Santri Berpolitik, Mengapa Tidak?

Menurut para ulama, politik adalah wasilah (jalan; cara; alat). Bukan ghoyah (tujuan). Sebagai alat, Imam Al-Mawardi, ulama besar pengarang kitab fikih politik termasyhur mengatakan, politik jika dilandasi agama akan baik, dan politik agama jika disokong politik akan kuat.

Karena itu, kaum santri yang dedefinisikan sebagai muslim yang taat, tak boleh ikut-ikutan menganggap politik itu kotor. Justru santri harus mengontrol politik agar tetap berada pada jalur kebaikan. Negara justru harus dipegang oleh orang berkualitas santri. Agar politik bisa membawa rahmat bagi seluruh manusia.

Demikian disampaikan Ketua PWNU Jawa Tengah Muhammad  Adnan dalam acara Talkshow Pendidikan Politik Santri bertema “Moral Politik Santri dan Demokrasi Kerakyatan” yang diselenggarakan Komunitas Peduli Pendidikan (Koppen) Jawa Tengah bekerjasama dengan Dirjen Kesbangpol Kemendagri di halaman Ponpes Roudlotut Tholibin, Tugurejo, Semarang, Sabtu (16/4) malam lalu. Acara dihadiri ratusan santri berbagai Pondok Pesantren Kota Semarang dan Kendal, serta warga masyarakat sekitar tempat acara.

“Santri berpolitik, mengapa tidak?,” tegas Adnan yang juga Dosen FISIP Undip ini. Continue reading Santri Berpolitik, Mengapa Tidak?

Prof. Dr. M Nuh: Santri Salaf Bisa Penyetaraan

Kementrian Pendidikan Nasional rencananya akan membentuk sebuah lembaga penyetaraan bagi para lulusan pondok pesantren salaf di Indonesia. Tujuannya agar keberadaan para santri mendapat pengakuan seperti lulusan sekolah formal pada umumnya.

Hal inilah yang telah diungkapkan oleh Menteri Pendidikan Nasional Muhammad Nuh saat menghadiri haul ke 29 almarhum KH Abdul Hamid di Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan, Sabtu (12/2). Continue reading Prof. Dr. M Nuh: Santri Salaf Bisa Penyetaraan

PBNU-HKBP Bertemu Bahas Masalah Bangsa

JAKARTA – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama bersama Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) membicarakan persoalan kebangsaan yang berkembang dewasa ini, di gedung PBNU, Jakarta, Selasa (14/5). Kedua belah pihak prihatin dengan merebaknya korupsi, narkoba, dan intoleransi.

Soal yang intens dibicarakan adalah beragama dalam keragaman. Pendeta WTP Simarmata dari HKBP bercerita tentang kerukunan di Sumatera Utara. Dulu, Muslim dan Kristen itu sangat dekat. Jika salah satu pihak membangun tempat ibadah, pihak lain membantu. Begitu juga sebaliknya, “Tapi sekarang berubah,” katanya prihatin.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menangapi. Menurutnya kecenderungan semacam itu sejak banyaknya alumni Timur Tengah di Indonesia pada tahun 1980-an,” Tapi jangan salah, saya juga lulusan Timur Tengah,” katanya. Continue reading PBNU-HKBP Bertemu Bahas Masalah Bangsa

Peranan Pesantren Bisa Hilang Jika Tidak Didokumentasikan

JAKARTA – Tradisi menulis di kalangan pesantren sudah berkembang sejak pesantren itu berdiri. Banyak karya yang muncul dari pesantren di Nusantara. Sayang, pesantren masih kurang awas dalam hal dokumentasi.

Sejarawan Agus Sunyoto menyesalkan kalangan pesantren yang kurang memelihara dan mendokumentasikan karya-karya para kiai.

Misalnya, ada karya terjemahan Tafsir Jalalain dalam bahasa Jawa yang malah diterbitkan di luar negeri. Continue reading Peranan Pesantren Bisa Hilang Jika Tidak Didokumentasikan

Pesantren, Warisan Pendidikan Akhlakul Karimah Asli Indonesia

Oleh Mamang M. Haerudin*

Akar dan Sejarah Pesantren
Saya ingin mengawali tulisan sederhana ini dengan menyuguhkan akar dan sejarah awal munculnya pesantren di Indonesia. Penting diketahui, awal munculnya pesantren ini tidak bisa lepas daripada ketika awal masuknya Islam ke Indonesia yakni antara abad ke-11 dan 14. Pada abad itulah merupakan tonggak sejarah baru sebagai bagian dari proses paling penting dalam sejarah bangsa Indonesia. Zamakhsyari Dhofier (2011: 27), penulis buku Tradisi Pesantren bahkan lebih jauh berpendapat bahwa masa transisi dari peradaban Hindu Budha Majapahit ke masa periode pembangunan Peradaban Melayu Nusantara, merupakan periode penting dalam sejarah bangsa Indonesia yang menentukan arah pembangunan peradaban Indonesia modern memasuki periode millennium ketiga, namun sayangnya banyak sejarawan yang ingin menghilangkan masa periode yang penting tersebut. Continue reading Pesantren, Warisan Pendidikan Akhlakul Karimah Asli Indonesia

Slank Meriahkan Peluncuran Program Pesantreneurship di Ogan Komering Ulu

OGAN KOMERING ULU – PC GP Ansor Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur-Sumsel, meluncurkan Program Pengembangan Pesantren dan Kewirausahaan, di Pesantren Nurul Fattah, Kota Baru Selatan-Martapura, (25/11).

Menurut Ketua PC. GP Ansor OKU Timur, Ahmad Makmun, baik GP Ansor maupun Koperasi Kalijaga menyatakan kesiapan pihaknya untuk segera merealisasikan program tersebut ke pesantren-pesantren dan desa-desa di OKU Timur.

“Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah, peluncuran program pengembangan pesantren dan kewirausahaan atau disebut Pesantreneurship bisa diresmikan. Kepada semua pihak yang mambantu dan personil Slank serta Ki Ageng Ganjur yang telah turut meramaikan acara ini kami haturkan terima kasih,” sambut Ahmad Makmun, didampingi Apriandi, sekretars Ansor.

Pesantreneurship merupakan program bersama GP Ansor OKU Timur, Koperasi Kalijaga dan beberapa forum ikatan alumni santri pesantren di OKU Timur dan di luar OKU Timur. Continue reading Slank Meriahkan Peluncuran Program Pesantreneurship di Ogan Komering Ulu

Pesantren harus Menjadi Pusat Budaya, bukan Konsumen Budaya

Bandung, NU Online
Pesantren merupakan sistem pendidikan asli Indonesia yang mampu mengintegrasikan nilai lokal, baik fisik maupun tata nilai dengan keislaman sehingga berpadu dalam Islam Nusantara yang toleran dan moderat yang merupakan perwujudan dari Islam ahlusunnah wal jamaah (aswaja).

Kemampuan adaptasi ini membuat pesantren dengan mudah diterima oleh masyarakat. kehadirannya tidak menganggu tradisi yang ada sehingga, pesantren tidak sekedar menjadi budaya pendidikan, tetapi telah mewujud menjadi subkultur tersendiri menjadi sebuah lembaga sosial budaya yang utuh dan menjadi rujukan masyarakat dalam berfikir dan bertindak.

Wakil Ketua Umum PBNU H As’ad Said Ali mengingatkan, umat Islam Indonesia dan kaum santri, pada khususnya, sedang dihadapkan pada dua persoalan besar, yaitu serbuan radikalisme Islam atau fundamentalisme agama di satu sisi dan disisi lain, menghadapi fundamentalisme pasar bebas yang dikenal dengan liberalisme. Mereka sama-sama fundamentalis, membawa ideologi keras yang tidak bisa ditawar atau dikompromikan dengan budaya setempat. Continue reading Pesantren harus Menjadi Pusat Budaya, bukan Konsumen Budaya

Pesantren Sebagai Pusat Kebudayaan

Hampir keseluruhan pengembangan kebudayaan, terutama pendidikan dijalankan oleh pesantren. Pesantren merupakan kelanjutan sistem pendidikan lama yang telah berkembang sejak masa Hindu dan Budha.

Demikian dikatakan budayawan Abdul Mun’im DZ dalam Lokakarya Pengembangan Seni Budaya dan Perfilman yang diselenggarakan oleh Dirjen Nilai Budaya, Seni dan Film Kementerian Budpar (6/4) di Hotel Sari Pan Pacifik Jakarta.

Pembicara lain budayawan Bisri Effendi dan Acep Zamnzam Noor, penyair dari pesantren Cipasung, tasikmalaya, Jawa Barat. Lokakarya dihadiri oleh para pengggiat seni budaya di Jakarta. Continue reading Pesantren Sebagai Pusat Kebudayaan

Kemenkominfo Gelar Pelatihan Internet di Pesantren

Surabaya, NU Online
Kementerian Komunikasi dan Informatika melalui Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika mensosialisasikan internet ke pesantren yang tersebar di Jawa Timur.

“Sebenarnya ini sudah program kementerian pada 2005, namun mendapat perluasan dari internet masuk ke masyarakat dan sekolah, selanjutnya masuk ke pesantren-pesantren,” ujar Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika Aswin Sasongko kepada wartawan di sela pembukaan seminar Internet Sehat dan Aman “Goes To” Pesantren di Surabaya, Kamis.

Sekitar 200 pondok pesantren mendapat program ini. Sudah waktunya para santri menguasai dunia teknologi informasi. Pihaknya berharap, program ini bisa membuat masyarakat lebih mencintai internet yang sehat dan aman. Continue reading Kemenkominfo Gelar Pelatihan Internet di Pesantren

Gus Acep Zanzam: Pesantren harus Apresiasi Sastra Santri

Jakarta, NU Online
Sastra sangat berpengaruh dan dapat membentuk kepribadian seseorang. Pengaruh itu bisa ditunjukkan dengan kepekaan, empati yang tinggi terhadap orang lain, dan mencintai alam semesta.

Demikian disampaikan Sastrawan asal Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Acep Zamzam Noor. Selain itu, sastra akan mengajarkan seseorang kepada proses. “Sastra itu kan proses, bukan hasil akhir. Sebelum makna! Yang mempengaruhi terhadap kepribadian itu, disamping berisi petuah-petuah, juga proses bahasa dan keindahannya,” katanya kepada NU Online di Jakarta, Rabu (18/4)

Menurut budayawan Sunda yang mendapat anugerah Rancage tahun 2012 ini, hilangnya kepribadian para politikus sekarang, disebabkan mereka sudah tidak mencintai sastra, “Mereka tidak memikirkan orang lain, yang penting menang! Menang! Proses saja tidak dilewati,” katanya. Continue reading Gus Acep Zanzam: Pesantren harus Apresiasi Sastra Santri

Pesantren dalam Kesusastraan Indonesia

Oleh Abdurrahman Wahid

Sebagai objek sastra, pesantren boleh dikata belum memperoleh perhatian dari para sastrawan kita, padahal banyak di antara mereka yang telah mengenyam kehidupan pesantren. Hanya Djamil Suherman yang pernah melakukan penggarapan di bidang ini, dalam serangkaian cerita pendek di tahun-tahun lima puluhan dan enam puluhan. Juga Mohammad Radjab, sedikit banyak telah menggambarkan tradisi hidup bersurau di kampung, dalam otobiografinya yang berjudul Semasa Kecil di Kampung. Walaupun demikian, karya dua orang penulis itu belum lagi dapat dikatakan berhasil mengungkapkan hidup kejiwaan di pesantren. Paling banyak karya mereka baru memantulkan nostalgia akan masa bahagia yang mereka alami semasa kecil dalam lingkungan pesantren.

Yang ironis, justru sebuah karya pendek yang berhasil menampilkan permasalahan kejiwaan pesantren. Karya itu adalah cerpen Robohnya Surau Kami, oleh A.A. Navis. Permasalahan cerpen ini, yaitu fatalisme yang melanda kehidupan beragama, adalah permasalahan tipikal pesantren. Walaupun latar belakang sosial yang disoroti adalah kehidupan kampung yang “biasa”, tetapi jelas sekali cerpen ini dipengaruhi corak kehidupan surau/pesantren di Sumatera Barat. Continue reading Pesantren dalam Kesusastraan Indonesia

Prof. Maksum Mahfudh: Pesantren itu Sederhana tapi kaya Makna

Jakarta, NU Online
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof Dr KH Maksum Mahfudh mengatakan, motto ‘Kembali ke Pesantren’ yang diusung oleh PBNU pada periode kepengurusan kali ini juga bisa dimaknai bahwa NU menginginkan nilai-nilai pesantren dapat mewarnai kehidupan kebangsaan.

“Pesantren itu sederhana, tapi kaya makna dan nilai-nilai. Nah sekarang ini kita mengupayakan agar bagaimana makna dan nilai-nilai pesantren ini bisa mewarnai kehidupan kebangsaan,” katanya kepada NU Online di kantor PBNU, Jakarta, Senin (2/4). Continue reading Prof. Maksum Mahfudh: Pesantren itu Sederhana tapi kaya Makna

RMI Kudus Lakukan Pendataan Pesantren

Kudus, NU Online
Sejak Jum’at (23/3) lalu, Pengurus Cabang (PC) Rabithah Ma’ahidil Islamiyah (RMI) Kudus kembali melakukan pendataan pondok pesantren yang ada di kota kretek ini. Untuk mempercepat prosesnya, RMI telah menerjunkan tim pendataan ke sejumlah pesantren di masing-masing kecamatan di Kabupaten Kudus.

Ketua PC RMI Kudus KH Afifudin mengatakan program pendataan ini merupakan langkah adminsitratif dengan tujuan mengawal lembaga pesantren dari ancaman faham lain yang radikal. “Dengan pendataan, keberadaan pesantren yang notabene NU ini diharapkan tidak lepas ke tangan kelompok lain,” ujarnya kepada NU Online di Kantor NU Kudus, Sabtu (24/3). Continue reading RMI Kudus Lakukan Pendataan Pesantren

Syaifullah Yusuf: Saatnya Pesantren Miliki BMT dan Rumah Sakit

Seiring pesatnya kemajuan zaman juga pertumbuhan ekonomi di Indonesia ini di harapakan untuk Pondok Pesantren (Ponpes) bisa memiliki sebuah Baitul Maal Watamwil (Bmt) dan juga rumah sakit supaya tidak tertinggal jauh dengan lembaga pendidikan yang lain.

Hal tersebut sebagaimana diungkapkan oleh Wakil Gubernur Jawa Timur Saefullah Yusuf saat mengahadiri acara pembukaan Silaturrahmi Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Wilayah Jawa Timur di Hotel Willis Resort, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban.

“Kalau ada BMT di setiap pondok pesantren, orangtua wali santri tidak perlu pinjam ke mana-mana, tapi cukup pinjam di BMT. Kalau pondok bisa begitu, saya kira ekonomi bisa digerakkan melalui pondok,” terang Gus Ipul, Jum’at (27/01).  Continue reading Syaifullah Yusuf: Saatnya Pesantren Miliki BMT dan Rumah Sakit

Pesantren Jangan Habiskan Energi Membahas Terorisme dan Deradikalisasi saja!

Rembang – Menteri Agama Suryadharma Ali minta para pimpinan pondok pesantren dan ulama tidak menghabiskan energi untuk pembahasan terorisme, radikalisme dan multikultural karena sikap Islam sudah jelas namun ke depan hendaknya dapat memberi perhatian kepada perkembangan pondok pesantren dan pendidikan santri.

Pernyataan itu disampaikan Menag Suryadharma Ali ketika tampil sebagai pembicara pada pembukaan sarasehan sosial dan budaya “Pesantren Untuk Bangsa” di Pondok Pesantren Al-Anwar, Rembang, Jawa Tengah, Sabtu (17/12).

Dalam acara yang dihadiri para ulama dan sejumlah pejabat setempat, nampak hadir mantan Ketua PB NU KH Hasyim Muzadi, KH. Maimun Zubair, KH Nur Muhammad Iskandar, Kakanwil Kemenag Jateng Imam Harumain, Kabadlitbang Kemenang Abdul Djamil dan ratusan santri setempat. Continue reading Pesantren Jangan Habiskan Energi Membahas Terorisme dan Deradikalisasi saja!

Pesantren Agen Utama Keluarga Maslahat

Jakarta, NU Online
Jumlah penduduk Indonesia sekarang sekira 237,5 juta jiwa. Jumlah ini menempati urutan keempat terbesar dunia. Tapi kondisi semacam itu, berbanding tebalik dengan Indeks Prestasi Masyarakat (IPM) yang rendah.

Demikian dikatakan Hardiyanto saat memberikan sambutan pada workshop Penguatan Kapasitas Lembaga Pendidikan/Pesantren dalam Penerapan Program Kesehatan Reproduksi Remaja yang diselenggarakan Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama LKKNU bekerja sama dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Nasioanal (BKKBN) pada Kamis, (13/10).   Continue reading Pesantren Agen Utama Keluarga Maslahat

Suryadharma: Jangan Pandang Sebelah Mata Pesantren

Purwakarta, NU Online
Menteri Agama Suryadharma Ali berharap mutu pendidikan Islam di tanah air akan semakin baik, apalagi saat ini ditopang dengan anggaran pendidikan yang dikelola Kementerian Agama mencapai Rp 27 trilyun.
“Jangan sampai ada pondok pesantren atau madrasah dipandang sebelah mata,” kata Menteri Agama pada sambutan peresmian Masjid Ummahatul Mukminin dan pelepasan jamaah haji di Pondok Pesantren Al Muhajirin, Purwakarta, Jawa Barat, Ahad (9/10). Continue reading Suryadharma: Jangan Pandang Sebelah Mata Pesantren

Profil KH Hasyim Asy’arie

Foto: Alkisah

K.H. Hasyim Asy’ari lahir pada 24 Dzulqa`dah 1287 H atau 14 Februari 1871 M di Desa Nggedang, Jombang, Jawa Timur. Ia anak ketiga dari 10 bersaudara pasangan Kiai Asy`ari bin Kiai Usman dari Desa Tingkir dan Halimah binti Usman.

Ia lahir dari kalangan elite santri. Ayahnya pendiri Pesantren Keras. Kakek dari pihak ayah, Kiai Usman, pendiri Pesantren Gedang. Buyutnya dari pihak ayah, Kiai Sihah, pendiri Pesantren Tambakberas. Semuanya pesantern itu berada di Jombang.

Sampai umur 13 tahun, Hasyim belajar kepada orangtuanya sendiri sampai pada taraf menjadi badal atau guru pengganti di Pesantren Keras. Muridnya tak jarang lebih tua dibandingkan dirinya.

Pada umur 15 tahun, ia memulai pengembaraan ilmu ke berbagai pesantren di Jawa dan Madura: Probolinggo (Pesantren Wonokoyo), Tuban (Pesantren Langitan), Bangkalan, Madura (Pesantren Trenggilis dan Pesantren Kademangan), dan Sidoarjo (Pesantren Siwalan Panji). Continue reading Profil KH Hasyim Asy’arie