Cak Nun: Indonesia Belum Jadi

Semarang, NU Online
Lir-ilir lir-ilir/ tandure wong sumilir/ tak ijo royo-royo/ tak sengguh temanten anyar/ cah angon cah angon/ penekna blimbing kuwi/ lunyu-lunyu penekna/ kanggo mbasuh dodotira/ dodotira dodotira kumitir bedhah ing pinggir/ dondomana jlumatana/ kanggo seba mengko sore/ mumpung padhang rembulane/ mumpung jembar kalangane/ ya suraka surak hore.

Tembang gubahan Sunan Ampel berisi pengenalan agama Islam itu dibawakan secara kolaboratif nan apik oleh grup musik Kyai Kanjeng dan Laskar Shalawat mahasiswa Unnes, di halaman rektorat Unnes belum lama ini. (Selasa, 7/6).

Saking enaknya syair Jawa itu, ratusan hadirin tak beranjak dari tempat duduk hingga 2 jam lamanya. Itu juga karena lewat Orasi Budaya bertajuk “Mewujudkan Nilai-Nilai Konservasi Sebagai Pilar Pendidikan Berkarakter”, Emha Ainun Najib mampu menyihir hadirin dengan ucapan maupun lantunan syair diiringi grup musiknya. Terlebih semua berisi sholawat dan khas gambang syafaat, musik besutan Cak Nun. Suasana terasa sejuk dan syahdu.

Budayawan yang di masa Soeharto sering dilarang dan dimusuhi penguasa ini berorasi, Indonesia ibarat yang belum benar-benar jadi.

“Sukarno baru saja masang kompor, sudah diganti. Gus Dur baru juga nyumet (menyalakan –Red) kompor, juga tiba-tiba dihentikan. Kapan dadine sega Indonesia?” tanyanya lantang.

Saat ini, lanjut suami Novia Kolopaking ini, yang ada baru rakyat Indonesia. Pemerintah belum.

“Kita belum pernah punya pemerintah yang sukses. Tapi rakyat Indonesia sungguh telah sukses sebagai rakyat. Mereka memiliki ketahanan dan kesabaran luar biasa. Setiap hari dilanda banjir, tetap saja bahagia. Begitu disyut kamera televisi, bukannya menampakkan kesedihan, mereka malah senyam-senyum sambil melambaikan tangan dada-dada,” seloroh penulis buku Slilit sang Kiai dan Lautan Jilbab ini.

Disampaikan Cak Nun, Pemimpin yang baik tak lagi memiliki dirinya. Seluruh waktu dan pikirannya untuk rakyat atau orang-orang yang dia pimpin. Bahkan sampai tidak sempat mengurus dirinya.

“Pemimpin yang baik tentu bukan yang sibuk dengan dirinya sendiri. Apalagi mengurus SMS atau kabar miring tentang dirinya yang tidak jelas,” sindir Emha.

Bangunlah Surga di Dunia

Penyair yang tak pernah mau terjun politik praktis ini juga menasehati, orang harus membangun surga di dunia dan surga di akhirat. Sebelum mendapat surganya Gusti Allah, kata dia, makhluk harus berikhitiar membangun surganya sendiri di bumi.

“Jika ingin mendapatkan surga di akhirat, ya bangun dulu surga di diunia. Membangun taman di sekitar tugu kekhalifahan, itulah contoh fisik membangun surga dunia,” kata Emha seraya menunjuk Tugu Sutera Unnes yang berjarak dua ratusan meter di depannya.

Kepada segenap civitas akademika, suami Novia Kolopaking itu menyebut kelebihan universitas hasil metamorfosis IKIP semacam Unnes.

“Cah IKIP itu lebih andhap asor (sopan; rendah hati). Maka setelah berubah menjadi universitas, ia memiliki infrastruktur yang tidak dipunya oleh universitas lain. Yakni andhap asor dan tidak sombong. Bersyukurlah orang yang tidak sombong, karena kesombongan sesungguhnya menutup pori-pori rohani,” katanya.

Pria asal Menturo, Sumobito, Jombang, Jatim ini tampil dengan pakaian khasnya; baju dan celana hitam. Di depan ratusan orang, termasuk Rektor Unnes Prof Dr Sudijono Sastroatmodjo MSi dan para mahasiswa, dia juga menyinggung karut-marut pendidikan di negeri ini.

“Yang harus diutamakan dalam mendidik adalah menyayangi dan mengasihi. Seperti orang tua pada anak-anaknya, guru, dosen, bahkan rektor juga harus sayang pada murid atau mahasiswanya. Jika tidak ada rasa sayang, pendidikan pasti gagal,” ujarnya disambut tepuk tangan hadirin.

Dia menyindir perguruan tinggi saat ini yang terlalu terkotak-kotak di fakultas-fakultas. Padahal menurutnya pendidikan di perguruan tinggi harus menengok kesatuan sebagai universitas.

Orasi budaya itu merupakan puncak acara Semarak Bulan Pendidikan yang diadakan oleh Fakultas Ilmu Pendidikan Unnes. Tak sia-sialah Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Hardjono MPd mengusungnya sebagai bagian dari rangkaian panjang acara fakultas ke level universitas.

“Ojo ucap, bodo yo ben. Golek ilmu kudu telaten.” Demikian salah satu bait lagu yang dinyanyikan dia di penghujung acara.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this:
:)