Dari sekian banyak perusahan jasa pengiriman barang di Indonesia, perusahaan paling tua sekaligus (ironisnya) milik negara, adalah PT POS Indonesia. Perusahaan yang didirikan sejak masa Hindia Belanda ini tiap harinya memang melakukan perbaikan disana-sini. Tapi entah kenapa, beberapa hal dari jasa pengiriman plat merah ini masih membuat pengusaha e-commerce/toko online untuk berpikir ulang menggunakan jasa mereka.

Berikut ini setidaknya ada 3 alasan jangan lagi menggunakan jasa PT POS Indonesia lagi. Setidaknya sampai mereka berbenah.

Muncul biaya tambahan yang tidak standar pada penerapannya

Biaya tambahan tersebut adalah asuransi + PPN 10% yang dalam struk pengiriman pos itu dilabeli dengan biaya HTNB (Harga Tanggungan Nilai Barang). Penentuan harga barang yang dikirim selama pengalaman pribadi kami adalah SESUKA-SUKANYA operator Pos Indonesia yang bertugas. Tidak peduli itu buku seharga 20.000, baju seharga 50.000, atau lainnya dia akan menentukan nilai barang tanpa menanyakan terlebih dulu harga aslinya.

Praktiknya penjual harus menanggung biaya dari mulai 500 rupiah sampai dengan 2000 rupiah per kiriman, dengan besaran biaya yang tidak bisa diduga.

Saran saja untuk PT POS Indonesia, benahi sistem sampeyan, masukkan perhitungan itu ke marketplace yang sudah bekerjasama dengan sampeyan, biar penjual tidak dirugikan.

Pengantaran Barang yang Molor karena Budaya Perusahaan yang Masih Senin-Sabtu dan Banyak Libur

Memang PT Pos Indonesia ini salah satu BUMN, tapi apakah di era disruptif seperti sekarang dengan kemunculan jasa kurir yang semakin menjamur tidak jadi cambuk bagi direksi Pos Indonesia untuk setidaknya mengubah budaya perusahaan. Kenapa harus buka jam 8 dan tutup jam 14. Atau libur di hari Minggu dan hari libur bukan hari raya?

Imbasnya, pengantaran paket akan molor dari biasanya, karena menunggu bukan sabtu/minggu/hari libur, atau lebih konyol lagi, karena menunggu jam kerja yang sudah habis.

Yakinkah jasa kurir ini tidak ditinggalkan lambat laun?

Saran saja duhai direksi, terapkan sistem Shift Kerja. Jasa kurir sebelah saja bisa, masak sampeyan nggak bisa?

Customer Care Yang Tidak Solutif

Ya, tidak solutif. Ruwet jika anda akan mengurus paket yang gagal dikirim, tidak terkirim atau dikembalikan ke pengirim. Anda harus mengurusnya ke kantor Pos pusat di kota sampeyan. Merugikan penjual, baik tenaga dan waktu. Dan satu lagi, harus menunggu bukan hari libur/minggu, dan jam kerjanya itu. Hehe, ampun!

Setidaknya itu 3 alasan yang bisa sampeyan pikirkan, sekali lagi untuk tidak menggunakan jasa PT POS Indonesia sampai masalah-masalah diatas diperbaiki.

NB. Tulisan ini murni pemikiran pribadi, yang jadi alasan kenapa tidak lagi menggunakan jasa Pos Indonesia. Semoga Pos Indonesia berbenah segera. Sudah rugi 500 rupiah x 200 paket, sementara off dulu oh Pos Indonesia.