Santri Cirebon Sambut Tahun Baru Hijriyah dengan MQK

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Santri Membaca Kitab Kuning
Santri Membaca Kitab Kuning

CIREBON, ARRAHMAH – Menyambut tahun baru 1437 hijriyah, delegasi santri se-wilayah III Cirebon, meliputi kabupaten Cirebon, Kuningan, Majalengka, dan Indramayu berkumpul di halaman Madrasah Aliyah NU Assalafie Babakan Ciwaringin Cirebon, Rabu (14/10).

Mereka tengah berkompetisi dalam memahami kitab kuning atau dikenal dengan Musabaqoh Qiro’atil Kutub (MQK). Ajang lomba ini rutin diadakan Forum Kajian Kutub Turots (Fokta) Pondok Pesantren Putra Putri Assalafie Babakan Ciwaringin Cirebon.

“Alhamdulillah event bersifat ilmiah ini sudah menjadi agenda rutin para santri se-wilayah III Cirebon, mereka sangat antusias mengikutinya,” jelas ustadz Amin Khafidzin Busyo sebagai ketua panitia pelaksana.

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Sementara itu, pengasuh Pesantren Putra Putri Assalafie KH. Azka Hammam Syaerozie menegaskan bahwa “Memahami kitab kuning sebagai tradisi intelektual pesantren bukan saja terkait pada lingkup kajian agama, akan tetapi kitab kuning sebagai-hasil karya intelektual ulama klasik-juga mencakup berbagai disiplin keilmuan lainnya, seperti kedokteran, astronomi, filsafat, antropologi dan lain sebagainya.”

Ada tiga marhalah (tingkatan) yang dilombakan, yaitu ula, wustho dan ulya. Setiap marhalah mencakup tiga displin keilmuan, yaitu ilmu fikih, ilmu alat dan ilmu tasawuf. Hal ini mengacu pada standar nasional pelaksanaan Musabaqoh Qiroatil Kutub (MQK).

Pada seremonial pembukaan kegiatan MQK tahun 2015 ini dihadiri oleh Kepala Seksi Pendidikan Pondok Pesantren Kementerian Agama Kabupaten Cirebon, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Cirebon, Ketua Forum Pondok Pesantren (FPP) Cirebon, Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI), anggota DPRD se Wilayah III Cirebon, beberapa pengasuh dan Kiai pondok pesantren se wilayah III Cirebon.

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Sumber arrahmah.co.id

NU-santara 2015 akan Diramaikan 250 Kader Terbaik KMNU

Kader Perempuan Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU)
Kader Perempuan Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU)

BOGOR, ARRAHMAH – 250 mahasiswa dari 12 perguruan tinggi negeri dari seluruh Indonesia dan Malaysia akan turut merayakan NU-santara 2015 (Nahdlatul Ulama Science and Cultural Art Olimpiad). Mahasiswa dari dalam dan luar negeri ini merupakan kader Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU).

Keduabelas perguruan tinggi tersebut adalah Universitas Lampung (Unila), Institut Pertanian Bogor (IPB), Iniversitas Indonesia (UI), Sekolah Tinggi Akuntasi Negara ( STAN), Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Univesitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Islam Indonesia (UII), Universitas Diponegoro (Undip), dan IIUM. Seluruh peserta siap meramaikan acara Nusantara yang rencananya akan digelar pada 16-18 Oktober 2015 nanti.

Antusiasme kader KMNU begitu tinggi menurut Kiki, panitia kegiatan yang diselenggarakan KMNU ini. Menurutnya, hal ini menunjukkan kader KMNU memiliki militansi dan semangat juang yang tinggi untuk beajar dan mengikuti lomba pada NU  rilis KMNU Online, Jum’at, (09/10/2015)

“Kami selaku panitia akan menyiapkan segala sesuatunya dengan baik guna menyambut kader-kader tebaik KMNU.” tuturnya

Rangkaian acara yang akan digelar pada acara NU-santara 2015 terdiri dari berbagai lomba yang terdiri dari lomba hadrah, dan essay . Selain itu digelar pula Pelatihan Nasional yang terdiri dari pelatihan Kajian, ke NU-an dan Ke-KMNU-an, Administrasi dan Keuangan , IT dan Jurnalistik, dan NU-Training. Kegiatan lain yang diadakan adalah forum pembina KMNU Nasional yang bertujuan untuk meningkatkan silaturahmi antar pembina KMNU. Acara puncak dari NU-santara ini adalah Seminar Kebangsaan dan Kontemplasi Budaya yang akan digelar pada hari Ahad. Pada puncak acara ini akan diumumkan pemenang dari kegiatan lomba yang digelar serta akan digaungkan mars KMNU untuk pertama kalinya.

Puguh, koordinator acara menambahkan, pembukaan NU-santara 2015 akan dihadiri oleh Rais Aam PBNU K.H. Ma’ruf Amin. Sementara Seminar Kebangsaan dan Kontemplasi Budaya akan dihadiri oleh Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrowi S.Ag., M.Si., K.H. Zawawi Imran, dan Budayawan NU Sastro Al Ngatawi.

Kegiatan ini merupukan salah satu bentuk kegiatan yang mewadahi dan memfasilitasi pemikiran-pemikiran ilmiah para mahasiswa Nahdlatul Ulama dalam bidang potensi non akademik bidang keagamaan dan pelestarian tradisi, serta sebagai bentuk apresiasi terhadap prestasi para mahasiswa Nahdlatul Ulama, tutup ketua panitia. (Irfan/Etha)

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Sumber arrahmah.co.id

Karya Pemenang Lomba Cipta Mars KMNU Akan Diputar Pada Puncak NU-santara

Nahdlatul Ulama-Science and Cultural Art Olympiad (NU-santara)
Nahdlatul Ulama-Science and Cultural Art Olympiad (NU-santara)

JAKARTA – Nahdlatul Ulama-Science and Cultural Art Olympiad (NU-santara) menggelar lomba cipta Mars KMNU. Pendaftaran lomba cipta Mars Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) telah berakhir 2 Oktober lalu. Penjurian telah dilakukan dan pemenang dengan karya Mars terbaik akan diumumkan pada 9 Oktober 2015.

Para pendaftar lomba Mars KMNU merupakan mahasiswa atau alumni mahasiswa yang berlatar belakang Nahdlatul ‘Ulama baik yang aktif sebagai civitas (kader, anggota, dan pengurus) organisasi ke-NU-an maupun bukan. Pendaftar lomba Mars NU-santara 2015 berasal dari kader NU UGM, UNILA (Universitas Negeri Lampung), UNPAD, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Unibraw Malang.

Lomba Mars dimaksudkan meningkatkan kecintaan terhadap KMNU dan NU itu sendiri. “Lomba Pembuatan Mars KMNU ini diharapkan bisa meningkatkan rasa memiliki anggota terhadap KMNU, selain itu dapat menjadi pelengkap atribut KMNU,” terang Presidium 2 KMNU Pusat Azkiya Maysari.

Hadiah untuk pemenang Lomba Cipta Mars adalah uang tunai sebesar Rp 1.000.000,00. Mars KMNU, akan diperdengarkan pertama kali saat acara puncak Seminar Kebangsaan dan Kontempelasi Budaya yang akan dihadiri oleh Ketua Umum PBNU dan KEMENPORA pada 18 Oktober 2015 di Institut Pertanian Bogor. (Trini)

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Sumber arrahmah.co.id

KH. Sa’adih Al-Batawi, Sang Khadimul Ummat

KH Sa'adih Al-Batawi
KH Sa’adih Al-Batawi

Syaikh KH Sa’adih Al-Batawi adalah Pimpinan Majelis Dzikir As-Samawat dan pembina Pondok Pesantren Daarul Mughni Al Maliky Al Hasany di Cileungi Bogor. Beliau Ulama Ahlusunnah Wal Jamaah yang sangat dekat dengan yatim, fakir miskin, sedikit tidur dan banyak lapar. Harta, tenaga, pikiran dan seluruh waktunya dihabiskan untuk mengajarkan ajaran Rasulullah SAW, tidak hanya melalui ajaran tapi melalui contoh dan prilaku. Dalam berda’wah beliau masuk ke tepi-tepi laut sampai naik ke ujung bukit dan pegunungan serta merambah ke berbagai pelosok wilayah nusantara. Beliau memberikan layanan pengobatan untuk umum bukan hanya untuk muslim secara cuma-cuma di rumahnya yang dilaksanakan setiap malam Selasa, Rabu, Kamis dan Sabtu, sedangkan malam lainnya beliau gunakan untuk berda’wah. Selain sebagai seorang ahli dakwah, beliau juga mengelola suberdaya ekonomi berbasis kerakyatan. Di bawah kepemimpinannya yang kharismatik, Majelis Dzikir As-Samawaat mengembangkan sumber ekonomi jamaah melalui BMT, Tambak Ikan, Tambak Udang dan kebun mangga, yang kesemuanya digunakan untuk kepentingan da’wah. Rencana ke depan beliau akan mengembangkan supermarket syariah.

Dengan pola manajemen da’wah modern beliau telah jauh memulai pengembangan laboratorium masyarakat melalui desa binaannya sejak tahun 1993. Dengan ketinggian sifat dermawannya dan layanannya kepada masyarakat yang bersifat cuma-cuma, murid-muridnya menyebut beliau sebagai ”khadimul ummat”. Beliau mengajarkan kepada muridnya Al-Qur’an dan Sunnah sebagai solusi kehidupan, dan menekankan hidup yang istiqomah. Dalam berda’wah beliau menekankan pentingnya kebersamaan sesama asatidz, dan menghindari one man show dan yang paling dilarang oleh beliau adalah meminta bayaran ketika berda’wah apalagi sampai pasang tarif (ittabiu man la yasalukum ajron). Dengan penuh kesabaran beliau mengajarkan kepada murid-muridnya baik dengan lisan maupun dengan contoh perbuatan tentang pentingnya hidup zuhud. Dalam metodologi pengenalan ajaran tasawuf yang disebutnya sebagai tasawuf intelektual dengan sangat menarik beliau membimbing seluruh murid-muridnya. Media khalwat beliau kenalkan dengan mempersiapkan tempat khusus di Desa Kohod, Tanjung Burung-Tangerang. Semuanya itu beliau lakukan hanya untuk menemukan dan mencari ridho Allah SWT. Beliau adalah tokoh tasawuf abad modern yang selalu membawa angin segar dari pemikiran keagamaannya sehingga murid-muridnya berasal dari berbagai kalangan, mulai dari rakyat biasa, ulama-ulama soleh, para jendral, pengusaha, praktisi hukum, hingga para akademisi.

Pada Tanggal 18 Rabiul Akhir 1429 H atau tanggal 25 April Tahun 2008 M. Sayyid Alawy Al Maliky bersilaturahmi ke Majelis Dzikir As-Samawat Jakarta. Dalam kesempatan tersebut Beliau memberikan Ijazah dan Amanah kepada Syaikh KH Sa’adih Al-Batawi sebagai khalifah di Indonesia, penerus ajaran Rasulullah SAW di bawah Panji Ahlu Sunnah wal Jama’ah yang berpusat di Ma’had Al-Maliky, Makkah Al-Mukarromah, Saudi Arabia.

Sayyid Abbas bin Sayyid Alawy Al Maliky Al Hasany adalah Ulama Ahlusunnah waljamaah di Makkah, adik kandung dari Sayyid Muhammad bin Alwy Al Maliky Al Hasany. As Sayyid Alwi bin Abbas Al Maliky Al Hasany ayahanda Sayyid Abbas bin Alawy Al Maliky seorang alim ulama terkenal dan ternama di kota Makkah. Beliau adalah salah satu guru dari ulama-ulama sepuh di Indonesia, seperti K.H. Hasyim Asy’ari. KH. Abdullah Faqih Langitan, dan Kyai Manshur, dan yang lainnya. Setelah beliau wafat penerus da’wahnya dilanjutkan oleh putra beliau sendiri yaitu As Sayyid Muhammad kakak dari Sayyid Abbas. Setelah kakaknya wafat pada tanggal 15 Ramadhan 1425 H (2004 M) yang dimakamkan di pemakaman Al Ma’la disamping makam istri Rasulullah SAW Khadijah binti Khuwailid ra., maka Sayyid Abbas berperan sebagai penerus Ma’had Al-Maliky Al-Hasany.

As-Sayyid Muhammad kakak dari Sayyid Abbas merupakan pendidik Ahlus Sunnah wal Jama’ah, seorang ’alim kontemporer dalam ilmu hadits, ’alim mufassir (penafsir) Qur’an, Fiqh, doktrin (’aqidah), tasawwuf, dan biografi Nabawi (sirah). Beliau adalah da’i, pengajar, pembimbing, dosen, dan juga penceramah penulis unggul. Tidak kurang dari 100 buku yang telah dikarangnya, yang telah beredar di seluruh dunia. Salah satu karyanya yang monumental adalah Mafahim Yujibu an-Tusahhah (Konsep-konsep yang perlu diluruskan).

Karya beliau banyak menantang rekan-rekan senegaranya, kaum Salafi-Wahhabi, dan membuktikan kesalahan doktrin-doktrin mereka dengan menggunakan sumber-sumber dalil mereka. Untuk keberanian intelektualnya ini, Sayyid Muhammad dituduh sebagai ”seorang yang sesat”. Beliau pun dicekal sebagai pengajar di Masjidil Haram. Kitab karangannya dilarang beredar, Jabatan Professor di Ummul Qura dicabut. Beliau ditangkap dan passport-nya dtahan. Namun, dalam menghadapi semua itu beliau sikapi dengan sabar dan bahkan cahaya keulamaannya dan tasawufnya semakin cemerlang. Namun dunia Muslim memaksa kaum Salafi-Wahhabi untuk menghentikan usaha tekanan tersebut dan akhirnya beberapa di antara mereka ada yang berpihak dan mendukung beliau.

Kegiatan As-Samawaat

Kegiatan-kegiatan As-Samawaat mencakup pada kegiatan lahiriyah dan batiniyah yang berupa pembangunan moral pribadi, keluarga dan masyarakat. Kegiatan besar yang telah dimiliki As-Samawaat sampai saat ini telah sampai pada 7 bentuk kegiatan yaitu :

1. Wadah pengobatan, yaitu As-Samawaat setiap malam Selasa, Rabu, Kamis dan Sabtu membuka pengobatan melalui terapi tasawuf. Pengobatan dimulai pukul 20.00 WIB sampai 04.00 WIB dengan pelayanan cara Islami dan muatan-muatan ibadah dengan tanpa dipungut biaya apapun dari mereka yang datang berobat.

2. Forum kajian dan riyadloh Spiritual Mingguan yaitu setiap malam jum’at (untuk laki-laki) dari pukul 21.00 WIB sampai menjelang subuh dan setiap malam selasa (untuk laki-laki dan perempuan) dari pukul 20.00 sampai ± 00.00 WIB. Didalamnya berupa bedah Al Qur’an perspektif tasawuf, tela’ah kritis kitab tasawuf, dan dzikir serta doa.

3. Forum kajian dan riyadloh spiritual Bulanan yaitu setiap Minggu ke empat tiap bulannya mulai pukul 07.00 WIB sampai menjelang Dzuhur. Di dalamnya berupa ; Muhasabah Al-Qur’an, kajian hadist, presentasi amaliah, dzikir dan do’a.

4. Wadah Silaturahmi dan keilmuan di tiap wilayah kantong-kantong jama’ah As-Samawaat. Sampai saat ini wilayah yang telah didomisili jama’ah As-Samawaat meliputi pada : Jakarta (Pusat, Selatan, Utara, Timur dan Barat), Bogor (Cilengsi dan Kota), Tangerang, Depok, Bekasi, Tambun, Karawang, Cirebon, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Kalimantan. Kegiatan di wilayah-wilayah tersebut dikenal dengan pembinaan distrik-distrik. Didalamnya dibangun nilai-nilai persaudaraan, ilmu kemasyarakatan, ilmu-ilmu syari’at dan strategi dakwah gerakan moral.

5. Dakwah bil hal, yaitu dikenal di As-Samawaat dengan “amaliah”. Kegiatan tersebut adalah pengentasan kemiskinan dan pembangunan mental ala As-Samawaat. “amaliah” dapat dilakukan secara kolektif dan individual yaitu dengan memberikan bantuan financial, membangun fasilitas umum dan ibadah serta membimbing mental spiritual pada semua masyarakat miskin tanpa mengenal status dan golongan. “amaliah” ini telah berjalan seumur berdirinya As-Samawaat yaitu sudah menginjak tahun ke sebelas, yang telah mencakup 25 desa binaan di sepanjang pesisir pantai Tangerang.

6. Dakwah bil lisan, yaitu dengan melakukan penyuluhan-penyuluhan agama yang komprehensif dan universal melalui ceramah-ceramah keagamaan. Kegiatan berupa tabligh-tabligh akbar, mimbar bebas, dialog dan lainnya yang bersifat penyampaian melalui lisan. Kegiatan bil lisan As-Samawaat telah dilakukan di beberapa kota-kota besar di tanah air ini yaitu : Jakarta, Bogor, Bandung, Jonggol, Cikarang, Depok, Tangerang, Bekasi, Tambun, Karawang, Indramayu, Cirebon, Brebes, Tegal, Purwokerto, Semarang, Salatiga, Padang, dan Samarinda (Kalimantan Timur).

7. Kegiatan lobi, yaitu dengan melakukan silaturahmi kepada para Alim Ulama yang istiqomah dan kepada para Umaro yang jujur dan amanah untuk mengajak bekerja sama dalam membangun Negara, bangsa dan agama. Kegiatan lobi As-Samawaat dilakukan dari tokoh-tokoh masyarakat kampung sampai masyarakat kota. Lobi yang sudah dilakukan As-Samawaat dan telah mencapai hasilnya, yaitu pada bidang hukum (As-Samawaat telah memiliki beberapa pengacara, notaris dan jaksa yang masih aktif), bidang politik dari tingkat kelurahan sampai ke-Presidenan (Jama’ah As-Samawaat banyak berasal dari birokrat yang amanah), bidang militer (As-Samawaat selalu bekerja sama dengan militer dari Kepolisian maupun TNI untuk mengadakan pencerahan mental spiritual), dan bidang agama (Setiap bulannya ulama dari berbagai wilayah di Indonesia aktif mengadakan pencerahan di As-Samawaat)

KH Saadih Sang Khadimul Ummat -Pengobatan Gratis

Syaikh KH Sa’adih Al Batawi memulai dakwah dengan pendekatan melalui metode pengobatan sebagaimana dilakukan oleh Sunan Gunung Jati.
Pengobatan terhadap urusan lahir dan batin dilakukan setiap malam sejak ba’da ‘Isya sampai menjelang subuh tanpa memungut imbalan apapun dari mereka yang datang berobat & tanpa membedakan status sosial mereka.

Satu persatu pasien dilayani dengan pendekatan agama (terapi tasawuf).
Bahkan sering kali Beliau mengeluarkan uang untuk dibagikan kepada para pasien, khususnya para dhu’afa ketika batin Beliau merasakan itu harus dilakukan.

Adapun jadwal pengobatan sbb:

  1. Malam Selasa, Malam Rabu, Malam Kamis, Malam Sabtu
  2. Pembagian nomer pengobatan mulai jam 12.00 wib
  3. Diharuskan berpakaian muslim dan muslimah

Alamat : Jl. Puri Kembangan No.15 RT 011/RW 05 – Kedoya Selatan – Jakarta Barat.
Telp. (021) 5808794

Hosting Unlimited Indonesia

Sumber arrahmah.co.id

As’ad Said Ali: Meski Ditekan, NU Tetap Pertahankan Pancasila

Wakil Ketua Umum PBNU, Dr. As'ad Said Ali
Wakil Ketua Umum PBNU, Dr. As’ad Said Ali

NTB – Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H As’ad Said Ali menyebutkan, orang NU tidak mungkin menjadi pemberontak. Meskipun pernah ditekan rezim, NU justru menjadi satu-satunya ormas yang tetap mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia.

As’ad menyampaikan hal itu saat menjadi pembicara kunci pada saat pembukaan Pelatihan Kepemimpinan Lanjut (PKL) di Pondok Pesantren Nurul Yaqin Pandanan, Desa Malaka, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, Rabu (20/5).

Menurut penulis buku “Negara Pancasila” ini, NU menjunjung tinggi kebersamaan dan lestarinya kebhinekaan di Tanah Air sebagaimana nilai yang terkandung dalam Pancasila. “Pada dasarnya kita diciptakan majemuk tidak melihat warna kulit dan tidak membeda-bedakan,” tuturnya.

Seperti diketahui dalam sejarah, forum Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama tahun 1983 sepakat menerima Pancasila sebagai asas tunggal lantaran dinilai selaras dengan nilai-nilai Islam yang dijunjung tinggi NU. Padahal, saat itu NU sedang digembosi perannya secara politk oleh pemerintahan Orde Baru.

Pada kesempatan itu, As’ad banyak mengulas gerakan radikalisme dan pentingnya penguatan Ahlusunah wal Jamaah sebagai pilar membangun negeri.

Bupati Lombok Utara H Djohan Sjamsu yang membuka acara PKL tersebut, mengatakan, radikalisme menjadi peringatan bagi kerukunan di Indonesia. Ia menilai, peran pesantren sebagai solusi.

“Pesantren pada umumnya sangat moderat, ponpes sangat strategis dalam rangka menangkal radikalisme keagamaan. Kami sangat mendukung apa yang dilaksanakan GP Ansor. Kami mengimbau kepada para tuan guru dan ustadz untuk mengintensifkan pembinaan kepada ummat terutama para tokoh-tokoh agama,” harapnya.

Kegiatan pelatihan ini akan berlangsung hingga 23 Mei 2015. Dalam acara pembukaan, hadir pula Ketua PWNU NTB TGH Ahmad Taqiudin Mansyur, Kepala Kanwil BPN NTB H Budi Suryanto, Bupati Kabupaten Lombok Utara H Djohan Sjamsu, Ketua PCNU Kabupaten Lombok Utara H Sa’i, H Muallif dari Kemenag Kabupaten Lombok Utara, dan sejumlah tokoh lain dari polres, DPRD KLU. (Hadi/Mahbib)

Hosting Unlimited Indonesia

Sumber arrahmah.co.id

Makna Logo Gerakan #AyoMondok

#AyoMondok---Pesantrenku-Keren
#AyoMondok—Pesantrenku-Keren

Setelah menerima beberapa kali masukan dari Taskforce Gerakan Nasional Ayo Mondok, Logo Resmi gerakan yang telah beredar luas di Media Social akhirnya oleh tiem Media & Promotion Gerakan Ayo Mondok dilakukan beberapa perubahan kombinasi warna pada logo. hingga akhirnya logo resmi Gerakan Ayo Mondok dapat dishare ke seluruh santri, alumni dan masyarakat luas melalui media social.

berikut makna logo Gerakan Nasional Ayo Mondok :

1. Pesan dan kesan utama: Pendidikan Pesantren bersifat terbuka bisa diikuti
khalayak luas dan ramah bagi kaum muda, klas menengah dan masyarakat kota.
2. Menampilkan ikon utama (maskot) dua orang #SantriKeren, mewakili santri putra
dan putri.
3. Tulisan #AyoMondok sebagai Brand program ditampilkan dengan Font dan style
yang funky.
4. Ditampilkan Tagline: #PesantrenkuKeren sebagai semboyan gaul pesantren
kekinian
5. Santri Nusantara, sebagai identitas mewakili komunitas Pesantren, NU dan
#IslamNusantara, dimana RMI berada di dalamnya.
6. Warna Hijau, Biru, Kuning, Putih dan Hitam adalah paduan #WarnaWarni
Nusantara, tanpa meninggalkan Nuansa Warna Hijau.

Hosting Unlimited Indonesia

Sumber arrahmah.co.id

PBNU: Boleh Membaca Qur’an dengan Langgam Apapun Asal Jaga Kaidah

Qur'an
Qur’an

JAKARTA – Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F Masudi menyatakan kebolehan melagukan Al-Quran dengan irama adat manapun. Pasalnya, setiap komunitas memiliki langgamnya masing-masing. Hanya saja yang perlu diperhatikan ialah kaidah pelafalan dan respek terhadap ayat-ayat suci itu sendiri.

“Setiap pembaca itu wajib menjaga makhrajnya, panjang, juga pendeknya. Tujuannya agar tidak merusak makna Quran itu sendiri. Kalau soal langgam, Al-Quran terbuka. Jawaz (boleh) dengan langgam Jawa, Sunda, atau langgam lainnya,” kata Kiai Masdar kepada NU Online di Jakarta, Selasa (19/5) sore.

Menanggapi pembacaan Al-Quran dengan langgam Jawa di Istana Negara pada Jumat (15/5) malam, Kiai Masdar menyatakan rasa syukurnya kalau langgam lokal itu menambah kesyahduan.

“Dan langgam itu berbeda antara satu masyarakat dan masyarakat lainnya. Kalau iya begitu, setiap komunitas boleh membaca Al-Quran dengan langgam yang lazim di kalangan mereka. Bisa langgam Jawa, Sunda, atau langgam lainnya,” ujar Kiai Masdar.

Setiap bahasa pun sebenarnya mengandung nilai transendensi. Allah sendiri mengatakan, wa allama adamal asma’a kullaha. Allah mengajarkan nama-nama benda kepada Adam. “Artinya setiap bahasa mengandung nilai ilahiyah.”

Rais Syuriyah PBNU ini mengajak masyarakat tidak perlu membesar-besarkan persoalan ini. Tidak ada larangan membaca Al-Quran dengan langgam apapun selagi menjaga dua kaidah itu, tegas Kiai Masdar. (Alhafiz K/NU Online)

Hosting Unlimited Indonesia

Sumber arrahmah.co.id

Isra’ Mi’raj dalam Perspektif Ahlusunnah wal Jama’ah

Isra' Mi'raj
ilustrasi Isra’ Mi’raj

Oleh: Imam Abdullah El-Rashied

Bait tentang Isra’ & Mi’raj dalam Kitab Aqidatul Awam karya Sayyid Ahmad Al-Marzuqi Al-Makky :
وَقَبْلَ هِجْرَةِ النَّبِيِّ الْإِسْرَا – مِنْ مَّكَّةٍ لَيْلاً لِقُدْسٍ يُدْرَى
وَبَعْدَ إِسْرَاءٍ عُرُوْجٌ لِلسَّمَا – حَــتَّى رَأَى النَّبِـيُّ رَبـًّــا كَلَّــمَا
مِنْ غَيْرِ كَيْفٍ وَانْحِصَارٍ وَافْتَرَضْ – عَلَيْهِ خَمْسًا بَعْدَ خَمْسِيْنَ فَرَضْ
وَبَلَّغَ الْأُمَّةَ بِالْإِسْرَاءِ – وَفَرْضِ خَمْسَةٍ بِلَا امْتِرَاءٍ
قَدْ فَازَ صِدِّيْقٌ بِتَصْدِيْقٍ لَهُ – وَبِالْعُرُوْجِ الصِّدْقُ وَافَى أَهْلَهُ
“Nabi Muhammad Isra’ sebelum Hijrah, dari Mekah ke Baitul Maqdis pada malam hari”.
“Setelah Isra beliau Mi’raj ke langit, sehingga beliau melihat Tuhan berkata (kepadanya)”.
“Tidak dengan cara (percakapan pada umumnya) dan tanpa batasan tempat. Kemudian Allah mewajibkannya 5 waktu Sholat setelah sebelumnya (diwajibkan) dalam 50 waktu”.
“Kemudian beliau menyampaikan (Kabar) Isra’ dan kewajiban Sholat 5 waktu kepada Ummat Islam tanpa adanya keraguan”.
“Telah beruntung Ash-Shiddiq (Abu Bakar) dengan membenarkannya, maka dengan Mi’raj ini beliau menjaga keluarganya (dengan Iman yang sempurna)”.

Syeikh Muhammad Bin Ali Ba’athiyyah dalam Kitabnya Mujazul Kalam ketika mengomentari bait ke 46-50 dari Nadzom Aqidatul Awam tersebut menuturkan:
Di antara hal yang wajib diyakini oleh setiap Muslim dengan keyakinan yang teguh adalah peristiwa Isra’ (perjalanan di malam hari) Nabi Muhammad SAW dari Mekah Al-Mukarromah ke Baitul Maqdis sebelum Hijrah ke Madinah.
Sedangkan dalam hal ini, meyakini Peristiwa Isra’ merupakan hal yang harus diketahui dalam Agama Islam. Sehingga barang siapa yang mengingkarinya akan Kafir, karena Peristiwa ini telah termaktub dalam Firman Allah SWT :

سُبْحَانَ الَّذِيْ أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِيْ بَارَكْنَا حَوْلَهُ. (الإسراء : 1)

“Maha suci Dzat yang telah memperjalankan hambanya pada malam hari dari Masjidi Al-Haram ke Masjid Al-Aqsho yang telah kami berkahi sekitarnya”. (QS. Al-Isra’ : 1)
Kemudian setelah Isra’, Nabi Muhammad SAW dimi’rajkan (dinaikkan) ke langit dengan Ruh dan Jasadnya dalam keadaan sadar (bukan mimpi) sebagaimana yang diriwayatkan oleh Mu’awiyah bahwasannya Nabi Muhammad SAW itu Mi’raj dalam keadaan mimpi. Atau Riwayat dari Sayyidah Aisyah r.a. :

“مَا فَقَدَ جَسَدُ مُحَمَّدٍ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- فِرَاشَهُ”.

“Sungguh jasad Nabi Muhammad SAW tidak pergi dari tempat tidurnya”.

Akan tetapi menurut Ulama’ mengenai riwayat dari Sayyidah Aisyah r.a. ini ketika Nabi Muhammad SAW sudah menetap di Madinah, atau kemungkinan pernah terjadi Mi’raj yang serupa tapi hanya dengan Ruhnya saja, dan inilah yang dikabarkan oleh Sayyidah Aisyah r.a. Sedangkan Mi’raj yang terjadi ketika Nabi SAW di Mekkah umur Sayyidah Aisyah r.a. masih terlampau kecil sekitar 4 tahun sehingga beliau tidak mengetahuinya.

Sedangkan dalam hal ini para pendahulu dari kalangan Sahabat bahkan telah menjadi Ijma’ (kesepakatan bersama) semua Ulama di abad ke 2 Hijriyah sesugguhnya Mi’rajnya Nabi Muhammad SAW itu dengan Ruh dan Jasadnya dalam keadaan terjaga (sadar), dan barang siapa yang mengingkarinya maka ia dianggap Fasiq.

Kemudian Ulama’ berpeda pendapat tentang tempat sampainya Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa Mi’raj ini dalam beberapa pendapat di antaranya ada yang menyatakan sampai ke Surga, ada pula yang menyatakan sampai ke ‘Arsy bahkan jauh lebih itu di atasnya ‘Arsy sampai di batas Jagat Raya (Sidratul Muntaha). (Syarah Al-Aqidah Ath-Thohawiyah karya Syeikh Abdul Ghoni Al-Hanafi Ad-Dimasyqi halaman 75)

Setelah Nabi Muhammad SAW sampai di tempat Mi’raj tersebut beliau melihat Allah SWT, kemudian Allah berfirman secara langsung kepadanya. Dan hal ini (melihat Allah) termasuk hal yang Khusus yang tidak terjadi kepada siapapun di dunia ini kecuali Nabi Muhammad SAW. (Silahkan merujuk pada Kitab Al-Bajuri ‘Ala Al-Jauharah)
Imam Al-Qurthubi berkata :

“قال عبد الله بن الحارث : اجتمع ابن عباس وأبي بن كعب, فقال ابن عباس: أما نحن بنو هاشم فنقول رأى ربه مرتين. ثم قال ابن عباس : أتعجبون أن الخلة تكون لإبراهيم, والكلام لموسى, والرؤية لمحمد صلى الله عليه وآله وسلم وعليهم أجمعين. قال : فكبر أبي بن كعب حتى جاوبته الجبال, ثم قال : إن الله قسم رؤيته وكلامه بين محمد وموسى عليهما السلام, فكلم موسى ورآه محمد صلى الله عليه وسلم. وحكى عبد الرزاق : أن الحسن كان يحلف بالله لقد رأى محمد ربه. وحكاه أبو عمر الطلمنكي عن عكرمة وحكاه بعض المتكلمين عن ابن مسعود والأول عنه أشهر. وحكى ابن إسحاق أن مروان سأل أبا هريرة : هل رأى محمد ربه؟ فقال : نعم. وحكى عن النقاش عن أحمد بن حنبل أنه قال : أنا أقول بحديث ابن عباس : بعينه رآه رآه … حتى انقطع نفسه يعني نفس أحمد. إهـ الجامع لأحكام القرآن للقرطبي ج 7/156.

“Abdullah Bin Al-Harits berkata : Telah berkumpul Ibnu Abbas dan Ubay Bin Ka’ab, kemudian Ibnu Abbas berkata : Adapun kami Bani Hasyim berkata bahwasannya Nabi Muhammad SAW telah melihat Tuhannya dua kali. Kemudian Ibnu Abbas berkata lagi : Tidakkah kalian kagum sesungguhnya gelar Al-Khalil (Sang Kekasih) diperoleh Nabi Ibrahim a.s., kemudian gelar Al-kalim (Yang diajak bicara) diperoleh Nabi Musa a.s., sedangkan melihat Allah SWT diperoleh Nabi Muhammad SAW. Al-Harits berkata : Maka bertakbirlah Ubay Bin Ka’ab seraya berkata : Sesungguhnya Allah telah membagi Ru’yah & Kalamnya antara Nabi Muhammad SAW dan Nabi Musa a.s., Allah berbicara pada Nabi Musa a.s. dan memperlihatkan Nabi Muhammad SAW kepadaNya”.

“Abdurrazzaq berkata : Sesungguhnya Al-Hasan telah bersumpah atas Nama Allah bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad SAW telah melihat Tuhannya. Abu Umar Ath-Tholamanki meriwayatkan dari Ikrimah, dari sebagian Mutakallimin (Ulama’ Ahli Kalam/Aqidah) dari Ibnu Mas’ud r.a. sedangkan yang riwayat yang pertama lebih masyhur”.
“Ibnu Ishaq meriwayatkan sesungguhnya Marwan bertanya kepada Abu Hurairah : Apakah Nabi Muhammad SAW telaj melihat Tuhannya? Maka Abu hurairah menjawab : Benar”.
“An-Naqqosy telah meriwayatkan dari Imam Ahmad Bin Hanbal, sesungguhnya beliau berkata : Aku berkata dengan Haditsnya Ibnu Abbas : Dengan matanya sungguh (Nabi Muhammad SAW) telah melihatNya. Sampai-sampai nafas Imam Ahmad terputus ketika mengucapkannya”.
Al-Jami’ Li Ahkam Al-Qur’an Juz 7 Halaman 156 karya Imam Ath-Thobary.
Adapun Dalil secara Akal tentang diperbolehkannya melihat Allah SWT adalah : Sesungguhnya Allah itu Dzat yang wujud (ada), dan setiap yang wujud itu boleh/bisa untuk dilihat. Sehingga pada kesimpulannya Allah bisa dilihat. Sedangkan menurut Ahlussunnah Wal Jama’ah melihat Allah SWT di akherat itu diperoleh juga bagi orang-orang yang beriman berdasarkan dalil dari Al-Qur’an dan Hadits.
Dalil dari Al-Qur’an :
وُجُوْهٌ يَّوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ. إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ. (القيامة : 22-23)
“Wajah-wajah (orang-orang Mu’min) pada hari itu berseri-seri, memandang kepada Tuhannya”. (QS. Al-Qiyamah : 22-23)
لِلَّذِيْنَ أَحْسَنُوْا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ… (يونس : 26)
“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (Surga) dan tambahannya (kenikmatan melihat Allah)”. (QS. Yunus : 26)
Kata (الْحُسْنَى : Al-Husna) dalam ayat ini diterjemahkan oleh kebanyakan Ahli Tafsir dengan makna “Surga”, sedangkan kata (زِيَادَةٌ: Ziyadah) diterjemahkan dengan makna “Melihat Allah”.

Dalil dari Hadits :
“إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ الْقَمَرَ فِي لَيْلَةِ الْبَدْرِ …” رواه الترمذي
“Sungguh kalian (Mu’minin) akan melihat Tuhan kalian sebagaimana kalian melihat Bulan pada malam Purnama…” HR. Imam Tirmidzi
Kemudian ada pula do’a yang sering dipanjatkan oleh Rasulullah SAW :
“وَارْزُقْنَا النَّظْرَ إِلَى وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ …”
“Dan anugrahilah kami untuk melihat Dzat-Mu yang mulia…”
Dari Ijma’ :
Sesungguhnya Para Sahabat Nabi Muhammad SAW telah bersepakat (Ijma’) tentang bolehnya melihat Dzat Allah kelak di Akherat. Imam Malik r.a. berkata : “Ketika Allah menutup para musuhNya maka mereka tidak bisa melihatNya”.
Andai kata Orang Mu’min itu tidak bisa melihat Tuhan mereka di Akherat niscaya allah tidak akan mencela orang-orang kafir dari keterhalangan mereka untuk melihat Dzat-Nya. Sebagaimana Firman Allah SWT yang berikut ini :
كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوْبُوْنَ. (المطففين : 15)
“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya pada hari itu mereka (orang kafir) terhalang dari (melihat) Tuhannya”. (QS. Al-Muthoffifin : 15)
Imam Syafi’i r.a. berkata :

“لما حجب قوما بالسخط, دل على أن قوما يرونه بالرضا”

“Ketika suatu kaum (Kafir) dihalangi karena kemaran (Allah) hal ini menunjukkan kaum lainnya (Mu’minin) melihatNya dengan Ridha”.

Sedangkan Ru’yah (melihat) ini terjadi tidak seperti kita melihat teman kita, tidak pula serupa dengan cara penglihatan yang terjadi pada Mahluk lainnya dengan saling berhadapan dan menempati arah dan tempat. Serta tanpa batasan bagi yang terlihat dari yang melihatnya sekiranya diliputi. Karena bagi Allah itu sangat Mustahil jika dibatasi dengan tempat, ruang dan arah. Sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an :

“لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ”. (الأنعام : 103

“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedangkan Dia dapat melihat segala penglihatan itu, dan Dialah yang Maha Lembut lagi Maha teliti.” (QS. Al-An’am : 103)

Melihat Dzat Allah SWT ini bisa didapat oleh semua orang yang beriman baik dari kalangan Manusia maupun kalangan Jin, baik laki-laki maupun perempuan, bahkan Ahli Fatroh (orang yang hidup di antara masa dua Rasul, tidak menemui yang pertama dan tidak pula menemui yang ke dua seperti masa antara Nabi Isa a.s dan nabi Muhammad SAW) dan Malaikat juga bisa melihat Allah. Sedangkan orang-orang yang Munafik dan Kafir tidak bisa melihatNya sebagaimana Firman Allah SWT :

كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوْبُوْنَ. (المطففين : 15

“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya pada hari itu mereka (orang kafir) terhalang dari (melihat) Tuhannya”. (QS. Al-Muthoffifin : 15)
Sebab mereka (Munafik & Kafir) tidak termasuk dari orang-orang yang dimuliakan oleh Allah. Jadi pada kesimpulannya melihat Allah SWT itu sesuatu yang mungkin terjadi sebagaimana Firman Allah SWT kepada Nabi Musa a.s. di saat beliau meminta kepada Allah untuk melihatnya :

“رَبِّ أَرِنِيْ أَنْظُرُ إِلَيْكَ, قَالَ لَنْ تَرَىنِيْ وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَىنِيْ”. – الأعراف : 143

“Wahai Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku bisa melihat Engkau, (Allah) berfirman : “Engkau tidak akan melihat-Ku, akan tetapi lihat kepada Gunung itu apabila ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya engkau dapat melihat-Ku”. (QS. Al-A’raf 143)

Dalam ayat ini terdapat 2 pembahasan, yang pertama : Apabila melihat Allah SWT itu terlarang di dunia niscaya Nabi Musa a.s. tidak akan meminta hal tersebut, sebab beliau adalah Nabi yang mengetahui apa saja yang Wajib, yang Mustahil dan yang Jaiz (boleh) bagi Allah SWT. Sedangkan tidak boleh (tidak mungkin) bagi seorang Nabi untuk tidak mengetahui tentang urusan Ketuhanan.
Yang kedua adalah : Sesungguhnya melihat Allah SWT dalam konteks ayat tersebut dikaitkan/digantungkan dengan sesuatu yang mungkin terjadi yaitu “Tetapnya Gunung tersebut pada tempatnya”, sedangkan sesuatu yang digantungkan dengan sesuatu yang mungkin itu bisa saja terjadi.

Kemudian ada pengingkaran dari Kalangan Mu’tazilah tentang kebolehan melihatnya seorang hamba kepada Tuhanya berdasarkan ayat tadi dengan dalih kata (لَنْ تَرَىنِيْ) “Engkau tidak akan melihat-Ku” menunjukkan ketidak-mampuan untuk melihat selamanya. Akan tetapi argument mereka telah dibantah bahwasannya Ayat tersebut tidak menunjukkan terkecuali untuk menafikan adanya Ru’yah di masa mendatang saja, tidak pula menafikan Ru’yah untuk selamanya. Andai kata melihat Allah itu terlarang, niscaya Allah akan berfirman kepada Nabi Musa dengan redkasi kata (لَنْ أُرَى) yang artinya : “Selamanya Aku tidak dapat dilihat”.

Nah, ketika Nabi Muhammad SAW melihat Tuhannya, kemudian Tuhan berfirman dengannya seraya mewajibkan Sholat di 5 waktu yaitu Dzuhur, ‘Ashar, Maghrib, Isya’ dan Shubuh yang pada awalnya diwajibkan dalam 50 waktu. Ketika beliau bertemu dengan Nabi Musa a.s., Nabi Musa berkata : “Kembalilah ke Tuhanmu, sungguh Ummatmu tidak akan mampu atas hal tersebut (Sholat di 50 waktu)”. Sampai pada akhirnya Nabi Muhammad mondar-mandir antara Nabi Musa dan Tuhannya hingga Allah SWT meringankan beban Sholat menjadi 5 waktu sebagaimana yang diriwayatkan oleh banyak Imam Hadits dalam kitab-kitab mereka seperti Shohih Al-Bukhari, Shohih Muslim, Sunan al-Bayhaqi, Sunan Ibnu Majah, Shohih Ibnu Hibban dll.

(Catatan Tambahan : Ketika Nabi Muhammad SAW naik turun dari tempatnya berdialog dengan Allah SWT ke langit tempat menemui Nabi Musa a.s. banyak orang beranggapan bahwasannya Allah berada di langit, hal ini sangat salah besar. Sidratul Muntaha hanyalah tempat mulia yang dikhususkan oleh Allah untuk Nabi Muhammad SAW berbicara dengan-Nya, sebagaimana Allah SWT mengajak bicara Nabi Musa a.s. di Lembah Sinai. Sebab Allah tidak butuh pada tempat dan arah sebagaimana yang diyakini dalam Aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah-Red).

Kemudian, di antara hal yang wajib diyakini pula oleh orang Mu’min adalah sesungguhnya Nabi Muhammad SAW menyampaikan kabar tentang Isra’ dan Mi’raj serta kewajiban Sholat di 5 waktu. Sedangkan Sholat yang pertama kali nampak dalam Agama Islam adalah Sholat Dzuhur, sebab ini adalah Sholat yang pertama kali diajarkan oleh Malaikat Jibril a.s. kepada Nabi Muhammad SAW. Adapun alas an belum diwajibkannya Sholat Shubuh (setelah mendapatkan perintah Sholat di malam harinya) itu dikarenakan ketidaktahuan dalam pelaksanaannya, sedangkan Sholat 5 waktu tersebut baru dijelaskan ketika sudah memasuki waktu Dzuhur.

Keadaan Manusia Dalam Menanggapi Kabar Isra’ & Mi’raj

Keesokan harinya, setelah Rasulullah SAW mengalami peristiwa Isra’ & Mi’raj pada malam hari beliau mengumpulkan orang-orang untuk menyampaikan tentang kabar tersebut. Bahkan pada waktu itu Orang Kafir Quraisy ingin menguji kebenaran peristiwa Isra’ & Mi’raj dengan harapan Nabi Muhammad SAW terbungkam dengan ucapannya sendiri. Akhirnya Rasulullah SAW menunjukkan kepada mereka dengan beberapa pertanda, di antaranya : Sampainya Kafilah mereka sebelum terbenamnya Matahari, akan tetapi kala itu kedatangan Kafilah terlambat sehingga ditahanlah Matahari tersebut (oleh Malaikat Jibril) hingga akhirnya mereka sampai.

Pertanda lain yang disebutkan dalam Kitab-Kitab Hadits dan Siroh adalah penggambaran tentang Masjid Al-Aqsha dan pintu-pintunya. Kala itu Rasulullah SAW memasuki Masjid Al-Aqsha di malam hari sehingga tidak bisa menggambarkan (menyifati) sebab belum melihat sebelumnya. Manakala orang-orang Kafir meminta agar Rasulullah menceritakan tentang Sifat/Bentuk Masjid Al-Aqsha, maka Allah mengangkat Masjid Al-Aqsha ke penglihatan Nabi Muhammad SAW sehingga bisa memberikan gambaran detail tentang Masjid tersebut.

Di saat sebagian orang ingkar akan kabar Isra’ dan Mi’raj bahkan menjadi murtad karena lemahnya Iman mereka, maka tampillah Abu Bakar r.a. untuk membenarkan kabar tersebut. Maka sejak itulah Abu Bakar mendapat julukan “Ash-Shiddiq” yang artinya adalah “Yang Membenarkan”. Dan dengan kabar ini beliau telah menjaga keluarganya dengan Iman yang sempurna, sebab barang siapa yang mendustakan akan kabar Isra’ maka ia telah kafir, sedangkan yang mendustakan Mi’raj ia dianggap Fasiq seperti pada awal penjelasan.
Wallahu A’lam Bish-showab.

Ditulis di Tarim, 27 Rajab 1436 H / 16 Mei 2015

Imam Abdullah El-Rashied, Alumni PP. AL-BAHJAH Cirebon Pimpinan Buya Yahya dan sedang menempuh pendidikan S1 Ilmu Syariah di Ribath & Fakultas Imam Syafi’i, Hadramaut – Yaman Pimpinan Syeikh Muhammad Bin Ali Ba’athiyyah.

Hosting Unlimited Indonesia

Sumber arrahmah.co.id

NU Online dan Peran Baru

NU Online
NU Online

NU Online adalah suatu berkah. Dengan keberadaan NU Online visi perjuangan NU yang bersumber dari tingkat Pengurus Besar dengan cepat dapat diakses oleh seluruh warga dengan merata hingga di pelosok kampung di Nusantara bahkan di seantero jagat. Hal mana yang dulu (sebelum ada NU Online) merupakan suatu yang mustahil, menyamakan visi pokok perjuangan NU pada warga yang tersebar di seluruh penjuru, beban yang demikian berat karena menyangkut kendala perangkat phisik dan biaya sebagai pendukung.

Sekali waktu mungkin kita perlu membayangkan bagaimana seandainya komunikasi timbal balik antara pengambil kebijakan di pusat (NU) dengan warga di bawah harus melalui media cetak, berapa lembar yang dibutuhkan, berapa lama sampai ke tempat tujuan, biaya pasti besar. Pengandaian inimemang tidak kontekstual dan mengada-ada. Tujuannya adalah meneguhkan kembali bahwa NU Online memang substantif dan krusial.

Ketika kita menyadari bahwa NU Online sebagai satu-satunya media penghubung utama antara pokok pikiran orang-orang yang ada di pusat dengan warga yang dipimpin, tidak lain adalah bagaimana kita bersungguh-sungguh menjaga eksistensi dan kelangsungan hidup NU Online agar tetap istiqomah bertabligh.

Kesungguhan menjaga eksistensi NU Online agar tetap ‘sehat’ dengan ketersediaan ‘nutrisi’ yang cukup apakah sudah menjadi kesepakatan pemikiran bersama di kalangan orang-orang pusat sebagai sesuatu yang prioritas dan tidak boleh diremehkan sedikitpun? Orang-orang daerah apalagi. Berapa banyak warga di bawah menyadari hal ini? Sudahkah ada kepedulian mereka untuk sekedar mengisi donasi NU Online yang sudah disediakan? Atau sekedar tengok-tengok saja.

Masuk akal kalau beberapa waktu yang lalu KH Hasyim Muzadi teriak-teriak menuntut agar ormas semacam NU seharusnya disubsidi APBN. Bukan hanya parpol. Antara lain perlunya subsidi itu untuk disasarkan pada NU Online. Sesuatu yang logis.

Pembaca setia NU Online pasti faham kerangka pemikiran NU di tingkat PB. Bahwa mainstraim yang harus dipegang adalah NU sebagai penjaga tegaknya islam rahmatan lil alamin dengan menonjolkan karakter tawasuth, tawazun di tengah keragaman agama, suku, budaya. Dikenal dengan islam nusantara dengan penghulu wali songo. Mainstraim itulah yang menjadi topik utama artikel-artikel di NU Online dan itu adalah pedoman kebijakan PBNU.

Sebagai media utama, NU Online juga mampu memotivasi daerah-daerah yang aktifitas NU nya minim. Dengan sering ditampilkannya kegiatan-kegiatan mulai konferensi, dialog/halaqoh, haflah akhirussanah, istighosah qubro dll, daerah yang dinamika aktifitas NU nya masih rendah menjadi tergugah. Sebagai contoh NU Bolmong Utara, Sulawesi Utara. Walaupun NU-nya baru tumbuh, berita aktifitasnya sudah ikut meramikan NU Online, termotivasi daerah lain yang lebih dulu dinamis. Bahkan event lomba-lomba juga cukup menarik minat pembaca muda seperti lomba menulis cerpen atau film dokumenter. NU Online memang sudah menjalankan fungsinya secara baik dan mampu mendinamiskan aktifitas NU di segala penjuru.

Mendukung Program Pemerintah

Di antara fungsi-fungsi yang sudah dijalankan seperti di atas, ada fungsi baru yang juga menarik untuk dijadikan agenda ke depan oleh NU Online. Yaitu fungsi pemberdayaan masyarakat desa menyangkut keberlangsungan penggunaan dana desa sesuai PP no 60 tahun 2014.

Konon tahun 2015 tiap desa di Indonesia mendapat kucuran dana 1 milyar. Sayangnya hingga paruh waktu tahun anggaran penyaluran dana tersebut masih banyak kendala. Seperti ditengarahi Peneliti Institute Research and Empowerment (IRE) Jogjakarta Arie Sudjito beberapa waktu lalu bahwa danaitu terancam tidak bisa terserap karena hal-hal tehnis terkait peran pemerintah kabupaten/ kota.

Karena kebetulan menterinya orang NU, juga permasalahan desa juga permasalahan NU karena warga NU sebagian besar ada di desa, alangkah baiknya NU Online ambil inisisatif mengambil fokus itu untuk diberitakan kepada warga menyangkut sejauh mana perjalanannya, apa saja kendala-kendalanya dll. Hal ini bisa terwujud bila para kontributor/wartawan NU Online memiliki kesamaan visi dan didukung penuh oleh jajaran redaksi.

Keberanian mengambil peran baru ini bersifat strategis, karena sejauh pengetahuan penulis belum ada media dot com maupun cetak telah melakukannya dan menjadikannya sebagai topik khusus dalam kebijakan pemberitaannya. Kalau NU Online melakukannya maka akan menjadi pioner/ pelopor sekaligus membantu kerja menteri NU. Bukankah dengan demikian NU Online berhasil menaikkan gradenya karena bisa menjadi bahan rujukan untuk kalangan yang lebih luas?

Kalau memang masuk akal, tunggu apa lagi?

Saiful Ridjal, pembaca setia NU Online

Dimuat di NU Online

Hosting Unlimited Indonesia

Sumber arrahmah.co.id

Sambut Muktamar NU ke-33 Kompetisi Film Pendek Dokumenter Digelar

Kompetisi Film Pendek Muktamar NU ke 33
Kompetisi Film Pendek Muktamar NU ke 33

JAKARTA – Jelang Muktamar NU ke-33 yang akan digelar di Jombang, 1-3 Agustus mendatang, panitia menggelar lomba film pendek dokumenter dengan total hadiah 45 juta rupiah.

Menurut Ketua Muktamar ke-33 NU H Imam Aziz acara lomba tersebut merupakan upaya penting untuk membangkitkan film di kalangan NU, terutama anak muda.

[callout bg=”#ffa01f” color=”#FFFFFF” padding=”25″]Formulir Pendaftaran Kompetisi Film Pendek Dokumenter Muktamar NU ke33[/callout]

“Ini membangkitkan nostalgia bagaimana organisasi NU, tidak hanya mengakomodasi, tapi mendorong dan menjadi pelaku gerak budaya di indonesia,” katanya pada peluncuran dengan tajuk “Peluncuran Kompetisi Film Pendek Dokumenter dan 100 Hari Wafat Alex Komang” di gedung PBNU, Jakarta, (27/5).

Ia menjelaskan, pada muktamar ke-33 nanti, NU mengemban tema yang berat, yaitu meneguhkan Islam Nusantara untuk peradaban Indonesia dan dunia.

Islam Nusantara, menurut dia, adalah islam yang melakukan “ekstraksi”, mengambil saripati dan kemudian disesuaikan dengan keadaan di mana dia tumbuh. Islam di Aceh, Sunda, Jawa, Kalimantan, Tidore memiliki warnanya sendiri.

Menurut dia, saat ini NU belum mampu melakukan koneksi intens ke budaya-budaya itu secara maksimal. Karenanya dengan mengapresiasi film ini, adalah peran NU yang merasa berkawijaban mempertahankan dan menyebarluaskan hal itu.

Dalam kesempatan yang sama, ketua panitia bidang film Dimas Jayasrana menjelaskan, film dokumenter menjadi pilihan panitia karena genre film dokumenter ini kita nilai sebagai film yang tanpa tedeng aling-aling, murni, dan menyajikan fakta-fakta. “Dengan event ini, Nahdlatul Ulama diharapkan menjadi salah satu komunitas yang ikut mendorong film dokumenter untuk masyarakat luas. Dokumenter ini penting karena menyajikan fakta, tapi sering diabaikan,” tambah Dimas.

Terkait peserta, Dimas menjelaskan lintas batas agama, madzhab, gender dan golongan apapun. “Kompetisi ini dibuka untuk umum, untuk anak muda yang berusia 15-35 tahun,” tegasnya.

Penjurian kompetisi ini akan dilakukan di Jakarta oleh empat dewan juri, yaitu Bebi Hasibuan (penulis skenario, Jakarta), Bowo Leksono (Pegiat Film Purbalingga), Nurman Hakim (Sutradara, Jakarta), dan Aman Sugandi (Wakil Ketua Lesbumi Jawa Timur).

Kompetisi film pendek dokumenter ini mengajukan lima tema yang dapat dipilih oleh para peserta kompetisi. Pertama, khazanah pesantren, khazanah Indonesia. Kedua, guru ngajiku keren. Ketiga, yang muda yang tenggang rasa. Keempat, orang biasa yang istimewa, dan kelima, perjuangan perempuan.

Karya peserta paling lambat diterima oleh panitia tanggal 10 Juli 2015. Pemenang akan diumumkan tanggal 1 Agustus di media yang ditunjuk oleh panitia.

Hosting Unlimited Indonesia

Sumber arrahmah.co.id

Menjaga Marwah Ulama oleh KH. Said Aqil Siraj

KH Said Aqil Siraj
KH Said Aqil Siraj, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)

Nahdlatul Ulama merupakan representasi paripurna dari Islam Nusantara, dalam kultur, jam’iyyah maupun harakah (gerakan).
Gerak langkah Nahdlatul Ulama (NU), pada level jama’ah (komunitas) maupun jam’iyyah (organisasi) menjadi referensi utuh bagaimana menyelaraskan agama, ideologi, dan rasa kebangsaan. Dalam NU, ukhuwah basyariyyah, islamiyyah, dan wathaniyyah berjalan harmonis untuk membentuk konfigurasi yang selaras dengan kepentingan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Persaudaraan antarmanusia, sesama kaum Muslim maupun persaudaraan dalam konteks kebangsaan memiliki porsinya masing-masing yang seimbang.

Akan tetapi, ulama NU sadar betapa ukhuwah wathaniyyah perlu didahulukan untuk membina kebinekaan bangsa agar tetap kokoh dalam persatuan. Untuk itu, dalam historiografi pesantren, para kiai berpedoman jelas tentang Islam dan nasionalisme. Seperti yang ditegaskan para kiai dalam pertemuan tahun 1936 di Banjarmasin, tentang model darusalam (negeri kedamaian) sebagai format Indonesia pasca kemerdekaan.

Jembatan harmonis antara nilai-nilai agama dan nasionalisme inilah, yang menjadi fondasi tegaknya Indonesia. Inilah wajah Islam Nusantara yang dipraktikkan para ulama yang menjadi pilar NU. Ini berbeda dengan model Islam di Timur Tengah, yang belum menemukan titik pertemuan antara keislaman dan kebangsaan. Islam Nusantara, jelas memberi ruang dialog antara format keagamaan dan strategi kebangsaan yang saling mendukung.

Sebagai benteng kokoh Islam Nusantara, para ulama NU bergerak secara istiqomah untuk mengembangkan pengetahuan, menguatkan jaringan serta membentuk strategi kebangsaan yang sesuai dengan model kebinekaan negeri ini. Pengembangan pengetahuan ulama Nusantara jelas dilakukan sejak masa Walisongo, yang mewariskan tradisi, konsep politik, dan artefak pengetahuan yang dapat bermakna hingga kini.

Selanjutnya, ulama-ulama Nusantara, semisal Syekh Shamad al-Palimbani, Syekh Mahfudh at-Termasi, Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Yusuf al-Makassari, Syekh Ahmad al-Mutamakkin, dan jaringan ulama Nusantara memberi teladan tentang pentingnya konstruksi pengetahuan Islam Nusantara.

Identitas kultural, isnad, silsilah, genealogi pengetahuan dan jaringan luas dalam spektrum pengetahuan Islam memberi bukti bahwa Islam Nusantara jelas menjadi referensi bagi dunia internasional. Inilah yang seharusnya diteruskan oleh para ulama NU, dengan pengetahuan keislaman yang kuat, kemampuan menulis kitab dalam bahasa Arab, mampu berdialog dengan ulama-ulama Timur Tengah yang selama ini menjadi referensi pengetahuan. Dengan demikian, marwah ulama NU terjaga dan menjadi referensi pengetahuan Islam di level internasional.

Pengetahuan luas dalam kajian keislaman dan strategi politik kebangsaan, menjadi ciri khas ulama-ulama NU, yang dalam rentang sejarahnya dipraktikkan Kiai Hasyim Asyari, Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Bisri Syansuri, dan penerusnya hingga kini. Posisi Rais Aam bukan jabatan politis, tetapi merupakan penghormatan pengetahuan, kezuhudan, dan kemampuan bergerak dalam level politik kebangsaan, bukan sekadar politik kekuasaan.

Politik kebangsaan

Almarhum KH M Sahal Mahfudh merupakan seorang kiai yang penulis kagumi. Beliau tidak sekadar hadir sebagai pemimpin yang sangat peduli terhadap nasib pesantren, namun juga mampu menakhodai NU sebagai jam’iyyah yang konsisten, mandiri, dan berdiri tegak di tengah silang sengkarut kepentingan politik. Kiai Sahal merupakan guru sekaligus mentor penulis dalam mengabdi di NU.

Kiranya, kisah di balik muktamar ke-32 di Makassar memberi bukti bahwa Kiai Sahal tidak ingin mengejar jabatan. Beliau mau menjadi Rais Am, dalam rangka menyelamatkan organisasi ini dari terpaan badai politik dan kepentingan-kepentingan sesaat yang menjebak warga nahdliyin. Kiai Sahal sadar, betapa berat menjaga marwah Rais Am Syuriah, yang merupakan cermin dan referensi bagi struktur mental, cara berpikir, dan sikap politik maupun strategi organisasi bagi seluruh kiai dan alim ulama di negeri ini.

Ibaratnya, Rais Am dan para kiai yang berada di jajaran syuriah merupakan “begawan waskita”, yang bijaksana dan menjaga jarak dari kepentingan-kepentingan struktural maupun politik sektarian, apalagi syahwat pribadi untuk mengakses kekuasaan. Ini dibuktikan Kiai Sahal dengan konsistensi dan kemandirian dalam ekonomi, politik, dan pemikiran kebangsaan.

Di akhir hayatnya, Kiai Sahal memberikan pesan penting terhadap NU, baik dalam konteks jama’ah maupun jam’iyyah. Kiai Sahal menekankan pentingnya strategi politik tingkat tinggi, untuk menunjukkan bahwa NU bukan organisasi remeh yang dapat dijadikan bemper kekuasaan. Politik ala NU adalah politik kebangsaan dan kerakyatan.

Menurut Kiai Sahal, politik kekuasaan yang biasa disebut politik tingkat rendah (low politic) merupakan porsi partai politik dan warga negara, termasuk warga NU secara pribadi. Di sisi lain, NU secara kelembagaan harus bersih dari model politik tingkat rendah. Wilayah NU sebagai jam’iyyah dalam ranah politik tingkat tinggi (high politic, siyasah ‘aliyah samiyah) dalam wujud politik kebangsaan, kerakyatan, dan etika berpolitik.

Kiai Sahal merenungkan tentang hakikat dan strategi politik, bagi warga nahdliyin maupun dalam konteks NU secara organisasi. Dalam pandangan Kiai Sahal, strategi politik kebangsaan NU berarti harus fokus, istiqomah, dan proaktif mempertahankan NKRI sebagai wujud final dalam berbangsa dan bernegara. Politik kerakyatan, diwujudkan NU dalam konteks memberikan pendampingan dan penyadaran terhadap hak-hak rakyat, serta melindunginya dari marjinalisasi politik maupun kekuasaan.

Politik kebangsaan juga dihadirkan Hadratus Syekh Hasyim Asyari yang menjadi tonggak sejarah pada masa revolusi kemerdekaan. Fatwa jihad Kiai Hasyim Asyari pada 22 Oktober 1945, mampu menggerakkan ribuan santri dan pemuda untuk bertempur demi tegaknya NKRI, pada 10 November 1945. Rekaman sejarah inilah yang tidak pernah muncul dalam narasi besar pengetahuan warga negeri ini. Untuk itu, momentum resolusi jihad Kiai Hasyim Asyari perlu dijadikan sebagai penanda sejarah untuk kebangkitan santri.

Peristiwa Oktober-November 1945 inilah yang mempertemukan simpul-simpul jejaring ulama, sebagai tulang punggung NU pada masa kemerdekaan. Pahlawan-pahlawan revolusi, semisal Kiai Hasyim Asyari bersama Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Bisri Syansuri, Kiai Masjkur, Kiai Bisri Musthofa (ayahanda Gus Mus), Kiai Abbas Cirebon, Kiai Subchi Parakan, dan beberapa kiai lainnya di tanah Jawa, memberikan andil besar dalam sejarah negeri ini, dengan niatan ikhlas dan berpedoman menggerakkan politik kebangsaan.

Tentu saja, gerak langkah kiai pesantren yang bergerak di level politik kebangsaan, jangan sampai ternoda dengan kepentingan-kepentingan politik kekuasaan yang menggerus marwah ulama.

SAID AQIL SIROJ

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama

Dimuat di Kompas Cetak, 16 Juni 2015

Hosting Unlimited Indonesia

Sumber arrahmah.co.id

NU dan Islam Nusantara

Muhammad Sulton Fatoni
Muhammad Sulton Fatoni

NU dan Islam Nusantara

Oleh Muhammad Sulton Fatoni

Akhir-akhir ini, wacana ‘Islam Nusantara’ menyita perhatian masyarakat Islam di Indonesia. Apa relasi Islam Nusantara dengan Nahdlatul Ulama sehingga Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memosisikannya sebagai narasi besar Muktamar ke-33 NU di Jombang pada 1-6 Agustus 2015 nanti? Saya ingin mengemukakan beberapa fakta.

Pertama, konsentrasi PBNU lima tahun terakhir untuk menghindari politik praktis memunculkan fenomena cukup banyak kiai dan anak muda NU aktif dan menggerakkan lembaga unit kerja PBNU. Maka, lahirlah karya besar sumbangsih warga NU, di antaranya kitab Ahkamul Fuqaha (2011) yang berisikan putusan hukum NU 1926-2010, Thariqatul Hushul ‘ala Ghayatil Wushul (2012) karya KH A Sahal Mahfudh, kajian bidang ushul fikih Fathul Mujib al-Qarib (2014) karya KH Afifuddin Muhajir dalam bidang fikih.

Sedangkan dalam bahasa Indonesia, di antaranya Enskilopedia Nahdlatul Ulama (2013) tentang khazanah keislaman nusantara; Atlas Walisongo (2012) karya Agus Sunyoto yang memuat fakta tentang wali-wali di Indonesia.

Studi keislaman masyarakat nahdliyin ini kelanjutan dari tradisi sebelumnya, seperti oleh KH Ahmad Chatib Sambas (1803-1875M), KH Nawawi Banten (1813-1897 M), dan KH Mahfudz Tremas (1868-1920M). Ketiga kiai ini lahir di Indonesia, tapi menetap hingga wafat di Makkah.
Menetap di Makkah adalah upaya menyambung mata rantai keilmuan hingga kepada Rasulullah SAW. Misalnya, Kiai Nawawi Banten berguru kepada Syekh as-Syarwani, murid Syekh al-Baijuri yang berguru kepada Syekh as-Syarqawi, dan seterusnya hingga kepada Rasulullah SAW.

Studi keislaman ini menjadikan peran NU tak hanya di Indonesia, tapi juga bagi perkembangan keilmuan Islam di penjuru dunia. Maka, terjadi—meminjam istilah Erikson—’integrasi dunia luar’ dan ‘dunia dalam’ (Thomas H Erikson, 1989).

Kedua, sepanjang 2010-2015 PBNU telah menyaksikan kondisi karut-marut sosial politik masyarakat Islam dunia. Contohnya, seminggu setelah pulang dari lawatan PBNU ke Libya (2011), Muammar Qadafi dijatuhkan dan hingga kini umat Islam Libya masih saling serang. Beberapa hari setelah PBNU menggelar pertemuan dengan tokoh ragam suku masyarakat Afghanistan sebagai upaya perdamaian (2011), peserta pertemuan, Burhanuddin Rabbani, wafat karena serangan bom.

Ketiga, jargon ‘kembali ke pesantren’ yang disuarakan sejak Muktamar ke-32 NU di Makassar diikuti langkah teknis dan strategis. Di antaranya, konsentrasi PBNU (2010-2015) untuk mengarahkan program dan kegiatan bagi penguatan masyarakat pesantren.
Penguatan keindonesiaan melalui Apel Kesetiaan pada NKRI (2010) di Gelora Bung Karno; dilanjutkan Munas Alim Ulama dan Konbes NU di Cirebon (2012) bertema ‘Kembali ke Khittah Indonesia 1945’; dan Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2014 di Jakarta bertema ‘Konsolidasi NU untuk memperkokoh Kedaulatan RI’. Pada momentum ini lah untuk kali pertama NU memutuskan tak menyetujui khilafah agenda politik Hizbut Tahrir Indonesia.

Hadratussyeikh KH Hasyim Asyari pernah menggambarkan keislaman negeri Jawa pada awal abad ke-20 dalam kitabnya, Risalatu Ahlissunnah wal Jamaah, sebagai masyarakat yang memiliki pandangan dan mazhab serta referensi dan kecenderungan yang sama. Yaitu, pengikut mazhab Imam Muhammad bin Idris as-Syafi’i, alur pikir Imam Abu Hasan al-‘Asy’ari, dan corak tasawuf konsep Imam al-Ghazali dan Imam Abi al-Hasan al-Syadzili (Hasyim Asyari, 1912).

Sebutan ‘Jawa’ pada abad ke-17-19 cukup populer di kalangan ulama Timur Tengah dan Afrika. Implementasi dari referensi dan sumber yang sama melahirkan tradisi dan norma, seperti mencintai keturunan Rasulullah, para wali dan orang saleh; serta mengharap berkah pada mereka; baik yang masih hidup maupun wafat. Termasuk menghormati dan mencintai para habib, sayyid, atau sebutan lain bagi keturunan Rasulullah SAW.

KH Hasyim Asyari juga menunjukkan tradisi keislaman negeri Jawa yang mentradisikan ibadah ziarah kubur. Menempuh perjalan dari yang terdekat hingga ratusan kilometer, bahkan ribuan kilometer melewati sekat negara hanya untuk berziarah ke makam para ulama, sahabat, puncaknya ke makam Rasulullah SAW.
Termasuk yang ditunjukkan KH Hasyim Asyari adalah mentradisinya ibadah men-talqin mayit; sedekah untuk mayit; meyakini adanya syafaat (pertolongan); bermanfaatnya doa, tawasul, dan lainnya. Dinamika keislaman di Indonesia dan kondisi Muslim dunia terkini yang mendorong PBNU mengangkat tema ‘Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia’.

Maka, Islam Nusantara itu bukan “agama baru”. Islam Nusantara juga bukan “aliran baru”. Islam Nusantara adalah wajah keislaman yang ada di Asia Tenggara, termasuk Indonesia di dalamnya. Ajaran Islam yang terimplementasi di tengah masyarakat yang mental dan karakternya dipengaruhi struktur wilayah kepulauan.

Praktik keislaman ini tecermin dalam perilaku sosial budaya Muslim Indonesia yang moderat (tawassuth), menjaga keseimbangan (tawazun), dan toleran (tasamuh). Ketiga sikap ini pijakan masyarakat pesantren untuk mencari solusi problem sosial akibat liberalisme, kapitalisme, sosialisme, termasuk radikalisme agama-agama (Said Aqil Siroj, 1999).

Wajah Islam Nusantara ini lah yang perlu dipromosikan Muslim Indonesia ke warga dunia. Barat perlu tahu bahwa wajah Islam tidak dimonopoli masyarakat Islam di Timur Tengah dan Afrika. Grand Syaikh al-Azhar melalui delegasinya yang ke PBNU, Dr Mun’im Fuad, menegaskan dukungannya pada gerakan moderasi NU yang terus mengglobal (Fuad, 2015).

Gerakan promosi Islam Nusantara ini berbasiskan nilai dan norma keislaman yang tumbuh kembang di gugusan kepulauan nusantara. Maka, gerakan promosi Islam Nusantara tak dibangun dengan basis finansial sebagaimana yang lazim dilakukan lembaga dan aktor politik yang memburu kekuasaan.

Meskipun identitas suatu kelompok mempunyai spesifikasi berbeda dengan kelompok lain (Hogg AM, 2003), bukan berarti identitas Muslim Indonesia tak bisa diterima masyarakat Eropa dan Amerika. Memengaruhi dalam konteks ini bukan memaksakan diri agar terjadi peleburan, tapi melakukan proses penyadaran pentingnya wajah Islam yang lain di luar Muslim Timur Tengah.

Suatu ketika dalam rapat di PBNU, KH Mustofa Bisri mengatakan, aktivitasnya yang berinteraksi dengan masyarakat Muslim di penjuru dunia menghasilkan kesimpulan, identitas Muslim Indonesia bukan identitas yang berdiri sendiri. Ia mempunyai kemiripan dengan masyarakat Muslim di belahan dunia lain. Jika ada kemiripan, mengapa dampak sosial budaya dan politiknya berbeda?

Maka, dalam konteks ini yang perlu diwaspadai adalah konsekuensi dari proses pengenalan Islam Nusantara ke tataran dunia. Nilai-nilai universal yang secara praksis telah menjadi norma kelompok tertentu bisa menjadi masalah dan bisa juga tidak bagi kelompok lainnya. Di sinilah perlunya identifikasi atas konsekuensi yang ada.

Identifikasi dini atas konsekuensi buruk dari proses penyadaran pentingnya Islam Nusantara tentu positif bagi keberhasilan pada masa depan. Masyarakat pasti mengalami konsekuensi (Giddens, 2004). Namun, kehati-hatian menghadapi ‘faktor lain’ akan menghindarkan masyarakat dari konsekuensi buruk.

Ikhtiar menghadirkan Islam Nusantara di tengah masyarakat dunia pada prinsipnya upaya mewujudkan tata dunia yang kondusif bagi persemaian keadilan, perlindungan hak, perbaikan kualitas hidup, dan kemakmuran masyarakat (KH Hasyim Asyari, 1928).

Muhammad Sulton Fatoni, Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Dosen Sosiologi STAINU Jakarta

Di muat di Republika, 20 Juni 2015

Hosting Unlimited Indonesia

Sumber arrahmah.co.id

Menag: Pondok Pesantren Lembaga Pendidikan Islam Khas Indonesia

Menteri-Agama-Lukman-Hakim-Saifuddin
Menteri-Agama-Lukman-Hakim-Saifuddin

JAKARTA — Kementerian Agama mendukung program gerakan Ayo Mondok yang dilakukan oleh ormas PBNU. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang sangat khas indonesia yang tidak bisa didapatkan di negara lainnya.

“Pemerintah melalui kementerian agama sangat medukung program itu (Ayo Mondok). Karena memang salah satu pendidikan keagamaan yang dikembangkan oleh kementerian agama adalah pondok pesantren,” ujar Lukman kepada ROL, selas (2/6).

Ia menjelaskan, sejak puluhan tahun lalu pondok pesantren telah mampu menjaga niali-nilai Islam yang diperlukan oleh bangsa Indonesia ditengah keberagaman yang ada. Seperti Islam yang rahmatan lil alamin, penuh damai, moderat, toleran dan Islam yang sangat menekankan pada cinta tanah air. Sehingga apa yang dilakukan oleh PBNU sangat baik dan dinilai sejalan dengan program pemerintah.

Ia mengaku optimistis gerakan Ayo Mondok akan mampu menarik minat masyarakat untuk mendidik anaknya di pesantren. Ini dikarenakan, pondok pesantren masih tetap relevan dan memiliki nilai urgensi yang tinggi di tengah era globalisasi saat ini dimana semakin beragamnya nilai asing yang masuk ke generasi muda bangsa. Sehingga keberadaan pesantren sangat relevan dan makin diperlukan.

Ia berharap dengan mondok di pesantren maka akan membuat generasi muda memiliki dasar-dasar pemahaman kegamaan yang baik yakni Islam yang mampu menebarkan rahmat bagi seluruh alam semesta dan Islam yang sesuai dengan konteks jati diri Indonesia. (ROL)

Hosting Unlimited Indonesia

Sumber arrahmah.co.id

Dr. Arwani Syaerozi: Pesantren Salah Satu Penjaga Akhlak Generasi Muda

CIREBON – Direktur Pascasarjana Ma’had Aly Al Hikamus Salafiyah Dr. H. Arwani Syaerozi, MA menegaskan bahwa pesantren sebagai institusi pendidikan tertua di Indonesia, telah memberikan kontribusi signifikan bagi pendidikan nasional, terutama dalam mengawal moral.

“Tidak diragukan, pesantren menjadi benteng terakhir penjaga moralitas generasi muda,” tegas Doktor Maqasid Syari’ah dan Problematika Kemanusiaan lulusan Universitas Mohammed V Maroko pada sambutan stadium general dengan tema “Kontribusi Pesantren Dalam Pendidikan Nasional” di Ma’had Aly Al Hikamus Salafiyah Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon 23 November 2014. Continue reading Dr. Arwani Syaerozi: Pesantren Salah Satu Penjaga Akhlak Generasi Muda

Ilustration

LKNU Galakkan Gaya Hidup Sehat di Pesantren

JAKARTA – Pesantren identik dengan kesederhanaan dan kebersamaan, tetapi hal itu tidak mengurangi semangat para santri untuk terus belajar dan beribadah. Bukan berarti hal tersebut terus dibiarkan apa adanya, Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) bersama dengan Sesric (Statistical, Economic and Social Research and Training Center for Islamic Countries), sebuah organisasi yang berpusat Turki mendorong tumbuhnya perilaku gaya hidup sehat.

Selama satu tahun belakangan ini, mereka mengunjungi sejumlah pesantren di Jawa Timur meliputi Blitar, Tulungagung, dan Kediri. Di Jabar mencakup Cilacap, Depok dan Tasikmalaya sementara wilayah Jateng dipusatkan di Pati. Yang menjadi sasaran terutama pesantren yang infrastrukturnya masih kurang memadai untuk mampu memaksimalkan potensi yang ada demi menjalankan kualitas hidup yang lebih baik. Continue reading LKNU Galakkan Gaya Hidup Sehat di Pesantren

Ilustration

Banyak Sejarah Perjuangan NU Tidak Tulis

JOMBANG – Sejarah perjuangan ulama NU banyak yang tidak tercatat dalam buku-buku sejarah yang selama ini beredar dan menjadi dokumen negara. Hal ini disampaikan Khoirul Anam dalam forum bedah buku Ensiklopedia NU yang digelar di Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang, Sabtu (21/6).

Karenanya, kata salah satu penulis Ensiklopedia NU itu, buku yang diluncurkan PBNU Mei lalu ini merupakan upaya minimalis dalam mencatat dan mendokumentasikan sejarah NU dalam membangun bangsa Indonesia.

“Ini adalah upaya minimalis, dan masih banyak cerita-cerita yang belum bisa termuat dalam buku 4 jilid ini,” beber Anam mengawali diskusi. Continue reading Banyak Sejarah Perjuangan NU Tidak Tulis

Dayah, Format Pesantren Khas Aceh

BIEUREUN – Sebagai wilayah pertama di Asia Tenggara yang menerima kehadiran Islam sejak abad pertama hijriyah, Aceh merupakan kawasan yang masyarakatnya memiliki karakteristik yang unik. Keunikan karakteristik ini disebabkan kuatnya pengaruh Islam dalam proses pembentukan rakyat Aceh. Bahkan, Islam menjadi asas pembinaan budaya itu sendiri.

“Benteng yang paling berjasa dalam proses pertahanan budaya masyarakat Aceh adalah lembaga pendidikan yang disebut Dayah,” ujar Teungku Haji Hasanoel Bashri HG, salah satu ulama kenamaan asal Samalanga Bireuen, saat ditemui belum lama ini.

Menurut tokoh yang akrab disapa Abu MUDI ini, kata “Dayah” merupakan kutipan dari bahasa Arab “Zawiyah” yang berarti majelis pengajian. Kata itu kemudian berubah sesuai dengan dialek bahasa Aceh menjadi dayah. Dalam perkembangan selanjutnya, lanjut Abu MUDI, dayah dalam terminologi orang Aceh menjelma sebuah lembaga pendidikan Islam yang berperan aktif membina keteguhan keimanan, akhlak, dan keilmuan masyarakat. Continue reading Dayah, Format Pesantren Khas Aceh

Pesantren, Penjaga Moralitas Bangsa

Cirebon – Meskipun beberapa kalangan memandang sebelah mata dunia pesantren, namun peran signifikan lembaga pendidikan kaum sarungan ini tidak bisa diremehkan. Pesantren telah memberikan kontribusi luar biasa bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia, terutama dalam mengawal moralitas dan religiuitas masyarakat.

Hal ini ditegaskan kembali dalam Halaqoh Nasional bertajuk “Pesantren Model Pendidikan Karakter”, dalam rangka peringatan Maulid Nabi & Haul XIV Al Maghfurlah KH. Syaerozie bin KH. Abdurrohim, pendiri Pondok Pesantren Putra Putri Assalafie Babakan Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat di pesantren setempat, Jumat (7/2).

Hadir sebagai pembicara utama Dr H Sumanta, pembantu rektor I IAIN Syaikh Nurjati Cirebon, yang juga alumni pesantren  Assalafie Babakan Ciwaringin; serta Ahmad Baso, dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta, yang juga penulis buku  Pesantren Studies.