Banser Resmi Amankan Kampus Universitas Wahid Hasyim

Semarang, NU Online
Pertama di Indonesia, Banser menjadi tenaga pengamanan resmi di sebuah kampus milik Nahdlatul Ulama. Di Semarang, sejak 1 Maret 2012 lalu, personel Banser menjaga Universitas Wahid Hasyim (Unwahas). Sebagai satuan pengaman resmi, setiap hari selama 24 jam, delapan anggota Banser dengan sistem shift menjaga keamanan dan ketertiban kampus yang difasilitasi pendiriannya oleh KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu.

Sementara petugas Satpam lama, tetap digunakan sambil diproses untuk menjadi anggota Banser. Yaitu melalui Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar) hingga pembaretan, pendidikan ke-NU-an dan ke-Ansor-an.

Pagi itu bersama rekannya, komandan jaga Unwahas M Imron Haqiqi dan rekannya, Misbahul Munir, sibuk mengawasi halaman parkir kampus Unwahas di Jl. Menoreh Raya Jl. Menoreh Tengah X / 22 Sampangan Semarang. Keduanya mengawasi deretan mobil dan motor yang ada di depan gedung utama.

Sesekali member aba-aba ketika ada dosen yang hendak keluar dari tempat parkir atau ada mahasiswa yang akan memarkir kendaraannya. Dengan seragam Pakaian Dinas Harian (PDH) berlogo Banser Kota Semarang, dua pemuda Ansor ini tampak gagah dan berwibawa.

Sebuah topo hitam bertulisan Banser menambah mantap penampilan mereka. Imron dan Misbahul dikontrak pihak Unwahas untuk enam bulan. Setelah itu jadi calon pegawai dan setelah satu tahun nanti akan diangkat sebagai pegawai tetap.

“Kami saat ini masih berstatus kontrak. Bulan keenam nanti jadi capeg lalu setahun jadi pegawai tetap,” ujar Imron kala diwawancarai di dekat pos Satpam yang sedang direnovasi.

Karena ada sistem pembagian waktu, para angota Banser di Unwahas tetap bisa beraktivitas di kampungnya. Baik sebagai anggota Ansor maupun warga NU pada umumnya. Pengajian, mengurusi masjid atau mushola, mulang ngaji, atau memimpin tahlilan.

Ia mengaku bangga bisa jadi Satpam di situ. Sebab menjaga aset milik NU yang memang sudah menjadi panggilan jiwa setiap anggota Ansor.

Imron mengatakan, langkah Unwahas menjadikan Banser sebagai tenaga pengamanan resmi patut ditiru perguruan tinggi NU lainnya. Sekolah-sekolah Maarif juga diharapkan memakai Banser jika merekrut Satpam.

Hal itu menurutnya, agar identitas sebagai milik NU jelas dan sedap dipandang mata. Satu sisi telah syiar untuk NU, sisi lain memberi kesempatan karir kepada anggota Banser, khususnya yang perlu pekerjaan.

“Idealnya semua lembaga pendidikan milik NU satpamnya adalah Banser. LP Maarif perlu meniru Unwahas,” tutur Wakasatkorcab Banser Kota Semarang ini.

Pro Aktif
Imron bercerita, sewaktu dia menjadi Kepala Satuan Koordinasi Rayon (Kasatkoryon) Banser Kecamatan Gunungpati, ia mengirim surat ke Unwahas untuk memohon agar Satpam di kampus yang didirikan PBNU dan PWNU Jateng ini.

Dua tahun lalu, surat itu masuk. Tapi karena saat itu sedang ada penataan kepengurusan yayasan, pihak Unwahas belum merespon suratnya. Setelah urusan yayasan beres, ditambah dukungan PC GP Ansor Kota Semarang dan PW GP Ansor Jawa Tengah, Unwahas akhirnya memanggil Imron untuk diajak teken kontrak pekerjaan tersebut.

“Saya pro aktif mengirim surat. Sebenarnya kampus ini ada di Kecamatan Gajah Mungkur, tapi saya yang dari Gunungpati malah yang aktif. Alhamdulillah direspon. Ini juga berkat dukungan PC dan PW GP Ansor,” ujar Asisten Kegiatan Satkorwil Banser Jateng ini.

Lebih lanjut Imron menceritakan, sewaktu Ketua Umum PP GP Ansor Nusron Wahid datang dalam sebuah seminar di Unwahas pada April lalu, Nurson sangat terkesan dengan adanya Banser menjadi Satpam. Dan waktu itu Nusron meminta seluruh perguruan tinggi milik NU untuk memakai Banser sebagai Satpamnya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this: