Humor Santri: Warga NU di Hongkong Iuran untuk Konferensi Perdana PCINU


Pacitan,

Koordinator Nasional Gerakan Ayo Mondok, KH Luqman Harits Dimyathi menyatakan, pesantren turut bertanggung jawab pada praktik keagamaan yang dilakukan oleh masyarakat. Pesantren sebagai pewaris ajaran para ulama diakui sebagai pihak yang diserahi tanggung jawab dalam kehidupan beragama di tengah masyarakat.

Hal itu disampaikannya pada acara pengajian umum Bakti Santri Ikatan Pelajar Pacitan Pondok Tremas (IPPAPONMAS) bersama dengan masyarakat Desa Jatimalang, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, Selasa malam (19/1).

Katib Syuriyah PBNU itu mengatakan, pesantren memiliki tugas mengajak masyarakat untuk menjalankan praktik keagamaan yang benar yang sesuai dengan ajaran Ahlusunnah wal Jamaah. Ini sesuai dengan karakter pesantren sebagai risalah rahmatan lil alamin.

“Para kiai, pengasuh pesantren, oleh Allah SWT nanti akan dimintai pertanggungjawaban, sejauh mana pesantren mampu menjaga pengikut Ahlusunnah wal Jamaah dari keterperosokan akhlak dan perilaku keagamaan yang ekstrem,” tuturnya.

Oleh sebab itu, pengasuh Pesantren Tremas Pacitan ini mengajak masyarakat dalam melakukan praktik keagamaan agar tidak jauh dari cara beragama dan bermuamalah seperti yang diajarkan oleh para kiai di pesantren. Bila di tengah masyarakat dijumpai persoalan seputar masalah keagamaan, masyarakat dapat meminta penjelasan kepada para santri atau pada kiai di lingkungan pesantren.

“Mari kita jadikan para kiai, pengasuh pesantren sebagai imam dalam praktik beragama kita,” jelasnya.

Melalui gerakan Nasional Ayo Mondok, Kiai Luqman juga mendorong masyarakat untuk menjadikan pesantren sebagai pilihan utama dalam menuntut ilmu. “Minimal satu dari putra-putri kita untuk dikirim belajar ke pesantren. Pesantren mana saja, semuanya baik. agar sanad keilmuan dan praktik beragama kita tidak terputus dan terus bersambung hingga Rasulullah SAW,” pungkasnya.

Para santri Pondok Tremas yang berasal dari Kabupaten Pacitan tiap tahun rutin menggelar kegiatan Bakti Santri IPPAPONMAS di tengah masyarakat. Sebagai upaya mendekatkan dan mengenalkan ajaran nilai-nilai kepesantrenan pada masyarakat.

Berbagai kegiatan dilakukan pada Bakti Santri ini, seperti Dakwah bil Hal, Pengajian umum, Semaan Al-Quran, Lomba-lomba, Kerja Bakti membersihkan lingkungan dan Pentas seni bersama masyarakat. (Zaenal Faizin/Fathoni)

Sumber: NU Online

Humor Santri: Polisi Inggris Periksa Anak Muslim karena Salah Tulis


Pacitan,

Koordinator Nasional Gerakan Ayo Mondok, KH Luqman Harits Dimyathi menyatakan, pesantren turut bertanggung jawab pada praktik keagamaan yang dilakukan oleh masyarakat. Pesantren sebagai pewaris ajaran para ulama diakui sebagai pihak yang diserahi tanggung jawab dalam kehidupan beragama di tengah masyarakat.

Hal itu disampaikannya pada acara pengajian umum Bakti Santri Ikatan Pelajar Pacitan Pondok Tremas (IPPAPONMAS) bersama dengan masyarakat Desa Jatimalang, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, Selasa malam (19/1).

Katib Syuriyah PBNU itu mengatakan, pesantren memiliki tugas mengajak masyarakat untuk menjalankan praktik keagamaan yang benar yang sesuai dengan ajaran Ahlusunnah wal Jamaah. Ini sesuai dengan karakter pesantren sebagai risalah rahmatan lil alamin.

“Para kiai, pengasuh pesantren, oleh Allah SWT nanti akan dimintai pertanggungjawaban, sejauh mana pesantren mampu menjaga pengikut Ahlusunnah wal Jamaah dari keterperosokan akhlak dan perilaku keagamaan yang ekstrem,” tuturnya.

Oleh sebab itu, pengasuh Pesantren Tremas Pacitan ini mengajak masyarakat dalam melakukan praktik keagamaan agar tidak jauh dari cara beragama dan bermuamalah seperti yang diajarkan oleh para kiai di pesantren. Bila di tengah masyarakat dijumpai persoalan seputar masalah keagamaan, masyarakat dapat meminta penjelasan kepada para santri atau pada kiai di lingkungan pesantren.

“Mari kita jadikan para kiai, pengasuh pesantren sebagai imam dalam praktik beragama kita,” jelasnya.

Melalui gerakan Nasional Ayo Mondok, Kiai Luqman juga mendorong masyarakat untuk menjadikan pesantren sebagai pilihan utama dalam menuntut ilmu. “Minimal satu dari putra-putri kita untuk dikirim belajar ke pesantren. Pesantren mana saja, semuanya baik. agar sanad keilmuan dan praktik beragama kita tidak terputus dan terus bersambung hingga Rasulullah SAW,” pungkasnya.

Para santri Pondok Tremas yang berasal dari Kabupaten Pacitan tiap tahun rutin menggelar kegiatan Bakti Santri IPPAPONMAS di tengah masyarakat. Sebagai upaya mendekatkan dan mengenalkan ajaran nilai-nilai kepesantrenan pada masyarakat.

Berbagai kegiatan dilakukan pada Bakti Santri ini, seperti Dakwah bil Hal, Pengajian umum, Semaan Al-Quran, Lomba-lomba, Kerja Bakti membersihkan lingkungan dan Pentas seni bersama masyarakat. (Zaenal Faizin/Fathoni)

Sumber: NU Online

Humor Santri: Habis UAS, STISNU Nusantara Ziarahi Wali-wali Banten


Pacitan,

Koordinator Nasional Gerakan Ayo Mondok, KH Luqman Harits Dimyathi menyatakan, pesantren turut bertanggung jawab pada praktik keagamaan yang dilakukan oleh masyarakat. Pesantren sebagai pewaris ajaran para ulama diakui sebagai pihak yang diserahi tanggung jawab dalam kehidupan beragama di tengah masyarakat.

Hal itu disampaikannya pada acara pengajian umum Bakti Santri Ikatan Pelajar Pacitan Pondok Tremas (IPPAPONMAS) bersama dengan masyarakat Desa Jatimalang, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, Selasa malam (19/1).

Katib Syuriyah PBNU itu mengatakan, pesantren memiliki tugas mengajak masyarakat untuk menjalankan praktik keagamaan yang benar yang sesuai dengan ajaran Ahlusunnah wal Jamaah. Ini sesuai dengan karakter pesantren sebagai risalah rahmatan lil alamin.

“Para kiai, pengasuh pesantren, oleh Allah SWT nanti akan dimintai pertanggungjawaban, sejauh mana pesantren mampu menjaga pengikut Ahlusunnah wal Jamaah dari keterperosokan akhlak dan perilaku keagamaan yang ekstrem,” tuturnya.

Oleh sebab itu, pengasuh Pesantren Tremas Pacitan ini mengajak masyarakat dalam melakukan praktik keagamaan agar tidak jauh dari cara beragama dan bermuamalah seperti yang diajarkan oleh para kiai di pesantren. Bila di tengah masyarakat dijumpai persoalan seputar masalah keagamaan, masyarakat dapat meminta penjelasan kepada para santri atau pada kiai di lingkungan pesantren.

“Mari kita jadikan para kiai, pengasuh pesantren sebagai imam dalam praktik beragama kita,” jelasnya.

Melalui gerakan Nasional Ayo Mondok, Kiai Luqman juga mendorong masyarakat untuk menjadikan pesantren sebagai pilihan utama dalam menuntut ilmu. “Minimal satu dari putra-putri kita untuk dikirim belajar ke pesantren. Pesantren mana saja, semuanya baik. agar sanad keilmuan dan praktik beragama kita tidak terputus dan terus bersambung hingga Rasulullah SAW,” pungkasnya.

Para santri Pondok Tremas yang berasal dari Kabupaten Pacitan tiap tahun rutin menggelar kegiatan Bakti Santri IPPAPONMAS di tengah masyarakat. Sebagai upaya mendekatkan dan mengenalkan ajaran nilai-nilai kepesantrenan pada masyarakat.

Berbagai kegiatan dilakukan pada Bakti Santri ini, seperti Dakwah bil Hal, Pengajian umum, Semaan Al-Quran, Lomba-lomba, Kerja Bakti membersihkan lingkungan dan Pentas seni bersama masyarakat. (Zaenal Faizin/Fathoni)

Sumber: NU Online

Humor Santri: Pemberontak Muslim Filipina Pun Prihatin Islam Radikal


Pacitan,

Koordinator Nasional Gerakan Ayo Mondok, KH Luqman Harits Dimyathi menyatakan, pesantren turut bertanggung jawab pada praktik keagamaan yang dilakukan oleh masyarakat. Pesantren sebagai pewaris ajaran para ulama diakui sebagai pihak yang diserahi tanggung jawab dalam kehidupan beragama di tengah masyarakat.

Hal itu disampaikannya pada acara pengajian umum Bakti Santri Ikatan Pelajar Pacitan Pondok Tremas (IPPAPONMAS) bersama dengan masyarakat Desa Jatimalang, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, Selasa malam (19/1).

Katib Syuriyah PBNU itu mengatakan, pesantren memiliki tugas mengajak masyarakat untuk menjalankan praktik keagamaan yang benar yang sesuai dengan ajaran Ahlusunnah wal Jamaah. Ini sesuai dengan karakter pesantren sebagai risalah rahmatan lil alamin.

“Para kiai, pengasuh pesantren, oleh Allah SWT nanti akan dimintai pertanggungjawaban, sejauh mana pesantren mampu menjaga pengikut Ahlusunnah wal Jamaah dari keterperosokan akhlak dan perilaku keagamaan yang ekstrem,” tuturnya.

Oleh sebab itu, pengasuh Pesantren Tremas Pacitan ini mengajak masyarakat dalam melakukan praktik keagamaan agar tidak jauh dari cara beragama dan bermuamalah seperti yang diajarkan oleh para kiai di pesantren. Bila di tengah masyarakat dijumpai persoalan seputar masalah keagamaan, masyarakat dapat meminta penjelasan kepada para santri atau pada kiai di lingkungan pesantren.

“Mari kita jadikan para kiai, pengasuh pesantren sebagai imam dalam praktik beragama kita,” jelasnya.

Melalui gerakan Nasional Ayo Mondok, Kiai Luqman juga mendorong masyarakat untuk menjadikan pesantren sebagai pilihan utama dalam menuntut ilmu. “Minimal satu dari putra-putri kita untuk dikirim belajar ke pesantren. Pesantren mana saja, semuanya baik. agar sanad keilmuan dan praktik beragama kita tidak terputus dan terus bersambung hingga Rasulullah SAW,” pungkasnya.

Para santri Pondok Tremas yang berasal dari Kabupaten Pacitan tiap tahun rutin menggelar kegiatan Bakti Santri IPPAPONMAS di tengah masyarakat. Sebagai upaya mendekatkan dan mengenalkan ajaran nilai-nilai kepesantrenan pada masyarakat.

Berbagai kegiatan dilakukan pada Bakti Santri ini, seperti Dakwah bil Hal, Pengajian umum, Semaan Al-Quran, Lomba-lomba, Kerja Bakti membersihkan lingkungan dan Pentas seni bersama masyarakat. (Zaenal Faizin/Fathoni)

Sumber: NU Online

PMII Bojonegoro Pertajam Intelektual dan Gerakan Jalanan



Bojonegoro,
Sebagai organisasi ekstra kampus (Omek), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) terus berupaya menjadi wadah pembelajaran di luar kampus. Sehingga sebelum mengadakan Rapat Kerja Cabang (Rakercab) dimasa khidmah 2015-2016, PMII Bojonegoro mengadakan diskusi di sekretariatnya, jalan Pondok Pinang 02 Bojonegoro, Ahad (24/1)

Dalam diskusi tersebut, selain diikuti puluhan kader dari mahasiswa kampus di Kota Ledre, juga menghadirkan narasumber, diantaranya ketua Majlis Pembina Cabang (Mabincab) PC PMII Bojonegoro, Ahmad Sunjani Zaid dan juga ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Bojonegoro (Aspertib), Hasan Bisri.

Ketua PC PMII Bojonegoro, Ahmad Syahid mengaku, pengurus cabang periode 2015-2016 benar-benar serius dalam mengemban amanah satu tahun kedepan. Sehingga sebelum melaksanakan Rakercab nanti, sudah ada bekal matang yang akan dibahas.

“Diskusi ini untuk mempertajam arah gerakan PMII satu tahun ke depan, baik dalam konteks kaderisasi, analisa wacana dan distribusi kader,” jelasnya.

Sehingga Pra Rakercab ini sangat penting untuk menjaring gagasan dari berbagai aspek, baik dari kader, alumni dan juga perguruan tinggi. “Setahun kedepan, berorientasi pada penajaman intelektual dan gerakan jalanan PMII di Bojonegoro,” ungkapnya.

Selain itu PMII, harapanya, bisa bersinergis dengan pihak kampus dalam menanamkan jiwa nasionalisme dan religiusme mahasiswa. “Namun tanpa meninggalkan semangat untuk selalu mengontrol kebijakan pemerintah,” harapnya.

Sementara itu, ketua Mabincab, Ahmad Sunjadi Zaid meminta, kepada pengurus cabang PMII Bojonegoro agar sinergitas program internal PMII kedepan, harus produktif dan berkualitas. “PMII harus mampu menjawab problematika yang ada. Harus mampu mencetak ilmuan atau cendekiawan yang hebat, petarung jalanan, analisator wacana dan anggaran, jurnalis serta optimalisasi gerakan kembali ke kampus,” terangnya yang juga menjabat Wakil Ketua DPRD Bojonegoro.

Sedangkan ketua Aspertib, Hasan Bisri berpesan kepada PMII perlunya sinergitas organ PMII dengan pihak kampus. “Sebenarnya PMII adalah aset kampus dan negera Indonesia. Jadi harus berjalan selaras dan harmonis, yakni mampu menjadi promotor kampus dalam berbagai kegiatan mahasiswa,” tandasnya.

Kegiatan ini juga mendapat apresiasi dari kader PMII. Ketua Komisariat IKIP PGRI Bojonegoro, Nuzulul Furqon mengapresiasi betul langkah pengurus baru dengan mengadakan diskusi, untuk mempersiapkan bekal sebelum melaksanakan Rakercab nanti. Sehingga nanti mampu menjadi pijakan pengurus setahun kedepan.

“Semoga ini menjadi langkah taktis dan strategi untuk memperbaiki organisasi,” pungkasnya.[M. Yazid/Abdullah Alawi]

Sumber: NU Online

Komisariat IPNU-IPPNU Al-Huda Resmi Dibentuk


Pamekasan,

Pimpinan Cabang (PC) IPNU-IPPNU Kabupaten Pamekasan,
Jawa Timur kian meluaskan sayapnya. Sabtu (23/1) siang, Pimpinan Komisariat
(PK) IPNU-IPPNU MTs-MA Al-Huda resmi dibentuk dan pengurusnya dilantik di
Auditorium MA Al-Huda. Organisasi baru tersebut dinaungi Pesantren Al-Huda
Sumber Nangka, Desa Duko Timur, Kecamatan Larangan, Pamekasan.

Ketua PC IPNU Pamekasan Kadarisman menegaskan,
pembentukan organisasi pelajar NU tersebut merupakan salah satu wujud program
prioritas dalam kepemimpiannya. Bersama jajaran pengurus PC IPNU-IPPNU
Pamekasan, pihaknya berkomitmen untuk menghadirkan PK IPNU-IPPNU di semua
lembaga pendidikan di Kabupaten Pamekasan.

“Sementara, sasaran utama pembentukan organisasi
tingkat komisariat ialah yang berada di bawah naungan pesantren. Baru setelah
itu akan merambah ke lembaga pendidikan di luar pesantren, termasuk di daerah
perkotaan,” terang pemuda asal Desa Kertagena Tengah, Kecamatan Kadur,
Kabupaten Pamekasan tersebut.

Pelantikan pengurus PK IPNU-IPPNU Al-Huda disaksikan
oleh tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat. Para pelajar di tingkat MTs dan
MA Al-Falah hadir memadati acara pelantikan yang berlangsung khidmat. (Hairul
Anam/Abdullah Alawi)

 

Sumber: NU Online

Cintai Nabi dengan Amalkan Al-Qur’an dan Sunnahnya


Pinrang,  

Rektor Universitas Islam Makassar (UIM) Majdah M Zain Agus AN mengatakan, perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW jangan hanya sampai pada seremoni tanpa isi, tapi harus diwujudkan denggan praktik. 

Ia menyampaikan hal itu pada taushiah dalam rangka perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW 1437 H yang diadakan oleh Keluarga besar SMA Negeri 2 Pinrang, Sulawesi Selatan Rabu (20/1) di lapangan SMA Negeri 2 Pinrang Duampanua. 

“Memperingati maulid tentunya sebagai wujud cinta kepada Rasulullah Muhammad SAW, namun tak hanya acara seremoni saja yang penuh kemeriahan, penuh hiasan telur, dan lain sebagainya, tetapi yang harus kita ambil dan teladani adalah cara Rasulullah berinteraksi dengan umatnya, bagaimana Rasulullah memimpin umatnya, dan berbagai uswah Muhammad SAW yang harus diteladani umatnya,” pintanya. 

Ia menambahkan, sebagai wujud cinta kepada Rasulullah SAW adalah mengamalkan apa yang ada dalam Al-Qur’an dan sunnah Nabi. 

Lebih lanjut, Majdah mengatakan kepada ribuan siswa-siswi yang hadir, untuk membangun negeri ini tak hanya berhenti pada tataran berilmu saja, tapi dengan iman. Karena ilmu tanpa iman akan bermuara pada kehancuran. 

“Betapa banyak orang yang berilmu di negeri ini, tetapi hanya membuat kerusakan, korupsi, kolusi, dan nepotisme serta berbagai fenomena kehancuran di muka bumi ini sehingga kekuatan ilmu harus dibarengi dengan iman,” katanya.

Tampak hadir dalam peringatan maulid ini Ketua Penggerak PKK Hj A Dewiyani Aslam, Camat Duampanua, Anggota DPRD Pinrang, Kepala Sekolah SMAN 2 Pinrang, staf pengajar, tokoh masyarakat dan tokoh agama. (Andy Muhammad Idris/Abdullah Alawi)

Sumber: NU Online

Humor Santri: Nabi Muhammad Keturunan Jombang?



Sebagaimana Gus Dur, para kiai NU pada umumnya juga dikenal tipikal selera guyonannya sangat tinggi. Hal ini terekam di sela istirahat dalam momentum Muktamar ke-33 NU di Jombang.Seorang kiai ketua PCNU di wilayah Banten memandang tradisi masyarakat Jawa yang selalu mengedepankan sopan santun, terutama kepada orang yang lebih tua.

Itulah kenapa dia heran sekali karena selama menginap di pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, dirinya dilayani dengan sangat sopan oleh panitia lokal dari santri pesantren setempat.

Misalkan saat dia duduk di dalam ruangan penginapan meminta tolong kepada santri, lalu santri yang dipanggil duduk dahulu baru bilang kepada kiai tadi, “Apa yang bisa dibantu pak yai?”

“Kalau saya duduk, santri tadi duduk duhulu sebelum bicara, bayangkan jika saya tiduran, mungkin juga mereka tiduran dahulu,” ungkapnya sambil tertawa lepas.

“Baru santri-santri aja sopan santunnya seperti itu. Apa Nabi Muhammad keturunan Jombang ya? Sopan santunnya itu lho.. Hormat sama yang tua, cinta sama yang muda.”

Kalimat ini merupakan sindiran, lantaran yang ia tahu kebanyakan orang Arab berwatak keras dan sopan santunnya kurang. (M. Zidni Nafi’)

Sumber: NU Online

Humor Santri: Masuk Islam dengan 11 Perkara


HR salah satu tersangka kasus BLBI tengah kebingungan. Ia masuk daftar DPO dan sudah beberapa minggu ini dilanda ketakutan luar biasa. Akhirnya ia menemukan akal setelah memutar otak. Ia akan menemui kiai kharismatik dan pura-pura masuk Islam. Dengan berstatus mualaf ia berharap ada keringanan hukuman bila sewaktu-waktu ketangkap.
Singkat cerita ia pergi menghadap kiai langitan yang terkenal kharismatik.
“Assala-mu ngalekum.” Sapanya difaseh-fasehkan.
“Wa’alaikum salam,” jawab Kiai.
“Pak kiai, tujuan kedatangan saya yang pertama adalah silaturahmi, dan yang kedua adalah menyampaikan keinginan saya untuk masuk Islam. Karenanya, saya mohon pak kiai untuk memberi bimbingan dan pencerahan.”
“Sdh mantap betul mau masuk Islam?”
“Sudah mantap Pak Kiai,” kata HR dengan intonasi meyakinkan
“Okey lah, kalau begitu. Namun sebelum mengambil keputusan perlu diketahui terlebih dahulu prinsip-prinsip ajaran Islam yang disebut rukun Islam dan rukun Iman.
“Apa itu pak kiai,” serunya dengan wajah dibuat-buat biar nampak semangat
“Begini. Dalam agama Islam mengetahui dan mengamalkan kedua rukun itu wajib hukumnya. Untuk rukun Islam ada lima perkara dan rukun iman ada enam perkara.”
“Apa? Lima tambah enam berarti sebelas perkara! Banyak sekali! Apa gak bisa kurang pak kiai?” Kali ini tidak pura-pura lagi, benar-benar kaget.
“Untuk masalah yang satu ini tidak ada tawar menawar,” jawabnya masih belum paham.
“Begini pak kiai, untuk urus satu perkara saja saya bisa habis Rp. 25 milyar apalagi sebelas perkara. Terus terang saya nggak sanggup. Yang tadi terpaksa saya batalkan. Lebih baik saya tetap kafir,” katanya sewot.
Kiai: ???    
 
Nilul Amana

Sumber: NU Online

Humor Santri: Sumber Berita Terpercaya



Beragam pemberitaan ditulis media massa dari hasil pelaksanaan Muktamar Ke-33 NU di Jombang, belum lama ini. Tentu saja, yang namanya berita, ditulis dari berbagai sudut, negatif maupun positif.Namun, setelah membaca headline dan artikel pada salah satu surat kabar, hati Joko tidak tenang. Ia kemudian menemui Udin, yang kebetulan sedang ada di angkringan.

Joko : Kang, ini bagaimana kok di koran ini ditulis NU Pecah, lha koran satunya nulis NU Tetap Satu. Aku bingung, kang. yang benar yang mana to?

Udin : Lha, kamu itu kebanyakan baca koran kok malah jadi bingung. Daripada bingung ini dimakan dulu pisang gorengnya, mumpung masih hangat,”

Joko : Aku sudah tidak tahu lagi, kang! Mana berita yang menceritakan fakta secara benar. Hampir semua berita sudah penuh rekayasa atas dasar kepentingan nafsu.

Aku sudah tidak tahu lagi mana berita yang dapat dijadikan rujukan.

Udin : Betul, Jok! Apa yang kamu katakan itu ada benarnya. Tapi, di negara kita ini, ada lho sumber berita yang tetap terpercaya dan tanpa rekayasa. Serius aku!

Joko : Apa itu kang? Siapa tahu bisa aku jadikan sumber rujukan

Udin : Ya, itu corong speaker (toa) masjid,”

Joko : hehe benar juga kang, kalau berita lelayu (kematian) atau jadwal Posyandu saja sudah tidak lagi valid, kacau sekali negeri ini! (Ajie Najmuddin)

Sumber: NU Online

Humor Santri: Licik versus Cerdik



Udin adalah anak yang cukup cerdas dan bertanggung jawab meski baru berusia lima tahun dan masih duduk di bangku TK.Suatu hari ia disuruh pergi belanja. Seperti biasa emaknya selalu memberi uang pas setiap kali menyuruhnya belanja. Maka sambil menggenggam uang receh, ia berlari-lari kecil ke warung terdekat.

“Permisi, mau beli gula sekilo!” Teriaknya begitu tiba di depan warung.

“Oh, kamu toh nak!” sahut ibu muda sembari ambil kantong plastik yang telah terisi gula ukuran sekiloan.

Namun oleh si ibu muda bukannya diberikan langsung, malah dibuka kembali dan isinya dikurangi dengan jumlah yang cukup lumayan.

“Nih nak gulanya,”

“Tapi Bu, kok timbangannya dikurangi,” protes udin spontan sambil menerima gulanya.

“Ya, biar kamu gampang bawanya.”

Si udin dengan cepat menyisihkan beberapa lembar uang recehnya.

“Ni Bu uangnya,” kata udin seraya menaruh uang pembayaran di atas toples.

“Tapi Nak, kok uangnya dikurangi.”

“Ya, biar Ibu gampang ngitungnya,” jawabnya enteng.

Mendengar ini si ibu cuma bisa tersenyum kecut.

“Sialan, licik juga nih anak!” Gerutunya dalam hati. (Nailul Amana)

Sumber: NU Online

Humor Santri: Naik Bus Haram



Salah satu jamaah haji asal Kabupaten Subang, Kang Ujang, memang terkenal tekun dan getol mencari pahala. Saat ditanya kenapa rajin banget, Kang? “Mumpung di dieu (di sini),” ujar Kang Ujang dengan senyum penuh harapan.

Jumat pagi  ia keluar sendirian dari tempat pemondokannya untuk berangkat ke Masjidil Haram.

Kang Ujang menunggu bus lewat di pinggir jalan dekat apartemennya. Beberapa kali bus berhenti menyahuti isyarat tangannya. Sembari berhenti kondekturnya teriak-teriak, “Haraaaam! Haraaaam!”

Mendengar teriakan itu Kang Ujang yang sudah mendekati pintu bus pun mengurungkan niatnya. “Waduh, kenapa berhenti, kalau tidak boleh naik?” gerutu Kang Ujang.

Rupanya Kang Ujang tak paham; teriakan si kondektur bermaksud menunjukkan bahwa bus sedang menuju ke Masjidil Haram. (Ahmad Rosyidi)

Sumber: NU Online

Humor Santri: Melamar Anak Gadis Kiai



Malam itu tiga pemuda datang bertamu ke rumah seorang kiai. Mereka mempunyai hajat yang sama, yaitu hendak melamar anak gadis Pak Kiai.”Siapa namamu?” tanya si kiai kepada pemuda pertama.

“Anas, Kiai.”

“Namamu bagus itu. Maksud kedatangan?”

“Mau melamar putri njenengan, Kiai”

“Oh iya? Kalau gitu saya tes dulu ya.. Coba kamu baca surat an-Nas sesuai dengan namamu.”

“Baik, Kiai…. ”

Lalu dia membaca surat an-Nas dengan lancar. Pak Kiai manggut-manggut.

“Kamu… Siapa namamu?” Pak Kiai menatap pemuda kedua.

” Thoriq, Kiai.”

“Hmmm, nama yang bagus. Sekarang tesnya sama ya… Kamu baca surat At-Thoriq.”

“Baik, kiai… ”

Lalu pemuda kedua itu pun membaca surat At-Thoriq dengan lancar. Pak kiai manggut-manggut sambil menatap pemuda ketiga yang tampak pucat.

“Nah, kamu! Siapa namamu?”

Si pemuda ketiga berkeringat dingin. Dengan gemetar dia jawab, “Imron, Kiai… tapi biasa dipanggil Qulhu.”

“Hah?!!”

(Jajang)

Sumber: NU Online

Humor Santri: Waktu Indonesia NU


Suatu kali Prof Machasin yang saat itu jadi Rais Syuriyah mendapat undangan rapat PBNU. Sesuai jadwal, dosen yang birokrat ini datang tepat waktu: 14.00 waktu Indonesia Barat (WIB).Begitu masuk ruang rapat, ia celingukan. Toleh sana, toleh sini. Setengah kaget, karena hampir seluruh kursi masih kosong. Prof Machasin pun menunggu cukup lama.

“Ini bagaimana. Katanya jam dua. Ini kan sudah jam tiga!?” tanyanya kepada peserta rapat yang sudah hadir.

Sahabatnya itu tertawa, “Hahaha…”

“Kok ketawa?” Prof Machasin heran.

“Sampean orang NU baru ya? Haha…”

Prof Machasin cuma nyengir, sambil membetulkan kopiahnya yang makin miring.

Pejabat Kemenag yang rajin ini rupanya belum paham betul bahwa di NU—entah sejak kapan—ada kaidah tak tertulis: waktu Indonesia terbagi menjadi empat (bukan tiga), yakni WIT, WITA, WIB, dan WI-NU. Selisih masing-masing minimal satu jam!
(Mahbib)

Sumber: NU Online

Humor Santri: Jurus Shalawat Pengusir



Ada suasana yang lucu ketika Kongres Fatayat XV yang digelar di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya kemarin. Yaitu ketika penjual kaos dan pembeli menawar harga. Sebut saja nama penjual itu Udin. Seorang ibu-ibu yang hendak beli menawar harga kaos seharga Rp 70.000 itu menjadi Rp 60.000. Karena harga pas, Udin tidak menurunkan harganya. Tapi naluri belanja perempuan itu terus berontak.

“Ayo lah, Mas, masa kaos segini kok mahal, enam puluh ribu saja ya?” katanya.

“Maaf, Bu, itu harga kaosnya pas.”

“Ayo lah, Mas?”

Ya allah bu, maaf buk ini harga pas.”

“Masak nggak boleh enam puluh ribu, Mas?” pembeli itu ngeyel.

“Allahumma shalli alaa sayyidina muhammad,” teriak Udin tiba-tiba. Dalam tradisi NU, bacaan yang sama diteriakkan di ujung acara semisal tahlilan dan lainnya untuk kemudian forum bubar.

