Jakarta, Bareskrim Polri pada selasa tanggal 21 Juni yang lalu berhasil menangkap lima orang tersangka pemalsuan vaksin yang berbasis produksi di Pondok Aren, Tangerang Selatan, Banten. Dalam penggrebekan ditemukan ada beragam ampul vaksin untuk campak, polio, hepatitis B, tetanus, dan TB siap dijual ke fasilitas kesehatan di daerah Jakarta dan sekitarnya.

Diketahui kandungan yang terkandung dalam vaksin palsu tersebut adalah antibiotik gentamicin dicampur dengan cairan infus.

Terungkapnya praktik pembuatan vaksin palsu tersebut dikomentari oleh dr Piprim Basarah Yanuarso, SpA(K), dari RS Cipto Mangunkusumo merupakan sesuatu yang mengkhawatirkan. Tujuan awal vaksin yang seharusnya memberikan perlindungan terhadap penyakit malah bisa berbalik menjadi sumber penyakit.

“Vaksin palsu itu tentunya berbahaya dari beberapa faktor. Bisa dari sterilitas karena kan enggak sembarangan untuk bisa bikin obat atau vaksin yang steril itu. Kalau nggak steril terus disuntikkan ke tubuh nanti risiko infeksinya tinggi,” kata dr Piprim kepada detikhealth dan ditulis Kamis (23/6/2016).

Lebih jauh dr Piprim menjelaskan karena vaksin palsu tersebut mengandung antibiotik, risiko lainnya yang muncul adalah bahaya reaksi alergi berat (shock anafilaktik) dan juga resistensi. Keduanya merupakan risiko dari pemberian antibiotik sembarangan.

“Kalau vaksin asli kan sudah melalui good manufacuring practice (GMP) ada quality kontrol. Ini kan bikin-bikin sendiri oplos sendiri, bisa bayangkan kacau banget keamanannya tidak terjamin sama sekali,” kata dr Piprim.

“Kalau antibiotik yang kita takutkan itu reaksi alergi berat. Bisa juga ke arah resistensi karena orang nggak ada indikasi tapi malah dikasih antibiotik,” lanjut dokter pendiri Rumah Vaksin ini.

Sumber: detikHealt