KH Sahal Mahfudz: Sarjana Itu Harus Jadi Teladan

PATI – Ketua Dewan Pembina Yayasan Nurussalam Dr KH A. Sahal Mahfudh yang juga Rais Aam PBNU mahasiswa atau santri yang telah lulus dari lembaga pendidikan agar mampu menjadi tauladan bagi masyarakat.

Kiai Sahal menyampaikan hal itu dalam acara wisudah pertama Sekolah Tingga Agama Islam Mathali’ul Falah (STAIMAFA) Kajen-Pati, Jawa Tengah, akhir pekan lalu.

Dalam kesempatan itu, Kiai Sahal juga menekankan pentingnya rasa syukur. “Syukur tidak hanya sekedar mengucap kata hamdalah, tetapi lebih dari itu. Yaitu pada bagaimana kita bersyukur kepada Allah, juga bagaimana kita meningkatkan kinerja diri,” tegasnya di depan 65 wisudawan-wisudawati dan wali murid serta tamu undangan.

Ia berpesan agar keberhasilan dalam menyelesaikan studi tidak lantas menimbulkan rasa bangga, karena amanat dan tanggung jawab yang dibawa tidaklah mudah.

Acara yang bertempat di aula kampus itu juga dihadiri oleh Bupati Pati Haryanto, Kepala Kantor Kementerian Agama Pati Drs H. Ahmad Mudzakir MSi, Koordinator Kopertais Wilayah X Jawa Tengah dan rektor IAIN Walisongo Semarang Prof. Dr. Muhibbin M. Ag.

Dalam kesempatan itu, Ketua STAIMAFA, H. Abdul Ghaffar Razien, M.Ed, mengatakan dirinya sangat bersyukur atas kerja keras seluruh dosen dan mahasiswa di kampus itu, hingga pada prosesi wisuda.

Ia juga mengatakan bahwa wisuda kali ini menjadi tonggak sejarah mencetak mahasiswa-santri yang memiliki kontribusi dalam pengembangan masyarakat.

“Prosesi wisuda ini merupakan tonggak sejarah (milestone) bagi lembaga STAIAMAFA, agar dalam perkembangan berikutnya dalam mengabdi kepada masyarakat dengan sistem perguruan tinggi riset berbasis nilai-nilai pesantren,” ungkapnya. Razien juga mengharapkan agar mahasiswa tidak berhenti berproses setelah wisuda, namun terus belajar dan mengabdi dengan karakter mahasiswa yang memperjuangkan nilai-nilai moral berbasis pesantren.

Sementara itu, dalam pidato laporan akademik oleh Wakhrodli M.Si (Pembantu Ketua STAIMAFA), menjelaskan bahwa wisuda perdana ini terdiri dari 16 mahasiswa prodi PMI (Perkembangan Masyarakat Islam), 24 Mahasiswa prodi PBA (Pendidikan Bahasa Arab) dan 25 mahasiswa prodi PS (Perbankan Syari’ah). Dari 65 peserta, 23% meraih peringkat mumtaz atau istemewa, dengan IPK tertinggi 3,79. Sumber: NU Online

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this: