Archimedes, Syracuse dan Eureka! Benarkah ahli fisika itu menggunakan cahaya matahari untuk menyelamatkan kota kelahirannya, Syracuse?

Syahdan, pada 213 Sebelum Masehi, pasukan angkatan laut Romawi menggempur kota Yunani Syracuse. Menurut yang empunya cerita, Archimedes berhasil menyelamatkan kota itu (kota kelahirannya dengan memantulkan sinar matahari ke arah kapal-kapal musuh, dan membakar ludes mereka. Tapi, benarkah itu terjadi atau kisah itu tak lebih mitos belaka? Dua fisikawan dari Universitas Leicester, Inggris, bergairah menyibak misteri cerita lama ini.

Kisah bahwa Archimedes menggunakan senjata yang pamungkas dengan memanfaatkan sinar matahari, seperti banyak pengetahuan kita lainnya tentang Yunani Kuno, datang terutama dari sumber-sumber Abad Pertengahan. Menurut sejumlah laporan kala itu, Archimedes menggunakan tameng-tameng pasukan Yunani yang dihaluskan permukaannya sehingga mengkilat seperti cermin untuk memantulkan sinar matahari. Tapi sejumlah sumber lainnya menyatakan bahwa Archimedes menggunakan sebuah cermin raksasa.

”Dia berhasil membakar seluruh kapal-kapal Romawi,” tulis Johannes Zonaras, seorang sejarawan Bizantium pada Abad ke-12. ”Dengan mengarahkan cermin ke arah matahari, dia mengkonsentrasikan cahaya matahari dan mengarahkannya pada kapal-kapal itu: dan karena tebal dan halusnya, cermin itu membakar udara dan membentuk obor besar yang membakar semua kapal.” Teori optik yang dikemukakan zonaras tentu saja salah — cermin tebal tidak lebih baik dari cermin tipis. Dan sulit dipahami jika Archimedes melakukan kesalahan yang sama. Di antara bakat-bakat Archimedes yang menonjol adalah bahwa dia juga seorang ahli dalam bidang optik.

Pada 1973, AC Claus, seorang fisikawan pada Universitas Loyola di Chicago, Amerika Serikat, memperkuat kisah ksiah kuno itu dengan mendemonstrasikan sebuah mekanisme yang primitif tapi efektif yang mungkin digunakan oleh pasukan Yunani kala itu. Tapi, Alan Milss dan Robert Clift pada Universitas Leicester, Inggris, belum lama ini justru mengajukan analisis pantulan sinar matahari yang menunjukkan bahwa kisah itu hanya kemungkinan kecil terjadi.

Buku-buku teks tentang optik umumnya memandang sinar matahari sebagai sinar-sinar yang memancar sejajar dari sebuah titik tunggal. Tapi, matahari bukanlah titik yang tunggal. Di langit dia memiliki diameter sekitar 0,5 derajat. Karena itu, sinarnya tidaklah sejajar benar, dan ketika mereka dipantulkan melalui jarak yang panjang, sinar itu akan menyebar. Maka, mustahil menggunakan cermin datar untuk memusatkan sinar matahari secara efisien.

Mills dan Clift menghitung efek apa yang terjadi jika 440 orang yang masing-masing membawa cermin logam berpermukaan halus seluas satu meter persegi secara serentak memantulkan sinar matahari ke arah sebuah papan kayu pada jarak 50 meter. Hasilnya: areal hangus pada kayu hanya seluas setengah meter persegi. Karena itulah, Mills dan Clift menyimpulkan bahwa kisah itu hanya sebatas mitos.

Para sejarawan juga cenderung meragukan kebenaran kisah tadi. Menurut Geoffrey Lloyd dari Universitas Cambridge, misalnya, banyak kisah populer tentang Archimedes sebenarnya merupakan karangan. Tak hanya tentang cermin pembakar itu. Bahkan, hanya ada sedikit dukungan bukti bahwa Archimedes pernah berteriak ”Eureka!” (Aku Tahu!) di bak kamar mandinya ketika dia menemukan rahasia benda mengapung di air (yang belakangan dikenal dengan Hukum Archimedes), untuk kemudian berlari telanjang di jalanan.

Bagaimanapun, Mills mengungkapkan, bahwa mungkin ada sedikit kebenaran dalam kisah itu. ”Cermin bisa menjadi senjata anti-manusia yang sangat efektif,” katanya. Menurutnya, jika 50 cermin sekaligus diarahkan pada seseorang, maka orang itu akan terbakar parah. Senjata itu bisa menjadi penentu kemenangan, jika misalnya diarahkan pada para jurumudi kapal-kapal Romawi itu.

Sumber: Republika