Pahami NU Lebih dari Sekedar Gerakan Kultural

CIREBON – Kekuatan kultural keislaman yang mengakar di masyarakat merupakan keunggulan Nahdlatul Ulama (NU). Namun NU sesungguhnya harus lebih dipahami dari sekedar gerakan kultural.

NU merupakan gerakan kultural sekaligus gerakan struktural. Kedua gerakan tersebut harus disinergikan dengan baik.

Demikian diutarakan oleh Rais Syuriyah PBNU KH Masdar Farid Mas’udi kepada NU Online di sela-sela mengikuti Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2012 di Pondok Pesantren Kempek, Palimanan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Senin.

Menurut Masdar Farid, sejauh ini NU dinilai banyak pihak sebagai gerakan kultural. Kegiatan-kegiatan yang digagas NU banyak diwarnai nuansa kultural, semisal istigatsah, tahlil, haul, dan sejenisnya. Bahkan nuansa kultural acap kali menjadi instrumen untuk mengidentifikasi apakah seseorang NU atau bukan.

“Kekuatan kultural menjadi kelebihan NU. Ini trademark yang melekat kuat sejak NU lahir. Namun, NU sesunggguhnya bukan sekedar gerakan kultural. NU merupakan kombinasi gerakan kultural dan struktural sekaligus,” ujar Masdar.

Diutarakannya, pengelolaan energi NU untuk penguatan gerakan kultural dan struktural harus dilakukan secara proporsional. “40 persen energi NU untuk melestarikan kultur. Sedangkan 60 persen lagi untuk membangun struktur organisasi yang kuat dan kokoh,” papar Masdar.

Dia mengemukakan, di lingkungan NU terdapat falsafah yang sangat popular, yakni “al muhaafazhatu ‘alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah”. Terdapat dua poin besar dalam falsafah tersebut, yakni “al muhafazhah ‘alal qadimis shalih” dan “al akhdzu bil jadidil ashlah”.

Poin pertama berarti bahwa NU harus merawat dan melestarikan tradisi. Sedangkan poin kedua, artinya NU harus mendesiminasi tradisi baru melalui pembanguan struktur organisasi yang kuat dan kokoh, yang berorientasi pada pelayanan umat.

“Kekuatan kultur tanpa diimbangi oleh kekuatan struktur tidak banyak berarti. Ikatan-ikatan yang bersifat kultural sangat rapuh,” terang Masdar.

Oleh karena itu, lanjut dia, NU harus membangun nizham organisasi yang kuat dan modern, untuk membentengi kultur sekaligus memberdayakan umat Nahdliyyin sehingga manfaat keberadaan NU tidak hanya bersifat kultural, namun menyentuh semua sendi kehidupan.

Untuk melestarikan kultur dan membangun struktur organisasi yang kuat, hemat Masdar, semua pemangku kepentingan di lingkungan NU harus terlibat secara optimal. Baik pemangku kepentingan pesantren yang selama ini menjadi kekuatan NU, pimpinan masjid, maupun penggerak roda organisasi dari level tertinggi hingga terbawah.

Bila gerakan kultur dan struktur dapat dipadukan dengan baik, Masdar berkeyakinan kuat NU akan menjadi organisasi yang terbesar dalam arti sesungguhnya, kokoh, kuat, berwibawa, dan disegani. Sumber: NU Online

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this:
:)