Jakarta- Twitter bisa diibaratkan sebagai sebuah kota dengan penduduk yang selalu hiruk pikuk menyuarakan pendapatnya. Berdasarkan data dari Social Jump start, misalnya, sebanyak 175 ribu twit dilontarkan penggunanya ke jagat Twitter alias Twitterverse.

“Percakapan di Twitter ini sebenarnya merupakan sumber informasi yang besar bila mau memanfaatkannya,” ujar Andi Sjarif, CEO jaringan pemasang iklan konteksual dalam jaringan internet, SITTI, ketika berbicara dalam malam penghargaan ‘Juara Social Media’ di Hotel Intercontinental Mid Plaza, Jumat, 16 Maret 2012 lalu.

Sejauh ini tidak semua pihak bisa memperoleh gambaran besar dari semua percakapan yang terjadi di Twitter. Karena itu, SITTI meluncurkan SITTI Socwave, program yang bisa memberikan gambaran besar mengenai percakapan pengguna Twitter di Indonesia secara real-time.

Mulai Jumat pekan lalu, SITTI Socwave dapat diakses secara gratis di http://socwave.sitti.co.id
Dalam Socwave ini pengunjung dapat melihat gambaran percakapan pada 19 kategori yang berbeda, seperti perbankan, pendidikan, politik, kecantikan, IT dan lain-lain. Pengunjung dapat melihat kata kunci apa yang paling sering digunakan dalam satu kategori di kolom ‘stat’, serta 10 pengguna Twitter paling berpengaruh dalam kategori tersebut.

Kata kunci yang paling banyak digunakan ini juga dapat dilihat dalam bentuk ‘word cloud’, di mana semakin besar suatu kata kunci ditampilkan, artinya semakin sering kata tersebut digunakan.

Andi mengatakan SITTI Socwave bahkan bisa mengenali kata-kata slang yang biasa digunakan anak muda. “Socwave saat ini mengerti 927 ribu kata, jauh lebih banyak dibanding Kamus Besar Bahasa Indonesia,” ujarnya.

Sementara itu, pada kolom ‘SNA’ ditampilkan jejaring pembicaraan dari berbagai kata kunci dalam sebuah kategori. Misalnya saja dalam kategori ‘telekomunikasi’, kata kunci ‘Esia’ ternyata berhubungan dengan tiga kata kunci lain seperti ‘Axis’, ‘Telkomsel’ dan ‘IM3’, namun tidak terhubung dengan ‘Telkom’.

Program ini masih dalam versi beta. Andi mengundang pengunjung untuk menyumbang kritik dan saran atas SITTI Socwave. Ia juga belum mengetahui apakah ke depannya Socwave akan dikomersialkan atau tetap digratiskan.

Andi mengatakan SITTI sebenarnya sudah memiliki algoritma yang dapat menghitung berapa harga dari sebuah akun, berdasarkan pengaruhnya di Twitter, namun algoritma ini belum dipasang di Socwave.

“Ini berguna agar jangan terjadi pembodohan, di mana hanya akun dengan follower banyak yang bisa menjadi buzzer,” ujarnya.

Sumber: Tempo