasulullah, Indonesia dan sesama manusia. Anak-anak, remaja dan orang tua mendendangkan shalawat untuk keselamatan dunia dan akhirat. Sesuai dengan tema malam itu yakni, Magelang Bershalawat Doa untuk Kedamaian dan Keselamatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Disela-sela bershalawat Habib Syech juga memberikan uraian hikmah. Dia mengajak seluruh umat manusia untuk intropeksi diri, jadilah seperti akar. Karena akar adalah unsur pohon yang memiliki ketulusan dalam menjalani mata rantainya. Meski akhirnya yang mendapatkan sanjungan adalah buah dari pohon itu.

“Menirulah Rasulullah meski berbeda keyakinan dan agama beliau menghormati mereka. Bahkan Beliau mendoakan mereka yang bersebrangan dan memusuhinya,” katanya.

Menurutnya, hal yang paling sederhana mudah dilakukan adalah senyum dan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan sembari mengucapkan salam. Jangan sampai kalah dengan semut, setiap kali berpapasan dengan temannya selalu bersalamanan. Continue reading Shalawat Habib Syech untuk Negeri Damai

Belajar JQuery: Membuat Popup Window dengan JQueryPopupWindow

Popup Window adalah Window atau jendela dialog/program yang muncul diatas window utama. Popup Window ini sangat berguna untuk mengakomodir halaman baru yang kecil dan berisi informasi penting tapi tak ditampilkan di halaman utama. Dengan jQuery kita bisa membuat popup window dengan plugin jquery.popupwindow.

Download

Source Code

Berikut adalah contoh source code yang bisa anda pakai:

<!--more-->
<html>
<head>
	<title>PopUpWindow Example</title>
	<style type="text/css">
	body{font-family:Georgia; margin:10px;}
	pre{background-color:#000; color:#FFF; border:1px solid red; padding:10px;}
	a{text-decoration:none;}
	a:hover{background-color:#FFFCCC;}
	.download { float: right; margin-right: 150px;}
	</style>
  	<script type="text/javascript"src="http://code.jquery.com/jquery-latest.js"></script>
	<script type="text/javascript" src="jquery.popupwindow.js"></script>
   	<script type="text/javascript">
	var profiles =
	{

		window800:
		{
			height:800,
			width:800,
			status:1
		},

		window200:
		{
			height:200,
			width:200,
			status:1,
			resizable:0
		},

		windowCenter:
		{
			height:300,
			width:400,
			center:1
		},

		windowNotNew:
		{
			height:300,
			width:400,
			center:1,
			createnew:0
		},

		windowCallUnload:
		{
			height:300,
			width:400,
			center:1,
			onUnload:unloadcallback
		},

	};

	function unloadcallback(){
		alert("unloaded");
	};


   	$(function()
	{
   		$(".popupwindow").popupwindow(profiles);
   	});
	</script>

</head>
<body>
<p>Takes a link and will create a popupwindow based on the href of the link. You can over ride the default setting by passing your own settings or profile name in the REL attribute of the link.</p>
<dl>
	<dt>Default settings:</dt>

	<dd><a href="http://emka.web.id/" class="popupwindow">Example 1</a></dd>
</dl>

<dl>
	<dt>Custom settings:</dt>
	<dd><a href="http://emka.web.id/" class="popupwindow" rel="height:400,width:400">Example 1</a> - height:400,width:400</dd>
	<dd><a href="http://emka.web.id/" class="popupwindow" rel="height:550,width:750,toolbar:1,scrollbars:1,status:1,resizable:0,left:50,top:100">Example 2</a> - height:550,width:750,toolbar:1,scrollbars:1,status:1,resizable:0,left:50,top:100</dd>

</dl>

<dl>
	<dt>Using profiles:</dt>
	<dd><a href="http://emka.web.id/" class="popupwindow" rel="windowCallUnload">Example 1</a> - window800</dd>
	<dd><a href="http://emka.web.id/" class="popupwindow" rel="window200">Example 2</a> - window200</dd>
	<dd><a href="http://emka.web.id/" class="popupwindow" rel="windowCenter">Example 3</a> - windowCenter</dd>

</dl>

<dl>
	<dt>Same window:</dt>
	<dd><a href="http://emka.web.id/" class="popupwindow" rel="windowNotNew">Example 1</a> - windowNotNew</dd>
	<dd><a href="http://www.jquery.com" class="popupwindow" rel="windowNotNew">Example 2</a> - windowNotNew</dd>
</dl>

<dl>
	<dt>onUnload event:</dt>
	<dd><a href="http://emka.web.id/" class="popupwindow" rel="windowCallUnload">Example 1</a> - windowCallUnload</dd>
</dl>

Selamat mencoba!

Ciptakan Kedamaian dengan Membumikan Sikap Tasamuh

Sukoharjo, NU Online
Indonesia damai, aman, dan sejahtera tentulah merupakan cita-cita semua warga bangsa. Oleh karena marilah satukan keinginan dan bulatkan tekad untuk terus berusaha menciptakan kedamaian dengan ‘membumikan’ sikap tasamuh (toleransi/tepo seliro) dalam beragama, berbangsa dan bernegara.

Demikian disampaikan Ketua PC NU Sukoharjo, HM Nagib Sutarno, menyinggung maraknya berbagai aksi-aksi kekerasan yang berdalih untuk menegakkan agama di tanah air. Pengasuh Pondok Pesantren Darul Hasan Sukoharjo itu berharap agar para tokoh agama tidak terjebak dalam usaha-usaha politisasi dan kekerasan. Continue reading Ciptakan Kedamaian dengan Membumikan Sikap Tasamuh

Lembaga Wakaf NU Jalin Kerjasama Wakaf Uang dengan BNI Syariah

Jakarta, NU Online
Lembaga Wakaf dan Pertanahan NU (LWPNU) melakukan penandatanganan kerjasama dengan BNI Syariah dalam pengelolaan dana wakaf uang, yang produk baru dalam melakukan wakaf, yang selama ini hanya diidentikkan dengan wakaf tanah.

Penandatanganan kerjasama ini dilakukan oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan Direktur Utama BNI Syariah Rizqullah di gedung PBNU, Senin (30/5).

Kang Said menyatakan bahwa kerjasama dengan NU sangat tepat karena masih banyak warga NU yang memerlukan dukungan untuk bisa menjadi sejahtera. “Kalau membantu organisasi lain, perjuangannya sedikit lagi sudah selesai, tetapi kalau membantu NU, perjuangannya masih panjang sehingga lebih bermanfaat,” katanya. Continue reading Lembaga Wakaf NU Jalin Kerjasama Wakaf Uang dengan BNI Syariah

Sekjen Ansor: Banser siap tumpas teroris

Jakarta, NU Online
Banser atau barisan serbaguna adalah tentara yang dimiliki Nahdlatul Ulama (NU), karenanya apapun yang terjadi pada diri NU baik ancaman maupun upaya kelompok lain untuk merongrong NU, Banser harus tampil menjadi garda terdepan dalam membentengi NU.

“Jadi, masuk Ansor atau Banser berarti jiwa raga sudah siap untuk NU,” ujar Sekretaris Jenderal Gerakan Pemuda Ansor M Aqil Irham saat membuka acara diklatsar Banser yang digelar Satkorcab Banser bersama Pengurus Cabang Ansor Jakarta Utara, Senin, (30/5).

Hadir dalam acara pembukaan diklat Banser yang digelar selama tiga hari itu, Sekjen GP Ansor mewakili Ketua Umum GP Ansor Nusron Wahid, Ketua Cabang Ansor Jakut Abdul Azis, Komandan Satkorcab Banser Jakut Supriyadi, Pengurus Cabang NU Jakut dan 200 peserta diklat Banser dari berbagai cabang dan rayon di Jakarta Utara.

Lebih lanjut Aqil Irham mengatakan, semua peserta jangan kuatir kalau sudah menjadi Ansor atau Banser anda dijadikan teroris. Justru sebaliknya kata Aqil, andalah yang akan menumpas teroris itu. Selain itu katanya, masuk Ansor berarti anda akan menemukan kedamaian dan ketentraman, karena NU selalu identik dengan kedamaian, menghormati budaya lokal dan rahmat bagi kita semuanya. “Sekali lagi, Banser tidak mengenal paksaaan dan kekerasan,” kata Sekjen.

Sementara itu, Komandan Satkorcab Jakarta Utara Supriyadi mengatakan, tema besar yang kami angkat dalam diklat kali ini adalah “Membentuk generasi Banser yang militan sebagai Banser perkotaan”, sesuai dengan tema inilah para peserta diharapkan benar-benar menjadi kader Banser yang militan dan solid terhadap NU. “Terpenting adalah memperaktikan apa yang sudah didapat dari diklat,” ujarnya. Continue reading Sekjen Ansor: Banser siap tumpas teroris

Gerakan Syiah di Indonesia

Oleh H. As’ad Said Ali (Wakil Ketua PBNU)

Syi’ah yang berkembang di Indonesia dapat dibedakan kedalam dua corak, yakni Syi’ah politik, dan Syi’ah non-politik. Syi’ah politik adalah mereka yang memiliki cita-cita politik untuk membentuk negara Islam, sedangkan Syi’ah non-politik mencita-citakan membentuk masyarakat Syi’ah. Syi’ah politik aktivitasnya menekankan pada penyebaran ide-ide politik dan pembentukan lapisan intelektual Syi’ah, sedangkah Syiah non-politik menekankan pada pengembangan ide-ide fikih Syi’ah.

Syi’ah non-politik atau Syi’ah fikih masuk ke Indonesia sejak awal abad 19, yang dibawa oleh pedagang-pedagang dari Gujarat, India, dan ulama-ulama dari Hadramaut. Salah satu tokohnya yang membawa masuk ke Indonesia adalah Habib Saleh Al-Jufri, mantan panglima perang Syarif Husen, kakek dari Raja Husen Yordania, yang dikalahkan oleh Abdul Aziz, bapak dari Raja Abdullah Arab Saudi. Syi’ah yang mereka bawa ke Indonesia pada gelombang ini adalah Syi’ah Zaidiyah. Pada awalnya cara dakwahnya dilakukan secara individu-individu, kemudian, sejak kemerdekaan beberapa tokoh dari mereka membentuk pesantren, salah satunya adalah Husen Al-Habsyi, mendirikan Pesantren YAPI di Bangil, Jawa Timur. Continue reading Gerakan Syiah di Indonesia

VIDEO: Bumi, 100 Juta Tahun dari Sekarang

VIVAnews – Daratan di bumi tidaklah seperti yang seperti kita lihat saat ini. Benua-benua yang ada di dalamnya terbentuk saat pelat lempeng Bumi bergerak. Mereka saling memecahkan diri dan juga saling bertabrakan selama periode waktu yang sangat panjang.

Menurut para paleogeograf, sekitar 3,1 miliar tahun lalu, di Bumi dulunya ada satu supercontinent atau benua raksasa yang disebut Vaalbara. Benua ini terpecah sekitar 2,8 miliar tahun lalu dan membentuk Kenorland, benua raksasa lain. Continue reading VIDEO: Bumi, 100 Juta Tahun dari Sekarang