D Zawawi Imron: Cinta Tanah Air Model NU

Jakarta, NU Online
Memperingati hari kemerdekaan ke-66 RI dan menjelang Nuzulul Qur’an, PBNU mengadakan Refleksi Kebangsaan, pada Senin, 15/08 menjelang buka puasa, di gedung PBNU lantai 8.

Hadir pada kesempatan itu, ketua PBNU dan, KH. Said Aqil Siroj dan wakil ketua umum, KH. As’ad Said Ali, Slamet Effendy Yusuf beserta jajaran pengurus lain. Hadir pula Haryono Isman, Abdullah Syarwani. KH. Said Aqil Munawar. 

Refleksi yang dipandu H ma’sum Mahfudz ini mendaulat budayawan asal Madura, Penyair yang berjuluk Si Clurit Emas, D. Zawawi Imron, untuk menyampaikan orasi kebudayaan.

Zawawi mengimbau bangsa Indonesia untuk tetap bersemangat cinta Tanah Air. Menurutnya, kita mesti bersyukur atas anugerah yang diberikan Allah atas bumi yang makmur dan indah ini.

“Gunung biru berselendang awan, hamparan padi menguning laksana permadani, di atasnya burung-burung kecil menyanyikan keagungan Tuhan, di laut buih-buih berkejaran, dan di tepi laut itu nyiur yang melambai-lambai mengucapkan selamat datang kepada nelayan untuk membawa kekayaan dari laut,” ungkapnya dengan nada puitis.

Tapi, tambah penyair yang pernah mendapat penghargaan dari pemerintah Malaysia atas puisinya yang berjudul Kelenjar Laut, keadaan ini mesti dilengkapi dengan prilakuakhlaqul karimah. Dalam istilah Jawa disebut hamamayu hayuning bawono, memperindah kecantikan alam. Kemudian merawatnya, maka Tanah Air akan membalasnya dengan panen yang melimpah. Dalam bahasa Bugis disebutkan atiminna wapatu juko madai cengkalawadi; berpikirlah kamu dengan pikiran jernih dan positif, maka kebaikan akan menyelimuti dirimu.

Di ujung refleksinya, Zawawi menyampaikan ekspresi kecintaan warga NU terhadap tanah airnya dalam bentuk puisi.
Kita minum air Indonesia, kemudian jadi darah kita 
Kita makan buah-buahan dan beras Indonesia, kemudian jadi daging kita 
Kita menghirup udara Indonesia, menjadi nafas kita 
Kita bersujud di bumi Indonesia, bumi Indonesia adalah sajadah kita
Siapa mencintainya jangan mencipratinya dengan darah 
Dan bila saatnya kita mati, kita tidur dalam pelukan bumi Indonesia 

“Inilah ekpresi cinta Tanah Air model NU,” pungkasnya, disambut hadirin yang terpukau sambil duduk lesehan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this: