Humor Santri: Sumber Berita Terpercaya



Beragam pemberitaan ditulis media massa dari hasil pelaksanaan Muktamar Ke-33 NU di Jombang, belum lama ini. Tentu saja, yang namanya berita, ditulis dari berbagai sudut, negatif maupun positif.Namun, setelah membaca headline dan artikel pada salah satu surat kabar, hati Joko tidak tenang. Ia kemudian menemui Udin, yang kebetulan sedang ada di angkringan.

Joko : Kang, ini bagaimana kok di koran ini ditulis NU Pecah, lha koran satunya nulis NU Tetap Satu. Aku bingung, kang. yang benar yang mana to?

Udin : Lha, kamu itu kebanyakan baca koran kok malah jadi bingung. Daripada bingung ini dimakan dulu pisang gorengnya, mumpung masih hangat,”

Joko : Aku sudah tidak tahu lagi, kang! Mana berita yang menceritakan fakta secara benar. Hampir semua berita sudah penuh rekayasa atas dasar kepentingan nafsu.

Aku sudah tidak tahu lagi mana berita yang dapat dijadikan rujukan.

Udin : Betul, Jok! Apa yang kamu katakan itu ada benarnya. Tapi, di negara kita ini, ada lho sumber berita yang tetap terpercaya dan tanpa rekayasa. Serius aku!

Joko : Apa itu kang? Siapa tahu bisa aku jadikan sumber rujukan

Udin : Ya, itu corong speaker (toa) masjid,”

Joko : hehe benar juga kang, kalau berita lelayu (kematian) atau jadwal Posyandu saja sudah tidak lagi valid, kacau sekali negeri ini! (Ajie Najmuddin)

Sumber: NU Online

Humor Santri: Licik versus Cerdik



Udin adalah anak yang cukup cerdas dan bertanggung jawab meski baru berusia lima tahun dan masih duduk di bangku TK.Suatu hari ia disuruh pergi belanja. Seperti biasa emaknya selalu memberi uang pas setiap kali menyuruhnya belanja. Maka sambil menggenggam uang receh, ia berlari-lari kecil ke warung terdekat.

“Permisi, mau beli gula sekilo!” Teriaknya begitu tiba di depan warung.

“Oh, kamu toh nak!” sahut ibu muda sembari ambil kantong plastik yang telah terisi gula ukuran sekiloan.

Namun oleh si ibu muda bukannya diberikan langsung, malah dibuka kembali dan isinya dikurangi dengan jumlah yang cukup lumayan.

“Nih nak gulanya,”

“Tapi Bu, kok timbangannya dikurangi,” protes udin spontan sambil menerima gulanya.

“Ya, biar kamu gampang bawanya.”

Si udin dengan cepat menyisihkan beberapa lembar uang recehnya.

“Ni Bu uangnya,” kata udin seraya menaruh uang pembayaran di atas toples.

“Tapi Nak, kok uangnya dikurangi.”

“Ya, biar Ibu gampang ngitungnya,” jawabnya enteng.

Mendengar ini si ibu cuma bisa tersenyum kecut.

“Sialan, licik juga nih anak!” Gerutunya dalam hati. (Nailul Amana)

Sumber: NU Online

Humor Santri: Naik Bus Haram



Salah satu jamaah haji asal Kabupaten Subang, Kang Ujang, memang terkenal tekun dan getol mencari pahala. Saat ditanya kenapa rajin banget, Kang? “Mumpung di dieu (di sini),” ujar Kang Ujang dengan senyum penuh harapan.

Jumat pagi  ia keluar sendirian dari tempat pemondokannya untuk berangkat ke Masjidil Haram.

Kang Ujang menunggu bus lewat di pinggir jalan dekat apartemennya. Beberapa kali bus berhenti menyahuti isyarat tangannya. Sembari berhenti kondekturnya teriak-teriak, “Haraaaam! Haraaaam!”

Mendengar teriakan itu Kang Ujang yang sudah mendekati pintu bus pun mengurungkan niatnya. “Waduh, kenapa berhenti, kalau tidak boleh naik?” gerutu Kang Ujang.

Rupanya Kang Ujang tak paham; teriakan si kondektur bermaksud menunjukkan bahwa bus sedang menuju ke Masjidil Haram. (Ahmad Rosyidi)

Sumber: NU Online

Humor Santri: Melamar Anak Gadis Kiai



Malam itu tiga pemuda datang bertamu ke rumah seorang kiai. Mereka mempunyai hajat yang sama, yaitu hendak melamar anak gadis Pak Kiai.”Siapa namamu?” tanya si kiai kepada pemuda pertama.

“Anas, Kiai.”

“Namamu bagus itu. Maksud kedatangan?”

“Mau melamar putri njenengan, Kiai”

“Oh iya? Kalau gitu saya tes dulu ya.. Coba kamu baca surat an-Nas sesuai dengan namamu.”

“Baik, Kiai…. ”

Lalu dia membaca surat an-Nas dengan lancar. Pak Kiai manggut-manggut.

“Kamu… Siapa namamu?” Pak Kiai menatap pemuda kedua.

” Thoriq, Kiai.”

“Hmmm, nama yang bagus. Sekarang tesnya sama ya… Kamu baca surat At-Thoriq.”

“Baik, kiai… ”

Lalu pemuda kedua itu pun membaca surat At-Thoriq dengan lancar. Pak kiai manggut-manggut sambil menatap pemuda ketiga yang tampak pucat.

“Nah, kamu! Siapa namamu?”

Si pemuda ketiga berkeringat dingin. Dengan gemetar dia jawab, “Imron, Kiai… tapi biasa dipanggil Qulhu.”

“Hah?!!”

(Jajang)

Sumber: NU Online

Humor Santri: Waktu Indonesia NU


Suatu kali Prof Machasin yang saat itu jadi Rais Syuriyah mendapat undangan rapat PBNU. Sesuai jadwal, dosen yang birokrat ini datang tepat waktu: 14.00 waktu Indonesia Barat (WIB).Begitu masuk ruang rapat, ia celingukan. Toleh sana, toleh sini. Setengah kaget, karena hampir seluruh kursi masih kosong. Prof Machasin pun menunggu cukup lama.

“Ini bagaimana. Katanya jam dua. Ini kan sudah jam tiga!?” tanyanya kepada peserta rapat yang sudah hadir.

Sahabatnya itu tertawa, “Hahaha…”

“Kok ketawa?” Prof Machasin heran.

“Sampean orang NU baru ya? Haha…”

Prof Machasin cuma nyengir, sambil membetulkan kopiahnya yang makin miring.

Pejabat Kemenag yang rajin ini rupanya belum paham betul bahwa di NU—entah sejak kapan—ada kaidah tak tertulis: waktu Indonesia terbagi menjadi empat (bukan tiga), yakni WIT, WITA, WIB, dan WI-NU. Selisih masing-masing minimal satu jam!
(Mahbib)

Sumber: NU Online

Humor Santri: Jurus Shalawat Pengusir



Ada suasana yang lucu ketika Kongres Fatayat XV yang digelar di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya kemarin. Yaitu ketika penjual kaos dan pembeli menawar harga. Sebut saja nama penjual itu Udin. Seorang ibu-ibu yang hendak beli menawar harga kaos seharga Rp 70.000 itu menjadi Rp 60.000. Karena harga pas, Udin tidak menurunkan harganya. Tapi naluri belanja perempuan itu terus berontak.

“Ayo lah, Mas, masa kaos segini kok mahal, enam puluh ribu saja ya?” katanya.

“Maaf, Bu, itu harga kaosnya pas.”

“Ayo lah, Mas?”

Ya allah bu, maaf buk ini harga pas.”

“Masak nggak boleh enam puluh ribu, Mas?” pembeli itu ngeyel.

“Allahumma shalli alaa sayyidina muhammad,” teriak Udin tiba-tiba. Dalam tradisi NU, bacaan yang sama diteriakkan di ujung acara semisal tahlilan dan lainnya untuk kemudian forum bubar.

“Waduh, Mas, kalau ini namanya mengusir secara halus.”

“Hehehe, maaf, Buk.”

“Ya udah lah, Mas. Kaosnya jadi tak beli tujuh puluh ribu ya. Dibungkus.”

“Siap, Buk,” kata Udin sambil bersemangat. (Muhlisin)

Sumber: NU Online

Humor Santri: Haji Wakil Rakyat



Untuk menunaikan ibadah haji, warga Indonesia kini harus antre puluhan tahun. Ini juga yang membuat Kang Otong berkeluh kesah kepada temannya, Udin.“Kang, kenapa ya kita sebagai rakyat harus nunggu puluhan tahun untuk berangkat ke Tanah Suci?” kata Otong.

“Iya Tong, padahal tuh anggota DPR berangkat haji tidak pakai antre-antrean. Kenapa ya?” jawab Udin.

“Ya karena dia wakil rakyat.”

“Indonesia memang unik. Masak wakil mengalahkan rakyatnya. Hehe…” seloroh Otong.  (Ahmad Rosyidi)

Sumber: NU Online

Humor Santri: Ketika Polisi Hentikan Mobil Gus Dur



Suatu hari, Gus Dur mendapat undangan menjadi pembicara di luar kota. Dari rumah Ciganjur, Gus Dur menaiki mobil pribadinya yang dikemudikan Nurudin Hidayat. Tidak seperti biasanya, kali ini Gus Dur tanpa pengawalan mobil pratoli. Agar cepat sampai lokasi acara, Nuruddin pun menyetir dengan kecepatan tinggi. Tak peduli jalanan ramai, banyak lalu lalang kendaraan lainnya.

Baru berjalan puluhan kilo meter di tengah kota, mobil Gus Dur dibuntuti mobil polisi. Lewat microfon, polisi berteriak meminta mobil Gus Dur menepi di pinggir jalan.

“Selamat siang Pak,” kata seorang polisi yang turun dari mobilnya.

“Siang juga,” jawab Nuruddin seraya membuka kaca pintu mobilnya.

“Bapak mengemudi dengan kecepatan tinggi, sangat membahayakan,” sahut polisi yang dibalas anggukan Nuruddin.

 Setelah beberapa pertanyaan diajukan, tiba-tiba polisi tadi bengong.

“Itu Pak Gus Dur, ya?” Tanya polisi sambil melihat Gus Dur tengah duduk tertidur di sebelah Nuruddin.

“Iya pak.”

Tanpa menanyai kesalahan Nuruddin yang mengemudi dengan kecepatan tinggi tadi, polisi mempersilahkan Nuruddin melanjutkan perjalanan lagi. Sudah lolos, polisi malah meminta izin untuk mengawal perjalanan Gus Dur sampai ke lokasi.

Saat Gus Dur bangun, ia bertanya perihal kejadian tersebut.  Nuruddin pun menjelaskan kepada Gus Dur panjang lebar hingga polisi mengawalnya. “Oooo. Belum tahu dia (polisi),” kata Gus Dur sambil tertawa ngakak. (Qomarul Adib)

Sumber: NU Online

Humor Santri: Tahajud Siang Malam



Suatu ketika salah satu pejabat negara yang konon rutin puasa Senin-Kamis menyampaikan kata sambutan  dalam sebuah acara. “Saudara-saudara sekalian yang terhormat, Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh!”Para tamu udangan pun yang dihadiri sebagian para kiai kampung dan santri-santrinya menjawab dengan serentak, “Walaikumsalam warahmatullohi wabarokatuh!”

Ia lantas berpidato seakan-akan memojokkan para kiai. “Meskipun bapak-bapak kiai yang ada di sini tahajud siang-malam, belum tentu lebih mulia dari seorang yang mengerti teknologi?” Ucap sang pejabat dengan berapi-api.

Mendengar itu, para kiai desa itu tak nyaman. Tapi tak mungkin mereka langsung mendebatnya. Menit berikutnya para kiai satu demi satu meninggalkan ruangan.

Para santri beranggapan bahwa para kiai mungkin tersinggung karena Pak Pejabat melecehkan keberadaan mereka di mata para santrinya. Tapi, ternyata bukan.

Di luar ruangan, seorang kiai berkomentar tentang sambutan tersebut, “Mana ada tahajud siang-malam?” (Ahmad Rosyidi)

Sumber: NU Online

Humor Santri: Yang Bawa HP Dibunuh



Udin sebenarnya sudah berada di masjid dan siap menunaikan shalat Jum’at. Tapi tiba-tiba pulang setelah ada pengumuman pengurus ta’mir masjid perihal jamaah yang bawa telepon genggam.Sesampai di rumah, ibunya bertanya: “Gak Jum’atan, Din?”

“Mboten, Buk (Tidak, Bu)!”

“Kenapa?”

“Karena saya bawa HP,” jawab Udin polos.

“Lah! Kenapa membawa HP kok tidak Jum’atan?” Sang ibu heran.

“Tadi pengurus ta’mir masjid kasih pengumuman, “Sing betho HP tolong dipatheni (Yang bawa HP harap dibunuh/dimatikan)”. Ya, saya lari!”

“Hoh?”

(Ahmad Rosyidi)

Sumber: NU Online

Humor Santri: Sepak Bola Mujahadah



Kalau dulu ada istilah “sepak bola gajah” untuk menyebut pada sebuah pertandingan yang sudah “diatur” hasilnya. Selain itu, mungkin perlu ditambahkan istilah baru “sepak bola mujahadah”, merujuk pada kisah perjalanan tim sepakbola Pondok Pesantren Al-Manshur pada Kompetisi Liga Santri Nusantara (LSN) U-17 tahun 2015.Betapa tidak, kesebelasan asal Popongan Klaten Jawa Tengah tersebut lolos sebagai juara grup, tanpa keluar keringat setetes pun.

Pertandingan pertama mereka menang WO, atas pesantren Al-Ikhlas Dawar. Selanjutnya, mereka ditantang Pesantren Ta’mirul yang sebelumnya mengalahkan Al-Ikhlas. Dasar bejo, entah karena faktor apa, tiba-tiba Ta’mirul tidak hadir dan kemudian dinyatakan WO. Al-Manshur pun kembali menang tanpa bertanding.

Usai menang, antara senang dan kecewa, para santri mengungkapkan perasaan mereka. Sebut saja Joko, Dul, dan Rokim.

Rokim: Wah, gak nyangka aku, tim kita bisa lolos.

Joko: Bagaimana ini kang. Sudah jauh-jauh datang ke Solo, kok malah ndak jadi bertanding?

Dul: Lha iya ta, semalam juga sudah direwangi mujahadahan, biar kita bisa lancar mainnya, je.

Rokim: Tapi. Apa ya karena mujahadahan itu, kita justru bisa menang tanpa bertanding?

Dul: hehe ya bisa jadi, berkah doanya Mbah Kiai.

Beberapa hari kemudian, dalam pertandingan semifinal grup, Al-Manshur akhirnya kalah telak, dibantai tim sepakbola Mambaul Hikmah Selogiri dengan skor 1-6.

Mungkin, malam sebelumnya mereka lupa mujahadahan atau mujahadahan tim lawan lebih ampuh? Barangkali, ini hanya terjadi di liga santri.

(Ajie Najmuddin)

Sumber: NU Online

Humor Santri: Tiga Hasanah



Karena saking sibuknya, seorang santri sudah lama sekali tidak bisa sowan ke kiainya. Maklum dia  sudah menjadi orang sukses. Suatu ketika santri ini berkesempatan sowan ke gurunya, dan seperti biasa setelah bersalaman dengan kiai, para tamu dipersilakan duduk lesehan di pendopo,  sang kiai pun duduk di depan para tamu. Setelah agak lama hening, sang kiai lalu menyapa santri itu yang kebetulan duduk di shaf paling depan.Kiai: Bagaimana keadaanmu, Cong?

Santri: Alhamdulillah sehat, berkat doa Kiai .

Kiai: Ya… syukurlah kalau begitu.

Setelah diam sejenak sang kiai kemudian melanjutkan pertanyaannya

Kiai: Saya dengar kamu berpoligami?

Sontak saja si santri  menjadi deg degan, berbagai perasaan berbaur dalam pikirannya, dari merasa bersalah, malu dan sebagainya. Lalu dengan agak gugup ia menjawab.

Santri:Ya, benar, Kiai.

Kiai: Hebat kamu, saya aja baru satu.

Mendengar pujian sang guru ia kembali tenang, kemudian melanjutkan perbincangannya

Santri: Tapi ada yang musykil, Kiai.

Kiai:  Lho kok bisa, apanya yang musykil ?

Santri:  Begini Kiai, sebetulnya saya hanya mau dua saja, seperti dalam  al Qur’an…

Ia belum sempat menyelesaikan kalimatnya karena keburu dipotong oleh sang Kiai.

Kiai: Lho..!  Di dalam  Al Qur’an bukannya sampai empat?

Santri: Maksud saya begini Kiai,saya sudah terlanjur punya tiga isteri, sementara dalam al Qur’an disebutkan hanya dua, “fid dunya hasanah” dan “fil akhiroti hasanah”, terus hasanah yang satu lagi  tempatnya di mana, Kiai?

“Grrrrrrrr…” semua yang hadir di pendopo tertawa.

(Hosni Rahman, Sukorejo Situbondo)

Sumber: NU Online

Humor Santri: Santri dan BMKG



Alangkah bangganya hati Pak Hasan ketika melihat buku rapor anaknya yang duduk di bangku Tsanawiyah sebuah pondok pesantren. Bagaimana tidak, nilai rapor putra kesayangannya dinominasi oleh angka 8 dan 9, BMKG salah satu mata pelajaran yang mendapat nilai 9. Setahu Pak Hasan BMKG adalah hal hal yang berkenaan dengan cuaca seperti hujan, angin dan lain-lain sebagaimana yang ia sering lihat di TV.Sepulang menengok anaknya, Pak Hasan menceritakan nilai Rapor putranya kepada keluarga maupun tetangga, mata pelajaran BMKG sepertinya menjadi perhatian khusus pak Hasan maklum ketika ia mondok dulu tidak ada materi ini, dan menurutnya saat ini santri sudah mulai moderen yang tidak hanya belajar tentang agama saja.

Tibalah saatnya liburan pondok, tak terkecuali putra Pak Hasan, Ahmad, dia juga pulang ke rumah menikmati liburan panjang. Di suatu sore Ahmad di datangi anak tengangganya, Rani yang masih SD. Dengan membawa buku LKS anak itu bermaksud menanyakan jawaban soal IPA.

Rani    : Om bisa bantuin Rani?

Ahmad : Ada apa Ran….?

Rani    : Ini lho Om soal nomor 5 Rani gak bisa jawab.

Ahmad : Coba lihat soalnya.

Ahmad kemudian membaca soal yang dimaksud Rani, berkali-kali ia membaca soal itu tetapi tidak juga ada jawaban yang terlintas di benaknya, dandengan agak kecewa ia pun mengembalikan LKS itu dan berkata;

Ahmad : Aduh… maaf Ran, soal yang ini saya tidak tahu jawabannya.

Rani  : Lho, itu kan berkaitan dengan cuaca Om, katanya pelajaran BMKG Om dapat nilai 9

Ahmad : Iya sih, tapi BMKG di rapor om bukan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, yang bekaitan dengan kecuacaan itu. 

Rani  : Terus apa dong…?

Ahmad : BMKG itu Bimbingan Membaca Kitab Gundul.

Hosni Rahman, dari Sukorejo Situbondo, Jawa Timur.

Sumber: NU Online

Humor Santri: Android NU yang Sensitif



PCNU di sebuah Kota menetapkan bahwa seluruh pengurus diwajibkan memiliki HP Andorid. Hal ini dimaksudkan agar komunikasi antar-pengurus lebih efektif dan efisien. Karena dengan HP Android, pengurus tidak hanya bisa telepon atau SMS saja, tetapi juga bisa posting gambar, mengirim file hingga broadcast hal-hal penting yang harus segera diketahui bersama.Karena sudah menjadi suatu keharusan dan demi kelancaran tugas tugas organisasi  Pak Samad  akhirnya meminta anaknya untuk membelikannya HP Android. 

Suatu hari menjelang tidur siang, Pak Samad terganggu oleh bunyi pesan HP barunya. Berkali-kali bunyi itu terdengar, maklum saja Pak Samad sudah masuk dalam grup Telegram PCNU yang beranggotakan puluhan orang.  

Aplikasi telegram pun dibukanya dan tampillah beberapa pesan dari rekan-rekan pengurus. Dari sekedar menulis “ wkwkwkwkwk”, “He he he he”, “Astaghfirullah.., Pak Samad…”,  hingga pertanyaan menggoda lainnya. Pertanyaan serius datang dari Rais Syuriyahnya

“Foto apa itu Pak Samad..?”.

Dalam keadaan malu campur bingung pak Samad menjawab sekenanya dengan menulis pesan;

“Itu Android NU…”

Pak Samad teringat ketika melaksanakan shalat Dzuhur berjamaah di Masjid tadi. Selesai shalat, ia mengambil HP-nya dan alangkah kagetnya saat melihat sebuah foto muncul di layar HP Androidnya. Pak Samad pun bermaksud menghapus foto itu dengan mengklik dialog-dialog yang tampil. Padahal ia sendiri belum menguasai seluk beluk HP Android. 

Apa yang dilakukan Pak Samad tersebut bukannya menghapus foto itu tetapi justru membuat sang fototer kirim ke grup Telegram PCNU-nya dan dilihat oleh seluruh anggota. 

Rupanya karena terburu-buru mengejar raka’at pertama waktu shalat berjamaah tadi, Pak Samad secara tidak sengaja meletakkan HP Androidnya di antara dua kakinya yang kebetulan hanya menggunakan kain sarung dengan posisi kamera menghadap ke atas. 

Karena saking sensitifnya HP sehingga tanpa disadari oleh si empunya, kamera HP Android itu bekerja dengan sendirinya, kamera super canggih itu mengabadikan obyek dalam sarung. (Hosni Rahman)

Sumber: NU Online

Humor Santri: Merampok Anggota DPR



Sekawanan perampok suatu sore memergoki seorang pria berdasi yang menenteng tas sedang berjalan sendirian di kawasan Senayan. Mangsa empuk telah datang, jangan sampai disia-siakan, pikir mereka.Sang pria dicegat, dan moncong senjata pun ditodongkan. “Berhenti! Serahkan semua uangmu! Cepat!!!”

Pria klimis itu gemetar, tapi masih berusaha membela diri, “Kalian jangan macam-macam. Kalian tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa. Saya ini anggota DPR. Pejabat wakil rakyat!!!”

“Hehe… Kalau begitu serahkan uang kami,” sahut perampok sembari menempelkan belati ke lehernya. (Mahbib)

Sumber: NU Online

Humor Santri: Jomblo dan Sunah Rasul


Joko dan Kamto adalah dua santri yang sudah bersahabat lama sejak keduanya nyantri di Solo. Setiap hari mereka biasa runtang-runtung bersama.
Namun, setelah Joko menikah, ia semakin jarang pergi keluar. Setiap ditanya Kamto, ada saja alasan dari Joko untuk menolak ajakan keluar.
“Jok, ayo wedangan di HIK samping pondok,” ajak Kamto melalui pesan singkatnya kepada Joko.
“Wah, kamu kaya ndak tahu aja, Kang. Ini kan malam Jumat. Waktunya sunah rasul,” jawab Joko via HP jadulnya.
“Yo wes…” jawab Kamto.
Esoknya, Kamto tak menyerah untuk mengajak sahabatnya itu cangkrukan. Lagi-lagi Joko tak mau.
“Kalau kemarin, malam Jumat, aku maklum. Lha, sekarang malam Sabtu, je…” kata Kamto.
“Lha, kalau malam Jum’at itu kan sunah, Kang. Tapi lainnya itu ‘wajib’. Makanya kamu cepetan nikah. Hehe,” jawab Joko.
Kamto tidak membalasnya, hanya bisa mbatin. (Ajie Najmuddin)

Sumber: NU Online

Humor Santri: Ketika Gus Dur Masak Sop Ceker



Di tengah aku bicara itu, tiba-tiba, pikiranku kembali melayang-layang dan menemukan cerita seorang kawan tentang kisah Gus Dur masak sop ceker dan jeroan ayam. Aku tak tahu apakah ini benar atau humor saja. Tetapi aku mencoba membayangkan sendiri, aku menanyakan hal itu kepada Gus Mus.”Gus Mus, saya dengar dari cerita seorang teman, saat di Kairo, GD pernah masak sop ceker, ”sewiwi” (sayap), kepala dan jeroan ayam, ya?”.

Gus Mus tertawa terkekeh-kekeh. Beliau tak menjawab. Tetapi aku mengulangi saja cerita itu.

”Konon begini, Gus. Suatu hari Gus Dur bilang mau memasak sop istimewa untuk makan malam bersama teman-temannya.”

Sorenya dia pergi sendiri ke pasar. Di sana dia mencari penjual ayam potong dan meminta ceker, sayap, kepala dan jeroan. GD tahu bagian-bagian tubuh ayam biasanya akan dibuang saja. Jadi bisa gratis.

Penjual ayam potong itu bertanya, untuk apa, ya sayyidi?. Gus Dur menjawab spontan, ”Untuk makanan kucing di rumah.”

Ia menyembunyikan keinginannya untuk tertawa sendiri.

”Lakin Inta ta’khudz Kitir Awi” (Tapi anda kok mintanya banyak sekali)”.

”’Aiwah, alasyan Itat Kitsir awi’ (ya, karena kucingnya banyak sekali),”jawab Gus Dur dengan kalem dan tidak ketawa.

Gus Dur kemudian pulang membawa semua bagian-bagian tubuh ayam tersebut, lalu memasaknya. Kemudian teman-temannya dipanggil untuk ”mayoran” (pesta makan enak).

Saat mereka mengetahu apa yang dimasak GD ltu kaki, sayap kepala dan jeroan ayam, mereka bertanya,”Bagaimana sampeyan bisa mendapatkan ini, kok bisa, Gus?. Bagaimana sampeyan bilang kepada penjualnya?”

GD menjawab dengan tenang.”Aku katakan,’ini untuk kucing’ Ha ha ha.”

Semua tertawa terbahak-bahak, sambil menikmati makan enak masakan ala Gus Dur.

Mendengar cerita itu Gus Mus, tertawa terkekeh-kekeh. Aku juga.

”Gus, saat di sana, saya juga sering dan suka masak ceker, sayap, kepala dan jeroan ayam itu”.

Tetapi pada zaman saya, semua bagian-bagian yang dianggap tak berharga itu tidak lagi gratis. Aku terpaksa membayar, meski sangat murah. Rupanya para penjualnya sudah tahu, barang-barang itu bukan untuk kucing, tapi dimakan untuk manusia”.

Ha ha ha, kami berdua tertawa terbahak-bahak lagi.

Itu yang aku dengar dari teman beberapa waktu lalu, Gus.

Gus Mus masih tertawa kecil. Dan aku meneruskan cerita.

”Tapi saya dengar dari kawan lain bahwa saat itu Gus Mus ikut makan dan menikmati masakan Sop ala Gus Dur itu. Katanya yang dibeli Gus Dur itu bukan untuk makanan kucing, tapi anjing.

Lalu kawan itu menambahkan ceritanya begini,’Ketika beberapa waktu kemudian Gus Dur pindah ke Bagdad, Irak, Gus Mus mencoba meniru Gus Dur, masak sop yang sama. Sampai di tempat, penjual potong ayam itu bertanya, kok lama sekali kalian ngga ke sini, anjingnya bagaimana?’”.

Gus Mus menjawab seenaknya saja, ”Rayih ila Bagdad (Sudah pindah ke Bagdad).”

Kali ini Gus Mus dan aku meneruskan tertawa kerasnya. Kali ini lebih panjang, karena di samping cerita itu lucu, juga jawaban tidak sesuai pertanyaan.

Gus Mus salah dengar, mengira penjual potong ayam itu bertanya, di mana temanmu itu?, padahal ”bagaimana anjingnya?”. Ha ha ha ha.

(KH Husein Muhammad, dipetik dari buku “Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus”)

Sumber: NU Online

Humor Santri: Poligami dan Berburu Kebaikan



Ubaid dan Umar merupakan alumni pondok pesantren. Semenjak di pondok keduanya selalu berburu dan bersaing dalam hal kebaikan, terutama di shalat lima waktu. Tapi pada kenyataannya Ubaid selalu kalah dari Umar.Suatu ketika Ubaid bertanya sama temannya itu. “Kang, kenapa sampean kok datang ke masjid selalu lebih cepat dari saya?”

“Soalnya istri saya dua. Istri yang pertama membangunkan saya dan istri yang kedua menyiapkan perlengkapan shalat saya,” jawab Umar santai.

Selang beberapa bulan, Ubaid pun berpoligami. Harapannya bisa seperti Umar. Benar, setelah poligami Ubaid hampir selalu terlihat lebih awal dari Umar berada di masjid.

“Kok sampean sekarang bisa mendahului saya datangnya, Kang? Resepnya apa?” Tanya Umar.

“Saya takut pulang ke rumah istri pertama yang marah-marah, jadi saya tiap hari tidur di masjid,” jawab Ubaid. (Ahmad Rosyidi)

Sumber: NU Online