PBNU: Islam dan Nasionalisme Harus Bersenyawa

Kudus, NU Online
Islam dan nasionalisme Indonesia adalah dua sisi mata uang atau senyawa yang saling memberikan makna. Keduanya tidak bisa diposisikan secara diametral atau dikotomik. Nasionalisme selalu meletakkan keberagaman atau pluralitas sebagai konteks utama yang melahirkan ikatan dasar menyatukan sebuah negara bangsa.

“Idealnya ummat Islam tidak perlu merasa khawatir kehilangan identitasnya karena persenyawaannya sangat lekat dalam Negara bangsa,” kata Kasi KBP Kantor Kesbangpol dan Linmas Kabupaten Kudus H. Bambang Irianto saat menjadi pembicara sarasehan dan dialog “Pemantapan Aswaja dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara” yang diadakan PC Muslimat NU Kudus , Kamis (22/3).

Menurut Bambang, perjuangan dengan menonjolkan identitas atau simbol-simbol ke-Islaman dalam kerangka perjuangan politik kebangsaan hanya merupakan cerminan kelemahan ummat Islam sendiri.

“Meskipun terbuka peluangnya di alam demokrasi ini, penekanan berlebihan akan berpotensi menjadi penyulut disintegrasi dan tidak sejalan dengan semangat nasionalisme.” ujarnya di depan ratusan warga Muslimat dan Kepala TK/RA/Kelompok Bermain Muslimat NU Kudus.

Seharusnya, kata dia, perjuangan politik ummat Islam menekankan pada penguatan nasionalisme Indonesia dengan memperkokoh factor perekat kebangsaan yang secara subtantif.

“Nilai-nilai dimaksud merupakan nilai-nilai universal Islam yang menyentuh kesadaran pragmatis warga Negara, seperti keadilan, kesejahteraan dan kepercayaan.” tandas H. Bambang.

Merunut dari fakta sejarah,tuturnya, hubungan Islam dan nasionalisme telah berlangsung sejak didirikannya Republik Indonesia. Ia mencontohkan perumusan dasar negara telah terjadi perdebatan sengit antara soekarno di satu pihak dengan Muhammad Nasir, Wahid Hasyimn, Sukirman, Muhammad Roem dan Agus Salim maupun lainnya yang pada akhirnya sepakat dengan Pancasila.

“Oleh karena itu, seorang muslim harus percaya nasionalisme tidak bertentangan dengan Islam bahkan merupakan bagian dari Islam itu sendiri. Begitu pula Islam tidak anti nasionalisme melainkan senyawa,” tegasnya lagi.

Diakhir ceramahnya, H Bambang menekankan pentingnya menjaga empat pilar berbangsa dan bernegara yakni Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI. Ia mengajak gerakan kader Aswaja memperkokoh empat pilar berbangsa dan bernegara guna menyikapi fenomena Islam Transnasional.

“Selain itu juga perlu memahami kerentanan konflik horizontal dan vertical yang diakibatkan oleh gerakan Islam transnasional, liberalisme, fundamentalisme dan radikalisme. Dengan demikian akan tercipta gerakan pemuda yang memiliki wawasan multikulturalisme guna mewujudkan persatuan Indonesia,” tegasnya dalam acara yang bertempat di kantor NU Kudus.

Wagiman Wiryosukiro

Petani Sistem Informasi, tukang las plugin & themes Wordpress. Co-Founder SistemInformasi.biz. Saat ini aktif sebagai Developer & kontributor di OpenMandriva Linux.

You may also like...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: