Shalat Tapi Tidak Hafal Alfatihah?

Oleh Hengki Ferdiansyah

Membaca Al Fatihah itu salah satu dari rukun Shalat. Jika orang secara sengaja tidak membaca Al Fatihah pada shalatnya, secara fiqih shalatnya tidak sah. Dalam Fathul Muin, Syech Zainuddin Al Malibari menjelaskan:

ورابعها قراءة فاتحة كل ركعة في قيامها لخبر الشيخين “لا صلاة لمن لم يقرأ بفاتحة الكتاب” أي في كل ركعة

Artinya, “Rukun shalat keempat ialah membaca Al-Fatihah pada tiap rakaat shalat saat berdiri berdasarkan hadis riwayat Al-Bukhari-Muslim (Syaikhaini), ‘Tidak sah shalat orang yang tidak membaca al-Fatihah’, maksudnya pada tiap rakaat”

Maka wajar saja, ulama fiqh dan hadis sependapat bahwa tidak sah shalat seseseorang jika dia tidak membaca Al Fatihah. Terus bagaimana statusnya orang mualaf atau orang yang memang belum bisa hafal Al Fatihah atau membaca Al fatihah?

Bagi orang yang tidak hafal surat Al-Fatihah, Syekh Zainuddin Al-Malibari menjelaskan sebagai berikut:

ومن جهل جميع الفاتحة ولم يمكنه تعلمها قبل ضيق الوقت ولا قراءة في نحو مصحف، لزمه قراءة سبع آيات ولو متفرقة لا ينقص حروفها عن حروف الفاتحة، وهي بالبسملة بالتشديدات مائة وستة وخمسون حرفا بإثبات ألف مالك. ولو قدر على بعض الفاتحة كرره ليبلغ قدرها وإن لم يقدر على بدل فسبعة أنواع من ذكر كذلك فوقوف بقدرها

Continue reading Shalat Tapi Tidak Hafal Alfatihah?

Cara Sholat Tahiyatul Masjid Yang Benar

Oleh Hengki Ferdiansyah

Islam menganjurkan umatnya untuk senantiasa menjaga adab dan etika pada saat masuk masjid. Sebab itu, ketika masuk masjid dianjurkan membaca doa, dalam kondisi suci, memakai pakaian bersih dan suci, serta memperbanyak amal saleh dan ibadah di dalamnya.

Salah satu ibadah yang disunahkan ketika berada di dalam masjid adalah shalat sunah tahiyyatul masjid. Kesunahan shalat ini didasarkan pada hadits riwayat Abu Qatadah bahwa Rasulullah SAW berkata: Continue reading Cara Sholat Tahiyatul Masjid Yang Benar

Al-Audah ila Iktisyaf Tsauratina, Kitab Pusaka Presiden Soekarno

Oleh A. Ginanjar Sya’ban
Kitab berjudul “al-‘Audah ilâ Iktisyâf Tsauratinâ” ini bernilai keramat. Kitab ini diterbitkan di Kairo pada tahun 1959 oleh al-Dâr al-‘Arabiyyah li al-‘Ulûm, dengan tebal 68 halaman. Saya mendapatkan salinan kitab ini dari perpustakaan Biblioteka Alexandria, Mesir.
Apa istimewanya kitab “al-‘Audah ilâ Iktisyâf Tsauratinâ” ini?

Continue reading Al-Audah ila Iktisyaf Tsauratina, Kitab Pusaka Presiden Soekarno

Bahas Akreditasi, 50 Pimpinan Perguruan Tinggi NU se-Indonesia Kumpul di Universitas Trunojoyo

Sekitar 50 Rektor/Pimpinan Perguruan Tinggi NU menggelar halal bihalal di Aula lantai 10 Gedung Rektorat Universitas Trunojoyo Madura, Senin 25 Juli 2016.
Acara ini dalam rangka mempererat tali silaturahim antar PTNU Jawa Timur sekaligus sosialisasi Peraturan Menristek Dikti No. 32 Tahun 2016 tentang Sistem Akreditasi Perguruan Tinggi yang baru,”  terang Wakil Ketua Lembaga Pendidikan Tinggi NU Jawa Timur Dr dr Siti Nur Asiyah. Hadir dalam acara ini Direktur Penjaminan Mutu Kemristek Dikti Prof Drh Aris Junaidi, PhD, Komisioner BAN PT Prof Ir Mansur Maksum PhD, Rektor Unijoyo Dr H Moh. Syarif dan Wakil Ketua PWNU Jawa Timur Prof Dr H Ali Mas’ud, MAg.
Menurut Aris Junaidi sistem pemeringkatan akreditasi PT sudah tidak lagi terakreditasi A, B, C. “Yang  sering dikeluhkan lulusan PT, saat program studinya masih terakreditasi C, beberapa instansi tidak mau menerimanya. Oleh karena itu konsep yang baru adalah terakreditasi Baik, Baik Sekali, dan Unggul. Harapannya pengguna lulusan bisa menerima lulusan perguruan tinggi,”paparnya.
Hal senada juga diamini Mansur Maksum, dalam sistem yang baru nanti dimungkinkan adanya deferensiasi instrumen akreditasi apakah PT tersebut PTS, PTN, PTN Badan Layanan Umum (BLU) ataupun BHMN. Secara umum akreditasi perguruan tinggi secara teknis akan dilakukan oleh BAN PT untuk Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi (AIPT) dan Lembaga Akreditasi Mandiri (LAM) untuk Akreditasi Program Studi.

Continue reading Bahas Akreditasi, 50 Pimpinan Perguruan Tinggi NU se-Indonesia Kumpul di Universitas Trunojoyo

Ketawadluan Sesungguhnya! Kyai Besar yang masih mau menata sandal Putra Kyainya Dulu

Di pesantren, setiap santri dilengkapi dengan ajaran adab serta tradisi tawadlu’nya. Mulai dahulu hingga sekarang kebiasaan menghormati siapa saja menjadi ciri khas santri Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyyah. Hal penting ini diajarkan hingga melekat menjadi karakter mereka sampai terbawa saat mereka pulang. Kelekatan karakter ini juga bisa dibuktikan pada  pemandangan yang tampak pada perhelatan Silaturrahim Nasional (Silatnas) Madrasah Taswiquth Thullab (TBS), Kudus yang digelar pada Sabtu (23/07).

Pada acara itu, Kiai Ahmad Arwan, seorang guru sepuh TBS sudah naik ke panggung terlebih dahulu. Ia diminta panitia untuk membuka acara. Di atas panggung, tampak beberapa kiai lain yang turut mendampingi, di antaranya KH Arifin Fanani, KH Munfaat Abdul Jalil, KH Hasan Fauzi Maschan dan beberapa kiai lain. Di tengah kegiatan berlangsung, KH Ulil Albab Arwani datang. Semua hadirin beranjak berdiri dari tempat duduknya hingga pengasuh Pesantren Yanbu’ul Qur’an ini duduk di atas panggung.

Continue reading Ketawadluan Sesungguhnya! Kyai Besar yang masih mau menata sandal Putra Kyainya Dulu

Jangan Sebut Santoso Dkk itu Mujahidin! Haram!

Pemberantasan radikalisme dan terorisme di bumi Nusantara agaknya masih tetap berat dilakukan. Meskipun satu per satu gerakan radikal bersenjata yang menimbulkan teror itu ditumpas, ternyata akar dan ranting-ranting pendukungnya masih bertebaran di mana-mana. Lihat saja, prosesi pemakaman para tersangka terorisme di berbagai belahan kota di Indonesia, ramai didatangi para ‘ikhwan’ seperjuangan si fulan.

Pun demikian dengan peristiwa terbaru seperti pemakaman Santoso, alias Abu Wardah yang tewas ditembak di area Pegunungan Poso Pesisir Utara minggu lalu. Internet nusantara disesaki dengan berbagai macam berita dan kabar hoax dan miris jika dikaitkan dengan upaya deradikalisasi.

40b4df8c-439d-4a08-996f-2dfc4e161516_169

Continue reading Jangan Sebut Santoso Dkk itu Mujahidin! Haram!

Inilah Waktu dan Lafal Niat Puasa Syawal

Niat merupakan salah satu rukun puasa dan ibadah lain pada umumnya. Hal ini didasarkan pada hadits Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa segala sesuatu itu bergantung pada niat. Saat niat di dalam hati seseorang menyatakan maksudnya, dalam hal ini berpuasa (qashad).

Di samping  qashad, seseorang juga menyebutkan hukum wajib atau sunah perihal ibadah yang akan dilakukan. Hal ini disebut ta’arrudh. Sedangkan hal lain yang mesti diingat saat niat adalah penyebutan nama ibadahnya (ta’yin).

Dalam konteks puasa sunah Syawwal, ulama berbeda pendapat perihal ta‘yin. Sebagian ulama menyatakan bahwa seseorang harus mengingat ‘puasa sunah Syawwal’ saat niat di dalam batinnya. Sedangkan sebagian ulama lain menyatakan bahwa tidak wajib ta’yin. Hal ini dijelaskan oleh Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami sebagai berikut.

(وْلُهُ نَعَمْ بَحَثَ إلَخْ ) عِبَارَةُ الْمُغْنِي وَالنِّهَايَةِ وَالْأَسْنَى فَإِنْ قِيلَ قَالَ فِي الْمَجْمُوعِ هَكَذَا أَطْلَقَهُ الْأَصْحَابُ وَيَنْبَغِي اشْتِرَاطُ التَّعْيِينِ فِي الصَّوْمِ الرَّاتِبِ كَعَرَفَةَ وَعَاشُورَاءَ وَأَيَّامِ الْبِيضِ وَسِتَّةٍ مِنْ شَوَّالٍ كَرَوَاتِبِ الصَّلَاةِ أُجِيبُ بِأَنَّ الصَّوْمَ فِي الْأَيَّامِ الْمَذْكُورَةِ مُنْصَرِفٌ إلَيْهَا بَلْ لَوْ نَوَى بِهِ غَيْرَهَا حَصَلَ أَيْضًا كَتَحِيَّةِ الْمَسْجِدِ ؛ لِأَنَّ الْمَقْصُودَ وُجُودُ صَوْمٍ فِيهَا ا هـ زَادَ شَيْخُنَا وَبِهَذَا فَارَقَتْ رَوَاتِبَ الصَّلَوَاتِ ا ه

Artinya, “Perkataan ‘Tetapi mencari…’ merupakan ungkapan yang digunakan di Mughni, Nihayah, dan Asna. Bila ditanya, Imam An-Nawawi berkata di Al-Majmu‘, ‘Ini yang disebutkan secara mutlak oleh ulama Syafi’iyyah. Semestinya disyaratkan ta’yin (penyebutan nama puasa di niat) dalam puasa rawatib seperti puasa ‘Arafah, puasa Asyura, puasa bidh (13,14, 15 setiap bulan Hijriyah), dan puasa enam hari Syawwal seperti ta’yin dalam shalat rawatib’. Jawabnya, puasa pada hari-hari tersebut sudah diatur berdasarkan waktunya.

Tetapi kalau seseorang berniat puasa lain di waktu-waktu tersebut, maka ia telah mendapat keutamaan sunah puasa rawatib tersebut. Hal ini serupa dengan sembahyang tahiyyatul masjid. Karena tujuan dari perintah puasa rawatib itu adalah pelaksanaan puasanya itu sendiri terlepas apapun niat puasanya. Guru kami menambahkan, di sinilah bedanya puasa rawatib dan sembahyang rawatib,” (Lihat Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami, Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj)

Untuk memantapkan hati, ulama menganjurkan seseorang untuk melafalkan niatnya. Berikut ini lafal niat puasa Syawwal.

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatis Syawwâli lillâhi ta‘âlâ. Artinya, “Aku berniat puasa sunah Syawwal esok hari karena Allah SWT.”

Adapun orang yang mendadak di pagi hari ingin mengamalkan sunah puasa Syawwal, diperbolehkan baginya berniat sejak ia berkehendak puasa sunah. Karena kewajiban niat di malam hari hanya berlaku untuk puasa wajib. Untuk puasa sunah, niat boleh dilakukan di siang hari sejauh yang bersangkutan belum makan, minum, dan hal-hal lain yang membatalkan puasa sejak subuh.

Ia juga dianjurkan untuk melafalkan niat puasa Syawwal di siang hari. Berikut ini lafalnya.

نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i sunnatis Syawwâli lillâhi ta‘âlâ. Artinya, “Aku berniat puasa sunah Syawwal hari ini karena Allah SWT.”

via NU Online

PBNU Instruksikan Tahlilan & Shalat Ghaib untuk Siti Fatmah Mustofa, Istri Gus Mus

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyampaikan duka mendalam atas wafatnya Nyai Hajjah Siti Fatma, istri Mustasyar PBNU KH A Mustofa Bisri  (Gus Mus), Kamis (30/6), pukul 14.30 WIB, di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr R Soetrasno Rembang, Jawa Tengah.

“Semoga Allah mengampuni seluruh kekhilafannya dan menerima amal-amal baiknya yang luar biasa,” kata Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Kamis (30/6) malam, di Jakarta. Continue reading PBNU Instruksikan Tahlilan & Shalat Ghaib untuk Siti Fatmah Mustofa, Istri Gus Mus

Hukum Berkumur dan Sikat Gigi Saat Puasa

Hukum berkumur saat puasa? Hukum sikat gigi saat puasa? mungkin itu adalah salah satu pertanyaan yang mengemuka tiap bulan puasa datang.

Kebersihan gigi dan mulut merupakan bagian dari keimanan. Demikian halnya dengan aroma mulut yang sedap bagian dari kebaikan itu sendiri. Islam menuntut kebersihan gigi dan mulut umatnya agar bersih dan segar melalui siwak, dan lainnya.

Hanya saja pada saat puasa anjuran untuk membersihkan gigi dan mulut perlu diatur waktunya. Pasalnya, pembersihan gigi dan mulut di siang hari perlu dihindari karena menyalahi keutamaan. Dikhawatirkan, terjadi hal-hal (yang diinginkan) seperti menelan air kumur atau air/perasa pasta gigi.

Menurut Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani dalam Nihayatuz Zain sebagai berikut.

ومكروهات الصوم ثلاثة عشر: أن يستاك بعد الزوال

Artinya, “Hal yang makruh dalam puasa ada tiga belas. Salah satunya bersiwak setelah zhuhur,” (Lihat Nihayatuz Zein fi Irsyadil Mubtadi’in, Cetakan Al-Maarif, Bandung, Halaman 195).

Kenapa bersiwak atau berkumur termasuk makruh?

Karena pembersihan mulut di saat puasa merupakan tindakan menyalahi yang utama. Utamanya adalah mendiamkan mulut dan aromanya yang kurang sedap apa adanya. Aroma ini yang lebih disukai Allah di hari Kiamat kelak.

Habib Abdulah bin Husein bin Thahir dalam karyanya Is‘adur Rafiq wa Bughyatut Tashdiq menyebutkan sebagai berikut.

ويكره السواك بعد الزوال للصائم لخبر “لخلوف” أي لتغير “فم الصائم يوم القيامة أطيب عند الله من رائحة المسك”.

Artinya, “Bagi orang berpuasa, makruh bersiwak setelah zhuhur berdasarkan hadits, ‘Perubahan aroma mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah pada hari Kiamat daripada wangi minyak misik,’”
(Lihat Is‘adur Rafiq, Cetakan Al-Hidayah, Surabaya, Juz I, Halaman 117).

Untuk itu, pengaturan berkumur dan sikat gigi mesti diatur. Sekurangnya kedua aktivitas itu bisa dilakukan sebelum zhuhur tiba demi mengejar keutamaan.

Sumber: NU Online

Pesantren Zaha Probolinggo Luluskan 1.477 Santri dari 11 Satuan Pendidikan


Probolinggo,

Pesantren Zainul Hasan (Zaha) Genggong Kecamatan Pajarakan Kabupaten Probolinggo kembali menggelar selamatan dan tasyakuran akhirussanah pendidikan dasar dan menengah, Senin (16/5). Tahun ini sebanyak 1.477 siswa atau santri dinyatakan lulus 100 persen dari 11 satuan pendidikan di bawah naungan Pesantren Zaha Genggong dengan membawa beragam prestasi pada berbagai bidang baik akademik maupun non akademik.

Selain dihadiri jajaran pengasuh pesantren dan wali santri, acara yang dilangsungkan di halaman P5 Pesantren Zaha Genggong itu dihadiri Kabid PMP dan PMA Dinas Pendidikan Provinsi Jatim Bambang Sudasto, Kabid Penma Kanwil Kemenag Provinsi Jatim H Supandi, Kabid Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Kabupaten Probolinggo Fathur Rosi dan Kasi Penma Kemenag Kabupaten Probolinggo H. Taufik.

Pengasuh Pesantren Zaha Genggong, KH. Mutawakkil Alallah mengatakan, selamatan dan tasyakuran akhirussanah yang dilaksanakan tiap tahun ini merupakan bentuk syukur atas keberhasilan masing-masing satuan pendidikan dalam mengantarkan kelulusan anak didiknya.

“Terima kasih kepada wali santri yang mengorbankan dana dan pikiran. Terima kasih kepada para pengurus, ustad dan ustadzah. Keberhasilan ini juga tidak terlepas dari barokah para pendiri pesantren,” ujarnya.

Ketua PWNU Jawa Timur ini berharap, apapun yang telah dicapai tidak membuat santri berpuas diri. Ia berpesan pengalaman dan ilmu yang ditimba di pesantren dijadikan modal dalam menatap masa depan dengan tetap menjaga aqidah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

“Semoga ilmu yang didapat barokah serta bermanfaat bagi diri sendiri dan masyarakat. Saya juga berharap apapun profesinya kelak, mudah-mudahan dengan ilmu yang didapat di pesantren, mampu menjadikan anak yang soleh dan solehah,” jelasnya.

Sementara Kepala Biro Pendidikan Pesantren Zaha Genggong, Abd Aziz Wahab menambahkan, Pesantren Zaha Genggong pada tiap satuan pendidikannya menerapkan 4 orientasi ketercapaian, yakni spiritual, sosial, pengetahuan dan ketercapaian keterampilan. 

“Tahun ini ada peningkatan sekitar 2.500 santri yang masuk pada tiap satuan pendidikan. Ini menunjukkan bahwa masyarakat sangat mengakui kualitas pendidikan di Pesantren Zaha Genggong. Dengan banyaknya santri yang masuk itu, saat ini kami kekurangan 53 ruang belajar. Namun, kami optimis dalam jangka 2 tahun akan terpenuhi,” katanya. (Syamsul Akbar/Zunus)

Sumber: NU Online

Kemenag Terbitkan Tujuh SK Perguruan Tinggi Agama Islam Baru


Jakarta,

Kementerian Agama melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Islam telah menerbitkan 7 Surat Keputusan (SK) Pendirian Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI). Selain itu, telah diterbitkan juga 2 SK Pendirian Sekolah Pascasarjana. Ke-9 SK ini diserahkan Direktur Pendidikan Tinggi Islam Amsal Bachtiar kepada para pimpinan PTKI di Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Selasa (17/05) seperti dikutip dari laman kemenag.go.id.

“Kami sebagai penyelenggara negara, sangat berterima kasih. Karena kami tidak bisa menyelenggarakan perguruan tinggi ini secara sendiri,” kata Amsal. 

Menurutnya, sampai saat ini, data mahasiswa se-Indonesia yang berumur 18-23 tahun berjumlah 7 juta orang. Sementara jumlah orang yang berusia 18 – 23 tahun di Indonesia mencapai sekitar 21 juta. “Artinya, ada sekitar 70%  tamatan SLTA yang tidak masuk bangku kuliah. Ini berarti pula, masih banyak alumni SLTA yang belum merasakan bangku kuliah, sementara yang kuliah hanya 30%,” kata Amsal.

Akan hal ini, Amsal meyakinkan para pendiri PTKI, bahwa peluang untuk mendapatkan mahasiswa masih sangat besar. Tantangannya adalah bagaimana PTKI dapat meyakinkan alumni SLTA dengan kualitas penyelenggaraan perguruan tinggi yang baik. Untuk itu, diperlukan sinergi positif antara pihak Pemerintah dengan kampus. 

“Kita akan tetap melakukan monitoring dan pengawasan. Jangan lupa akreditasinya diurus di BAN PT, ini penting, termasuk mengisi secara rutin Pangkalan Data Dikti secara online,” pesan Amsal. 

Ke-7 PTKI yang diserahkan SK Pendiriannya hari ini adalah Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Ar Risalah Ciamis, Jawa Barat; Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Syariah (STES) Darul Huda Mesuji, Lampung; Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Darul Ulum Kubu Raya, Kalbar; Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab dan Dakwah Masjid Sunan Ampel Surabaya, Jawa Timur; Institut Agama Islam Azmi Kotamobagu, Sulut; STEI Al-Amar Subang, Jawa Barat; dan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Hamzah Fansuri Subulussalam Aceh. 

Adapun dua SK Pendirian Pascasarjana yang diserahkan kepada Rektor Universitas Muhammadiyah Magelang, Jawa Tengah dan Rektor Institut Agama Islam Bunga Bangsa Cirebon, Jawa Barat. Red: Mukafi Niam

Sumber: NU Online

Inilah Bedanya Ulama Indonesia dengan Timur Tengah Menurut Ketum PBNU


Rembang,

Ketua Umum Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj mengatakan, di Timur Tengah tidak ada ulama yang nasionalis, sedangkan di Indonesia seorang ulama juga dikenal sebagai nasionalis.

Kiai asal Cirebon Jawa Barat ini kemudian menyebut beberapa nasionalis Timur Tengah yang bukan ulama, diantaranya Saddam Husain, dan Muammar Khadafi. Sementara dari kalangan ulama yang tidak nasionalis diantaranya, Hasan Banna dan pemikir sekaligus aktivis Islam politik Mesir, Muhammad Ghozali.

“Mereka ulama besar tapi bukan nasionalis. Yang nasionalis bukan ulama,” jelas Kiai Said saat peresmian Masjid Al-Amin, Desa Pamotan Kecamatan Pamotan Kabupaten Rembang, Selasa (17/5) kemarin.

Di Indonesia, lanjut kiai Said, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari adalah ulama nasionalis. Begitu juga Kiai Wahab Chasbullah. 

“Sampai-sampai KH Hasyim Asy’ari mengatakan, membela tanah air fardlu ‘ain. Setiap orang wajib (membela tanah air), sama dengan shalat. Siapa orang yang meninggal dalam rangka membela tanah air, mati sahid. Dan siapa yang membela dan memihak penjajah, boleh dibunuh. Walaupun kiai Hasyim tidak mengatakan kafir,” ungkapnya.

“Dari sini KH Hasyim Asy’ari mempunyai jargon, ‘hubbul wathon minal iman’. Ini bukti betapa nasionalismenya ulama Indonesia,” jelas alumus Universitas Umm al-Qura, Mekkah ini. (Aan Ainun Najib/Zunus)

Sumber: NU Online

Pimpinan Pusat IPNU Segera Gelar IDFWSP Ke-2


Jakarta,

Setelah sukses menggelar International Dialogue for World Student Peace (IDFWSP) pada 29 April 2016 lalu, Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP IPNU) bakal menggelar IDFWSP kedua di Yogyakarta pada 28-29 Mei mendatang di Hotel Sahid Ritz Yogyakarta dan nDalem Prabukusuman. Selain dialog perdamaian antar pelajar dunia, kegiatan tersebut juga akan dirangkai dengan kunjungan ke pesantren-pesantren dan beberapa situs bersejarah di Yogyakarta. 

Menurut Ketua PP IPNU Bidang Hubungan Internasional, Slamet, kegiatan ini merupakan lanjutan dari kegiatan sebelumnya dan akan dilanjutkan ke beberapa kota di Indonesia. 

Seperti acara sebelumnya, pada pertemuan di Yogyakarta nanti juga akan melibatkan berbagai organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan yang ada di kota pelajar tersebut. 

“Kegiatan ini merupakan salah satu cara kita untuk mengetahui tantangan-tantangan kehidupan Islam di luar negeri. Selain itu kegiatan ini juga merupakan ikhtiar untuk mengenalkan Islam nusantara pada mahasiswa-mahasiswa asing yang ada di Indonesia dan para aktivis dari pelbagai macam latar belakang untuk lebih mengenal Islam nusantara,” tutur Slamet, Rabu (18/5) di Jakarta.

Di samping itu, lanjut Slamet, dengan menghadirkan mahasiswa-mahasiswa asing yang ada di Indonesia diharapkan akan terjalin komunikasi yang intensif antara IPNU dengan berbagai organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan di luar negeri. Bahkan, melalui kegiatan ini juga diharapkan akan mampu tercipta peluang-peluang kerjasama strategis, khususnya dalam bidang kepelajaran internasional.  

“Tentu saja yang kita inginkan IPNU akan dikenal di berbagai negara di dunia, caranya tentu dengan menggandeng para mahasiswa asing dan aktivis internasional yang ada di Indonesia untuk berjalan bersama dengan IPNU,” imbuh Slamet.

Dalam kesempatan tersebut, akan hadir sebagai pembicara, KH. Mu’tashim Billah, Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Pandanaran, Yogyakarta, Malikah Feer (Belanda) dan Suprawat Umar (Thailand). Kegiatan yang rencananya akan digelar di 9 kota di Indonesia ini merupakan kerjasama Bidang Hubungan Internasional PP IPNU dan Konsorsium Sinar Pagi. (Wahyoe Nurhadi/Zunus)

Sumber: NU Online

Yenny Wahid: Indonesia “Surganya” Kaum Muslimin


Jepara,

Yenny Wahid, putri kedua pasangan Abdurrahman Wahid dan Sinta Nuriyah ini mengaku sudah mengunjungi lebih dari 50 negara. Dari kunjungan ke berbagai negara itu, ia merasa lega tatkala sudah kembali ke tanah air. 

“Kalau saya sudah kembali ke Indonesia nikmatnya sungguh luar biasa,” akunya dalam Maulid dan Tausiyah di Pesantren At-Taqiy, Desa Kalipucang Kulon Kecamatan Welahan Kabupaten Jepara, Selasa (17/5) malam. 

Di Indonesia, kata alumnus Universitas Harvard, Boston itu, warga bisa sekolah hingga ke jenjang tertinggi. Yenny merasa prihatin dengan apa yang terjadi di Nigeria. Di sana anak-anak kesulitan sekolah. Alih-alih mereka malah diculik oleh Bokoharam dan dijadikan budak seks. 

“Ironis pula yang terjadi di Afganistan. Anak-anak yang hendak sekolah harus berhadapan dengan tentara Taliban. Di China kondisinya juga demikian. Ingin sembahyang dilarang oleh Polisi negara tersebut,” kata perempuan bernama lengkap Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid ini. 

Yenny menegaskan bahwa Indonesia merupakan “surga” bagi kaum muslimin. Selain bisa sekolah sampai S3, seorang ibu bisa leluasa pergi ke pasar naik motor sendiri tanpa harus ditemani seorang lelaki. 

“Di Saudi nyetir saja dilarang. Nyoblos juga tidak boleh. Sehingga hak-hak perempuan sangat didiskriminasi,” tegasnya pada hadirin yang memadati kompleks pesantren asuhan KH Nur Cholis. 

Yenny menambahkan kondisi yang sudah baik itu harus terus dijaga. “Mari kita perkuat iman dan Islam kita jangan sampai rapuh,” imbuhnya. 

Sementara itu, Sinta Nuriyah menekankan kepada hadirin akan pentingnya menuntut ilmu. Menurut istri almarhum Gus Dur ini, dengan ilmu pengetahuan seseorang akan bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. 

Sebab itu, ia sangat mengagumi RA Kartini. Karena menurutnya perempuan asli Jepara ini berhasil mengangkat harkat dan derajat kaum wanita. (Syaiful Mustaqim/Zunus) 

Sumber: NU Online

Kiai Said Ajak Nahdliyin Teladani Akhlak Kiai Dimyati Romli


Jakarta,

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menyatakan bela sungkawanya atas meninggalnya salah satu rais syuriyah PBNU, KH Dimyati Romli Tamim pada Rabu, (18/5) di Jombang. 

“Mudah-mudahan arwah beliau diterima di sisi Allah. Dan mari kita meneladani akhlak, amal dan prinsip yang selalu dijalankan oleh Kiai Dimyati dan ayahnya, Kiai Romli. Kedua orang kiai tersebut merupakan mursyid dari Tarekat Kodiriyah wa Naqsabandiyah.

“Jamiyyah tarekat merupakan ciri khas NU. Di luar NU ngak ada. Adanya mungkin pendidikan, kesehatan, dan kepemudaan. Kalau tarekat, hanya ada di NU. Mudah-mudahan setelah ditinggal pemimpin tarekat ini, terus berlanjut tarekatnya,” katanya di Gedung PBNU.

Ia merasa prihatin dengan banyaknya tokoh tarekat yang belakangan ini meninggal, seperti Kiai Asrori Surabaya, Abah Anom Tasikmalaya, dan terakhir Kiai Dimyati Jombang ini. 

“Kita harus mewarisi tinggalan yang sangat mulia ini. Jangan sampai ciri khas NU ini hilang,” paparnya. (Mukafi Niam) 

Sumber: NU Online

Polrestabes Surabaya Gandeng NU Tangkal Kejahatan Asusila


Surabaya,

Kepala Kepolisian Resort Kota Besar (Kapolrestabes) Surabaya, Jawa Timur akan bersinergi dengan Nahdlatul Ulama (NU) dalam menerapkan nilai-nilai pendidikan agama Islam dalam masyarakat guna upaya menurunkan angka kejahatan yang berlatar belakang kenakalan remaja dan seksual.

Hal ini diungkapkan Kapolrestabes Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) Imam Sumantri saat berkunjung ke Kantor NU Surabaya, Selasa (17/5). “Sejak adanya kasus Yuyun , ini adalah momentum semua pihak untuk bersama-sama kembali meningkatkan kembali upaya penerepan nilai-nilai moral di masyarakat,” ujar Imam Sumantri.

Ia menambahkan dalam upaya mengurangi tingkat kejahataan dikalangan remaja, pihaknya juga berupaya memberikan penyuluhan pada masyarakat khususnya para ibu-ibu rumah tangga yang saat ini sebagaian besar sibuk bekerja karena membantu ekonomi keluarga. “Sekarang ini perhatian orang tua sangat penting, untuk itu Polrestabes saat ini memerintahkan kepada para Polwan untuk membantu memberikan penyuluhan pada ibu-ibu bagaimana mendidik dan mengarahkan putra-putrinya,” tambahnya.

Selain itu, pihaknya juga tidak keberatan dengan usulan NU Surabaya dan Gerakan Pemuda Ansor Surabaya untuk bersinergi dalam menekan  angka kenakalan remaja dengan jalan menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan dengan cara  berpatroli bersama. Tidak hanya itu, Polrestabes Surabaya bersama NU Surabaya akan menggelar  doa bersama untuk keselamatan bangsa dan Kota Surabaya sekaligus dalam rangka hari jadi Kota Surabaya yang direncanakan awal Juni 2016 jelang bulan suci Ramadhan.

“Kami berharap dengan doa akbar Surabaya menjadi aman, karena kedepan Surabaya banyak hajatan mulai hajatan lokal hingga internasional, dengan doa para Kiai NU diharapkan mampu menjaga kebaikan, semua ingin bagus dan baik,” ujarnya.

 Sementara itu, Ketua PCNU Surabaya KH Muhibbin Zuhri meminta kepada Polrestabes Surabaya untuk selalu menegakkan aturan khususnya perihal penjualan minuman keras dan minuman beralkohol serta kelompok-kelompok yang berupaya mengganti prinsip dasar negara Pancasila. 

Sedangakan Wakil Ketua NU Surabaya Musyafaq Rouf mengingatkan kembali pada Polrestabes tentang penutupan tempat-tempat hiburan selama bulan Ramadhan yang sudah tertuang dalam perjanjian.

Pertemuan ini juga dihadiri sejumlah Perwira Polisi dilingkungan Polrestabes Surabaya dan jajaran NU Surabaya dihadiri pengurus harian dan lembaga serta Pimpinan GP Ansor Surabaya. (Red: Fathoni)

Sumber: NU Online

Ini yang Selalu Diwasiatkan KH Dimyathi Romly kepada Santri


Jombang,

KH Ahmad Dimyathi Romly merupakan pribadi yang banyak dikagumi masyarakat dan santri serta para jamaah Thariqah Qadiriyah wan Naqsabandiyah dengan dirinya sebagai Mursyid. Salah satu pengurus Pesantren Darul Ulum Rejoso, Peterongan Jombang, KH Zaimuddin Wijaya As’ad mengungkapkan wasiat yang selalu disampaikan Kiai Dim kepada para santri.

“Apa yang selalu diwasiatkan almarhum kepada santri? Yang harus terus dijaga para santri adalah akhlakul karimah,” kata Kiai Zaim mengingat wasiat almarhum. Demikian pula para santri diharuskan untuk mencari keberkahan ilmu. 

“Biar pun ilmu yang didapat sedikit, asal berkah tentu akan lebih bermanfaat kepada diri dan masyarakat,” ungkap Gus Zu’em, sapaan akrabnya. Tentu saja akan lebih baik kalau ilmunya banyak dan berkah, lanjutnya.

Bagi Kiai Zaim, Pesantren Darul Ulum sekarang memiliki banyak lembaga pendidikan formal dan sejumlah kelebihan yang layak dibanggakan. “Kiai Dimyati telah mewariskan banyak hal di pesantren ini,” kata alumnus Universitas Gajah Mada tersebut. Tugas para kiai dan pimpinan di Darul Ulum, lanjutnya, adalah menjaga dan meneruskan prestasi yang telah ditorehkan Kiai Dimyati.

KH Dimyathi Romly meninggal, Rabu (18/5) sekitar pukul 13.00 WIB di RS Airlangga Jombang. Sebelumnya Kiai Dim menderita penyakit komplikasi, namun tetap beraktifitas, dan dirawat di kediamannya, namun sempat dirawat selama 4 hari di rumah sakit tersebut. 

Dalam keseharian, Kiai Dim yang merupakan alumnus IAIN (sekarang UIN) Sunan Ampel Surabaya ini mengasuh asrama khusus santri putra, Hidayatul Qur’ani atau Haqi. Dan jam 21.00 WIB malam ini jenazah dimakamkan di kawasan asrama yang diasuhnya tersebut. Selamat jalan Kiai Dim. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Sumber: NU Online

Pesantren Milik Santri dan Masyarakat


Way Kanan,

Santri Assiddiqiyah 11 dan peserta Pesantren Kilat Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (Sanlat BPUN) Way Kanan 2016 menggelar musyawarah diikuti 50 peserta membahas “masa depan” pesantren asuhan Kiai Imam Murtadlo Sayuthi itu. Hasil disepakati bahwa pesantren bukan hanya milik santri tapi juga milik masyarakat. Strategi diterapkan pesantren menjadi tempat bersih nyaman sebagai ruang menarik untuk silaturahmi dan mengedukasi masyarakat.

“Bersih dan sehat adalah sesuatu yang wajib bagi manusia. Karena itu membersihkan lingkungan pesantren bersama-sama menjadi hal wajib untuk dilakukan para santri mengingat hal tersebut berdampak positif bagi kualitas hidup,” ujar peserta BPUN Septiana Nurul Fajriah, di Kampung Labuhan Jaya, Kecamatan Gunung Labuhan Kabupaten Way Kanan Provinsi Lampung, Rabu (18/5).

Menindaklanjuti kesepakatan bersama itu, santri Assiddiqiyah dan BPUN bersinergi untuk bergerak bersama membersihkan pesantren dengan dibagi dalam tiga kelompok. 

“Kegiatan tersebut membuat pesantren kami lebih bersih, dan santri juga aktif menjaga dan membersihkan lingkungan pesantren. Kami ingin pesantren tempat belajar ini menjadi pelopor kebersihan, ramah lingkungan seperti menanam kencur dengan memanfaatkan popok bekas, dan tentunya dimulai dari tempat sendiri,” ujar Ardiansyah, santri Assiddiqiyah 11 asal Kabupaten Tanggamus Lampung.

Manajer BPUN Way Kanan Gatot Arifianto mengharapkan, pesantren bukan hanya dikenal sebagai tempat belajar mengaji tapi juga sebagai tempat rekreasi Islami bagi masyarakat dan warga sekitar.

“Kalau santri belajar di pesantren itu lumrah, tapi mengajak masyarakat untuk mau belajar mengaji dan merasa memiliki pesantren bukan perkara sederhana, ada beberapa tahapan harus dilakukan. Menjaga kebersihan pesantren adalah langkah awal, bukankah tamu harus dibuat nyaman dengan ruang dan lingkungan bersih? Ini harapan dan cita-cita kita bersama yang harus diwujudkan,” kata Koordinator The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) Lampung itu.

Peserta BPUN 2016 lain, Anisa Yuliani menambahkan, membuang sampah pada tempatnya, tidak mengotori alam dan selalu menjaga alam merupakan perilaku indah. “Kita sebagai santri harus terus bersemangat dalam menjaga lingkungan. Karena lingkungan bersih itu menandakan kualitas diri. Ayo terus kita jaga lingkungan dan ciptakan kebersihan,”  kata Anisa agi.

Beberapa peraturan lain telah disepakati guna membuat pesantren menjadi ruang bersih nyaman adalah menjaga kebersihan kamar mandi, melepas alas kaki saat memasuki asrama dan kamar mandi, mematikan lampu tidak digunakan, hemat air, menjaga kebersihan lingkungan pesantren dengan membuang sampah pada tempatnya sesuai dengan jenisnya serta memanfaatkan yang masih bisa dimanfaatkan.

Untuk diketahui, pada peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2016, Pesantren Assiddiqiyah 11 dan Pesantren Al-Falakhuss’adah asuhan Kiai Zainal Ma’arif di Kampung Tanjung Kecamatan Pakuan Ratu berpartisipasi aktif dengan menerjunkan para santri untuk membersihkan lingkungan sekitar. (Riky Riyan Saputra/Fathoni)

Sumber: NU Online