Ketua Umum Muslimat Seharusnya Maksimal Dua Periode

Jakarta, NU Online
Mantan Ketua Umum PP Fatayat NU Maria Ulfa Anshor memiliki pandangan, jabatan ketua umum PP Muslimat NU seharusnya maksimal dua periode, mengikuti konteks makro saat ini. Presiden dan jabatan publik lainnya juga dibatasi maksimal dua periode.

“Kalau kita bercermin pada aturan organisasi, ini harga mati. Kalau persoalannya adalah proses kaderisasinya, saya yakin banyak sekali kader yang siap memimpin Muslimat NU,” katanya, Selasa (12/7). Ia khawatir, jika kepemimpinan satu orang berlangsung terlalu lama, bisa timbul kesan adanya kooptasi untuk proses individualisasi atau kultus individu, yang mungkin dibangun atau terbangun, atau tidak sengaja dibangun. “Jangan sampai muncul kultus individu, yang harus dibangun adalah institusinya, yang dibangun sistemnya,” paparnya.

Ia juga berharap kontinyuitas pergerakan kader dari IPPNU ke Fatayat NU dan selanjutnya ke Muslimat NU bisa berjalan. Belakangan, hal ini kurang berjalan dengan baik sebagaimana periode-periode sebelumnya.

“NU yang seharusnya melakukan peran menempatkan, mengarahkan, termasuk meluruskan kalau ada badan otonom yang tidak sesuai dengan khittah NU, PBNU yang memiliki kewenangan,” paparnya.

Jika proses ini tidak berjalan dengan baik, maka kader-kader terbaik Fatayat NU, baik di tingkat pusat maupun daerah, yang tidak dapat masuk ke institusi-institusi NU, akan berkeliaran di tempat lain. “Ini tidak apa-apa karena masih mewakili perilaku dan etika moral NU, tapi tidak punya ikatan dengan basisnya,” paparnya.

Ia menegaskan, kader Fatayat NU banyak diakui di berbagai lembaga, sayang sekali kalau tidak ada kesinambungan karena nantinya NU tinggal meremote dan memaksimalkan jaringan yang ada.

Siap Dicalonkan

Maria Ulfa yang kini menjadi Ketua Komisi Perlindungan Anak ini menyatakan dirinya siap berkhidmat memimpin Muslimat NU jika memang diusulkan. “Misalnya saya diusulkan mau masuk Muslimat, ya monggo, kalau itu amanat ya tidak bisa ditolak. Kalau misalnya tidak masuk dalam struktur juga tak apa-apa, yang penting jangan berhenti berkhidmat dimanapun,” paparnya.

Ia mengakui, segala capaian yang diperolehnya saat ini semuanya merupakan proses yang dilalui dalam berbagai lembaga di NU. “Saya bukan siapa-siapa kalau tidak dikader di NU,” tandasnya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this:
:)