Perkuat Silaturahim & Tradisikan Tabayyun

BLITAR – Warga NU diminta mengaktifkan kembali majelis-majelis ta’lim yang ada disemua tingkatan baik yang sudah rutin diselenggarakan seperti tahlilan, diba’am, khataman Al-Qur’an, manakiban, lailatul ijtima’, pengajian rutin selapanan,dan lainnya.

Selain itu juga ada kegiatan yang bersifat eksidental seperti PHBI, pidaan, haul dan halaqoh. Butir di atas merupakan rekomendasi peserta Konfercab NU kepada para warga NU di Blitar.

“Kegaiatan diatas selama ini sudah berjalan bagus dan harus ditingkatkan,’’ ujar Kiai Nasrudin Mubin, salah satu devisi tausiayah PCNU Blitar, kemarin.

Menurut mantan Wakil katib Syuriyah ini, kegiatan yang sudah berjalan ini perlu ditindak lanjuti dan ditingkatkan mutunya. Misalnya pertemuan lapanan Ahad Wage di Masjid Agung Blitar. Kegaiatan ini perlu diapresiasi oleh warga NU di Kabupaten Blitar. Karena kegiatan ini sebagai ajang silaturrahmi antara anggota dan pengurus NU. 

“Pada kesempatan itu untuk menjaring aspirasi persoalan dari warga dan akan dipecahkan pada lapanan selanjutnya. Seluruh masail  kekinian yang masuk akan dipecahkan dalam bahsul masail dan bila sudah jelas akan disampaikan pada Ahad Wage berikutnya,” kata mantan Rais Syuriyah MWC Sanankulon itu.

Selain itu, Konfercab pada kesempatan itu juga mendorong semua warga nahdliyin untuk berperan aktif dalam pembangunan disemua tingkatan seperti bersedia menjadi pengurus RT, RW, Perangkat Dusun dan Desa, BPD, LPPD, komite sekolah, organisasi kecamatan maupun organisasi kabupaten seperti, MUI, FKUB, PKDM, BNN, Dewan Pendidikan dan lainnya.

“Periode lalu. Semua organisasi diatas dijabat oleh warga NU. Untuk itu kedepan partisipasi warga NU minimal dipertahankan. Kalau bisa ditingkatkan lagi,” ungkap Nasrudin.

Yang lebih penting lagi, lanjut Nasruddin, warga NU harus senantiasa berkoordinasi, menjaga budaya silaturahim, bertabayaun, salaing berkomunikasi dengan tokoh-tokoh dan pengurus NU yang terdekatuntuk menghindari saling curiga, permusuhan, fitnah dan kesalahan paham akibat informasi yang didapat tidak untuh.

“Budaya tabayun dan konfirmasi harus dilakukan. Agar kita semua terhindar dari fitnah dan adu domba. Di era seperti ini tali erat silaturahim benar-benar dibutuhkan,” tandasnya. Sumber: NU Online

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this: