Humor Santri: Yang Bawa HP Dibunuh



Udin sebenarnya sudah berada di masjid dan siap menunaikan shalat Jum’at. Tapi tiba-tiba pulang setelah ada pengumuman pengurus ta’mir masjid perihal jamaah yang bawa telepon genggam.Sesampai di rumah, ibunya bertanya: “Gak Jum’atan, Din?”

“Mboten, Buk (Tidak, Bu)!”

“Kenapa?”

“Karena saya bawa HP,” jawab Udin polos.

“Lah! Kenapa membawa HP kok tidak Jum’atan?” Sang ibu heran.

“Tadi pengurus ta’mir masjid kasih pengumuman, “Sing betho HP tolong dipatheni (Yang bawa HP harap dibunuh/dimatikan)”. Ya, saya lari!”

“Hoh?”

(Ahmad Rosyidi)

Sumber: NU Online

Humor Santri: Sepak Bola Mujahadah



Kalau dulu ada istilah “sepak bola gajah” untuk menyebut pada sebuah pertandingan yang sudah “diatur” hasilnya. Selain itu, mungkin perlu ditambahkan istilah baru “sepak bola mujahadah”, merujuk pada kisah perjalanan tim sepakbola Pondok Pesantren Al-Manshur pada Kompetisi Liga Santri Nusantara (LSN) U-17 tahun 2015.Betapa tidak, kesebelasan asal Popongan Klaten Jawa Tengah tersebut lolos sebagai juara grup, tanpa keluar keringat setetes pun.

Pertandingan pertama mereka menang WO, atas pesantren Al-Ikhlas Dawar. Selanjutnya, mereka ditantang Pesantren Ta’mirul yang sebelumnya mengalahkan Al-Ikhlas. Dasar bejo, entah karena faktor apa, tiba-tiba Ta’mirul tidak hadir dan kemudian dinyatakan WO. Al-Manshur pun kembali menang tanpa bertanding.

Usai menang, antara senang dan kecewa, para santri mengungkapkan perasaan mereka. Sebut saja Joko, Dul, dan Rokim.

Rokim: Wah, gak nyangka aku, tim kita bisa lolos.

Joko: Bagaimana ini kang. Sudah jauh-jauh datang ke Solo, kok malah ndak jadi bertanding?

Dul: Lha iya ta, semalam juga sudah direwangi mujahadahan, biar kita bisa lancar mainnya, je.

Rokim: Tapi. Apa ya karena mujahadahan itu, kita justru bisa menang tanpa bertanding?

Dul: hehe ya bisa jadi, berkah doanya Mbah Kiai.

Beberapa hari kemudian, dalam pertandingan semifinal grup, Al-Manshur akhirnya kalah telak, dibantai tim sepakbola Mambaul Hikmah Selogiri dengan skor 1-6.

Mungkin, malam sebelumnya mereka lupa mujahadahan atau mujahadahan tim lawan lebih ampuh? Barangkali, ini hanya terjadi di liga santri.

(Ajie Najmuddin)

Sumber: NU Online

Humor Santri: Tiga Hasanah



Karena saking sibuknya, seorang santri sudah lama sekali tidak bisa sowan ke kiainya. Maklum dia  sudah menjadi orang sukses. Suatu ketika santri ini berkesempatan sowan ke gurunya, dan seperti biasa setelah bersalaman dengan kiai, para tamu dipersilakan duduk lesehan di pendopo,  sang kiai pun duduk di depan para tamu. Setelah agak lama hening, sang kiai lalu menyapa santri itu yang kebetulan duduk di shaf paling depan.Kiai: Bagaimana keadaanmu, Cong?

Santri: Alhamdulillah sehat, berkat doa Kiai .

Kiai: Ya… syukurlah kalau begitu.

Setelah diam sejenak sang kiai kemudian melanjutkan pertanyaannya

Kiai: Saya dengar kamu berpoligami?

Sontak saja si santri  menjadi deg degan, berbagai perasaan berbaur dalam pikirannya, dari merasa bersalah, malu dan sebagainya. Lalu dengan agak gugup ia menjawab.

Santri:Ya, benar, Kiai.

Kiai: Hebat kamu, saya aja baru satu.

Mendengar pujian sang guru ia kembali tenang, kemudian melanjutkan perbincangannya

Santri: Tapi ada yang musykil, Kiai.

Kiai:  Lho kok bisa, apanya yang musykil ?

Santri:  Begini Kiai, sebetulnya saya hanya mau dua saja, seperti dalam  al Qur’an…

Ia belum sempat menyelesaikan kalimatnya karena keburu dipotong oleh sang Kiai.

Kiai: Lho..!  Di dalam  Al Qur’an bukannya sampai empat?

Santri: Maksud saya begini Kiai,saya sudah terlanjur punya tiga isteri, sementara dalam al Qur’an disebutkan hanya dua, “fid dunya hasanah” dan “fil akhiroti hasanah”, terus hasanah yang satu lagi  tempatnya di mana, Kiai?

“Grrrrrrrr…” semua yang hadir di pendopo tertawa.

(Hosni Rahman, Sukorejo Situbondo)

Sumber: NU Online

Humor Santri: Santri dan BMKG



Alangkah bangganya hati Pak Hasan ketika melihat buku rapor anaknya yang duduk di bangku Tsanawiyah sebuah pondok pesantren. Bagaimana tidak, nilai rapor putra kesayangannya dinominasi oleh angka 8 dan 9, BMKG salah satu mata pelajaran yang mendapat nilai 9. Setahu Pak Hasan BMKG adalah hal hal yang berkenaan dengan cuaca seperti hujan, angin dan lain-lain sebagaimana yang ia sering lihat di TV.Sepulang menengok anaknya, Pak Hasan menceritakan nilai Rapor putranya kepada keluarga maupun tetangga, mata pelajaran BMKG sepertinya menjadi perhatian khusus pak Hasan maklum ketika ia mondok dulu tidak ada materi ini, dan menurutnya saat ini santri sudah mulai moderen yang tidak hanya belajar tentang agama saja.

Tibalah saatnya liburan pondok, tak terkecuali putra Pak Hasan, Ahmad, dia juga pulang ke rumah menikmati liburan panjang. Di suatu sore Ahmad di datangi anak tengangganya, Rani yang masih SD. Dengan membawa buku LKS anak itu bermaksud menanyakan jawaban soal IPA.

Rani    : Om bisa bantuin Rani?

Ahmad : Ada apa Ran….?

Rani    : Ini lho Om soal nomor 5 Rani gak bisa jawab.

Ahmad : Coba lihat soalnya.

Ahmad kemudian membaca soal yang dimaksud Rani, berkali-kali ia membaca soal itu tetapi tidak juga ada jawaban yang terlintas di benaknya, dandengan agak kecewa ia pun mengembalikan LKS itu dan berkata;

Ahmad : Aduh… maaf Ran, soal yang ini saya tidak tahu jawabannya.

Rani  : Lho, itu kan berkaitan dengan cuaca Om, katanya pelajaran BMKG Om dapat nilai 9

Ahmad : Iya sih, tapi BMKG di rapor om bukan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, yang bekaitan dengan kecuacaan itu. 

Rani  : Terus apa dong…?

Ahmad : BMKG itu Bimbingan Membaca Kitab Gundul.

Hosni Rahman, dari Sukorejo Situbondo, Jawa Timur.

Sumber: NU Online

Humor Santri: Android NU yang Sensitif



PCNU di sebuah Kota menetapkan bahwa seluruh pengurus diwajibkan memiliki HP Andorid. Hal ini dimaksudkan agar komunikasi antar-pengurus lebih efektif dan efisien. Karena dengan HP Android, pengurus tidak hanya bisa telepon atau SMS saja, tetapi juga bisa posting gambar, mengirim file hingga broadcast hal-hal penting yang harus segera diketahui bersama.Karena sudah menjadi suatu keharusan dan demi kelancaran tugas tugas organisasi  Pak Samad  akhirnya meminta anaknya untuk membelikannya HP Android. 

Suatu hari menjelang tidur siang, Pak Samad terganggu oleh bunyi pesan HP barunya. Berkali-kali bunyi itu terdengar, maklum saja Pak Samad sudah masuk dalam grup Telegram PCNU yang beranggotakan puluhan orang.  

Aplikasi telegram pun dibukanya dan tampillah beberapa pesan dari rekan-rekan pengurus. Dari sekedar menulis “ wkwkwkwkwk”, “He he he he”, “Astaghfirullah.., Pak Samad…”,  hingga pertanyaan menggoda lainnya. Pertanyaan serius datang dari Rais Syuriyahnya

“Foto apa itu Pak Samad..?”.

Dalam keadaan malu campur bingung pak Samad menjawab sekenanya dengan menulis pesan;

“Itu Android NU…”

Pak Samad teringat ketika melaksanakan shalat Dzuhur berjamaah di Masjid tadi. Selesai shalat, ia mengambil HP-nya dan alangkah kagetnya saat melihat sebuah foto muncul di layar HP Androidnya. Pak Samad pun bermaksud menghapus foto itu dengan mengklik dialog-dialog yang tampil. Padahal ia sendiri belum menguasai seluk beluk HP Android. 

Apa yang dilakukan Pak Samad tersebut bukannya menghapus foto itu tetapi justru membuat sang fototer kirim ke grup Telegram PCNU-nya dan dilihat oleh seluruh anggota. 

Rupanya karena terburu-buru mengejar raka’at pertama waktu shalat berjamaah tadi, Pak Samad secara tidak sengaja meletakkan HP Androidnya di antara dua kakinya yang kebetulan hanya menggunakan kain sarung dengan posisi kamera menghadap ke atas. 

Karena saking sensitifnya HP sehingga tanpa disadari oleh si empunya, kamera HP Android itu bekerja dengan sendirinya, kamera super canggih itu mengabadikan obyek dalam sarung. (Hosni Rahman)

Sumber: NU Online

Humor Santri: Merampok Anggota DPR



Sekawanan perampok suatu sore memergoki seorang pria berdasi yang menenteng tas sedang berjalan sendirian di kawasan Senayan. Mangsa empuk telah datang, jangan sampai disia-siakan, pikir mereka.Sang pria dicegat, dan moncong senjata pun ditodongkan. “Berhenti! Serahkan semua uangmu! Cepat!!!”

Pria klimis itu gemetar, tapi masih berusaha membela diri, “Kalian jangan macam-macam. Kalian tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa. Saya ini anggota DPR. Pejabat wakil rakyat!!!”

“Hehe… Kalau begitu serahkan uang kami,” sahut perampok sembari menempelkan belati ke lehernya. (Mahbib)

Sumber: NU Online

Humor Santri: Jomblo dan Sunah Rasul


Joko dan Kamto adalah dua santri yang sudah bersahabat lama sejak keduanya nyantri di Solo. Setiap hari mereka biasa runtang-runtung bersama.
Namun, setelah Joko menikah, ia semakin jarang pergi keluar. Setiap ditanya Kamto, ada saja alasan dari Joko untuk menolak ajakan keluar.
“Jok, ayo wedangan di HIK samping pondok,” ajak Kamto melalui pesan singkatnya kepada Joko.
“Wah, kamu kaya ndak tahu aja, Kang. Ini kan malam Jumat. Waktunya sunah rasul,” jawab Joko via HP jadulnya.
“Yo wes…” jawab Kamto.
Esoknya, Kamto tak menyerah untuk mengajak sahabatnya itu cangkrukan. Lagi-lagi Joko tak mau.
“Kalau kemarin, malam Jumat, aku maklum. Lha, sekarang malam Sabtu, je…” kata Kamto.
“Lha, kalau malam Jum’at itu kan sunah, Kang. Tapi lainnya itu ‘wajib’. Makanya kamu cepetan nikah. Hehe,” jawab Joko.
Kamto tidak membalasnya, hanya bisa mbatin. (Ajie Najmuddin)

Sumber: NU Online

Humor Santri: Ketika Gus Dur Masak Sop Ceker



Di tengah aku bicara itu, tiba-tiba, pikiranku kembali melayang-layang dan menemukan cerita seorang kawan tentang kisah Gus Dur masak sop ceker dan jeroan ayam. Aku tak tahu apakah ini benar atau humor saja. Tetapi aku mencoba membayangkan sendiri, aku menanyakan hal itu kepada Gus Mus.”Gus Mus, saya dengar dari cerita seorang teman, saat di Kairo, GD pernah masak sop ceker, ”sewiwi” (sayap), kepala dan jeroan ayam, ya?”.

Gus Mus tertawa terkekeh-kekeh. Beliau tak menjawab. Tetapi aku mengulangi saja cerita itu.

”Konon begini, Gus. Suatu hari Gus Dur bilang mau memasak sop istimewa untuk makan malam bersama teman-temannya.”

Sorenya dia pergi sendiri ke pasar. Di sana dia mencari penjual ayam potong dan meminta ceker, sayap, kepala dan jeroan. GD tahu bagian-bagian tubuh ayam biasanya akan dibuang saja. Jadi bisa gratis.

Penjual ayam potong itu bertanya, untuk apa, ya sayyidi?. Gus Dur menjawab spontan, ”Untuk makanan kucing di rumah.”

Ia menyembunyikan keinginannya untuk tertawa sendiri.

”Lakin Inta ta’khudz Kitir Awi” (Tapi anda kok mintanya banyak sekali)”.

”’Aiwah, alasyan Itat Kitsir awi’ (ya, karena kucingnya banyak sekali),”jawab Gus Dur dengan kalem dan tidak ketawa.

Gus Dur kemudian pulang membawa semua bagian-bagian tubuh ayam tersebut, lalu memasaknya. Kemudian teman-temannya dipanggil untuk ”mayoran” (pesta makan enak).

Saat mereka mengetahu apa yang dimasak GD ltu kaki, sayap kepala dan jeroan ayam, mereka bertanya,”Bagaimana sampeyan bisa mendapatkan ini, kok bisa, Gus?. Bagaimana sampeyan bilang kepada penjualnya?”

GD menjawab dengan tenang.”Aku katakan,’ini untuk kucing’ Ha ha ha.”

Semua tertawa terbahak-bahak, sambil menikmati makan enak masakan ala Gus Dur.

Mendengar cerita itu Gus Mus, tertawa terkekeh-kekeh. Aku juga.

”Gus, saat di sana, saya juga sering dan suka masak ceker, sayap, kepala dan jeroan ayam itu”.

Tetapi pada zaman saya, semua bagian-bagian yang dianggap tak berharga itu tidak lagi gratis. Aku terpaksa membayar, meski sangat murah. Rupanya para penjualnya sudah tahu, barang-barang itu bukan untuk kucing, tapi dimakan untuk manusia”.

Ha ha ha, kami berdua tertawa terbahak-bahak lagi.

Itu yang aku dengar dari teman beberapa waktu lalu, Gus.

Gus Mus masih tertawa kecil. Dan aku meneruskan cerita.

”Tapi saya dengar dari kawan lain bahwa saat itu Gus Mus ikut makan dan menikmati masakan Sop ala Gus Dur itu. Katanya yang dibeli Gus Dur itu bukan untuk makanan kucing, tapi anjing.

Lalu kawan itu menambahkan ceritanya begini,’Ketika beberapa waktu kemudian Gus Dur pindah ke Bagdad, Irak, Gus Mus mencoba meniru Gus Dur, masak sop yang sama. Sampai di tempat, penjual potong ayam itu bertanya, kok lama sekali kalian ngga ke sini, anjingnya bagaimana?’”.

Gus Mus menjawab seenaknya saja, ”Rayih ila Bagdad (Sudah pindah ke Bagdad).”

Kali ini Gus Mus dan aku meneruskan tertawa kerasnya. Kali ini lebih panjang, karena di samping cerita itu lucu, juga jawaban tidak sesuai pertanyaan.

Gus Mus salah dengar, mengira penjual potong ayam itu bertanya, di mana temanmu itu?, padahal ”bagaimana anjingnya?”. Ha ha ha ha.

(KH Husein Muhammad, dipetik dari buku “Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus”)

Sumber: NU Online

Humor Santri: Poligami dan Berburu Kebaikan



Ubaid dan Umar merupakan alumni pondok pesantren. Semenjak di pondok keduanya selalu berburu dan bersaing dalam hal kebaikan, terutama di shalat lima waktu. Tapi pada kenyataannya Ubaid selalu kalah dari Umar.Suatu ketika Ubaid bertanya sama temannya itu. “Kang, kenapa sampean kok datang ke masjid selalu lebih cepat dari saya?”

“Soalnya istri saya dua. Istri yang pertama membangunkan saya dan istri yang kedua menyiapkan perlengkapan shalat saya,” jawab Umar santai.

Selang beberapa bulan, Ubaid pun berpoligami. Harapannya bisa seperti Umar. Benar, setelah poligami Ubaid hampir selalu terlihat lebih awal dari Umar berada di masjid.

“Kok sampean sekarang bisa mendahului saya datangnya, Kang? Resepnya apa?” Tanya Umar.

“Saya takut pulang ke rumah istri pertama yang marah-marah, jadi saya tiap hari tidur di masjid,” jawab Ubaid. (Ahmad Rosyidi)

Sumber: NU Online

TPQ ini Berikan Bimbingan Belajar Agar Santri Tetap Minat Mengaji

Jombang,
Di sejumlah daerah, minat pelajar untuk mengaji Al-Qur’an semakin menurun. Karenanya Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) ini memberikan bimbingan belajar kepada para santri sehingga tetap bertahan dan semangat dalam belajar agama.
  Continue reading TPQ ini Berikan Bimbingan Belajar Agar Santri Tetap Minat Mengaji

Perpustakaan Mutamakkin Bedah Buku Keliling Pesantren dan Sekolah

Pati,
Perpustakaan Mutamakkin mengadakan roadshow bedah buku “Kuntul Nucuk  Bulan”, sebuah Novel yang bercerita tentang dunia Pesantren, karya Sahal Japara. Kegiatan tersebut digelar di Pondok Pesantrean APIK Kajen Margoyoso Pati, Jawa Tengah, Selasa 12 Januari 2015.  
Continue reading Perpustakaan Mutamakkin Bedah Buku Keliling Pesantren dan Sekolah

PBNU Siap Gelar Apel Kebhinnekaan Lintas Iman Bela Negara

Jakarta, NU Online
PBNU menggagas Apel Kebhinnekaan Lintas Iman Bela Negara yang akan digelar di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat pada Ahad, 17 Januari 2016. Kegiatan tersebut melibatkan warga dari ragam umat beragama Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Juga warga dari Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) .
Continue reading PBNU Siap Gelar Apel Kebhinnekaan Lintas Iman Bela Negara

Panitia Minta Maaf Atas Tarian di Atas Sajadah

Jakarta,
Panitia Hari Amal Bhakti (HAB) ke-70 Kanwil Kementerian Agama DKI Jakarta menyampaikan permohonan maaf kepada umat Islam terkait peristiwa tarian Bali di atas sajadah dalam rangkaian peringatan HAB di Kantor Kanwil DKI Jakarta, Ahad (03/01) lalu. Continue reading Panitia Minta Maaf Atas Tarian di Atas Sajadah

Empat Mahasiswa Asal Kediri Magang di BMT-NU Jombang

Jombang,
Empat mahasiswa asal Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kediri akan magang di Baitul Mal wat-Tamwil Nahdlatul Ulama (BMT-NU) Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Kedatangan mereka diterima di aula kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Senin siang (4/1).
Continue reading Empat Mahasiswa Asal Kediri Magang di BMT-NU Jombang

Dengan Takbir dalam Shalat, Seharusnya Lebih Tawadu’

Magelang,
Nabi Muhammad SAW datang ke muka bumi untuk menyempurnakan akhlak manusia. Itu merupakan tugas utama Rasulullah SAW, kemudian baru memerintahkan shalat, zakat dan semuanya bermuara untuk perbaikan akhlak manusia.
Continue reading Dengan Takbir dalam Shalat, Seharusnya Lebih Tawadu’

PCNU Probolinggo Santuni Dhu’afa dan Gerakkan Ekonomi MWCNU

Probolinggo,
Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Probolinggo melakukan kunjungan ke Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Wonomerto, Ahad (3/1). Pada kesempatan kunjungan yang dialngsungkan di Masjid Al-Barokah Desa Tunggak Cerme, PCNU Probolinggo memberikan santunan kepada 20 orang dhu‘afa dan bantuan dana operasional kepada MWCNU setempat.
Continue reading PCNU Probolinggo Santuni Dhu’afa dan Gerakkan Ekonomi MWCNU