NU Siap Fasilitasi Dialog dengan Ahmadiyah

Upaya dialog dalam rangka penyelesaian masalah dengan Ahmadiyah terus dilakukan, sayangnya, Ahmadiyah sendiri tidak mau datang untuk mengikuti dialog yang digelar oleh Kementerian Agama.

Jika memang diminta, PBNU siap untuk menjadi fasilitator dalam dialog dengan fihak yang kontra dan pro Ahmadiyah, termasuk dengan Ahmadiyah sendiri.

“Kalau diajak dialog NU paling senang, Tapi jangan mentargetkan harus berhasil,” kata KH Said Aqil Siroj dalam pertemuan dengan para wartawan di gedung PBNU, Selasa (5/4).

Kiai Said menjelaskan, sebelumnya dia telah menggelar dialog dengan Nabi Musoddeq dan berhasil menyadarkan kembali pada Islam. Upaya yang dilakukannya ternyata jauh lebih efektif daripada penyataan sesat yang dilakukan oleh MUI waktu itu.

“Setelah kalah dalam dialog, Musoddeq mencabut pengakuannya, kemudian ditampung oleh KH Agus Miftah,” jelasnya.

Dijelaskannya, upaya dialog PBNU sudah pernah dilakukan pada masa kepemimpinan Gus Dur di PBNU.

Kebijakan pemerintah tentang kelompok yang menyimpang atau meresahkan masyarakat menurutnya tidak jelas arahnya, ada kelompok yang sudah jelas-jelas meresahkan masyarakat tetapi dibiarkan seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), yang jelas-jelas menolak nation state, yang di Timur Tengah dilarang, disini malah dibiarkan berkembang dengan tenang.

“Kelompok radikal, penampilannya yok-yok-o, padahal sama sekali tidak faham Islam yang sebenarnya,” tandasnya.

Beberapa faktor yang menyebabkan radikalisasi diantaranya adalah rendahnya tingkat keilmuan, dikiranya Islam itu perang, ingin cepat populer dengan cara-cara kekerasan dan keinginan balas dendam dari keluarga DI/TII.

“Indonesia, jelas berbeda dengan Timur Tengah yang setiap hari melihat kezaliman Isarel, rumah dihancurkan, tanah diambil sehingga menimbulkan reaksi keras,” terangnya.

Adanya kelompok seperti itu sudah diprediksi Nabi. Yaitu orang yang hafal Qur’an tapi tidak faham isinya.

Kiai Said juga mempertanyakan motif Al Qaidah, yang mengklaim diri memperjuangkan Islam, tetapi sama sekali tidak berbuat untuk Palestina. Tak ada tindakan yang dilakukan terhadap Israel, tetapi malah membuat keresahan di negara-negara Muslim. Jika melihat dalam perspektif yang ‘suudhon’, (berburuk sangka) pasti ada yang mendesainnya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this:
:)