“Waduh, Mas, kalau ini namanya mengusir secara halus.”

“Hehehe, maaf, Buk.”

“Ya udah lah, Mas. Kaosnya jadi tak beli tujuh puluh ribu ya. Dibungkus.”

“Siap, Buk,” kata Udin sambil bersemangat. (Muhlisin)

Sumber: NU Online

Humor Santri: Haji Wakil Rakyat



Untuk menunaikan ibadah haji, warga Indonesia kini harus antre puluhan tahun. Ini juga yang membuat Kang Otong berkeluh kesah kepada temannya, Udin.“Kang, kenapa ya kita sebagai rakyat harus nunggu puluhan tahun untuk berangkat ke Tanah Suci?” kata Otong.

“Iya Tong, padahal tuh anggota DPR berangkat haji tidak pakai antre-antrean. Kenapa ya?” jawab Udin.

“Ya karena dia wakil rakyat.”

“Indonesia memang unik. Masak wakil mengalahkan rakyatnya. Hehe…” seloroh Otong.  (Ahmad Rosyidi)

Sumber: NU Online

Humor Santri: Ketika Polisi Hentikan Mobil Gus Dur



Suatu hari, Gus Dur mendapat undangan menjadi pembicara di luar kota. Dari rumah Ciganjur, Gus Dur menaiki mobil pribadinya yang dikemudikan Nurudin Hidayat. Tidak seperti biasanya, kali ini Gus Dur tanpa pengawalan mobil pratoli. Agar cepat sampai lokasi acara, Nuruddin pun menyetir dengan kecepatan tinggi. Tak peduli jalanan ramai, banyak lalu lalang kendaraan lainnya.

Baru berjalan puluhan kilo meter di tengah kota, mobil Gus Dur dibuntuti mobil polisi. Lewat microfon, polisi berteriak meminta mobil Gus Dur menepi di pinggir jalan.

“Selamat siang Pak,” kata seorang polisi yang turun dari mobilnya.

“Siang juga,” jawab Nuruddin seraya membuka kaca pintu mobilnya.

“Bapak mengemudi dengan kecepatan tinggi, sangat membahayakan,” sahut polisi yang dibalas anggukan Nuruddin.

 Setelah beberapa pertanyaan diajukan, tiba-tiba polisi tadi bengong.

“Itu Pak Gus Dur, ya?” Tanya polisi sambil melihat Gus Dur tengah duduk tertidur di sebelah Nuruddin.

“Iya pak.”

Tanpa menanyai kesalahan Nuruddin yang mengemudi dengan kecepatan tinggi tadi, polisi mempersilahkan Nuruddin melanjutkan perjalanan lagi. Sudah lolos, polisi malah meminta izin untuk mengawal perjalanan Gus Dur sampai ke lokasi.

Saat Gus Dur bangun, ia bertanya perihal kejadian tersebut.  Nuruddin pun menjelaskan kepada Gus Dur panjang lebar hingga polisi mengawalnya. “Oooo. Belum tahu dia (polisi),” kata Gus Dur sambil tertawa ngakak. (Qomarul Adib)

Sumber: NU Online

Humor Santri: Tahajud Siang Malam



Suatu ketika salah satu pejabat negara yang konon rutin puasa Senin-Kamis menyampaikan kata sambutan  dalam sebuah acara. “Saudara-saudara sekalian yang terhormat, Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh!”Para tamu udangan pun yang dihadiri sebagian para kiai kampung dan santri-santrinya menjawab dengan serentak, “Walaikumsalam warahmatullohi wabarokatuh!”

Ia lantas berpidato seakan-akan memojokkan para kiai. “Meskipun bapak-bapak kiai yang ada di sini tahajud siang-malam, belum tentu lebih mulia dari seorang yang mengerti teknologi?” Ucap sang pejabat dengan berapi-api.

Mendengar itu, para kiai desa itu tak nyaman. Tapi tak mungkin mereka langsung mendebatnya. Menit berikutnya para kiai satu demi satu meninggalkan ruangan.

Para santri beranggapan bahwa para kiai mungkin tersinggung karena Pak Pejabat melecehkan keberadaan mereka di mata para santrinya. Tapi, ternyata bukan.

Di luar ruangan, seorang kiai berkomentar tentang sambutan tersebut, “Mana ada tahajud siang-malam?” (Ahmad Rosyidi)

Sumber: NU Online