Jurnalisme Pesantren Dapat Tingkatkan Dakwah Islamiyah

BOGOR — Pendidikan keterampilan jurnalisme di lingkungan pondok pesantren diharapkan dapat sinergi dan bahkan memperkuat dakwah para santri yang menimba ilmu keagamaan.

“Dengan demikian, maka jurnalisme dan dakwah itu mempunyai kesamaan misi, yakni menyampaikan informasi dan kebenaran kepada masyarakat dan umat,” kata penggagas jurnalisme di sejumlah pesantren di Bogor, Jawa Barat, Ahmad Fahir di Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Ahad.

Ahmad Fahir selama ini aktif membantu lahirnya klub jurnalistik di Pondok Pesantren Ummul Quro al-Islami (UQI) di Kampung Banyusuci, Desa Leuwimekar, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor.

Di pesantren yang dipimpin KH Helmi Abdul Mubin Lc itu, telah terbentuk klub jurnalistik, dan bahkan sudah mempunyai media internal.

Menurut Fahir, yang pernah bekerja di sejumlah media massa lokal dan nasional, pendidikan jurnalistik perlu ditanamkan sejak dini di pesantren. “Jurnalistik bukan hanya soal profesi, melainkan juga sebagai ladang untuk melakukan dakwaah melalui tulisan atau ‘dakwah bil qalam’. Karena itu, santri harus menguasai jurnalistik dengan baik,” kata alumnus Magister Komunikasi Pembangunan Pascasarjana IPB ini.

KH Helmi Abdul Mubin mengatakan, pembentukan klub jurnalistik di pesantren yang dipimpinnya sebagai respons terhadap tuntutan perubahan zaman yang berlangsung sangat pesat dengan ditandai tampilnya media massa sebagai pusat perubahan masyarakat.

“Santri sebagai agen utama perubahan masyarakat tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh media massa. Santri harus menguasai media massa, agar tidak tertinggal oleh perubahan,’ katanya.

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Mughni Al-Maaliki Kabupaten Bogor, Jawa Barat KH Mustofa Mughni menyatakan, bagi kalangan pesantren, jurnalistik dapat menjadi wahana dakwah.

“Sesungguhnya jurnalisme bukan sekadar sebagai keterampilan, namun bisa untuk melakukan dakwah di tengah masyarakat,” katanya.

Terkait hal itu, Ponpes Daarul Mughni Al-Maaliki mendorong para santrinya menguasai keterampilan menulis yang baik, dengan menggalakkan pendidikan dan pelatihan jurnalistik, serta penerbitan majalah bulanan.

“Usai lulus dari pesantren, santri memiliki tugas utama untuk berdakwaah di tengah masyarakat. Dakwah dapat dilakukan dengan metode lisan, yaitu melalui orasi atau tabligh, dan dapat dilakukan pula melalui tulisan di media massa,” katanya.

sumber: Republika

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this: