Pesantren Tebuireng Peringati Satu Abad Wahid Hasyim

Jombang, NU Online
Hingga pasca satu abad meninggalnya, gagasan besar dan pemikiran KH Abdul Wahid Hasyim dapat dirasakan bangsa Indonesia. Putra pendiri NU KH Hasyim Asy’ari itu dinilai memiliki segudang pemikiran mulai dari agama, negara, pendidikan, sosial-politik, serta wawasan kebangsaan dan ke-NU-an.

Salah seorang putra KH Wahid Hasyim, KH Salahuddin Wahid, mengatakan, menggali ulang pemikiran mantan menteri agama tersebut sangat tepat disaat kondisi bangsa sedang carut marut. “Jika dihitung penanggalan mulai 9 Juni 1914 hingga 9 Juni 2011 (dalam hijriyah.red), maka beliau meninggal sudah 100 tahun atau satu abad,” kata Gus Solah usai menghadiri sarasehan budaya dalam rangka memperingati satu abad KH Abdul Wahid Hasyim di Tebuireng, Sabtu (14/5).

Meski sudah 100 tahun, kata Gus Solah, pemikiran cemerlang mantan meteri agama itu tetap bergema dan tidak redup.. Hingga saat ini pemikiran Wahid Hasyim masih hidup diantara masyarakat Indonesia. “Dia sosok ulama yang sangat dekat dengan keluarga,” kata mantan wakil ketua Komnas HAM ini.

Gus Solah menjelaskan, ayahnya adalah sosok ulama yang sibuk dengan pekerjaan. Wajar saja, pada era pemerintahan Bung Karno, Wahid Hasyim dipercaya menjabat sebagai menteri agama yang pertama. Meski begitu, kesibukan sebagai pejabat pemerintah, tidak membuat Wahid Hasyim jauh dari keluarga.

Wahid Hasyim, menurut Gus Solah, masih sempat mengantarkan putra-putrinya ke sekolah. Satu lagi yang masih diingat Gus Solah pesan ayahnya, bahwa pesantren tidak harus melahirkan ulama. Maka dari itu, sebuah pesantren perlu mempunyai perguruan tinggi untuk menghasilkan intelektual yang mumpuni dan dibutuhkan masyarakat.

Guna menggali pemikiran tersebut, berbagai acara digelar dalam peringatan satu abad itu. Mulai dari bedah buku pemikiran Wahid Hasyim hingga bhakti sosial. “Peringatan itu bukan hanya di Tebuireng, namun di sejumlah kota di Indonesia,” imbuh adik kandung KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini.

Puncak acara peringatan satu abad meninggal ayahnya itu, tambah Gus Solah, pada 8 Juni 2011 di Tebuireng. Pada tanggal itu akan digelar seminar international dengan tema “The Future of Islam in the World”. Dalam seminar tersebut juga akan mendatangkan pembicara dari uar negeri semisal, Prof John L Esposito dari USA.

Sementara itu, dalam sarasehan budaya yang digelar di aula KH Yusuf Hasyim, Sabtu (14/5), sejumlah pembicara dari kalangan pesantren hadir. Mereka adalah pengasuh pondok modern Darissalam Gontor, Ponorogo Dr KH Hamid Fahmy Zarkasyi, KH Mahmud Ali Zein dari pesantren salaf Sidogiri Pasuruan, Dr Sahiron Syamsudin, MA dari Pesantren Pascasarjana Nawesea, serta Hj Noer Chalida Badrus dari pesantren putri Al Hikmah Kediri.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d bloggers like this:
:)