Fatayat NU harus direvitalisasi!

Jakarta, NU Online
Hari ini, Senin, 20 Juni 2011, Fatayat NU merayakan hari lahirnya yang ke-61. Fatayat sekarang telah memiliki basis yang kuat sehingga akar rumput. Dengan reputasi yang baik, Fatayat NU menempati posisi strategis dalam kancah gerakan sosial dan gerakan perempuan, baik secara nasional maupun internasional.

Namun demikian, kata Ida Fauziyah, ketua umum PP Fatayat NU, Fatayat tidak boleh berpuas atau berbangga dengan posisi strategis tersebut. Sebaliknya ada beban berat yang harus dijaga, yaitu mempertahankan posisi strategis ini.

“Bagaimana kita eksis dalam persaingan yang sangat ketat ini, rasa-rasanya kita harus melakukan revitalisasi perenannya, baik sebagai badan otonom NU maupun sebagai organisasi gerakan perempuan,” katanya ketika memberi sambutan harlah, Senin (20/6).

Peringatan harlah yang diselenggarakan di Balai Sudirman Jakarta ini berlangsung meriah. Sekitar 2000 kader Fatayat hadir dalam pertemuan ini. Para tokoh yang hadir adalah KH Said Aqil Siroj, Meneg Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari, dan Ketua PWNU DKI Jakarta Djan Farid.

Harlah saat ini, merupakan upaya untuk melakukan refleksi sekaligus peneguhan gerakan bagi semua pengurus dan kader Fatayat di seluruh Indonesia.

“Sebagai badan otonom NU, Fatayat NU dituntut untuk terus-menerus mencetak kader pemudi NU yang berkualitas, militant dan berkarakter agar siap melanjutkan estafet perjuangan NU, sekaligus dapat menyiapkan generasi dan kadaer-kader perempuan yang bisa berperan dalam spektrum yang lebih luas, yakni spektrum kebangsaan dan kenegaraan,” tandasnya.

Saat ini, Fatayat NU telah memiliki struktur kepengurusan di 33 propinsi, 423 kabupaten dan kota, 923 kecamatan dan 14.118 di tingkat desa dengan 6 juta anggota di seluruh Indonesia.

Sebagai elemen gerakan perempuan, Fatayat NU ikut bertanggung jawab dalam mencetak generasi perempuan muda Indonesia yang memiliki kapasitas unggul, berdaya saing sekaligus berkarakter. Dengan demikian, kaum perempuan di Indonesia dapat mandiri, dapat memecahkan masalah yang dihadapi dan dapat berperan dalam kehidupan masyarakat dan bangsa.

“Kita tak hanya membutuhkan generasi yang unggul secara intelektual, yang tak kalah penting, generasi yang memiliki karakter dan dedikatif menunaikan tugasnya,” imbuhnya.

Dijelaskannya, banyak persoalan perempuan yang harus diperjuangkan, seperti KDRT, trafficking maupun kekerasan yang lain. Tingkat pendidikan masih rendah, kualitas kesehatan dan pemenuhan gizi masih rendah serta kematian ibu melahirkan yang masih tinggi. Demikian pula, keterwakilan perempuan dalam berbagai lembaga politik juga masih terbatas sehingga berimpliaksi pada sulitnya mewujudkan kebijakan publik yang berkeadilan gender.

Ia menegaskan, berbagai persoalan tersebut tidak mungkin diselesaikan oleh pemerintah sendiri tanpa didukung oleh komponen masyarakat perempuan dan organ divil society lainnya yang melakukan kerja-kerja nyata dalam pemberdayaan perempuan hingga pada level basis.

“Kita harus bergandung tangan dalam upaya memberdayakan dan meneguhkan karakter perempuan Indonesia dan menciptakan kehidupan dan pembangunan yang berkeadilan dan tidak diskriminatif,” tandasnya.

Mantan Ketua Umum PP Fatayat NU Maria Ulfa Anshor dalam kesempatan tersebut mendapatkan Fatayat NU Award atas jasa-jasanya dalam mengembangkan Fatayat NU dan memperjuangkan nasib perempuan Indonesia.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this: